Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Nina Menyetujui


__ADS_3

Setelah Nina sudah menyesaikan semuanya, ia menuju ke cermin tolet yang tersedia di dalam kamarnya. Kamar yang hanya berukuran tiga meter persegi itu lebih terlihat luas setelah rumahnya direnovasi. Cat dinding berwarna salem itu sangat manis untuk dipandang yang identik dengan warna kegemaran para kaum Hawa, termasuk juga Nina.


Nina memoles wajahnya dengan pelembab agar selalu terjaga dan sehat. Meskipun ia tidak bisa membeli skincare mahal, tapi Nina sangat rajin merawat tubuh dan wajahnya secara tradisional. Nina yang malam itu mengenakan piyama tidur motif bunga membuatnya terlihat sangat menawan.


"Ibu, mana Bapak?" tanya Nina menghampiri Aminah yang sudah duduk di ruang tamu setelah selesai memasak makan malam.


"Tunggulah sebentar, Bapak masih ke kamar mandi. Sini, duduk!" ajak Bu Aminah meraih tangan Nina serta menarik mendekat ke sampingnya.


Tak lama kemudian, Pak Anwar datang dengan wajah yang masih basah, kelihatannya paruh baya itu baru selesai berwudhu. Baju koko serta sarung yang selalu tak lepas dari tubuh itu sudah menjadi ciri khas dari Pak Anwar dalam kesehariannya.


"Nina, kau sudah pulang, Nak?" tanya ayahnya menyapa. Karena sedari tadi setelah kedatangan Nina dari bekerja sama sekali belum bertemu sang putri.


"Iya, Yah. Ini baru saja selesai mandi," jawab Nina dengan seulas senyum. Ruang tamu itu seketika hening. Nina yang merasakan ada hal penting yang akan disampaikan kedua orang tuanya itu menjadi bertanya-tanya.


"Nina. Ayah mau membicarakan hal penting. Itu menyangkut keluarga Pak Alkaf dan Bu Zainiyah. Ayah harap, apa yang sudah Ayah putuskan sebelum bertanya padamu ini bisa kau terima, Nak." Memulai dengan sebuah pembicaraan yang serius dan itu membuat Nina semakin tak menentu.

__ADS_1


"Tadi siang, mereka datang kemari dan membicarakan banyak hal," Pak Anwar mulai menceritakan semua apa yang telah ia dengar dari Pak Alkaf dan semua keluh kesahnya. Tak lupa pula kisah anak laki-lakinya yang sampai saat ini tidak bisa membuka hatinya terhadap seorang wanita dalam hidup karena masa lalu telah memupuk hati itu dengan perbuatan yang menyimpang.


Nina yang mendengar itu sangat terkejut dan tidak menyangka. Mana mungkin anak dari keluarga terhormat memiliki kelakuan yang seperti itu? Namun itu hanya ada dalam batin Nina, dan tak mungkin ia mengatakan hal tersebut di depan ayahnya.


"Dia juga pernah menjalanin pertunangan dengan anak dari teman Alkaf. Tapi semua gagal karena memang hubungan itu tidak bisa dilanjutkan. Memang pihak perempuan yang memutuskan itu, tapi anak dari Alkaf sendiri juga tetap tidak bisa memiliki perubahan apa pun. Maka dari itu, Alkaf memutuskan sendiri untuk memilih calon istri dari anaknya. Dan, ayah berniat menjodohkanmu dengan anak mereka."


Penjelasan terakhir dari ayahnya itu sontak membuat wajah Nina terangkat menatap sang ayah yang sedari tadi memerhatikan reaksi dari Nina sendiri. Sebelum Nina membuka mulutnya untuk mengajukan pertanyaan, Pak Anwar mendahuluinya untuk berkata.


"Nina, kita hidup itu tidak bisa sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Ada Tuhan yang sudah mengatur skenario itu. Begitupun tentang jodoh. Jika manusia bisa menentukan akan Jodoh mereka masing-masing, itu sama saja kita yang mengatur Sang pemberi hidup. Selain Ayah menerima perjodohan ini karena ingin membantu dan membalas budi baik dari keluarga Alkaf, ada alasan lain di balik itu semua," lanjut Pak Anwar.


Mungkin masalah yang dihadapi keluarga itu telah mengingatkannya akan janji yang pernha terucap di hati tanpa ada yang tahu selain Tuhan. Bukankah Dia-lah yang Maha tahu apa yang ada dalam hati para umat-Nya?


"Alasan Bapak yang kedua ingin menjadikan kamu istri anak Alkaf adalah untuk mengais segudang pahala yang luar biasa, dan itu hanya kau yang mampu melakukannya. Seandainya kau setuju menikah dengan seorang manusia yang sudah pernah menyalahi kodrat Tuhan, dan mereka ingin bertobat. Maka semua pahala akan mengalir pada siapa saja yang mau membimbingnya dengan ikhlas.


Dan seandainya kau menjadi istrinya, dan berhasil membawanya ke jalan yang lurus serta yang terpenting ia benar-benar sembuh dari penyakit yang selama ini menjadi sumber masalah terbesarnya. Yaitu tidak bisa memiliki rasa cinta atau ketertarikan kepada lawan jenis.

__ADS_1


Jika dalam hal ini kau mampu melakukannya, bukan kau yang mendapat pahala besar itu, tapi kami sebagai orang tua juga akan mendapatkan pahala dari Allah. Jadi tolong terimalah niat baik ayah ini yang akan menjadikanmu wanita mulia yang mau menjadi istri karena Allah. Selain pahala yang akan kau dapat. Kita akan bisa membantu keluarga itu dari masalah terbesar mereka.


Ini adalah kesempatan kita untuk membantu keluarga Al-gazali, Nak. Ayah berharap kau mempunyai kebesaran hati dalam menyikapi dan menerima perjodohan ini. Niatkanlah hatimu untuk mengejar pahala di jalan Allah, maka kau akan menjadi wanita yang berjiwa besar."


Panjang lebar Pak Anwar menjelaskan apa yang menjadi alasan baginya untuk menjadikan nina sebagai calon istri dari Pak Alkaf. Nina yang terlihat menunduk patuh tidak berani menatap mata sang ayah.


Selama ia hidup. Ayahnya itu tidak pernah meminta sesuatu ataupun menuntut satu hal darinya. Jadi untuk pertama kalinya ayahnya itu meminta hal itu kepadanya. Ap mungkin ia akan menolak? Tidak! Nina tidak mungkin menjadi anak yang akan mengecewakan orang yang sudah membesarkannya itu dengan penuh perjuangan.


Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membalas peluh yang keluar dari tubuh ayahnya karena lelah mencari nafkah untuk menghidupinya hingga kini dewasa. Rasanya tidak mungkin Nina setega itu untuk menolaknya.


Dengan melapangkan dada, Nina mencoba menerima semua keputusan sang ayah. Sesangkan Bu aminah yang dari tadi hanya mendengarkan alasan dari suaminya itu tergugu haru. Awalnya ia mengira Pak Anwar hanya membuat keputusan itu karena bentuk balas budi kepada Pak alkaf.


Tapi, betapa mulianya hati suaminya tersebut dengan memikirkan kebaikan yang berlipat-lipat dari sebuah keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia setujui. Sekarang, Bu Aminah merasa ikhlas dengan Nina yang dijodohkan dengan putra dari Alkaf.


"Kalau dengan Nina menjadi istri dari anak Om Alkaf bisa menjadi amal kebaikan dan menjadikan Ayah dan Ibu bahagia, maka Nina akan menyetujui keputusan Ayah." Akhirnya Nina menjawab dengan pilihan hatinya. Entah kenapa ia merasa ikhlas saat berkata demikian?

__ADS_1


__ADS_2