Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Menyebalkan


__ADS_3

Nizam terus memerhatikan benda yang ia pegang untuk menutupi ketegangan dan keterkejutan karna bertemu dengan Nina.


Sedangkan Nina yang berdiri di hadapan Nizam hanya bisa diam memandangi gerak gerik Nizam yang menyebalkan menurutnya.


Kenapa ya ada laki-laki seperti ini, udah cuek datar dingin pula. Apakah sikap orang kaya memang seperti itu? gerutu Nina dalam hati


" Emmm tuan, apakah sudah ada menu yang anda pilih?" tanya Nina mencairkan suasana.


" Kalo sudah ada biar di buatkan sekarang juga, ujar Nina lagi.


" Buat kan saja saya menu yang ter favorit di Caffe ini." jawab Nizam yang masih berkutat dengan benda di tangannya.


" Minumnya tuan," tanyak Nina lagi seraya menulis pesanan Nizam di sebuah buku kecil yang selalu ia bawa.


" Cappucino panas dengan sedikit gula," saut Nizam dengan arah pandang ke luar ruangan yang menyajikan hiruk pikuk kota jakarta itu.


" Terus sajikan juga hidangan penutup yang tidak terlalu berat kandungan karbohidratnya." perintah Nizam lagi kepada Nina


Yang di sambut senyuman serta anggukan badan yang begitu sopan.


deg


.


.


.


Senyum yang di sertai lesung pipit terindah itu langsung memacu adrenalin jantung Nizam lagi, setelah beberapa detik yang lalu dia sudah mampu mengontrolnya.


Tapi melihat senyuman itu, fungsi jantung nya kembali berpacu tak karuan.


Ya Allah kenapa senyuman wanita ini sangat berpegaruh terhadah jantung ini , Apakah hamba benar-benar sudah bisa melupakan rasa itu kepada Beni, Apakah hamba bisa seperti laki-laki lainnya, Apakah ini jawaban doa semua orang yang menyayangiku!


Tanya nizam dalam benaknya sendiri.


Meskipun selama ini Nizam tidak pernah berhubungan lagi sama Beni sejak kejadian itu, namun rasa yang ada di hati untuk sejenis itu masih belum bisa dia hilangkan secara total, Apalagi rasa itu terpupuk lama hingga sekarang. Jadi tak mudah bagi Nizam


menghilangkan semuanya.


Tapi penampakan wanita di hadapannya ini mampu memporak-porandakan keadaan hati yang selama ini tenang tak terusik oleh kaum hawa itu.


Nizam juga bingung dengan yang ia rasakan karna hati dan perbuatannya tidak sejalan dengan seharusnya. hatinya senang melihat senyumam di depannya, Tapi egonya yang tinggi mampu mengalahkan rasa aneh yang timbul semenjak bertemu dengan gadis belia itu.


" Saya permisi dulu tuan," pamit Nina lalu pergi dari ruangan VVIP itu.


Nina berjalan cepat ke arah dapur Caffe untuk menyerah kan pesanan pelanggannya kepada koki di tempat ia bekerja.


" Ini cheff pesanan pelanggan yang berada di ruangan VVIP," tunjuk Nina kepada sang koki yang kira-kira sudah berumur 40 tahunan sambil menyodorkan sebuah kertas yang sudah ia tulis tadi.


" Ok Nina, kamu tunggu sebentar ya," jawab koki yang bernama pak Rizal itu.


Sambil menunggu makanan yang lagi di buat, Nina menuju bartender untuk membuat cappucino pesenan Nizam.


" Hai Nin," sapa seseorang di belakang Nina sambil menepuk bahunya.

__ADS_1


" Ada apa Cha," jawab Nina kepada sahabat barunya di Caffe ini yang selalu membimbing nya dengan sabar.


Icha adalah sahabat baru yang sangat baik bagi Nina, walaupun mereka baru kenal


Icha memperlakukan Nina sama dengan yang lainnya, meskipun Icha sudah lama bekerja di caffe ini namun tak membuatnya sombong sebagai senior. Justru Icha terlihat lebih akrab bersama Nina ketimbang kariyawan yang lain.


Mungkin pembawaan Nina yang kalem dan lembut membuat Icha merasa nyaman berteman dengan Nina. perempuan muda yang masih berumur 23 tahun itu sangat suka dengan sikap Nina yang sopan dan gak jaim.


" Siapa tamu VVIP kita Nin?" tanya Icha kepo.


" Yang pasti horang kaya la Kak" jawan Nina santai kepada Icha sambil meracik cappucino yang hampir jadi.


" Aku denger dari yang lain, katanya dia pemuda tampan ya Nin?" selidik Icha.


" Tampan sih tampan Kak, tapi sikapnya itu lo seperti tembok yang masih baru." jawab Nina yang sedikit kesal mengingat sikap Nizam.


" Kokoh dooong," jawab Icha yang reflek ngakak bersamaan dengan Nina.


" Hussss, jangan keras-keras Kak, nanti Pak Aldo dengar terus kita di pecat karna ngetawain pelanggan," ucap Nina sambil menaruh telunjuknya di bibir menandakan harus diam.


" Iya ya," jawab Icha cengengesan.


tong teng..tong teng


Suara lonceng yang berbunyi dari arah dapur menandakan pesanan sudah siap antar, mengalihkan pandangan keduanya untuk menoleh.


" Ya udah Kak pesanan tuan tembok sudah siap tuh, Aku tinggal dulu ya Kak." pamit Nina


kepada Icha.


Ledek Icha kepada Nina sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala karna kehebohan mereka kalau sudah bercanda yang sudah kelewatan.


Nina yang sudah berlalu dengan nampan serta cappucino panas menuju ke dapur untuk mengambil pesanan lainnya.


Dengan langkah hati-hati Nina menaiki tangga


menuju ruangan pelanggannya yang sudah menunggu beberapa menit itu.


Dari kejauhan Nina bisa melihat Nizam yang masih sibuk dengan benda canggihnya.


Karna ruangan terbuat dari kaca memudah kan jangkauan netranya melihat dari jarah jauh sekalipun.


" Permisi tuan, pesanan anda sudah siap,"


ucap Nina sambil menata makanan yang ia bawa di atas meja.


"Hemmm," jawab Nizam yang masih fokus dengan hapenya.


Huh ni orang ya, bisa gak bersikap sopan sedikit terhadap perempuan. gerutu Nina dalam hati.


" Oh iya tuan sebagai pelayanan kami yang maximal, saya selaku karyawan akan menunggu anda bersantap pagi, jadi sewaktu-waktu anda membutuhkan sesuatu saya langsung sigab membantu anda."


Ucap Nina dengan senyum sedikit di paksakan karna sudah teramat jenggel melayani tamu yang super duper menyebalkan di matanya.


" Tidak usah, karna saya tidak terbiasa dengan orang asing apalagi di tunggui di saat makan." jawab Nizam ketus.

__ADS_1


" Kamu tunggu di luar saja, atau di bawah


Karna saya mau menyendiri." ujar Nizam lagi kepada Nina.


" Baik tuan." jawab Nina singkat.


" Kalau begitu saya permisi turun ke bawah,


kalau anda membutuhkan sesuatu anda tinggal pencet bel yang terletak di bawah meja sebelah kanan tuan."


Jelas Nina yang tanpa menunggu jawaban Nizam langsung berlalu dari tempat itu dengan emosi jiwa yang ia tahan.


Kalo bukan karna tuntutan pekerjaan, mana mungkin aku mau menemani laki-laki muka tembok itu, dasar pria tidak punya perasaan.


Maki Nina dalam hati.


Setelah kepergian Nina Nizam menatap semua hidangan yang tersaji di atas meja.


Makanan yang beraroma kuat itu mampu membuat perut Nizam yang sedari tadi keroncongan karna lapar tambah tidak kuat lagi untuk menunda menyantapnya.


Dengan perlahan Nizam menikmati makanannya hingga tandas tak tersisa.


lalu ia mengambil air putih yang sudah tersedia di samping cappucino panasnya


serta meneguknya pelan-pelan.


Setelah acara makannya selesai Nizam mengambil hape dan mengotak atik benda pipih tersebut, Nizam menscrol layar hape itu untuk mencari sebuah kontak nama.


Di rasa sudah ketemu dengan yang ia cari Nizam dengan cepat melakukan panggilan ke


nomer tersebut.


tut...tut...tut...


terdengar suara notif dari seberang, Namun tak kunjung di angkat oleh pemiliknya.


.


.


.


.


.Bersambung...


Hai guyssss jumpa lagi dengan fahad ya.


Trimakasih buat yang udah mampir di karya


saya...


Buat semuanya yang singgah ke lapak saya, tolong krisannya dong, biar fahad bisa memperbaikinya. Karna tanpa kritikan kalian Fahad tidak tau letak ketidak sempurnaan novel ini🙏


salam hangat dari saya🤗

__ADS_1


__ADS_2