Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Rencana Fitting Baju


__ADS_3

Setelah kejadian di kafe Santuy gagal. Nizam tidak mau lagi berharap calon istrinya itu mau bertemu dengannya lagi. Nizam juga mengatakan kepada orang tuanya untuk tidak mempermasalahkan pertemuannya.


Nizam juga sudah siap dengan sebuah pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat ini. Kenyataan yang ia tangkap sewaktu di kafe soal Nina yang sudah bertunangan juga membuatnya semakin membuatnya membulatkan tekad akan pernikahan tersebut.


Nizam sudah tidak peduli dengan perasaannya kepada calon istrinya nanti, bukannkah ia sudah bisa memiliki perasaan cinta kepada Nina, jadi, tidak menutup kemungkinan jika ia kelak juga bisa mencintai istrinya dengan seiringnya waktu yang berjalan.


Nizam benar-benar ingin membuang jauh-jauh perasaannya kepada Nina serta membuka hatinya pada calon istrinya. Selain fokus dengan bisnisnya, Nizam juga ingin menata hatinya yang sudah porak-poranda karena kecewa dengan kisah cinta pertamanya.


Pagi itu, Nizam berniat menemui Kakek Mukti. Entah kenapa ia sangat ingin menemui Kakek tersebut. Sudah lama sekali ia tak mengunjunginya di panti jompo yang setiap bulan menjadi salah satu tempat untuk mendonasikan harta yang ia miliki.


Nizam yang pagi itu sudah rapi dengan pakaian santainya, menuruni anak tangga untuk mengisi perutnya dengan roti serta susu sebagai pengganjal di pagi hari. Di ruang makan itu hanya terlihat ke dua orang tuanya, karena Zizi yang memang sudah berangkat ke kampus di jam tujuh pagi.


"Selamat pagi, Ma, Pa." sapa Nizam dengan menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di kursi meja makan di depan Bu Zainiyah. "Pagi, Zam!" jawaban dari orang tuanya serentak.


"Santai banget, kamu nggak ke kantor, Zam?" tanya Bu Zainiyah seraya melayani sang suami mengambilkan sarapan.

__ADS_1


"Nizam mau ke salah satu Yayasan yang kita santuni, ada beberapa hal yang Nizam ingin tahu dari sana, Ma. Tidak seberapa penting sih, cuma ingin memastikan saja." jawab Nizam lalu meneguk susu hangat yang baru saja disediakan mamanya.


"Bagaimana perkembangan usaha kita sekarang? Papa lihat, semenjak kau memegang penuh usaha ini, sepertinya semakin berkembang?" Pak Alkaf memulai dengan percakapan tentang bisnis kuliner yang Nizam kelola.


"Papa, benar. Nizam memang sengaja membuat terobosan baru dalam setahun belakangan ini, untuk memperkenalkan cita rasa masakan yang ada di restoran kita agar dikenal oleh semua negara. Dan, hasilnya sangat memuaskan! Untuk target bulan depan aku sama Randy sudah memiliki planning untuk membuka cabang baru di beberapa kota. Dan kabar terbaiknya adalah, ada tiga hotel berbintang lima di Singapura yang merekrut restoran kita untuk menjadi salah satu menu dunia yang mereka punya."


Pak Alkaf yang mendengar penjelasan Nizam merasa sangat bangga dengan apa yang sudah diraih putranya tersebut. Padahal dulu, Pak Alkaf sebenarnya sangat pesimis dengan menjadikan Nizam sebagai pemegang bisnis untuk menggantikannya karena mengingat Nizam pada saat itu masih sangat berantakan dengan keadaan hidup yang baru saja mengalami pemulihan mental sebab baru saja menyudahi hubungannya dengan Beni. Dan Pak Alkaf tau, itu tidaklah mudah.


Ternyata, putranya itu sungguh-sungguh dengan semua janjinya yang benar-benar ingin berubah dan menjadi laki-laki yang penuh tanggungjawab. Sekarang sudah terbukti, bahwa Nizam telah berhasil mengemban tugas yang ia berikan dengan menjadi salah satu pemengang bisnisnya yang sudah ia rintis dari nol.


Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang suci, tidak ada manusia yang tak pernah melakukan dosa. Begitupun dengan Nizam, putranya. Tapi, seburuk apa pun setiap perangai manusia, jika di dalam dirinya masih ada keinginan untuk berubah, maka, kesempatan besar itu masih terbentang luas untuk mereka mengubah diri menjadi manusia yang lebih baik. Dan itu lebih mulia dari manusia yang merasa sempurna tapi cacat karena sebuah kesombongan semata.


"Papa bangga kepadamu, Zam. Semoga kedepannya, bisnis kita semakin berkembang dan mendunia." seloroh Pak Alkaf.


"Amin..." timpal Bu Zainiyah yang sedari tadi mendengarkan percakapan anak serta suaminya tersebut.

__ADS_1


"Nizam, minggu depan Mama sudah mengadakan janji dengan desainer ternama di Jakarta untuk melakukan fitting baju untuk pernikahanmu yang akan diselenggarakan bulan depan. Jadi Mama berharap kamu mengosongkan hari itu untuk menyiapkan diri ikut Mama mengukur baju yang akan kamu kenakan di hari spesialmu nanti."


Celetuk Bu Zainiyah ynag baru ingat bahwa dirinya telah memiliki janji dengan boutique langganan untuk memesan gaun pernikahan. Nizam yang baru saja mendengar apa yang dikatakan ibunya itu diam sejenak.


Setelah kejadian di kafe waktu itu. Nizam memang tidak lagi menghubungi tunangannya. Nizam yang mengatakan pada sang ibu bahwa mereka tidak sempat bertemu karena dirinya yang tiba-tiba kedatangan klien penting dari luar negeri, dan Nizam meminta ibunya tersebut untuk menjelaskan kepada calon istrinya yang dirasa waktu itu mungkin saja kecewa.


Bu Zainiyah yang mengerti dengan alasan Nizam langsung menelepon calon menantunya itu dan menjelaskan ketidakhadiran sang putra yang tiba-tiba memiliki tamu dari luar negeri. Sebenarnya Bu Zainiyah tidak enak karena untuk keduakalinya Nizam selalu tidak bisa hadir di waktu yang sudah disepakati bersama, apalagi dia sendiri yang mengatur janji tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi. Untung saja Nina dan keluarganya sangat mengerti dan tidak mempermasalahkan itu. Jadi, Bu Zainiyah bisa bernafas lega.


Sudah tiga minggu pasca pertunangan Nizam dengan calon istrinya. Namun, tidak ada komunikasi sama sekali di antara keduanya. Sekalipun mereka sama-sama memiliki nomor kontak satu sama lain.


Nizam yang sudah pasrah itu, menyerahkan semuanya kepada orang tuanya akan semua persiapan pernikahan yang sebentar lagi mengakhiri masa lajangnya. Nizam juga tidak mempermasalahkan fisik atau wajah calon tunangannya yang mungkin saja tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Bagi Nizam, niatnya hanyalah menikah untuk bisa mengubah dirinya menjadi manusia yang lebih baik. Dan keputusannya saat ini yang benar-benar memantapkan hati untuk menikah dengan pilihan orang tuanya sudah bulat. Hanya saja, ia harus menyiapkan mental untuk dirinya yang sebentar lagi tidak akan tidur sendirian di dalam kamarnya yang sudah ia tempati hingga usianya yang hampir memasuki 30 tahun tersebut.


"Atur saja semuanya, Ma. Nizam akan meluangkan waktu Nizam pada hari itu." Nizam mengunyah roti ditangannya dengan tenang. Wajahnya terlihat datar namun penuh dengan kesungguhan di setiap kata-katanya.

__ADS_1


Pak Alkaf dan Bu Zainiyah bersilang pandang dengan ekspresi Nizam yang menurut mereka bersungguh-sungguh. Kalau sebelumnya masih ada beberapa yang tidak disetujui oleh Nizam, seperti tanggal dan bulan yang menurutnya begitu sangat mendadak. Tapi, respon Nizam kali ini sepertinya sudah bisa menerima pernikahannya dengan hati yang ikhlas.


__ADS_2