Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Curhat Kepada Melisa


__ADS_3

"Jangan pernah merasa bersalah Kak, karena kejujuran seperti inilah yang melisa harapkan, Melisa tidak mau Kakak berbohong hanya untuk menjaga perasaan melisa.


Nizam mendesah perlahan berharap Melisa benar-benar berkata apa adanya. "Apa yang akan kita katakan kepada orang tua kita masing-masing?" Tanya Nizam terhadap Melisa karena pikirannya sudah merasa buntu dan tak dapat berfikir lagi.


"Kalau itu serahkan kepadaku, aku yang akan mengatur semuanya. Kakak cukup diam dan mengikuti apa yang menjadi dramaku nanti," ucap Melisa tenang namun ada beban yang tiba-tiba timbul di dalam sudut hatinya sekarang namun ia sangat pintar menutupinya dari Nizam.


"Baiklah aku akan menunggu keputusanmu untuk berbica kepada keluarga kita, kalau waktunya sudah siap kamu kabari saja biar aku dan kedua orang tuaku yang datang ke rumahmu," kata Nizam.


"Kak, kalau boleh tahu, apakah Kakak sekarang memang sudah bisa memiliki seorang wanita wanita yang sepesial?" Tanya Melisa hati-hati berharap Nizam tidak tersinggung dengan pertanyaan yang sangat privasi tersebut.


"Ya, kau benar! Beberapa bulan yang lalu hatiku merasa berdebar di saat bertemu pertama kali dengan seorang gadis asing, hatiku terus di buat penasaran terhadapnya. Namun, waktu itu aku belum menyadarinya. Lama kelamaan ada rasa baru yang hadir dalam kalbuku yang di sebut dengan rindu. Sungguh rasa itu terasa asing bagiku. Dan rasa yang kurasakan sekarang ini jauh lebih dalam daripada perasaan yang aku miliki saat menjalin hubungan dengan Beni." Tanpa sadar Nizam mengatakan semua perasaan yang ia rasakan saat ini, entah mengapa Nizam mempercayai Melisa sebagai wanita yang bisa memahaminya.


"Apakah Kakak sudah mengatakan perasaan Kakak kepada wanita itu?" Tanya Melisa lagi dengan penasaran.


"Belum! Jangankan mengungkapkan, menunjukkan tentang perasaan ini terhadapnya saja aku tak mampu rasanya! Aku terlalu pengecut Mel, dan terlihat seperti pria bodoh yang terjebak pada tubuh yang sudah berumur ini." Sesal Nizam yang memang tak mempunyai keberanian untuk mengatakan perasaannya terhadap Nina.


"Aku juga tidak percaya diri, karena gadis yang mampu membuat hatiku berubah itu rasanya tak pantas untukku, dia masih terlalu dini untuk menjalin hubungan dengan laki-laki tua sepertiku. Aku juga takut ia akan menolakku jika seandainya dia tahu aku adalah mantan seorang Gay,"


Hampir saja Melisa menyemburkan minumannya dikala ia mendengar pengakuan Nizam yang mengatakan bahwa gadis yang ia maksud masih berumur belasan tahun.


"Maaf, Mel. Aku jadi curhat kepadamu," kata Nizam dengan senyum getir. Sebagai laki-laki yang tangguh ia merasa dilemahkan oleh yang namanya cinta. Kini Nizam sangat menyadari perasaannya kepada Nina, bahwa dirinya sudah jatuh cinta seratus persen kepada gadis tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Kak. Melisa malah senang karena menjadi orang pertama yang Kakak percaya untuk dijadikan teman berbagi akan perasan Kakak yang sebenarnya," kata Melisa seraya membersihkan area mulutnya dengan tisu.


Ungkapan Melisa menjadikan hati Nizam lega. Setidaknya ia bisa berbagi tentang perasaan yang selama ini ia rasakan sendiri.


Tok tok tok....


Pintu yang diketuk dari luar mengalihkan perhatian Melisa dan Nizam, serta juga menutup percakapan mereka.


"Masuk," Melisa mempersilahkan siapa saja yang di luar pintu, karena Melisa yakin bahwa itu pasti seorang pelayan yang membawakan makan malam yang sudah mereka pesan.


Dua wanita cantik yang bertugas sebagai pramusaji masuk setelah mendengar perintah dari sang tamu di dalam ruangan tersebut, keduanya masing-masing membawa nampan ditangan mereka yang di atasnya sudah dipenuhi makanan lezat, kepulan asap yang terlihat sedikit samar menandakan makanan tersebut baru saja disajikan dan sangat menggugah selera.


Dan benar saja, Nina berdiri tepat di depannya dengan wajah dan makeup yang terlihat sederhana namun sangat memesona dihatinya. Nina sengaja melebarkan senyumnya seraya menganggukkan kepala di saat matanya tak sengaja bersilang pandang dengan Nizam.


Sikap Nina yang seperti ini yang membuat Nizam semakin tak percaya diri. Bagi Nizam sikap yang biasa saja dan tak melihat ada ketertarikan di mata itu, asumsi sepihak itu membuat Nizam semakin tidak memiliki nyali untuk berterus terang kepada gadis di depannya ini.


Nizam rasanya sangat canggung berada dalam satu ruangan dengan Nina dan juga Melisa, tapi sebisa mungkin Nizam bersikap sewajarnya.


Melisa terus mengawasi arah pandang Nizam yang tak berkedip menatap pramusaji yang sedang sibuk menata makanan yang mereka pesan. Ia juga perempuan, dan sedikit banyaknya Melisa merasakan bahwa Nizam bukan hanya sekedar memerhatikan cara kerja mereka.


"Baiklah, Nona! Makanan sudah siap, silahkan dinikmati," Nina mempersilahkan dan berpamitan keluar yang disusul oleh Icha yang sejak tadi bersamanya membawakan makanan yang dipesan Nizam.

__ADS_1


Nina melangkah gontai setelah keluar dari ruangan Nizam dengan nampan yang ia dekap di depan dadanya. Hatinya sebenarnya sedih karena secara tak sengaja telah menemukan fakta jika Nizam sudah memiliki calon istri.


Sekarang ia bertekad akan menghalau rasa yang tanpa ia sadari telah bersemayam jauh di lubuk hatinya. Siapakah dirinya jika dibandingkan wanita yang menjadi calon Nizam sekarang.


"Kamu kenapa, Nin? Tanya Icha yang merasakan perubahan pada wajah Nina setelah keluar dari ruangan yang barusan mereka datangi.


"Tidak apa-apa, Kak! Memang kenapa?" Nina malah bertanya balik, yang membuat Icha kesal karena tak puas dengan jawaban Nina yang tak jelas.


"Ah, Kamu itu, Aku bertanya malah balik nanyak!" Mereka berdua cekikikan seraya menuruni anak tangga karena pembasahan yang terdengar lucu bagi Icha, namun tidak untuk Nina.


Nina hanya mengalihkan topik agar dirinya tak terjebak oleh keadaan karena perasaannya sekarang lagi sensitif. Nina takut salah ucap yang akan menyebabkan masalah baru.


"Nin, bukankah tadi yang ada di ruang vvip itu laki-laki yang waktu dulu, yang orangnya sangat sombong dan tidak sabaran itu, 'kan?" Kata Icha mengingat-ingat saat pertama kali dirinya bertemu Nizam dan memiliki kesan tak mengenakan.


"Iya, Kakak benar! Itu tadi namanya Kak Nizam." Jawab Nina santai seraya mendudukkan tubuhnya di kursi sesaat setelah ia meletakkan nampan yang sedari tadi ia bawa ke tempatnya.


"Jadi kamu kenal pria sombong itu?" Icha merasa terkejut karena Nina bisa mengetahui nama pelanggan yang di matanya sangat arogan dan sombong itu.


"Kak Icha bisa aja, sebenarnya dia itu orangnya baik!" Kan, Nina jadi keceplosan.


Terpaksa Nina harus menceritakan kejadian sewaktu Nina tak sengaja menemukan SIM milik Nizam dan sempat mengantarkan ke rumah Nizam.

__ADS_1


__ADS_2