
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Aldo membelah kesunyian jalan di Ibu Kota tersebut, Nina yang duduk di jok belakang dan Icha di kursi depan bersebelahan dengan sang pengemudi terlihat sama-sama diam tanpa satu patah kata.
Sebenarnya tadi pas mau masuk mobil, kedua gadis itu sepakat duduk di belakang karna merasa canggung jika duduk di depan.Tapi Aldo yang menyuruh salah satu dari mereka duduk di depan dengan alasan, kalau dirinya terlihat seperti sopir. Dan keduanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhir nya Ichalah yang harus di jok depan karna Nina yang memang mengetahui perasaan Icha terhadap Aldo, meskipun sahabatnya itu tidak pernah cerita tentang rasa yang dia miliki kepada bosnya tersebut. Namun Nina bukan gadis yang bodoh, sehingga tidak mengetahui gerak tubuh Icha yang menunjukkan ketertarikan Icha pada Aldo.
Sedangkan Aldo yang terus fokus dengan pandangannya ke arah jalan raya, sesekali terlihat curi-curi pandang ke arah Nina, dan itu tak luput dari perhatian Icha, ada rasa iri dihatinya. Namun rasa persahabatan yang baru ia jalin mengalahkan perasaannya. Toh, Aldo masih singgle. Banyak peluang yang masih membentang, selagi janur kuning belum melengkung, bosnya itu bukan milik siapa-siapa. Icha bertekad takkan berhenti berharap hingga sang harapan sendiri memilih tambatan hatinya. Dan ia akan berlapang dada, siapapun yang akan menjadi pilihan terakhir sang Idola.
Tiga puluh menit berkendara, akhirnya Mereka sampai di depan gang Rumah Nina. "Pak. Terimakasih ya, atas tumpangannya!" ucap Nina seraya membuka pintu mobil, yang sebelumnya sudah memberikan petunjuk di mana ia harus di turunkan. Karna mengingat Aldo yang sama sekali tidak pernah tau alamat Nina. Beda dengan Icha yang pernah satu arah menaiki angkot bersama Nina, di kala jam pulang mereka bersamaan.
"Saya antarkan ke Rumah kamu ya?" pinta Aldo yang di tolak Nina cepat, karna waktu yang sudah larut. Apalagi ada Icha yang juga harus di antarkan oleh Aldo.
Akhirnya Nina pulang sendiri. Dan Aldo melanjutkan perjalanannya menuju rumah Icha selama perjalanan hanya kesunyian yang tercipta dan deru mesin mobil yang mendominasi. Icha tidak tau harus bicara atau diam, karna keadaan itu sangat canggung baginya.
"Hem.... Pak. Didepan ada lampu merah belok kanan ya, turunkan saya di depan pintu masuk perumahan Nirwana saja." terang Icha
"Kenapa harus didepan gerbang? Saya antarkan kamu langsung ke depan Rumah Cha," jawab Aldo sambil memutarkan kemudinya ke arah kanan, dan benar saja dari kejauhan sudah terlihat gerbang Nirwana House. Ya, meskipun Nina bukan orang kaya, tapi kehidupan ekonomi keluarga Icha lebih mendingan di bandingkan Nina. Orang tua Icha yang mempunyai usaha Bakery kecil-kecilan membuahkan hasil yang cukup untuk bisa menempati rumah yang mereka tempati di perumahan tersebut. Walaupun cuma hasil dari kredit dan Alhamdulillah sudah lunas.
__ADS_1
Dan usaha itu pula yang membuat Icha bisa kuliah dan lulus sempurna. Meskipun sekarang Icha masih jadi karyawan Caffe, tapi ia sudah bersukur masih bisa mendapatkan pekerjaan yang halal sambil menunggu pekerjaan yang cocok dengan keahliannya sebagai seorang Desainer. Karna selama lulus kuliah ia sudah puluhan kali mengirim surat lamarannya ke banyak perusahaan. Namun, sampai sekarang tidak satupun panggilan yang ia terima.
Akhirnya ia coba-coba melamar pekerjaannya seadanya, yang penting tidak nganggur untuk kesempatan itu datang menghampiri nya sebagai seorang perancang busana, yang dari kecil menjadi impiannya. Saking asyiknya dengan fikirannya sendiri, Icha tidak menyadari pergerakan mobil bosnya tersebut telah memasuki gerbang rumahnya.
"Rumah kamu yang mana Cha?" tanya Aldo dengan menelankan laju mobilnya tersebut karna sudah memasuki komplek perumahan.
"Hah!?" Icha tergagap serta langsung melihat sekeliling yang sudah tak asing baginya, seraya berucap dengan terbata karna sedikit kaget karna dari tadi tidak fokus dengan jalanan. "Em...di depan ada pos Satpam pak. Pagar hitam itu Rumah saya." tunjuk Icha ke depan arah mobil yang kira-kira lima meter dari tempatnya berada. "Ok!" lanjut Aldo dan menuju sesuai intruksi dari gadis di sebelahnya.
"Terimakasih banyak ya Pak, sudah mengantarkan saya pulang, lain kali mampor ya Pak?." Icha bersuara sambil tersenyum seraya membuka pintu mobil.
"Lain kali kalau ada waktu saya mampir. Tapi nggak bisa janji ya! Kamu tau sendiri kan, kesibukan saya yang seharian selalu berada di Caffe." ungkap Aldo.
Di kediaman Al-Ghazali. Mobil yang di kendarai Nizam baru saja masuk dan terparkir sempurna di garasi luas tersebut. Kedua kakak ber-adik itu keluar bersamaan memasuki rumah yang mega itu untuk beristirahat karna sudah melakukan aktivitas hari ini.
*****
Tanpa terasa pagi sudah menjelang, matahari yang masih malu-malu itu mulai menampakkan cahayanya. Penduduk bumi yang yang mulai aktif dengan segala aktifitas keseharian satu persatu mulai di sibukkan dengan kewajibannya. Tak terkecuali keluarga Nizam.
__ADS_1
Pak Alkaf yang baru selesai melaksanakan Sholat subuh bersama sang istri membawa teh panasnya ke serambi depan rumahnya yang di ikuti Bu Zainiyah yang membawa koran harian di tangannya, untuk di baca sang suami tercinta di temani teh buatannya.
"Pa, nanti jam berapa kita ke rumah Bu Indah?" tanya Bu Zainiyah. "Nanti setelah Nizam bangun dan selesai sarapan Ma! Sekalian Papa mau bilang ke Nizam pas sarapan." jelas Pak Alkaf seraya membaca koran. Terlihat kacamata tebal membingkai mata tuanya, karna penglihatan yang sedikit terganggu dikala membaca tulisan yang terlalu kecil menurutnya.
Keduanya menikmati momentum itu di setiap paginya. Sungguh terlihat harmonis dan bahagia, dan itu juga harapan mereka terhadap kehidupan kedua putra putrinya kelak. Pagi mulai beranjak dan siang mulai menjelang. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul delapan, dan waktu sarapan mulai datang.
Bu Zainiyah yang sudah menyediakan nasi goreng untuk sarapan pagi ini, meletakkan makanan yang masih berkepul asap itu di atas meja makan. Tadi setelah menemani sang suami beberapa saat di depan rumah, ia beranjak ke dapur untuk berperang menyediakan makanan untuk keluarga kecilnya tersebut. Hingga akhirnya, nasi goreng sepesial buatan tangannya tercipta lezat menggugah selera.
Bu Zainiyah berlalu pergi untuk memanggil kedua anaknya yang di yakini sudah bangun dari tidur keduanya selepas subuh. Setelah beberapa saat mengetok pintu kamar keduanya Bu Zainiyah turunke bawah, karna Nizam dan Zizi sudah bangun meskipun tidak membuka pintu mereka, tapi keduanya merespon lewat suara dan menyetujui untuk sarapan bersama.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersamabung
"Di saat kita menyayangi seseorang, detik itu pula kau harus mengorbankan perasaan. Jikalau suatu saat nanti engkau tidak mendapatkan kasih sayang yang setimpal. Maka, setidaknya kau sudah menunjukkan rasa sayangmu dengan merelakan." @fahad