Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Sama-sama Gerogi


__ADS_3

Di dalam kamar, Nina sudah selesai menyantap makan dadakan yang harus masuk ke dalam perut karena kondisi tubuh yang memang membutuhkannya.


Bu Zainiyah dengan telaten menyuapi dan memberikan obat yang sebelumnya dikasi Arif untuk menambah kekuatan Menantunya tersebut. Ia memanggil perias yang dari awal membantu Nina.


"Mbak, silahkan dibetulkan lagi make-up nya." titah Bu Zainiyah pada dua wanita yang sudah siap di dalam ruangan. Kedua perempuan itu dengan cekatan memperbaiki riasan Nina yang sedikit luntur.


Wajah yang mulanya sedikit lusuh disulap seperti sedia kala. Beberapa tepukan ringan dari bedak dan blues on diaplikasikan oleh para tangan yang berpengalaman tersebut. Terakhir, para perias itu menyemprotkan cairan ke wajah Nina untuk menjaga volume make-up agar tahan lama.


"Sudah selesai, Nyonya," ujar wanita yang sejak tadi sibuk menata wajah Nina.


Bu Zainiyah memandang penampilan Nina yang sudah terlihat segar dan rapi. Wanita paruh baya itu meraih tangan Nina dan membimbingnya keluar menuju pada pesta yang saat ini sedang berlangsung.


"Ayo, Sayang, kita keluar sekarang. Suamimu pasti sudah menunggu." Entah kenapa mendengar kata 'suami' membuat hati Nina berdebar tak karuan.


***


Pak Alkaf menghampiri Nizam yang sedang asyik mengobrol dengan rekan kerjanya. "Nizam, istrimu sudah datang. Segera sambut dia dan bawalah ke pelaminan," ujar Pak alkaf yang berbisik di telinga Nizam.


Nizam sontak menoleh saat bisikan dari sang ayah itu terdengar. Ia memindai pandangannya ke arah jalan yang menjadi akses Nina menuju pesta. Nina sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Hati Nizam mulai bergetar karena debaran yang mulai mendera. Kenapa dengan hanya memandang wajah Nina efeknya begitu besar begini? Apa karena status suami yang saat ini ia sandang? Atau mungkin karena perasaan cinta yang memang ingin memiliki perempuan di ujung sana sudah terkabulkan!


Sekilas Nizam menatap sang ayah yang tersenyum samar. Entah karena bahagia atau malah menertawakannya karena terlihat berlebihan akan sikap yang mungkin bisa dicerna oleh pria yang sudah sangat mengenal sikapnya tersebut.


Pak Alkaf mengangguk, seakan memberikan isyarat untuk segera menjemput Nina yang sedang menuju ke arahnya. Nizam melangkah dengan kaki yang mantap namun dengan detak jantung yang semakin berdendang.


"Mama," sapa Nizam pada ibunya. Namun matanya tertuju pada gadis di samping Bu Zainiyah.


Bu Zainiyah menoleh ke samping, begitupun Nina yang tak menyadari kedatangan Nizam.


"Kebetulan kamu datang. Bawa istrimu ke pelaminan biar semua tamu bisa bersalaman dan mengenalnya," titah Bu Zainiyah seraya menyerahkan tangan Nina yang sejak tadi ia pegang sepanjang jalan.


Dengan gugup, Nizam menerima tangan Nina yang diserahkan oleh Bu Zainiyah. Untuk pertama kalinya ia memegang tangan gadis itu dengan sengaja dan kesadaran antara keduanya.


Begitu pun dengan Nina. Sejak awal melangkah menuju tempat acara, membuat hatinya sudah merasa tak karuan. Rasa tak percaya itu belum bisa ia musnahkan begitu saja. Apalagi, tidak ada kedua orang tua yang mendampinginya.


Tangan besar Nizam menggenggam lembut tangan istrinya. Jantung yang awalnya tak beraturan itu semakin tak karuan saat kulit tubuhnya menyentuh kulit istrinya.


Ada rasa lain yang menjalar dalam tubuh, mebuat getaran itu semakin kuat ia rasakan. Rasa gerogi dan juga bahagia rasanya menjadi satu. Tangan yang bersetuhan namun hati dan jiwa mereka yang sedang beterbangan.

__ADS_1


Tangan Nina terasa lembab karena keringat yang mulai membasahi telapak tangan. Awalnya Nina masih meragukan Nizam. Tapi, akhirnya ia percaya jika pria yang tengah menggenggam tangannya itu memang putra dari Bu Zainiyah.


Saat mertuanya di dalam dan menyuapinya, Bu Zainiyah menceritakan kisah Nizam dari awal sampai saat ini. Hingga Nizam yang berusaha untuk mencoba sebuah perjodohan dengan anak teman dari mertuanya tersebut. Namun, Bu Zainiyah tak menceritakan jika Nizam memiliki rasa pada Nina.


Sekarang, segala asumsi yang dulu mengira bahwa Nizam telah bertunangan itu adalah benar. Namun, ia tidak mengetahui bahwa perjodohan itu hanya cuma sementara dan Nizam sudah tidak bertunangan saat bertemu dengannya terakhir kali. Yang jadi pertanyaan Nina saat ini, siapa perempuan yang telah berhasil mendapatkan hati suaminya tersebut?


Bukankah saat itu Nizam pernah mengatakan secara tidak langsung, jika hatinya sudah dimiliki seseorang? Bahkan Nina mengira jika pemilik hati Nizam saat itu adalah tunangan Nizam yang sempat bertemu dengannya di kafe Santuy.


Nina berjalan di sisi Nizam dengan jantung yang terus berdetak kencang. Begitupun dengan Nizam. Hingga tidak ia sadari keringat dingin itu menegembun di dahinya saking tegangnya. Ia berjalan dengan menggandeng wanita yang saat ini sah menjadi istrinya.


"Tisu Bro," ucap Hendra yang datang tiba-tiba dengan menyodorkan sekotak tisu ke hadapannya. Sontak langkah Nizam dan Nina berhenti serta menatap wajah Hendra yang tersenyum lebar. Tak lupa juga Arif di sampingnya yang tersenyum menjengkelkan.


Nina juga membawa pandangannya pada pria dewasa yang menjadi sahabat karib Nizam. Nina sangat merasa malu saat dua pria itu menatap wajahnya yang merona tak tak terhankan.


Nizam mengernyit bingung menatap tisu dan wajah-wajah di depannya. Bukan itu yang membuat perhatiannya tersita. Namun, pandangan mata mereka yang melirik Nina dan membuat wanita di sisinya itu memerah karena malu.


"Jaga mata kalian!" Nizam mendengus kesal menatap Hendra dan Arif bergantian.


"Iya, iya. Posesif banget sih jadi suami. Padahal 'kan kita sahabat Anda, Tuan Nizam," goda Hendra dengan menekankan kata 'tuan'


"Ada apa kalian datang seperti jailangkung. Apa ini?'" tanya Nizam pada sekotak tisu di tangan Hendra yang sengaja disodorkan pada dirinya.


"Ini tisu buat mengelap keringat Anda Tuan Muda," tunjuk Hendara pada keringat yang sudah mengalir di pelipis, saking rasa geroginya menggandeng istri sendiri.


Nizam tidak menghiraukan kedunya dan berlalu pergi. Namun, tetap mengambil beberapa helai tisu dan ia usapkan pada muka yang sejak tadi berkeringat karena desakan dari dalam akan sebuah perasaan yang berbeda.


Nina mengekori sang suami seiring tangan yang ditarik oleh Nizam. Keduanya tertawa terbahak-bahak. Merasa puas karena sudah mengerjai Nizam habis-habisan. Kedua pria tampan itu menuju tempat di mana makanan disiapkan.


Saking bahagianya karena menggoda Nizam, mereka sampai melupakan untuk mengisi perut. Kebanyakan tertawa membuat tenggorokan kering dan harus dilarutkan dengan minuman segar.


"Hen, kamu mau minum apa?" tanya Arif yang mengambil jus jeruk yang tersedia.


"Terserah, samakan saja dengan minuman kamu," sahut Hendra yang lebih tertarik pada kue-kue di meja tersebut.


Arif mengambil dua gelas jus jeruk di tangannya. Yang satu ia minum dan sekali teguk cairan dingin berwarna orange itu sudah tandas tak tersisa. Tenggorokannya terasa lega setelah minuman itu berhasil masuk ke dalam perut. Arif meletakkan gelas kosong dan mengambil satu gelas lagi.


Sembari menunggu Hendra, Arif mengedarkan pandangannya pada semua tamu yang sibuk bercakap-cakap dengan sesama rekannya. Mata Arif tak sengaja menangkap wajah seseorang yang sepertinya pernah ia temui. Tapi, Arif masih lupa-lupa ingat.


Arif memicingkan mata untuk meneliti wajah perempuan yang berjalan begitu anggun menuju sebuah meja. Di sana sudah ada dua paruh baya yang mungkin saja itu adalah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Arif terus meneliti wajah itu yang terlihat tertawa sambil mengobrol dengan kedua paruh baya tersebut. Arif terus memaksa otaknya untuk mengingat siapa gadis yang berada di ujung sana?


****


Nizam duduk di pelaminan dengan Nina di sisisnya. Pasangan yang sangat terlihat serasi itu sontak mendapat pujian dari semua tamu yang datang. Wajah Nina yang dalam kesehariannya tak pernah tersentuh make-up terlihat sangat pangling dan membuat orang yang melihatnya sangat terpukau.


"Hemmm, apa kamu capek?" tanya Nizam yang mencoba mengawali percakapan untuk mencairkan suasana.


Untuk pertama kalinya, setelah mereka berstatus suami-istri, Nizam mengajaknya bicara. Nina merasa lidahnya terasa kelu hanya untuk menjawab kata 'iya' dan dia cuma menganggung untuk menjawab pertanyaan Nizam.


Tangan Nizam sudah melepas genggaman tangan istrinya karena beberapa tamu yang maju ke depan untuk memberikan ucapan selamat dengan berjabat tangan.


"Selamat ya Tuan. Akhirnya, Anda sudah tak sendiri lagi," ucap Randy-asisten yang selama ini sudah banyak membantu dalam segala urusan pekerjaan.


Randy masih menjabat tangan Nizam dengan tubuh yang condong ke belakang untuk membisikkan kata tersebut. Nizam memukul bahu Randy yang terkikik pelan karena apa yang ia katakan barusan membuat Nizam menjadi kesal.


"Habis ini giliran kamu yang duduk di pelmainan! Kapan kamu mau melamar gadis itu?" tanya Nizam yang selama ini sedikit tau tentang kisah asmara asistennya. Namun tidak semuanya.


Yang ditanya malah terlihat lesu. Wajahnya ditekut dengan manik mata yang menggambarkan kepasrahan. Tapi, itu cuma beberapa detik karena Randy sudah bisa menguasai dirinya sendiri akan kisah cintanya yang rumit.


"Nanti saya akan menyusul, Tuan. Tapi, jika hari itu sudah datang, saya berharap kado sepesial dari Anda," ujar Randy setengah bergurau dan itu membuat Nizam menjadi tertawa.


"Tenang saja. Aku sudah menyiapkan hadiah khusus untukmu. Tapi, jika kamu benar-benar menikah." Nizam menekan kata 'menikah' untuk mengingatkan Randy agar sadar akan umur yang hampir seperti dirinya.


Randy berlalu setelah selesai bercakap-cakap sebentar dengan Nizam. Kini, keadaan canggung itu mulai terasa kembali. Nina tidak tau harus mengatakan apa pada sosok pria di sampingnya yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Nina meremas kedua tangan dan itu bisa lihat Nizam. Meski Nizam juga merasa gerogi tapi dia laki-laki dan bisa lebih bersikap profesional. Beda dengan perempuan yang memang menggunakan perasaan.


"Apa kamu tidak nyaman di sini? Apa mau ke kamar saja?"


Blus!


Muka Nina langsung memerah karena salah mengartikan perkataan Nizam barusan. Padahal suaminya itu mengajaknya ke kamar biar istrinya itu beristrirahat.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


Nina, jangan mikir yang anu-anu yah. Nanti mau uji coba si Nizam doloooh. Bisa straight ngak🤭😂. #candapemirsah✌️


Ini sudah hampir 2 bab aku jadikan satu ya. Semoga sedikit puas karena updatenya setahun sekali 🤭


__ADS_2