
"Anwar, apakah kau yakin dengan keputusan ini? Nina baru saja lulus dari sekolah. Apa dia akan bisa menerima Nizam jika dia tau keadaan Nizam yang sebenarnya?" tanya Pak Alkaf pesimis akan kesanggupan Nina, apalagi gadis itu baru saja mendaftarkan diri sebagai mahasiswa.
"Kau jangan khawatir Alkaf, biar kami yang akan menjelaskan semuanya pada Nina. Kalau soal pendidikan, bukankah sekarang sudah banyak wanita yang bersuami tapi tetap bisa melanjutkan kuliahnya?" ucap Pak Anwar.
"Selama ini kami sangat tahu tentang Nina, jadi jangan khawatir soal keputusan anakku, dia akan jauh lebih mengerti jika tahu permasalahannya. Alkaf, Nina adalah anak satu-satunya yang kami miliki, aku ingin dia memiliki suami serta keluarga yang bisa menerima dan menyayanginya seperti kami, dan aku yakin itu bisa dia dapatkan jika kau dan Zainiyah yang menjadi mertuanya. Tolong, jagalah Nina jika kelak kami sudah tak dapat menjaganya," lanjut Pak Anwar yang seketika membuat suasana menjadi sedih.
Pak Anwar yang memang merasa dirinya sudah tua dan mungkin tidak bisa lebih lama menjaga dan memberikan kasih sayangnya serta menyaksikan kebahagiaan putrinya itu merasa bahwa umurnya bisa kapan saja diambil oleh Sang Kuasa, mengingat akhir-akhir ini ia sering sakit-sakitan.
Pak Anwar juga sudah tidak mempermasalahkan soal fisik dari calon menantunya. Satu yang ia yakini bahwa anak dari Pak Alkaf pasti adalah pemuda yang baik, cuma kelainannya saja yang saat ini harus diperbaiki dan Pak Anwar berharap anaknya tersebut bisa membantu masalah yang di hadapi oleh keluarga Al-gazali.
"Aku sangat beruntung Alkaf, karena telah dipertemukan dengan orang baik sepertimu!" seru Pak Anwar sembari mengambil cangkir kopi yang sudah terasa sedikit dingin di lidah.
"Aku yang seharusnya merasa beruntung Anwar, kita dipertemukan dengan keadaan yang tak terduga, tapi semuanya membuat jalinan baru sebagai seorang sahabat ini mampu membuat kita sama-sama saling membantu satu sama lain." kata Pak Alkaf
"Aku sangat-sangat berterima kasih akan keikhlasan kalian yang menjadikan Nina sebagai calon menantuku, walaupun ini cuma sebuah rencana, tapi aku sangat bahagia, Anwar!" kata Pak Alkaf seraya merangkul pundak istrinya yang diam-diam sudah menangis haru karena terbawa keadaan.
Pak Alkaf sendiri rasanya ingin sekali menangis, tapi jiwa laki-lakinya menolak untuk meneteskan air mata saat ini, Pak Alkaf berusaha menghalau air matanya dengan mendongak ke atas serta mengerjabkan mata sehingga air keharuan tersebut tak berhasil keluar.
__ADS_1
"Aku yang sangat senang Alkaf, karena merasa masih berguna dan bisa membantumu," Pak Anwar berucap dengan sungguh-sungguh.
Sedangkan dua wanita yang berada di sebelah mereka berdua hanya terlibat perasaan haru serta senang. Meskipun Bu Aminah sedikit merasa ada ragu. Bagaimana jika keputusan suaminya itu tidak bisa diterima Nina? Untuk saat ini Bu Aminah tidak bisa berbuat banyak karena rasa hutang budi yang begitu besar itu kepada keluarga Pak Alkaf.
Meskipun tadi Bu Aminah memberikan jawaban yang sangat meyakinkan pada Pak Anwar. Bu Aminah hanya ingin menjadi seorang istri yang selalu mendukung keputusan suaminya. Namun, tetap saja masih ada ragu yang terselip. semoga saja Nina bisa menerimanya dan berlapang dada.
"Baiklah, Anwar, Aminah. Kami pamit pulang dulu dan segera akan memberikan kabar bahagia ini kepada anak laki-lakiku," kata Pak Alkaf yang disusul oleh istrinya.
"Sampaikan salam kami kepada Nina." ucap Bu Zainiyah pada Bu Aminah sebelum ia pergi meninggalkan rumah Pak Anwar. Setelah kepergian tamu tersebut, Bu Aminah menemui sang suami yang sedang duduk di ruang tamu menghabis minuman yang masih tersisa.
"Pak, apa keputusan kita ini sudah benar? Apa Nina akan mau menerima perjodohan ini? Sedangkan anak kita belum mengetahui dengan siapa dia akan dijodohkan," Bu Aminah berusaha mengatakan rasa khawatirnya saat ini.
Pak Anwar panjang lebar menjelaskan pada Bu Aminah. Dan itu malah membuat Bu Aminah menyesal karena telah menanyakan hal itu. Bu Aminah meneteskan air mata mendengar apa yang keluar dari mulut suaminya.
"Maafkan Ibu, Pak. Semoga kita berdua selalu diberi umur panjang. Ibu yakin bahwa keputusan Bapak yang terbaik untuk anak kita," Bu Aminah memeluk Pak Anwar dan menyesal akan pertanyaan tersebut.
****
__ADS_1
Pak Alkaf yang baru saja sampai di kediamannya langsung saja memasuki ruang keluarga yang di sana masih ada Zizi dengan drama Koreanya. "Sayang, apa kakakmu sudah pulang?" tanya Pak Alkaf dengan wajah sumringah.
"Hai, Pa! Sudah pulang, ya? Kakak baru saja naik ke atas, katanya mau mandi. Mama mana?" tanya Zizi yang belum melihat mamanya masuk ke dalam rumah.
"Masih ada di luar, mungkin sedang mengambil barang di bagasi," jawab Pak Alkaf. "Sayang, Papa mau ke kamar kakakmu, nanti kalau Mamamu masuk suruh langsung naik ya," tutur Pak Alkaf lalu melangkah ke arah tangga menuju kamar Nizam.
Tok tok tok...
"Nizam, apa Papa boleh masuk?" tanya Pak alkaf seraya mengetuk pintu kamar putranya.
"Masuk aja, Pa." sahut Nizam di dalam sana. Pak Alkaf membuka pintu kamar Nizam yang memang tidak terkunci itu.
Nizam yang baru saja selesai memakai baju itu sedang menuju ke arah cermin untuk menyisir rambutnya yang gondrong. Rambut yang basah serta baju kaos yang ia kenakan nampak begitu membuatnya sangat tampan meski hanya di dalam rumah.
"Ada apa, Pa? Tumben sampai datang ke kamar Nizam?" dengan tangan yang masih menata rambut melalui pantulan kaca di depannya. Nizam meletakkan sisir itu lalu melangkah menuju sang Papa yang sudah duduk di sofa kamarnya.
"Ada yang ingin bicarakan, penting!" mulai dengan wajah yang serius menatap putranya. Nizam duduk di sisi Pak Alkaf serta menatap mata Papanya yang menunjukkan bahwa Pak Alkaf sedang bersungguh-sungguh.
__ADS_1
pintu yang berderak terbuka lebar membuat perhatian Nizam dan Pak Alkaf menoleh ke arah pintu yang di sana ada Bu Zainiyah menyembul masuk serta menutup rapat pintu tersebut. Bu Zainiyah mengambil kursi tunggal yang berada di meja kerja Nizam yang ada di pojok ruangan serta membawanya mendekat di antara anak dan suaminya.