
Pria asing di belakang Nina berseru tertahan serta memegagi dadanya saking kagetnya. Aksi gadis di depannya yang tiba-tiba itu membuat jantungnya serasa mau lepas dari tempatnya.
"Maaf, Mbak, ada apa?" tanyanya panik pada gadis yang juga terlihat bingung menatapnya. Sedangkan gadis di depannya itu masih diam terpaku memandangi wajahnya yang begitu tinggi, dan keadaan tersebut menyebabkan gadis yang sedikit pendek itu mendongak untuk menjangkau pandangan ke wajahnya.
"Kenapa Kakak ngikutin aku dari tadi?" serasa yang ditanyakan adalah hal benar, Nina dengan sangat yakin mengucapkan kata-kata yang ada dalam pikirannya.
"Maaf, Mba, saya juga mau membeli coklat itu," jawab pria asing tersebut dengan mengangkat satu alisnya merasa heran seraya menunjuk ke arah ke tumpukan coklat yang tertata rapi di dalam rak.
Untuk keduakalinya Nina dibuat malu karena dengan pedenya mengira pria asing itu sengaja mengitu langkahnya. Nina buru-buru balik badan serta berniat mengambil coklat dan langsung pergi dari sana. Entah apa yang dalam pikirannya hingga sampai-sampai berpikiran seperti itu. Tunggu, tunggu...
Nina menoleh ke arah pria yang sekarang juga memilah-milah coklat, seperti halnya dirinya saat ini. Nina menatap wajah, kulit dan setiap gerakan tangan dari pria asing di dekatnya itu, yang berjarak satu meter dari tempatnya berdiri, dan semua itu tak luput dari perhatiannya.
Nina heran dengan manusia di sampingnya ini. Dia laki-laki, tapi kenapa wajahnya terlihat sangat cantik, dan kulitnya begitu putih nan mulus, mungkin jika pria itu di dandani layaknya wanita, pasti akan terlihat sangat cantik sekali dan tidak akan terlihat jika dia adalah seorang laki-laki. Hingga Nina berpikir jika pria disebelahnya ini ada perempuan yang berpenampilan laki-laki.
Tapi, jika dilihat dari cara jalan serta suaranya, jelas orang ini adalah seorang pria. Tapi kenapa wajahnya begitu manis, bahkan bibirnya pun terlihat merah secara alami saking putihnya kulit yang dimilikinya. Jari-jarinya juga sangat lentik dan indah. Nina terus bertanya-tanya karena rasa penasarannya. Hingga pikirannya yang kemana-mana itu membuatnya terbengong dengan menatap pria yang saat ini menatapnya balik.
__ADS_1
"Mbak, apa ada yang aneh di wajah saya, saya perhatikan, Mbaknya dari tadi menatap saya terus," tanya pria itu kepada Nina yang membuat Nina langsung gelagapan mencari alasan yang tepat.
"Em, itu anu, apa namanya, anu." Nina belepotan mengeluarkan kata-katanya untuk menyangkal pertanyaan yang sebenarnya memang benar adanya. Nina merutuki kebodohannya yang ia rasa sangat konyol dan justru mempermalukan dirinya sendiri karena sudah ketahuan memperhatikan orang asing di sampingnya tersebut.
"Tidak usah bingung Mbak. Pasti Mbak berpikiran saya ini perempuan ya? Bukan Mbak saja yang memiliki pemikiran semacam itu, bahkan semua orang yang pertamakali berjumpa dengan saya akan sama halnya dengan Mbak. Saya laki-laki tulen, tapi mungkin bukan pria sejati."
Tutur pria asing itu kepada Nina secara panjang lebar meskipun tanpa diminta. Sepertinya pria itu memang sering mengalami kejadian yang seperti ini, karena sangat terlihat jelas jika dia seakan terbiasa dan sama sekali tidak terganggu dengan anggapan Nina yang langsung bisa ditebak. Dan apa katanya tadi? Pria tulen tapi bukan pria sejati? Apa maksudnya itu? Ah, sudahlah, pikir Nina.
"Maafkan saya Kak, saya cuma heran saja, kenapa ada seorang laki-laki yang wajahnya sangat cantik mengalahkan seorang wanita? Sekali lagi maaf Kak," ucap dengan dengan sungguh-sungguh. Wajahnya tertunduk menghadap pria asing di depannya yang juga menatapnya dengan senyuman.
"Nama kamu siapa?" masih dengan tangan yang menggantung karena belum disambut oleh Nina. Nina yang menyadari tangan Beni itu menjabatnya sekilas seraya menyebutkan namanya.
"Karenina, Kak. Panggil saja aku Nina." ucap Nina setelah terlepas dari tangan Beni. Nina masih merasakan bahwa tangan Beni yang baru bersentuhan dengannya itu begitu lembut dan empuk. Apa dia adalah seorang pangeran?
"Nama yang Indah," tutur Beni. Beni terus memandangi Nina yang terlihat salah tingkah. Nina bukan memiliki rasa suka yang biasa disebut dengan yang namanya ketertarikan pada pandangan pertama. Namun, Nina hanya merasa heran saja dan tak habis pikir, mengapa ada laki-laki yang berwajah rupawan melebihi wanita, karena baru kali ini Nina bertemu orang yang seperti itu.
__ADS_1
"Nina, bolehkah aku bertukar nomor denganmu?" tanya Beni sesaat setelah Nina berpamitan untuk segera pergi. Beni yang sekarang ada di belakang Nina berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan Nina yang terlihat buru-buru menuju kasir.
Nina yang mendengar Beni meminta nomor ponselnya mengalihkan pandangannya kepada Beni, serta netranya menatap mesin waktu yang ada di pergelangan tangannya. "Maaf, Kak, Nina sudah telat. Mungkin lain kali saja jika kita bertemu lagi," ucap Nina panik serta meraih keresek yang diserahkan kasir supermarket tersebut.
Nina bergegas menuju motornya dengan tergesa-gesa, karena sekarang sudah jam 10 lebih. Gara-gara bertemu dengan Beni yang menurutnya sangat cantik untuk seorang pria itu, mampu mengalihkan konsentrasi terhadap tanggung jawabnya dalam bekerja.
Beni menatap kepergian Nina dari pintu kaca yang transparan tersebut hingga hilang dari pandangan. Beni tersenyum simpul namun bibirnya tiba-tiba terkatup rapat akan kenyataan yang baru saja ia sadari. Sejak kapan ia merasakan perasaan suka dan senang jika berinteraksi dengan lawan jenis?
Beni melangkah kan kakinya menuju kasir serta membayarnya. Setelah itu Beni menuju mobil dan duduk termenung dengan mesin mobil yang sejak tadi sudah ia nyalakan. Panasnya matahari di luar sana tak sepanas gejolah hidup yang pernah ia rasakan beberapa bulan terakhir ini.
Setelah kejadian itu, Beni memang sengaja pergi ke tanah kelahirannya di kota B untuk memenuhi permintaan ibunya untuk membantunya dalam menjalankan bisnis yang saat ini semakin berkembang pesat. Selain alasan akan masalahnya, Beni memutuskan pulang ke tanah kelahirannya untuk memenuhi permintaan ibunya. Dan itu justru mampu membantunya menjauhkan dirinya dari orang yang sudah bertahun-tahun menjadi sosok yang tak dapat tergantikan di dalam hatinya.
Meski Beni sadar dengan apa yang ia rasakan itu adalah kesalahan besar. Namun Beni tidak mampu membohongi perasaannya yang sampai sekarang tidak bisa berpindah ke lain hati. Dan semua perilakunya yang menyimpang itu sama sekali tak diketahui oleh ibunya yang saat ini menjadi satu-satunya orang tua yang ia miliki. Karena sang ayah yang lebih dulu pergi karena penyakit yang dideritanya.
Sebenarnya, Beni sudah lelah dengan hidup yang seperti ini. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia juga ingin kembali pada Fitrahnya sebagai seorang laki-laki yang sejati. Namun. Bukannkah hati itu tidak bisa dibohongi? Dan hati itu juga yang sampai sekarang membuatnya masih terbelenggu dengan sosok Nizam yang tidak mudah untuk ia lupakan.
__ADS_1
Tapi, semenjak pertemuannya dengan gadis asing yang bernama Karenina barusan, membuat Beni merasa ada yang berbeda. Di mata Beni, Nina mampu memberikan warna yang berbeda di dalam hatinya, entah apa itu artinya! Tapi, dengan hanya menatap wajahnya saja, ia merasakan kedamaian dan ketenangan, serta ia rasanya ingin bertemu lagi dengan gadis asing tersebut.