Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Yayasan


__ADS_3

Nina yang melihat raut penasaran di wajah sang Ayah langsung menceritakan segalanya


Namun dia tidak menceritakan soal dia yang bertemu dengan Nizam, dan tanpa sengaja juga menemukan SIM milik Nizam yang mengharuskan dia berkali-kali bertemu dengan Orang kaya yang sombong di itu matanya.


" Oo begitu ceritanya," tukas Pak Anwar sambil menepuk kedua tangan guna membersikannya dari sisa-sisa makanan Ayam yang tadi dia berikan.


" Iya Ayah, Nina kasihan dengan kondisinya.


Di usianya yang sudah lanjut tapi tidak ada keluarga di sampingnya untuk merawat dan menjaganya, malah Kakek Mukti harus tinggal di panti jompo." ungkap Nina prihatin dan ingin menganggap Kakek yang baru ia kenal itu sebagai layaknya kakek dia sendiri.


" Bagus Nak, jagalah sifat kepedulianmu itu sampai kau menutup mata, karna apa yang kau lakukan saat ini, itu juga yang akan kau terima di hari esok." wejangan Pak Anwar terhadap Anaknya itu terdengar sangat sederhana, namun tidak semua orang bisa melakukannya.


" Ayah bolehkan Nina menganggap Kakek Mukti sebagai Kakek Nina, dan mengunjunginya setiap hari?" tanya Nina meminta persetujuan dari sang Ayah.


" Kenapa tidak, Ayah justru senang sekarang kamu bisa memiliki figur seorang Kakek yang tidak pernah kau dapatkan. Meskipun dia bukan Kakek kandungmu."


Jawab Pak Anwar merasa iba terhadap Anaknya, yang memang semenjak tujuh bulan di dalam kandungan, Kakek Dan Nenek Nina sudah meninggalkan dunia ini karna korban kecelakaan tabrak lari.


" Makasih Ayah." ucap Nina sambil meletakkan peralatan bersih-bersih nya ke tempat biasanya.


Lalu Nina mengajak Pak Anwar masuk kedalam untuk menikmati sarapan paginya.


yang sebelumnya mereka berdua sudah mencuci tangan dan kaki karna aktifitas yang baru di kerjakaan di luar sana.


Keduanya menuju meja makan sederha yang berada di samping kamar mereka, yang terdiri dari meja kayu yang sudah tua dan beberapa kursi plastik yang sudah pudar warnanya.


" Ibu masak apa hari ini?" tanya Nina sambil menduduki kursi di depannya yang di ikuti Ayahnya.


" Ibu masak opor ayam Nin, kebetulan uang yang kamu kasih cukup buat beli ini Nak!" jawab Bu Aminah seraya mengambilkan nasi buat suaminya.


Ketiganya mulai menikmati sarapannya dengan penuh rasa sukur terhadap apa yang mereka dapatkan hari ini.


Setelah selesai dengan semuanya, Nina lantas membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring, sedangkan Pak Anwar kembali lagi keluar dan duduk bersantai seperti semula.


" Bu nanti Nina mau bawakan makanan untuk Kakek Mukti ya?" tanya Nina.


" Ambil saja Nak, lagipula Ibu masak banyak kok opor ayamnya!" jawab Bu Aminah santai, karna Ibunya itu sudah tau semuanya tentang Kakek Mukti dari Nina.


*****


Nizam yang sudah beberapa jam duduk berkonsentrasi di kursi kebesarannya, terlihat sangat fokus menatap kertas putih yang dia baca. Beberapa coretan ia bubuhkan di beberapa kertas itu, yang sebelumnya sudah ia teliti dengan seksama, dan melektakkan kertas yang bersampulkan map itu di ujung meja.

__ADS_1


Hingga tanpa sadar sudah ada beberapa map yang tertumpuk di sana tanda dia bekerja begitu keras hari ini.


Nizam menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk mengurangi pegal yang mulai terasa di pundak dan lehernya. Dlihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Jam sudah menunjukkan jam makan siang dan sudah waktunya dia untuk mengisi perutnya yang sudh mulai lapar.


" Randy tolong bawakan makan siangku ke ruangan ini ya, aku tidak punya waktu untuk pergi makan di luar." perintah Nizam kepada Asistennya yang berjarak beberapa meter dari mejanya.


" Baik Boss." jawab Randy yang sudah hafal dengan menu ke sukaan sang Boss.


Randy yang sedari tadi juga sibuk berjibaku dengan laptonya seketika menghentikan kegiatannya lalu mengambil gagang telepon untuk menghubungi pelayan Resto.


Setelah beberapa menit menunggu, pintu ruangan itu di ketuk. " Masuk."


Saut Randy dari dalam yang posisi duduknya memang berdekatan dengan pintu ruangan tersebut.


Pintu terbuka dan terlihat di sana dua pelayan yang membawa nampan di tangan mereka masing-masing, dua pelayan itu lantas menaruh nampan-nampan itu di meja Boss besarnya serta Asistennya.


Setelah kepergian dua pelayan itu kedua pria itu menikmati makan siang dengan seksama, Nizam dan Randy melanjutkan pekerjaannya setelah selesai makan dan menaruh perlengkapan makan yang kotor di atas meja yang berada di sudut ruangan itu.


" Boss jam berapa anda pulang?" tanya Randy yang masih fokus dengan benda pintar di depannya.


" Satu jam lagi mungkin Ran, dan kamu urus pekerjaanku yang belum selesai ya." saut Nizam dengan perintah yang ia titahkan.


" Baiklah Boss!"


Setelah sadar dengan kelupaan nya dia langsung cepat-cepat membereskan meja kerjanya lalu beranjak dari duduknya, lalu dia mengambil jas yang ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya.


Nizam melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, namun kakinya berhenti sejenak di depan meja Asistennya.


" Ran, berkas hari ini sudah aku selesaikan. Terus atur lagi meeting sore ini, mungkin kamu bisa jadwalkan ulang ya." Ucap Nizam.


" Siap Boss biar saya yang akan urus semuanya." lanjut Randy seraya berdiri.


" Ya sudah aku tinggal dulu ya, aku titipkan kantor kepadamu." ujar Nizam lalu pergi keluar dari ruangannya.


Nizam melangkah kan kakinya dengan lebar, Ia menuju parkiran mobil yang sebelumnya harus melewati ramainya Resto yang sudah dia kelola itu.


Sesampai di dalam mobil Nizam menginjak pedal gas menuju ke arah yang ingin di tujunya sekarang.


Setelah beberapa lama dia mengendarai mobilnya, sampailah ia di suatu tempat yang luas dan asri, lalu Nizam memarkirkan mobilnya di pojok halaman itu.


Dengan langkah gontai Nizam menuju ke sebuah ruangan yang di atas pintu itu bertuliskan, KANTOR. Nizam mulai mengetuk pintu berwarna putih itu seraya berucap kata salam.

__ADS_1


Terdengar sautan salam dari dalam yang di iringi dengan terbukanya pintu itu, Wanita paruh baya yang masih berdiri sambil memegang gagang pintu itu tersenyum ramah ke arah Nizam.


" Ada yang bisa saya bantu Anak muda?" tanya wanita yang kira-kira sudah berumur 55 tahun itu.


" Maaf Bu saya ke sini ingin bertemu dengan Kakek Mukti." jelas Nizam yang masih berdiri.


" Mari silahkan masuk dulu Nak, kita ngobrol di dalam saja." ajak wanita yang bernama Bu Dahlia itu, karna dia menggunakan Nametag di dada sebelah kirinya.


Nizam mengikuti langkah Bu dahlia lalu sama-sama duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Lalu Nizam menceritakan semuanya tersangkut hubungannya dengan Kakek Mukti. Bu Dahlia mendengarkan penjelasan Nizam dengan seksama serta anggukan kepalanya tanda mengerti apa tujuan Anak Muda di depannya itu.


" Apakah Boleh saya menemuinya setiap saya ada waktu Bu?" Ulang Nizam dengan pertanyaannya.


" Boleh, tidak masalah. Justru saya senang masih ada orang yang peduli terhadap pasien kami yang sudah tidak punya sanak saudara itu." tegas Bu dahlia dengan senyum bahagia.


" Mari saya antarkan ke kamarnya Anak muda" ajak Bu dahlia seraya berdiri yang di ikuti Nizam dari belakang.


Mereka berdua menyusuri lorong yayasan itu tanpa berkata apapun, hingga suara Bu Dahlia memecahkan keheningan.


" Kemarin juga ada seorang gadis yang menemui Kakek Mukti, dan tujuannya sama seperti Anda." cetus Bu dahlia sambil terus berjalan.


Nizam berfikir sejenak Namun dengan langkah kaki yang masih berjalan mengikuti wanita di depannya.


.


.


.


.


.Bersambung...


Hai semuanya....semoga kebaikan dan kesehatan selalu di berikan kepada semua pembaca Aminnn🤲


Jangan lupa vote, Rate serta likenya ya guys...


Karna itu semua bentuk dukungan Anda untuk saya😘😘


Terimakasih buat yang selau setia dengan karya fahad🙏🙏

__ADS_1


Salam Hangat Dari Saya 🤗🤗


__ADS_2