
Nizam mulai menjalankan mobilnya ke jalan raya, namun fikiran nya masih saja terkontaminasi oleh wajah Nina yang menyiksanya.
" Apa benar yang di katakan Arif dan Hendra, bahwa aku sudah bisa menyukai wanita. Tapi kenapa rasa terhadap Beni masih ada di hati ini? aku harus mencobanya cara lain untuk membuktikan semuanya, dan aku harus mencoba pada wanita lain." monolog Nizam yang berperang dengan fikiran dan jiwanya sendiri.
Dia menambah kecepatan laju mobil itu ingin cepat-cepat sampai di rumah. Karna waktu sudah beranjak sore ia putuskan tidak kembali ke kantor lagi, dan semuanya sudah ia pasrahkan kepada Asistennya.
Tubuhnya sudah terasa lelah, di tambah lagi beban fikiran yang akhir-akhir ini membuatnya kacau tak karuan.
*****
Nina yang baru turun dari mobil mewah Nizam, langsung berjalan menuju ke Caffe yang sudah mulai rame. Dia tapak-kan kakinya di halaman yang cukup luas itu, yang berfungsi sebagai tempat parkir para pengunjung Caffe.
Nina yang sudah sampai di pintu samping Caffe husus kariawan, langsung masuk dari menuju loker tempat ia menaruh benda-benda miliknya. Setelah di rasa sudah siap dia berlalu dari tempat itu sambil memasang celemek dan topi kecil yang menjadi ciri khas Caffe santuy. Nina melangkah kan ke arah meja atasan nya yang tak lain adalah, Aldo sang maneger Caffe itu.
" Selamat siang Pak Aldo?" ucap Nina dengan seulas senyum manisnya.
Aldo yang sedari tadi fokus terhadap berkas-berkas di tangannya, tidak menyadari kehadiran Nina yang sudah berdiri tepat di depannya. Sontak Aldo menengadah kan kepalanya guna melihat orang yang sudah ia kenali dari suaranya saja.
" Selamat siang juga Nina!" jawab Aldo menyambut dengan senyuman yang tulus.
" Pak saya ke sini mau absen secara manual, karna alat ceklock yang ada di tempat kariawan kayaknya tidak bisa." ungkap Nina menjelaskan.
Aldo masih saja memandang Nina yang terus berbicara, dia hanya tersenyum dan fokus memerhatikan gerak bibir itu. Hingga suara Nina yang entah ke berapa kalinya menyadarkan nya.
" Pak, apa Bapak mendengar kan saya?" lanjut Nina.
" I-iya Nin, saya dengar kok!" jawab Aldo tergagap sambil meletak kan berkas yang ia pegang.
" Kamu tanda tangan saja di buku besar itu, semua Anak-anak juga di situ kok." ucap Aldo menunjukkan buku yang berada di dekat pintu kasir.
Mata Nina mengikuti gerak tangan Aldo, lalu bergegas menuju objek yang sudah ia mengerti. Nina lalu membuka buku itu dan memberikan parafnya di kertas yang sudah banyak berjejer nama teman-temannya yang masuk pagi.
" Permisi ya Pak saya lanjut kerja dulu." pamit Nina lantas pergi ke arah teman-teman nya yang sudah mulai sibuk melayani para pengunjung Caffe.
__ADS_1
" Heemm." Aldo hanya bisa menatap kepergian Nina, hingga tubuh itu hilang tak terlihat.
Seperti biasa, Nina memulai pekerjaan nya dengan penuh semangat. Dia membersihkan meja-meja kotor yang baru saja ditinggalkan para tamu Caffe. Dia tidak pernah mengeluh dengan tugas-tugas yang kadang membuat nya lelah, karna bagi dia kekelahan adalah bentuk dari perjuangan nya dalam mengais rezeki yang halal.
" Hai Nin?" sapa Icha yang baru datang.
" Hai juga Kak Icha." jawab Nina yang masih terus dengan aktifitasnya.
" Nin kamu juga sip sore kan? yang berarti kita sama-sama pulang malam."
" Iya Kak, memangnya kenapa?" tanya Nina balik.
" Kamu tau nggak, kalau ruangan di atas mau di pakek acara ulang tahun?"
" Kapan Kak?" jawab Nina penasaran seraya menatap ke arah Icha yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
" Katanya sih nanti malam jam 19:00 WIB acara di mulai, tadi Pak Aldo tidak bilang ke kamu?" selidik Icha yang mulai menduduk kan tubuhnya di kursi.
" Mungkin Pak Aldo lupa Kak, lagi pula kita kan sama-sama masuknya sore, jadi ketinggalan berita deh." cetus Nina.
" Ya iyalah Kak, siapa lagi coba. Tugas kita itu nanti malam lebih berat daripada yang tadi pagi. Bisa-bisa kita semua lembur nanti malam, iya nggak?" tutur Nina yang di sambut senyuman lebar oleh Icha.
" Kalau lembur gaji kita doble dong haha." lanjut Icha dengan tawa ringannya.
Bagi sebagian kariyawan, mendapatkan tugas lembur adalah sesuatu yang di nantikan, karna dengan lembur akan menambah pundi-pundi mereka di saat gajian tiba.
Setelah mengobrol panjang lebar, kedua wanita itu kembali berbaur dengan yang lainnya, untuk sama-sama melayani para pengunjung yang tiada henti keluar masuk di Caffe itu.
Letak Caffe yang memang sangat strategis dan juga nyaman untuk digunakan sebagai tempat nongkrong kaula muda, di samping menu-menu yang semuanya terasa enak. Caffe itu juga terkenal dengan pelayanan nomer satu di sekitarnya.
Di Rumah Nizam
Nizam yang baru saja masuk ke dalam rumah, langsung duduk di sofa panjang yang tersedia di ruang tamu. Dia duduk setengah rebahan untuk menghilang lelah yang ia rasakan. Nizam memejamkan kedua matanya menikmati kenyamanan dengan bersantai sejenak.
__ADS_1
" Kakak tumben pulang jam segini?" tiba-tiba suara cempreng adiknya menggema di ruangan yang tadinya sepi.
" Tadi Kakak ada urusan di luar Resto, dan langsung pulang." jelas Nizam dengan mata yang masih terpejam.
" Oh iya Kak, entar malam jangan lupa ya Kak. untuk temani Zizi ke acara ulang tahun teman Zizi."
Spontan Nizam duduk menegakkan tubuhnya, tatapan matanya langsung ter arah ke mata Zizi, berharap ada kebohongan di setiap omongan nya. Jujur dia malas untuk ikut ajakan Zizi karna tidak mau berbaur dengan anak-anak SMA yang umurnya masih belasan tahun. Secara dia sudah 29 tahun, dia merasa seperti om-om yang mengantarkan keponakan nya.
" Bisa nggak Kakak tidak ikut hehe...?" bujuk Nizam dengan tawa jenakanya.
" Kakak kan sudah janji sama Zi, pokoknya aku tidak mau tau, jam tujuh kita berangkat." jelas Zizi dengan mode ngambeknya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Nizam yang masih melongo.
" Iya- iya Kakak ikut Dek, tapi jangan ngambek gitu dong." teriak Nizam dengan suara yang terbuang, karna Zizi sudah pergi ke lantai atas.
" Hufffff, Zizi-zizi. kamu memang pinter buat Kakak tak berdaya dek." guman Nizam pelan pada dirinya sendiri.
Namun ada senyum di bibirnya, karna mengingat setiap kelakuan Zizi yang selalu ngambek dan mogok bicara kalau apa yang dia minta tidak di turuti olehnya.
Lalu Nizam juga beranjak dari ruang tamu itu mengikuti Zizi ke lantai atas. Dia berniat tidur sebentar karna merasa letih sekali hari ini.
.
.
.
.Bersambung
Maaf karna sudah lama menunggu.
Fahad masih banyak kegiatan di kehidupan nyata, apalagi saya sambi dengan merevisi ulang. jadi saya harap tolong pengertiannya.
Semoga selalu setia dengan karya Fahad.
__ADS_1
Salam hangat dari saya🤗