
Nizam melangkahkan kaki dengan lebar ke jalan raya untuk menyeberanginya.
Suasana yang sedikit sepi itu memudahkan Nizam sampai pada posisi mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dengan gerakan yang sedikit keras Nizam membuka pintu lalu duduk di belakang kemudi.
Bug!
Suara tangan yang dipukul sedikit bertenaga mengagetkannya, Nizam menoleh ke sebelah. Di sana sudah terlihat muka Zizi yang sedikit masam.
"Kakak ini ya! Bisa nggak, buka pintunya dengan pelan? Aku 'kan jadi kaget, Kak," terang Zizi sambil membetulkan sabuk pengaman yang sedari tadi dia lepas.
"Iya maaf, tadi Kakak buru-buru takut kamu telat," jawab Nizam sambil menyalakan mobil serta menjalankan ke jalan raya yang sudah mulai padat merayap.
"Yaelah Kak, sedari awal kita sudah telat tauk," ejek Zizi kepada kakaknya. Untung ini bukan acara resmi, jadi masih bisa ditoleransi."
"Iya maaf, tadi 'kan ada kecelakaan kecil, Dek," sahut Nizam lagi sambil melihat lampu merah yang sedang menyala.
"Oh iya, bagaimana keadaan kakek itu?" tanya Zizi.
Namun, Nizam malah terbayang pada wajah cantik yang dihiasi oleh lesung pipit itu. Rambutnya hitam pekat, panjang berkilau dan begitu indah dipandang meskipun sudah terikat tinggi di kepalanya.
Apa yang terjadi denganku, apa ini tanda tanda bahwa aku mulai normal, tapi mana mungkin secepat ini. Ah mungkin itu cuma ketertarikan sesaat. Nizam berperang dengan batinnya sendiri.
Tin..tin..tin...
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Nizam yang bersahut-sahutan di belakang mobilnya, menandakan lampu hijau sudah menyala.
"Kakak ngelamun apa sih?" kepo Zizi sambil mengerlingkan mata. Merasa Nizam bersikap aneh dan terlihat tidak fokus.
"Anak kecil tau apa, duduk manis saja, Dek," celetuk Nizam kepada Zizi, yang langsung mampu membuat adiknya itu cemberut.
"Eh Kak, tadi Zizi lihat ada seorang gadis yang juga bantuin Kakek itu 'kan? Terus Zizi lihat, gadis itu cantik meskipun kurang jelas sih." Mulai penasaran dan melupakan perkataan Nizam yang menganggapnya anak kecil.
"Dia masih kecil Zi, mungkin masih seumuran sama kamu," jawab Nizam
__ADS_1
"Zizi itu sudah besar ya! Jadi, stop bilang Zizi anak kecil terus!" rajuk Zizi sambil bergelayut manja di tangan kiri Nizam. Walaupun sebenarnya hatinya teramat jengkel jika dianggap anak kecil oleh kakaknya sendiri.
"Umur 18 tahun itu sudah masuk dewasa tau Kak, bahkan sudah mampu bikin anak kecil hehe ...." Zizi cengengesan dengan wajahnya yang sok imut.
"Hus! Ngomong apaan sih!" tegur Nizam yang merasa jika pembicaraan adiknya mulai ke mana-mana.
"Kamu 'kan belum genap 18 tahun, masih kurang beberapa bulan lagi, jadi jangan mikir kejauhan. Belajar dulu yang rajin supaya pinter biar kamu sukses, baru deh mikirin yang lain." Nasehat Nizam kepada adiknya.
"Lagipula, mana mungkin Kakak suka sama anak yang masih berstatus pelajar kayak kamu," ejek Nizam.
"Hati-hati kalo ngomong Kak, kemakan ucapan sendiri baru tau rasa!" ejek Zizi dengan ejekan Nizam yang meremehkannya.
Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman sekolah Zizi.
Halaman luas dengan gedung yang bergaya kekinian terlihat menjulang dan bagus. Menunjukkan bahwa sekolah itu berkelas dan istimewa.
Ya, sekolah yang Zizi tempati adalah sekolah unggulan di jakarta, secara Zizi anak pengusaha kuliner ternama. Jadi wajar saja kalau bungsu dua bersaudara itu di sekolahkan di tempat yang terbaik oleh kedua orang tuanya. Apalagi, Pak Alkaf adalah penanam saham terbesar di sekolah itu.
Nizam yang sudah memarkirkan mobil mewahnya di halaman sekolah hanya duduk diam di samping kemudi, sambil melihat adiknya itu lagi sibuk mengobrak abrik isi tasnya.
Sedangkan Zizi yang ditanya hanya diam dan fokus kepada pekerjaan yang tidak jelas itu bagi Nizam.
"Nah, ini dia ketemu." seru Zizi sambil mengangkat benda pipih yang sedari tadi ia cari. "leganya," ucap Zizi lagi.
Karna dia khawatir benda yang sudah seperti hidup dan matinya itu ketinggalan di rumah.
Maklumlah anak jaman sekarang, kemanapun harus bawa ponsel.
"Kirain cari apaan kamu itu, panik amat," dengus Nizam pada adiknya.
"Kamu itu kalo sudah berkutat sama hape bisa lupa segalanya," ujar Nizam lagi.
"Kayak Kakak yang enggak aja! Memang Zizi tidak tau, kalau Kakak juga penyuka benda sejuta fungsi ini," tunjuk Zizi sambil mengacungkan benda di tangannya.
__ADS_1
"Ya bedalah Dek, Kakak 'kan buat kerja, emang kamu yang cuma buat selfi, nge-vlog dan sebagainya, iya 'kan?" ungkap Nizam membela dirinya sendiri.
"Auah, Zizi stres lama lama di mobil sama Kakak, perasaan dari tadi selalu debat deh. Kakak ngak mau ikut turun? Tungguin Zizi di kantin atau di perpustakaan, ya," pinta Zizi yang penuh dengan maksud terselubung itu.
"Enggak Dek, Kakak tunggu di kafe deket sini aja," tolak Nizam tanpa berniat apa pun. Sebab, ia tidak mungkin berada di dalam kantin yang notabene kumpulan para remaja itu.
"Kakak 'kan belum sarapan, sekalian saja di kantin. Di sini masakannya enak-enak lo, Kak," bujuknya. Berharap Nizam mau dan saat itulah ia akan beraksi untuk mengenalkan teman-teman pilihannya.
"Enggak," tolak Nizam, menegaskan sambil mengacak acak rambut Zizi yang sudah monyong lima senti karna ngambek akibat rencananya gagal.
"Gatot deh rencanaku," gerutu Zizi pelan namun masih bisa di dengar Nizam.
"Memang kamu merencanakan apa?" tanya Nizam curiga
"Kakak 'kan sudah janji, kalau mau membuka hati buat wanita. Jadi, adalah salah satu usaha Zizi buat bantu, Kakak," lirih Zizi menjelaskan dengan wajah sedihnya.
Nizam masil menatap lekat wajah Zizi yang kecewa. Ia bukannya tidak mau membuka hati, masalahnya sekarang adalah, wanita itu adalah seumur sang dan tidak mungkin Nizam berpacaran dengan gadis SMA 'bukan?!
Seketika Nizam memeluk adiknya dengan bangga karena merasa begitu diperhatikan oleh Zizi.
"Betapa beruntungnya diriku, memiliki orang-orang yang sayang dan peduli kepadaku, meskipun aku sudah membuat mereka kecewa." gumam Nizam dalam hati.
"Makasih ya, Dek, kamu begitu sayang sama kakak, tapi ngejodohinnya nggak sama anak SMA juga," canda Nizam, agar suasana yang sedikit serius itu mencair.
"Kenapa Kakak bilang seperti itu? Zi sayang sama Kakak, Zi ingin Kakak memiliki pendamping dan bahagia seperti orang lain, Kak." cetus Zizi seketika, dan membuat hati Nizam tersentuh.
Mendengar itu, hati Nizam seakan kebas. Kata-kata Zizi seakan menampar wajahnya, dia tak menyangka bahwa adik yang selalu di anggapnya anak kecil mampu membuat hatinya terenyuh hanya dengan ungkapan sederhana itu.
"Adik Kakak sudah besar sekarang, sudah pinter ngomong," ujar Nizam sambil mencubit pipi itu dengan lembut.
"Makanya, jangan anggap Zizi anak kecil terus Kak, kecil-kecil begini cabe rawit tauk!" ujar Zizi membalas ledekan kakaknya, sambil menepis tangan sang kakak yang berusaha menjahilinya lagi.
"Ya sudah Kak, Zizi turun dulu."
__ADS_1
" Ok," jawab Nizam seraya mengangguk setuju.
Zizi keluar dari mobil kakaknya dan berjalan menuju ke dalam gedung sekolah.