Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Kesemutan


__ADS_3

Nina hanya bisa mendengus kesal dalam hati dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa duduk di sofa tunggal yang berjarak satu meter dari tempat Nizam mengistirahatkan badannya.


Hening.....


Keduanya sama-sama tidak ada bahan untuk di perbincangkan, mereka sama-sama hanyut dalam pikirannya masing-masing. Nina yang tidak mau ambil pusing dengan orang di depannya ber-inisiatif menyalakan televisi, yang mana remote TV berada tepat dihadapannya. Tanpa bicara ia memencet remot itu, dan seketika benda elektronik tersebut mengeluarkan suara yang mengalihkan pandangan Nizam.


Tanpa bertanya, Nizam hanya menatap datar setiap pergerakan Nina yang fokus dengan acara serial di televisi, walaupun sesungguhnya Nina tidak benar-benar menonton acara tersebut, ia hanya mengalihkan suasana canggung dan situasi yang sangat sulit ia lalui untuk beberapa saat ke depan, hatinya sudah tidak karuan merasakan campur aduk yang sungguh pertama kalinya ia alami. Nina menahan posisinya agar tidak saling tatap dengan laki-laki yang ada di seberang nya tersebut.


*****


Sedangkan Icha yang menunggu Nina terlihat gelisah, wajahnya terlihat di tekuk karna kesal, sebab Nina yang di tunggu-tunggu dari tadi tidak kunjung kembali, "Kemana sih Nina? ngantar minuman saja lama banget," gerutu pelan Icha yang masih bisa di dengar oleh Aldo yang kebetulan lewat di depannya.


"Kenapa Cha?" tanya Aldo memastikan pendengarannya. "Oh, itu Pak. Saya lagi nunggu Nina, tadi sih nganterin minuman di ruang VVIP, tapi sampai sekarang nggak datang-datang Pak!" adu Icha yang sedikit menormalkan mimik kesalnya karena berhadapan dengan sang atasannya tersebut.


"Oh, Nina. tadi sudah ijin sama saya untuk menemani pelanggan yang di ruangan VVIP, karna kata Nina tamu yang datang itu minta di layani secara maximal," tutur Aldo menjelaskan.


Icha mengernyitkan dahinya seakan-akan bisa menebak apa yang akan di alami temannya tersebut, terlihat ke khawatiran di raut wajah Icha yang tersimpam rasa kasihan terhadap Nina. Bagaimana tidak, karna Nina sedang berhadapan dengan orang yang songong menurut kaca mata Icha.


Aldo yang bingung melihat perubahan pada raut wajah Icha langsung menegur anak buahnya itu, "muka kamu kenapa Cha, apa ada sesuatu? Mungkin saya bisa membantu kamu?" tanya sang manager yang sekaligus menawarkan bantuan itu.


Icha yang sedikit senang terhadap perhatian bosnya itu tersenyum tipis yang di iringi dengan gelengan cepat oleh Icha dan berkata, "Engak kok, Pak. Saya cuma penasaran aja sama Nina, kok lama banget," elak Icha yang tidak mau kalau laki-laki di depannya ini mengetahui ketidak sukaannya melayani pelanggan yang menyebalkan.

__ADS_1


"Oh begitu," lanjut Aldo seraya berjalan untuk mengecek acara yang lagi berlangsung di Caffe tersebut. Namun, beberapa langkah ia membawa tubuhnya ke depan, Aldo berhenti dan menoleh ke arah Icha, "Cha, mungkin satu jam lagi acara ini selesai, nanti kamu sama Nina saya antarkan pulang ya! karna Nggak mungkin ada angkutan umum selarut ini," ucap Aldo menegaskan.


"Tapi Pak, apa tidak merepotkan Bapak? Nggak papa kok Pak, saya dan Nina bisa kok pulang sendiri. Lagi pula kan ada ojek online Pak!" tolak Icha secara halus. Sedangkan hatinya merasa senang bukan kepalang karna mendapatkan perhatian dari bosnya yang selama ini ia suka secara diam-diam.


"Saya tidak merasa di repotkan kok Cha, justru saya merasa tidak tenang kalau kalian berdua pulang sendiri-sendiri. Lagipula kamu dan Nina masih tanggung jawab saya, secara saya adalah atasan kalian yang memang wajib memastikan keselamatan untuk sampai di rumah dengan baik-baik saja, mengingat ini sudah sangat larut malam. Jadi tunggu saya di bawah satu jam lagi ya!" tegas Aldo yang sekaligus meminta Icha untuk menunggunya.


"Saya tidak mau ada penolakan," lanjut Aldo lagi mengulagi, bahwa permintaanya adalah sebuah perintah yang tidak boleh di tolak. "Baik Pak!" jawab Icha seraya menganggukkan kepala dengan rasa bahagia terhadap tindakan bos di depannya tersebut.


Aldo lantas pergi ke tujuannya semula untuk berkeliling di area pesta yang sudah lengang, sebagian orang sudah pulang, hanya tinggal beberapa anak baru gede itu berbincang-bincang yang di selingi canda tawa ciri khas anak muda yang masih mengalami masa-masa puber pertama tersebut. Melihat hal itu Aldo teringat di mana masa SMA ia dulu.


Aldo malah teringat kisah masa lalunya yang menyisakan rasa sakit tak berkesudahan. Bagai mana tidak? kekasih yang ia cintai dengan sepenuh hati selama mengenyam pendidikan menengah keatas sampai mereka kuliah, tega mengkhianatinya. Mengingat hal tersebut Aldo tersenyum miris sambil menyisir seluruh ruangan yang sudah mulai dibersihkan oleh beberapa anak buahnya, tak terkecuali Icha.


*****


Secara bersamaan Zizi melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dengan gerakan cepat Zizi meraih hape dari dalam tasnya dan langsung menelpon Nizam.


Sedangkan Nizam yang sedari tadi menikmati wajah Nina yang terlihat gelisah di depan layar kaca tersebut, hanya terus memandanginya, sungguh baru kali ini ia tidak bosan dan tidak risih berlama-lama satu ruangan bersama seorang perempuan. Biasanya ia selalu Ilfil apabila dekat-dekat, apalagi berlama-lama dengan kaum hawa tersebut dalam satu ruangan pula.


Tanpa Nina sadari, laki-laki di sebelahnya itu tersenyum dalam diam, yang mengagumi kecantikan alami yang ia miliki. Sedangkan Nina sendiri sungguh sangat bosan dan merasa kakinya kesemutan akibat duduk di posisi yang sama sedari tadi, apalagi kobaran perasaan yang terus menyiksa dan membuat jantungnya terus berdetak kencang tak karuan. Hingga dering ponsel Nizam mengalihkan suasana yang begitu menegangkan itu.


Nizam langsung mengangkat panggilan dari Zizi yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. "Ok, kamu turun sekarang, Kakak tunggu di parkiran ya!" jawab Nizam lalu mematikan sambungan telepon tersebut.

__ADS_1


Nina yang mendengar pembicaraan Nizam langsung berfikir kalau yang di luar mengadakan acara ulang tahun itu adiknya Nizam." Tapi kalau memang Zizi yang ulang tahun, kenapa Kak Nizam malah menyendiri di sini ya? tau ah, itukan bukan urusanku!" ucap Nina sangat pelan, karna takut terdengar Nizam.


"Terimakasih sudah menemani, saya mau pulang sekarang, ini ada tips buat kamu," ujar Nizam seraya berdiri dan menyodorkan beberapa uang pecahan yang berwana merah kepada Nina.


Nina yang masih duduk mendongak dan melihat nominal uang yang di berikan Nizam, secara spontan ia berdiri untuk menolak pemberian uang itu. Namun, Naas. Nina melupakan kakinya yang kesemutan sehingga dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan terhuyung. Nina secara reflek menjerit karna dia yakin akan terjatuh dan membentur meja.


"Aaaaah!!" jerit Nina sambil tangannya menggapai sesuatu yang dalam fikirankan berharap bisa meraih benda yang bisa membuatnya tidak jatuh. Tapi, betapa terkejutnya ia, di saat kepanikan itu, justru sebuah tangan yang kokoh menyangga tubuh mungilnya sehingga jatuh dan membentur meja yang ia bayangkan tidak terjadi.


"Kak Nizam!" seru Nina dengan nafas tidak beraturan, perpaduan rasa panik dan nerves karna secara tidak langsung ia berpelukan dengan laki-laki yang sedari tadi membuat perasaanya campur aduk. Tatapan mata keduanya bertemu dengan tubuh yang masih bertaut tak terlepas.


.


.


.


.


.Bersambung


Ngetik langsung kirim, ngak sempet ngedit, pabila banyak typo mohon di maafkan heheee

__ADS_1


__ADS_2