Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Sah


__ADS_3

Pernikahan adalah sebuah fitrah bagi semua umat manusia. Menikah bukanlah tujuan akhir dari sebuah hubungan. Justru sebaliknya, pernikahan adalah awal dari sebuah hubungan.


Menyatukan dua pikiran dalam satu hubungan itu tidak mudah, butuh keselarasan, kepercayaan, keterbukaan satu sama lain bagi keduanya sebagai landasan dasar membina sebuah rumah tangga yang inshaAllah kekal sampai maut memisahkan.


Salah satu tujuan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama kita. Menikah juga termasuk benteng bagi diri kita untuk tidak merusak agama kita dengan berzina. Seperti hal yang pernah kita dengar.


"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya. (HR. Al-Baihaqi)


Dan, Nabi kita juga pernah bersabda. " Menikah itu termasuk dari Sunnahku, siapa yang tidak mengamalkan Sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya. (HR. Ibnu Majah)


Dan itulah alasan pertama Nizam yang selama ini ia tanam dalam benaknya. Setelah Nizam menyadari bahwa kesalahannya dulu begitu besar, Nizam berusaha kembali pada agama yang selama ini menjadi panutannya, namun sudah lama ia tidak menjadi seorang muslim yang sebenarnya.


Pergaulan dan tipu daya dunia yang menyesatkan telah menutup mata hatinya dari agama itu sendiri, yang sejak kecil ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Betapa ia sangat merasa berdosa saat mengingat semua aibnya dan dosa akan kewajibannya yang sudah ia tinggalkan.


Dan semenjak itu, ia merubah dirinya agar menjadi manusia yang lebih baik dan berharap istiqomah dengan menjadi manusia yang selalu berada di jalan Allah. Untuk sebab itu, Nizam menyetujui semua rencana perjodohan yang dilakukan oleh orang tuanya. Dan niatnya menikah juga karena ingin menyempurnakan separuh agamanya.


Dulu, Nizam berharap jika dirinya akan menikah dengan seseorang. Tapi, bukankah hal yang tidak bisa didapatkan juga adalah bagian dari rencana-Nya? Dan Nizam mulai berlapang dada serta berdamai dengan hatinya sendiri. Nizam mencoba untuk bisa menerima wanita yang sudah bersedia menerima kekurangannya dan menjadi aib keluarga besarnya.


Nizam duduk dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pori-porinya. Gugup, deg-degan serta gerogi sudah pasti ia rasakan. "Nak Nizam, jangan tegang. Rileks saja, karena semakin Nak Nizam gugup, malah akan mempengaruhi prosesnya." pria baruh baya yang duduk di depan Nizam sedikit tersenyum, mencoba mencairkan suasana.


Nizam hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Taman yang seketika menjadi hening karena acara ijab kabul akan segera dimulai. Para tamu undangan juga tidak sabar ingin mengucapkan kata sah sebagai ungkapan dari semua saksi.


Kursi putih yang berjejer di belakang Nizam menampilkan senyum semua orang yang begitu bahagia, tak terkecuali Pak Alkaf dan putri semata wayangnya, Zizi. Keluarga Pak Anton juga turut hadir dalam moments bahagia tersebut. Arif dan Hendra juga terlihat sangat tampan dengan baju formal yang dikenakannya. Mereka tidak sabar ingin mendengar ijab kabul itu keluar dari mulut Nizam. Lebih tepatnya adalah, ingin segera tau reaksi Nizam dengan kejutan yang sangat-sangat sepesial di hari pernikahannya ini.


"Nak Nizam, karena mertua Anda tidak bisa menjadi wali nikah putrinya saat ini, maka beliau memasrahkan wali nikah putrinya kepda saya." jelas penghulu tersebut sebelum acara ijab kabul dilakukan.


Lagi-lagi, Nizam hanya mengangguk untuk mengiakan. Wajahnya sangat terlihat tegang dan itu menjadi tontonan yang menarik bagi Hendra dan juga Arif yang dengan sengaja merekam kejadian itu dengan ponsel pribadinya. Lumayan, bisa dibuat sebagai bahan pembulian pada Nizam nantinya, pikir mereka. Sungguh para sahabat yang sangat jail.

__ADS_1


Sedangkan mempelai wanita sudah duduk di tempat yang disediakan. Mempelai wanita memang sengaja dipisah sebelum sang mempelai laki-laki mengucapkn ijab kabul dan terdengar kata 'sah'. Barulah mempelai wanita diizinkan untuk menemui suaminya serta mencium tangannya sebagai tanda sahnya hubungan mereka menjadi halal.


Bu Zainiyah yang merasa sangat, sangat bahagia itu terus berada di samping calon menantunya, bahkan ia rela tak menemani suaminya demi calon menantunya yang beberapa hari yang lalu menemukan fakta baru. Dan Bu Zainiyah serta Arif dan Hendra beserta dua keluarga besarnya sepakat untuk merahasiakan itu semua dari kedua mempelai.


Bu Aminah yang saat itu juga tidak bisa menghadiri pernikahan putrinya. Karena, Bu Aminah sedang menemani Pak Anwar yang saat ini memang tidak sehat dan butuh perawatan. Tapi, kedua paruh baya itu tidak merasakan kesedihan, karena prosesi itu bisa mereka saksikan melalui siaran langsung yang sengaja dilakukan oleh Pak Alkaf.


Apa yang tidak bisa dilakukan keluarga Al-gazali yang memang terkenal kaya raya. Apalagi perkembangan teknologi saat ini sudah sangat mendukung. Dan dengan uang, semuanya bisa diatasi dengan mudah. Pak Anwar dan istrinya seakan benar-benar ada di dalam pesta itu, karena semuanya terlihat sangat nyata di layar yang berukuran sangat lebar di depannya saat ini.


"Jangan gugup, sayang. Mama ada di sini bersamamu. Dan kedua orang tuamu juga ada di sana, menyangsikan kebahagiaan putrinya ini." ucap Bu Zainyah seraya mengusap lembut tangan Nina yang berkeringat.


"Iya, Ma!" Nina menganggukkan kepala. Suara mikrofon yang terdengar menggema itu semakin membuat jantung Nina berlarian ke mana-mana. Rasa gugup, penasaran juga gelisah akan keadaan kedua orang tuanya berbaur menjadi satu. Rasanya Nina ingin sekali pipis saat itu juga, saking tidak tahannya dengan semua tekanan rasa yang ia alami saat ini untuk pertama kalinya. Apalagi, suara pak penghulu itu mulai mengucapkan ijab kabul dan dilanjutkan oleh calon suaminya.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi wallahu waliyut taufiq." artinya. Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.


Dalam satu tarikan nafas, Nizam mengucap janji suci pernikahan yang begitu sakral itu dengan suara lantang dan tegas. Berubahlah semuanya, hanya dengan beberapa bait kata, dirinya sudah memikul tanggung jawab yang baru sebagai seorang suaminya dan kepala keluarga.


"Sah...!" suara itu terdengar serentak dengan diiring riuhnya tepuk tangan dari seluruh tamu undangan. Nizam mengusapkan kedua telapak tangannya pada muka yang terasa mati rasa setelah sejak tadi menahan kegugupan akibat ijab kabul yang akhirnya berjalan lancar.


Nina yang mendengar semuanya tanpa terasa menangis, entah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini? Senang, gembira, atau juga bahagia! Atau malah sebaliknya. Air matanya mengalir dan itu membuat Bu Zainiyah tidak tahan melihatnya.


Bu Zainiyah juga meneteskan air mata karena perasaan haru yang sulit dia kendalikan. "Mari, Mbak, kita temui suaminya." ajak salah satu wanita yang bertugas sebagai EO di pesta tersebut.


Bu Zainiyah menuntun Nina yang berjalan menuju di mana putranya berada. Nina yang memakai baju lebar itu merasa kesulitan untuk berjalan. Apalagi kain panjang yang terbuat dari tile yang menutupi wajahnya, sehingga membuat penglihatannya kurang jelas.


Dari kejauhan, Nina melihat dengan samar, sesosok tubuh yang tinggi besar itu juga melangkah mendekatinya. Semakin dekat, semakin gemetar Nina dibuatnya. Sedangkan laki-laki yang saat ini sudah sah menyandang status sebagai seorang suami itu juga melangkah menuju wanita yang beberapa detik lalu baru sah menjadi istrinya.


Nizam berdiri di depan istrinya yang sedari tadi diapit oleh mamanya. Tubuh yang tak begitu tinggi itu dibalut oleh gaun pengantin yang juga berwarna navy. Wajahnya yang tertutup, serta hijab yang menghiasi kepalanya membuat Nizam sulit untuk melihat secara jelas. Belum lagi, perempuan di depannya ini terus menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Sayang, ciumlah tangan suamimu." titah Bu Zainiyah pada Nina. Nina bisa melihat bahwa suaminya itu sudah ada di depannya. Namun, organ tubuhnya serasa lumpuh hanya untuk sekedar mengangkat kedua tangannya. Dengan segenap kekuatan dan sedikit keberanian yang ada, Nina meraih telapak tangan besar di depannya.


Tangan itu juga terasa berkeringat sama seperti dirinya. Tidak ada respon dari tangan itu selain hanya diam tak bergerak. Bina melepaskan tangan suaminya dengan wajah yang masih seperti semula.


Nyess....


Sentuhan bibir itu masih terasa di punggung tangannya, meskipun terhalang oleh kain penutup wajah istrinya yang menjuntai panjang sampai ke dada, Nizam masih merasakan sentuhan itu. Ini adalah sentuhan pertamanya dengan seorang wanita selain adik serta ibunya. Dan itu membuat darah nizam merasa bersesir hebat.


"Bukalah penutup wajahnya, dan lihatlah kecantikan wanita yang sekarang sudah halal buat kamu." pinta Bu Zainiyah dengan senyum merekah.


Nina sedikit mengangkat wajahnya, namun tetap tak berani menatap wajah di depannya. Jantungnya sedang tidak sehat sekarang, dan lututnya sudah terasa mulai lemas. Dengan perlahan, Nizam membuka penutup itu dan menyampaikannya ke belakang. Belum sempat tangannya turun dari atas kepala sang istri, Nizam membelalakkan matanya.


Jantungnya seakan berhenti berdetak, seluruh nadinya juga terasa tak berfungsi. Tangannya tiba-tiba bergetar dan jatuh begitu saja saking terkejutnya melihat wajah di depannya. Apa ini mimpi? Nizam masih mematung tak percaya.


Apakah benar wanita yang sedang berdiri ini adalah istrinya? Tidak, tidak. Rasanya itu mustahil. Nizam masih dengan argumentasi hatinya sendiri. Matanya hanya tertuju pada satu titik, yaitu wajah Nina. Lebih tepatnya istrinya yang menjelma sebagai Nina. Nizam belum sepenuhnya sadar.


Karena tidak mendapatkan respon apa pun, Nina yang semula hanya menunduk memberanikan diri untuk menatap wajah di atasnya. Dan, sesuatu di luar dugaan pun terjadi.


"Kak Nizam!" Mata Nina membola penuh seiring dengah tubuh yang tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri dan jatuh tepat di dalam dekapan suaminya. Nizam reflek menangkap tubuh mungil Nina dengan tangan yang gemetar karena rasa tak percaya. Jadi semuanya bukan mimpi? Nina benar-benar adalah istrinya yang selama ini ingin ia lupakan! Jadi selama ini?


.


.


Bersambung.


Ini part terpanjang yang aq tulis ya genks. ini hampir 2bab aq jadikan satu. Semoga suka ya. Dan maaf, jika tulisan aq tak sesuai dengan ekspektasi kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2