Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Di Bawah Pohon


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Nizam mulai memasuki halaman Yayasan panti jompo yang di tempati Kakek Mukti. Pria yang berwajah tampan dengan kaca mata hitamnya itu turun dari mobil dengan gayanya yang sangat maskulin.


Siapa yang akan menyangka jika sebenarnya Nizam adalah mantan penyuka sesama jenis. Melihat dari tampangnya saja pasti orang tidak akan percaya, kecuali orang terdekat yang sudah tau tentang masa lalu Nizam.


Nizam melangkah ke arah kantor untuk menemui pihak Yayasan untuk keperluan yang lain, sebelum akhirnya dia pergi menemui Kakek Mukti di kamarnya. Sepanjang jalan menuju kamar Kakek Mukti, Nizam sesekali merespon para pegawai di sana yang menyapanya dengan hormat.


Menjadi donasi tetap di Yayasan tempat mereka bekerja membuat Nizam menjadi orang yang wajib dihormatinya. Apalagi, Nizam yang memang jarang sekali singgah ke tempat panti jompo itu menuai banyak rasa penasaran dari beberapa orang yang sama sekali belum pernah bertemu dengannya.


Dermawan muda yang kaya raya serta berwajah tampan itu menjadi buah bibir di Yayasan tersebut, terutama bagi kaum wanita. Tidak sedikit perempuan yang berjumpa dengan Nizam yang langsung terpana dibuatnya. Selain kabar yang katanya donatur muda yang sangat dermawan, ternyata kenyataannya memang sangat tampan bahkan jauh lebih tampan dari apa yang mereka bayangkan.


Nizam akhirnya berhenti di depan pintu kamar yang tidak asing lagi baginya. Setelah ia merasa sedikit gerah dengan beberapa wanita yang berpapasan dengannya, akhirnya ia sampai juga ke tempat kamar Kakek Mukti dan terlepas dari semua pandangan mata yang seakan terus memujanya, dan itu membuat dirinya sangat risih serta tidak nyaman.


"Assalamualaikum, Kakek," ucap Nizam seraya membuka pintu yang separuh terbuka.


Kakek Mukti yang mendengar suara tamu dari luar langsung menjabawab salam tersebut serta menyuruhnya masuk. Kakek Mukti yang beristirahat di atas pembaringan itu tersenyum ke arah Nizam yang semakin mendekatinya. Nizam meraih tangan Kakek Mukti dan menciumnya dengan takzim.


"Apa Kabar, Kek?" tanya Nizam yang duduk di sisi Kakek Mukti. Kakek Mukti menatap Nizam lalu mendudukkan tubuhnya serta bersandar pada divan di belakangnya.


"Kabar Kakek, baik Cu. Bagaimana kabar kamu beserta keluargamu,?" tanya balik Kakek Mukti.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kami semua sehat, Kek. Apa ada sesuatu yang Kakek butuhkan selama ini? Semisal Kakek perlu apa atau menginginkan sesuatu, Kakek bilang saja kepada ibu panti. Biar nanti Nizam suruh orang untuk mengurus semuanya."


Tanya Nizam panjang lebar, dan Kakek Mukti hanya tersenyum menanggapi semua apa yang dikatakan Nizam. Nizam membetulkan selimut yang menutupi kaki tua Kakek Mukti yang sedikit melorot.


"Seandainya Kakek mau aku ajak ke rumah, pasti Nizam lebih leluasa merawat Kakek dengan maksimal. Orang tua Nizam juga tidak keberatan dengan kedatangan Kakek ke rumah kita. Justru papa sama mama Nizam sangat senang sekali jika Kakek mau aku ajak tinggal dirumah kami,"


Ya, Nizam memang pernah meminta Kakek Mukti untuk tinggal di rumahnya. Namun, Kakek Mukti selalu menolak karena sudah merasa sangat nyaman di panti jompo. Bagi Kakek Mukti, panti jompo ini adalah naungan pertama yang menjadi tempat singgah di mana dirinya dulu sangat merasa sengsara karena sudah hidup di jalanan, dan dirinya sudah berjanji untuk terus berada di tempat tersebut.


Selain orang-orangnya yang baik serta sangat menghargai semua penghuni Yayasan itu, Kakek Mukti tidak ingin menyusahkan Nizam yang selama ini sudah banyak membantunya. Bukan hanya dirinya, bahkan Nizam juga mensejahterakan semua orang yang hidup di panti jompo tersebut.


"Nizam, Kakek sudah sangat nyaman tinggal di sini. Kalau Kakek pergi dari sini, pasti kamar ini akan merindukan Kakek," canda Kakek Mukti disusul dengan Kekehan kecilnya.


Biasanya tempat itu memang menjadi tempat bersantai para penghuni di sana jika hari sudah beranjak sore, dan senja menjelang. Namun, Kakek Mukti saat ini sangat ingin duduk di bawah pohon tersebut. Panas matahari yang sudah terik tak menghalangi niatnya untuk mengajak Nizam bersantai di sana.


"Nizam, bagaimana kehidupamu sekarang? Apa kau sudah menemukan ketenangan batin setelah kejadi waktu itu?" waktu yang dimaksud Kakek Mukti adalah kejadian yang menyebabkan hubungan terkutuknya diketahui oleh kedua orang tuanya.


Nizam menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Kakek Mukti. Nizam menegakkan tubuhnya di kursi besi yang saat ini ia duduki bersama sang kakek yang sudah sangat terlihat tua sekali.


"Jujur, Kek. Setelah kejadian itu, kehidupanku berubah drastis. Aku bisa merasakan kedamaian, tidak ada lagi hati yang was-was atau rasa ketakutan terhadap perbuatan yang sebelumnya sudah membuatku selalu merasa tidak tenang menjalani hidup karena sebuah hubungan kotor itu."

__ADS_1


"Dengan seiringnya waktu, hati ini benar-benar bisa terlepas dari belenggu rasa yang salah. Dan pada saat hati ini berjalan dan telah menemukan seseorang yang seharusnya dari dulu aku rasakan, justru aku diuji dengan sebuah pilihan yang mengharuskanku harus memilih dua pilihan yang sulit,"


"Harus sabar dengan menjalani kenyataan tentang suatu takdir atau harus mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya ingin aku perjuangkan, Kek. Namun, keadaan membuatku tidak bisa berbuat apa-apa." Nizam secara tidak langsung mengungkapkan isi di dalam hatinya kepada Kakek Mukti yang sudah ia anggap sebagai kakeknya sendiri.


Meskipun Nizam tidak menceritakan tentang perjodohannya kepada Kakek Mukti, tapi sang kakek itu bisa menebak bahwa Nizam sedang dalam sebuah dilema tentang sebuah hati yang sulit ia atasi. Bibirnya boleh berkata sudah siap menghadapi takdir hidup ini. Tapi, siapa yang tau soal hati?


Kakek Mukti tersenyum teduh menatap Nizam di bawah rindangnya pohon yang terasa sejuk dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi menerpa mereka berdua. Kakek Mukti mengusap pelan pundak kokoh Nizam di sampingnya, lalu berkata.


"Kakek senang, kau sekarang sudah menjadi laki-laki yang sesungguhnya, meskipun kau tidak mengatakan, bahwa di dalam sini sudah ada penghuninya. Kakek bisa merasakan bahwa hatimu sudah tergerak dan memiliki ambisi untuk seorang wanita." kata Kakek Mukti menunjuk dada Nizam.


Mata Kakek Mukti menatap lurus ke depan, lalu sekilas menatap Nizam sebelum akhirnya ia berkata lagi. "Hidup itu memang susah ditebak, kadang kita menginginkan sesuatu, tapi itu semua rasanya sulit kita dapatkan. Dan, kenyataan yang kadang-kadang berkata lain dengan apa yang kita harapkan. Ingat, Cu, apa pun keputusan yang kau ambil, utamakan kebahagiaan orang lain, tetutama kedua orang tuamu."


"Karena jika kita memilih untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih indah dari apa yang kau berikan. Allah memberikan kebahagiaan yang kau butuhkan untuk selamanya, bukan keinginan tentang kebahagiaan yang kau harapkan tapi bersifat sementara."


.


.


. Bersambung.

__ADS_1


Haiiii ... Maaf ya guys, jika masih muter-muter. Alurnya masih berjalan,. dan ini sudah menjadi jalan cerita ku. aku berharap, kalian sabar ya. Kalo merasa bosan di skip aja gpp🤭


__ADS_2