
Nizam mengernyit bingung dengan pertanyaan Melisa, Nizam tak sadar akan jawaban yang baru saja ia lontarkan terhadap Melisa sehingga Melisa mengajukan pertanyaan atas jawabannya tentang perkawinan.
"Kakak tadi bilang kalau mungkin saja sekarang musim orang kawin. Apakah Kakak juga tak ada niat untuk menjalani pernikahan?" Melisa menjelas secara detail. Tepat dan cepat diwaktu yang pas.
"Apakah aku mengatakan hal itu?" Tanya Nizam bingung dengan pertanyaan Melisa yang sebenarnya tak dapat ia jawab.
"Sudahlah, lupakan saja, Kak." Melisa berucap secara santai sembari tersenyum dan mengabaikan pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban karena tak ingin merusak makan malamnya bersama Nizam.
Nizam meletakkan hape yang semula menjadi titik fokusnya keatas meja. Ia menatap Melisa dengan sorot mata yang tegas penuh keseriusan. Jelas dari gesture-nya, Melisa tahu bahwa Nizam akan mengatakan suatu hal yang penting. Apalagi kalau bukan menyangkut perjodohannya yang sampai sekarang belum jelas titik terangnya, mau dibawa kemana hubungan mereka.
"Hemm," suara Nizam sedikit gerogi
"Selain makan malam kita sekarang, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu. Aku berharap kau bisa memahaminya. Mungkin ini terdengar egois. Tapi, apa yang aku katakan ini mungkin lebih baik, 'bukan?" Lanjut Nizam.
Setelah selama ini ia berfikir cukup keras, Nizam memutuskan akan perasaannya terhadap Melisa, dan semua alasan kenapa ia mau mencoba menjalani perjodohan bersama Melisa.
Ya, Nizam menyetujui perjodohan itu selain tak ingin mengecewakan atau menolak rencana orangtuanya, ia juga punya tujuan lain. Yaitu untuk memastikan perasaannya sendiri terhadap seorang gadis namun ia sendiri masih ragu dalam mengartikannya.
Nina! Ya, wanita itu adalah Nina. Wanita pertama yang mampu membuatnya berdebar-debar hanya dengan menatap wajahnya saja. Selama ini Nizam memang bimbang atas rasa yan ia miliki terhadap Nina dan perjodohannya dengan Melisa ia jadikan pembuktian apakah perasaan yang ia rasakan terhadap Nina selama ini sama halnya jika ia bersama Melisa?
Dan, pertanyaan itu terjawab sudah. Waktu satu bulan sudah cukup bagi Nizam untuk mengetes perasaannya terhadap Melisa, pertemuan beberapa kali yang telah ia lakukan dalam kurun waktu tersebut juga telah membuatnya benar-benar yakin bahwa ia tidak memiliki rasa yang husus terhadap Melisa meskipun secara fisik dan perilaku Melisa begitu sangat sempurna dimatanya, tapi tak mampu menggoyahkan hatinya.
__ADS_1
Bagi Nizam, sekarang Melisa hanya seorang perempuan yang posisinya sama seperti adiknya, Nizam merasa sayang terhadap Melisa sebagai orang yang dekat dengannya beserta keluarganya layaknya seperti saudara. Karena memang itu yang ia rasakan saat ini.
Tidak ada rasa disaat menatapnya, tidak ada getaran dikala bersamanya, dan juga tak ada rindu walaupun berjauhan. Fix, sekarang Nizam yakin bahwa dirinya sudah jatuh hati kepada Nina. Wanita pertama yang menjadi pelabuhan hatinya. Wanita pertama yang mampu memporak-porandakan jiwanya.
Dan yang pasti Nina adalah wanita pertama yang secara tidak langsung telah menolongnya dalam membebaskan jiwanya dari perang batin yang selama ini menyiksanya. Batin yang selalu dihantui ketakutan dan kekhawatiran jikalau dirinya benar-benar tidak bisa memiliki rasa atau tak mampu mencintai seorang wanita.
Bagi Nizam, Nina benar-benar penolong yang telah menyembuhkan dirinya dari manusia yaang pernah memiliki rasa yang salah. Rasa yang menjerumuskannya ke dalam lembah penuh dosa. Nizam merasa dirinya sangat kotor, bahkan seandainya ia mandi air tujuh lautan untuk mensucikan tubuhnya pun itu tak akan mampu membersihkan diri dari hitamnya hati yang mengotori seluruh jiwa dan raganya.
Nizam juga ingin memulai kehidupan yang normal layaknya laki-laki lainnya. Mungkin, sembuhnya sang pendosa adalah gelar yang pantas ia sematkan pada dirinya sendiri saat ini. Karena setelah ia memastikan dan meyakini perasaannya ia merasa benar-benar seakan terlahir kembali, jiwanya terasa menjadi sangat damai dari segala keresahan serta beban fikiran yang selama ini menghimpitnya setiap hari.
Tapi, bebas dari beban jiwa yang selama ini ia pikul bukanlah akhir dari sebuah masalah. Dua masalah yang lain masih menunggunya untuk ia selesaikan. Yang pertama ia harus berbicara jujur terhadap Melisa akan perasaannya, walaupun ia tahu bahwa Melisa mungkin saja kecewa.
Namun, prinsip Melisa yang membenci kebohongan sekali pun itu untuk menjaga perasaan menjadi alasan kuat buat Nizam untuk berkata jujur sekarang.
Ini adalah sebuah tantangan baginya, dan itu akan ia fikirkan setelah urusannya dengan Melisa sudah selesai. Belum lagi urusan keluarga yang selanjutnya akan menjadi masalah yang harus ia hadapi.
Setelah jeda panjang membungkam keduanya, Melisa terus saja menunggu kata yang ingin diuraikan Nizam namun terlihat ragu dalam mengatakannya. Rasanya ia sudah tak sabar ingin mendengarnya.
"Kak, kenapa masih diam? Katanya ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan sama Melisa." Tidak tahan dengan keadaan, Melisa bertanya kepada Nizam dan itu mampu membuyarkan lamunannya tentang sekilas kenyataan yang ingin ia ungkapkan terhadap Melisa.
"Maaf, Mel. Kakak tidak fokus," jawab Nizam seraya membetulkan krah kemejanya.
__ADS_1
Sungguh, laki-laki dihadapannya sekarang benar-benar terlihat sangat tampan dan sempurna dimatanya. Melisa tak menampik jika wajah Nizam yang menawan mampu membius siapa saja termasuk dirinya. Tapi, ia juga tidak boleh egois. Ia harus mempertahankan prinsip yang selama ini pegang.
"Mel, selama satu bulan ini kita sudah sering bersama. Apakah perasaanmu tetap sama seperti sejak awal kepadaku?" Meskipun Nizam dibuat was-was akan jawaban Melisa, tapi sebagai laki-laki ia tak boleh egois dan hanya mementingkan perasaannya. Bukankah Melisa juga berhak mengatakan apa yang dia rasakan?
"Perasaanku tetap sama Kak! Sampai detik ini Melisa masih suka sama Kakak. Tapi di sini bukan perasaan Melisa yang utama, tapi perasaan Kak Nizam!" Melisa menjeda ucapannya seraya menatap manik mata Nizam.
"Niat perjodohan ini agar Kakak memiliki rasa atau getaran secara batin terhadap pasangannya. Jika rasa itu tidak Kakak rasakan bersama Melisa mungkin Melisa bukan wanita yang mampu membuat hati Kakak berubah, dan Melisa sungguh tak apa-apa!" Lanjut Melisa dengan wajah yang datar.
"Melisa tahu keraguan Kak Nizam yang merasa serba salah dalam ini, 'bukan? Tebak Melisa yang menjadi poin utama dalam perbincangan malam ini bagi Nizam.
"Ya, kau benar. Aku merasa serba salah dalam hal ini. Kalau aku jujur keluarga kita dan kau juga akan kecewa tentunya. Tapi, jika aku berkata tak jujur terhadapmu, semua akan menjadi kacau dan kau juga akan jauh lebih kecewa lagi atas kebohonganku ityu" Nizam berkata lemah seakan rasa bersalahnya telah mengambil kekuatannya.
"Aku akui Mel! Hatiku memang tidak memiliki rasa yang lebih terhadapmu, bukan karena kau tak cantik. Tapi ini masalah hati yang tak mampu aku bohongi." Dengan sangat menyesal Nizam mengatakan sesuatu yang terdengar jahat dan mungkin juga bisa membuat hati Melisa sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersambung....