
Nizam masih diam terpaku di meja makan, dan semuanya tak luput dari perhatian Zizi. Sedangkan kedua orang tua mereka sudah pergi ke kamar mereka untuk bersiap pergi ke rumah Pak Anton yang barusan saja dibahas.
Nizam masih saja larut dalam fikirannya, yang tiba-tiba terlintas wajah Nina yang sedang tersenyum, lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar berharap kebimbangan yang ia rasakan sirna. Nizam memang bertekad akan menjalani semuanya sesuai apa yang di lakukan kedua orang tuanya. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini rasa gelisah itu muncul tiba-tiba. Ingin rasanya ia mencari sendiri wanita yang bisa menerima dia apa adanya. Namun, untuk mencari wanita yang seperti itu, membutuhkan waktu yang lama, bukan?
Dan orang tuanya pasti tidak akan membiarkan itu semua, apalagi ia sudah terikat janji kepada sang ayah. Bahwa, ia tidak akan melakukan protes apapun selagi persyaratan perjodohan itu sesuai dengan yang di inginkan dirinya, untuk menceritakan kekurangan tersebut. Sebagai mantan gay yang ingin sembuh.
"Kenapa Kakak tiba-tiba ragu dengan keputusan ini, bukankah Kakak sudah menyetujuinya?" rasa penasaran dalam diri Zizi mulai meronta-ronta, karna terlihat jelas diraut wajah Kakak tersayangnya itu.
"Jujur Kakak masih ragu Dek, ini keputusan besar dalam hidup Kakak! Kakak ragu, apa mungkin memang ada wanita yang berbaik hati menerima Kakak dengan apa adanya?" keluh Nizam, yang akhirnya ia ceritakan terhadap Zizi.
"Kakak jangan pesimis, Zizi yakin pasti di luar sana masih ada hati yang baik buat nerima Kakak apa adanya. Tapi, mungkin waktunya saja belum kita ketahui , Kakak jalani dulu apa yang kita rencakan semula. Toh, jodoh pasti datang pada akhirnya kan?" cetus Zizi sok bijak menghadapi kakaknya ysng lagi galau. Ya, meskipun kata-katanya ada benarnya juga.
"Oke deh, Kakak berangkat ke kantor dulu ya? Habis ini Kakak masih ada meeting soal cabang di luar Kota." jelas Nizam yang memang sudah rapi dengan setelan jasnya yang membungkus rapi tubuh sixpacknya.
Nizam beranjak pergi dari meja makan tersebut guna menuju kamar kedua orang tuanya untuk berpamitan. Setelah dengan tujuannya, Nizam menuju garasi untuk menaiki mobil pribadinya yang sudah di siapkan oleh sopir papanya tersebut.
Zizi hanya menatap kepergian kakak semata wayangnya, ada perasaan sedih yang hinggap tiba-tiba, dikala ia mengingat kisah hidup Nizam yang tidak semestinya, hanya ada satu harapan dalam benaknya. Yaitu, kesembuhan yang sesungguhnya untuk sang kakak. Zizi akhirnya juga beranjak dari meja makan tersebut menuju kamarnya.
"Pak, mana kunci mobil saya?" tanya Nizam pada pak Harto, yang memang memegang kunci mobilnya karna rutinitas pagi yang harus dilakukan pak Harto adalah membersihkan mobil-mobil yang tiap hari di pakai oleh para majikan tersebut.
"Ini Tuan," jawab pak Harto seraya maju kehadapan Nizam. "Oh iya Pak, sebentar lagi Papa dan Mama keluar. Tolong Bapak siapkan juga mobil mereka," titah Nizam sembari menaiki mobilnya.
Tak menunggu waktu lama Nizam sudah berjibaku dalam kemacetan yang memang sudah menjadi hal biasa di jalan raya, mobilnya melaju dengan kecepatan normal membelah hiruk pikuk jalan yang sudah padat dari lautan kendaraan yang sama-sama mengejar rejeki di pagi hari, untuk bekerja.
__ADS_1
Di dalam mobil, Nizam memantapkan hati dan jiwanya untuk menjalani semuanya dengan alurnya, meskipun ia harus mengabaikan rasa yang masih ia sendiri belum memahaminya.
******
Di dalam kamar pak Alkaf, kedua paruh baya itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing untuk menyiapkan diri bertemu rekan bisnis yang sekaligus sahabat mereka berdua. Setelah dirasa semua sudah siapa, Pak Alkaf dan Bu Zainiyah keluar kamar dan menuju ke kamar anak bungsunya untuk berpamitan.
"Zi, Papa, Mama berangkat dulu ya? Kamu baik-baik di rumah. Kalau mau apa-apa minta ke Bibi ya," pamit Mamanya, "Siap Ma, Pa. Lagi pula, kayaknya Zizi mau rebahan saja deh hari ini, masih ngantuk." cetus Zizi yang memang masih terlihat bermalas-malasan di ranjang besarnya.
Akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari kamar anaknya menuju kehalaman yang di sana sudah terlihat Pak Harto dengan mobil yang sudah siap untuk membawa mereka tempat tujuannya. Setelah Pak Alkaf memasuki mobil tersebut, Pak Harto mulai menjalankan mesin dan merayap ke jalan raya. Tapi sebelum nya ia tak lupa bertanya, kemana tujuan Tuan dan Nyonya nya tersebut.
Setelah mengerti kemana majikannya akan berkunjung, Pak Harto mulai menambah kecepatan berkendaranya sesuai situasi lalu lintas yang ia jalani, setelah melaui waktu satu jam Akhirnya mobil itu sampai di perumahan elit, perumahan itu tak kalah mewah dengan perumahan yang di tempati keluarga Al-Ghazali, pohon-pohon yang tumbuh rindang di sepanjang jalan menyejukkan hati orang yang melalui jalan tersebut.
Tidak beberapa lama, mobil itu berhenti di sebuah rumah besar dan elegan, terlihat dari pagarnya saja sudah kelihatan kalau si penghuni di dalam bukanlah orang sembarangan. Pak Harto memencet klakson mobilnya agar si penjaga rumah mengetahui kedatangannya.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah menuruni mobilnya dan secara bersamaan melangkah ke pintu utama yang memang sedikit terbuka, karna di sana terlihat ada pekerja rumah tangga yang membersihkan area tersebut.
"Assalamu'alaikum....?" ucap Bu Zainiyah yang membuat pelayan tersebut menjawab seraya melihat orang di belakangnya. "Waalaikumus'salam!" maaf Nyonya, cari siapa ya?" tanya pelayan tersebut dengan nada yang sopan. "Kami adalah sahabat dari Pak Anton dan Bu Indah, kami datang ke sini ada perlu dengan mereka. Apa mereka ada di rumah?" jelas Bu Zainiyah.
"Ada Nyonya. Mari silahkan masuk, saya panggilkan Tuan dan Nyonya dulu di kamarnya."
jawab pelayanan itu seraya membuka pintu untuk mempersilahkan kedua tamu majikannya itu duduk di ruang tamu. Dengan cepat pelayan itu pergi meninggalkan pak Alkaf dan bu Zainiyah menuju kamar majikannya.
Tok tok tok....
__ADS_1
"Nyonya, di luar ada tamu," suara pelayan itu menjelaskan dari luar pintu. "Siapa Bi?" sahut suara dari dalam pintu yang sekaligus terbuka. "Ada Pak Alkaf sama Bu Zainiyah di luar Nyonya." terang pelayan yang bernama bi Inem tersebut.
"Siapa yang datang Ma?" tanya pak Anton penasaran, yang kebetulan ia mendengar percakapan sang istri, namun tidak jelas siapa yang datang. "Alkaf sama Zainiyah Pa!" jawab bu Indah dengan wajah senangnya karna kedatangan sahabat mereka.
"Kok mereka datang nggak kasih kabar kekita Ma?"
"Mama juga tidak tahu Pa, yuk kita turun? ajak bu Indah terlihat sumringah. Bu Indah lalu menyuruh Bi Inem membuatkan minum dulu sebelum mereka turun ke bawah.
.
.
.
.
.
.
.Bersambung
Maaf baru up gaesss...
__ADS_1
Oh, Iya. usahakan habis baca Coment ya. Karna semangat Up aq satu2nya adalah baca Coment kalian, semakin banyak ya Coment semakin semangat!!!! jan lupa LIKE juga ya gaesss..