
Tanpa terasa waktu berlalu, jam sudah menunjuk pukul 18:00 WIB. Zizi yang sudah selesai bersiap terlihat sangat cantik dengan sentuhan makeup tipis namun terkesan feminim. Apalagi tubuhnya yang mungil di balut dengan gaun berwana salem di bawah lutut, dengan bagian lengan yang masih menutup sebagian lengan dan tidak terlalu terbuka. Sedangkan rambut panjang nya ia biarkan tergerai dengan sedikit sentuhan gelombang di ujungnya. Yang membuat kesan sedikit dewasa untuk seumurannya.
Zizi melangkah ke depan cermin, memastikan hiasan wajahnya sudah sempurna. di tatapnya pantulan kaca itu seraya berkata.
" Perfect." dengan senyum kepuasan karna hasil karyanya.
Kemudian Zizi melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Dengan sedikit tergesa-gesa Zizi menuju kamar Kakaknya untuk memastikan kalau sang Kakak sudah siap atau belum.
Tok tok tok
Terdengar suara tangan Zizi mengetuk pintu namun tidak ada sautan dari dalam, dengan tidak sabaran dia membuka pintu kamar Kakaknya dan melangkahkan kakinya ke dalam.
Di lihatnya semua sudut kamar itu, tapi dia tidak menemukan orang yang dia cari.
Dengan perasaan bingung dia mencari Kakaknya dengan membuka kamar mandi yang ternyata kosong, lalu di mencoba ke arah balkon yang juga tidak ada sang Kakak di sana.
Hingga suara pintu kamar yang husus buat baju-baju Nizam itu terbuka dari dalam, yang mengalihkan pandangan Zizi ke arah sana.
" Hufffff, ternyata Kakak di kamar ganti. Aku kira Kakak sudah ngilang buat menghindar." terdengar tarikan nafas Zizi yang begitu lega karna telah menemukan Kakaknya.
Nizam yang rupanya baru saja berganti pakain itu terlihat sangat tampan, dengan memakai celana jeans warna dark blue dan kemeja warna maroon, perpaduan warna gelap yang sangat kontras dengan warna kulit putihnya itu, membuat dia semakin terlihat sangat bercahaya. Di tambah lagi dia mencukur bersih bulu-bulu yang tumbuh di daerah atas bibir dan dagunya itu.
" Kakak paling pantang mengingkari janji Dek, jadi tidak mungkin Kakak melupakannya. Apalagi janji kepada Adikku tersayang." Ungkap Nizam sambil merapikan rambutnya di depan Zizi.
" Kalau begitu kita berangkat sekarang ya Kak?" ajak Zizi riang.
" Baiklah." jawab Nizam yang mulai melangkah keluar kamar di ikuti Zizi di belakangnya.
Kedua bersaudara itu berjalan ber iringan menuruni anak tangga, sesekali terjadi obrolan kecil di antara keduanya.
__ADS_1
" Dek kita pamit Papa sama dulu ya." ajak Nizam.
" Tidak usah Kak, tadi Zizi sudah pamit kok, lagi pula Mama bilang ingin istirahat lebih awal. Jadi kita langsung berangkat saja biar tidak telat sampai ke tempat acara." pinta Zizi.
Nizam menyetujuinya lalu bergegas keluar rumah, dan memasuki mobil yang sudah tersedia di halaman. Karna sebelum nya Nizam sudah menyuruh pak Harto menyiapkan nya.
Tanpa menunggu waktu lama Nizam melajukan roda empat itu memecah kegelapan malam, yang masih saja terlihat ramai oleh lalu-lalang mobil dan kendaraan lainnya.
Sekitar empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai ke tempat yang di tuju oleh Zizi. Nizam yang masih ingat dengan area itu langsung mengernyitkan dahinya lalu bertanya kepada adiknya.
" Jadi ini tempat acara ulang tahun teman kamu Dek?" ucap Nizam memastikan
" Iya Kak, teman-teman ku sering mengadakan acara di sini, dan di sini pula tempat nongkrongnya kita-kita. Karna paling dekat dengan Kampus." jelas Zizi.
Ya, tempat yang mereka datangi sekarang adalah, Caffe Santuy . Tempat yang sama, yang sore tadi Nizam datangi untuk mengantarkan Nina bekerja.
" Ternyata dunia ini begitu sempit. Bagaimana bisa kebetulan berulang-ulang seperti ini." ujar hati Nizam yang sedikit was-was karna dia tau Nina berada di dalam sana.
Setelah Nizam yakin telah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, dia mengajak Zizi keluar dari mobil itu dan mengajaknya berjalan bergandengan. Dengan tujuan agar dia terhindar dari sapaan para wanita yang selalu membuat dirinya terganggu.
Keduanya masuk ke dalam Caffe itu yang di sambut langsung oleh Aldo sang manager.
Mereka berdua lalu di arahkan menuju lantai atas, tepatnya tempat acara di adakan.
*******
Sedangkan di tempat yang berbeda, tepatnya di dalam kamar. Pak Alkaf dan Bu Zainiyah tengah mendiskusikan soal perjodohohan Nizam yang mereka rencanakan. Keduanya sepakat menjodohkan Nizam dengan rekan bisnis Pak Alkaf, yang saling mengenal begitu akrab dengan kedua belah pihak.
" Pa, kira-kira Pak Anton dan Bu Indah menyetujui rencana baik ini nggak?" tanya Bu Zainiyah seraya naik ke atas kasur, mendekati suaminya yang sudah duduk di sandaran ranjang.
__ADS_1
" Kalau soal kita menjodohkan Nizam dengan anaknya, mereka pasti setuju Ma. Yang jadi masalah adalah. Apakah mereka bisa menerima tentang niat kita soal perjodohan ini. yang untuk membantu Anak kita sembuh dari kelainan nya itu."
Jelas Pak Alkaf yang pesimis, karna sejujurnya hati kecilnya khawatir kalau perjodohan ini akan di tolak oleh rekan bisnis yang sekaligus sahabatnya tersebut. Tapi dalam hal ini dia harus bisa mengambil keputusan yang bijak, untuk mencoba memberi perubahan pada kehidupan Anak sulungnya.
" Tidak ada salahnya kita berusaha Pa, kalau tidak mencoba bagaimana kita bisa tau hasilnya. Apapun yang terjadi nanti, biarlah kita fikirkan setelah semuanya di jalani." ujar Bu Zainiyah sambil mengelus tangan suaminya yang mulai menua, namun masih terlihat sehat dan berotot.
" Ya sudahlah Ma, besok kita coba bicarakan ini dengan mereka. Mama coba atur pertemuan sama Bu Indah ya." pinta Pak Alkaf seraya merebahkan tubuhnya, yang di susul Bu zainiyah di sampingnya.
" Tapi Pa, apa tidak lebih baik kita langsung berkunjung ke rumahnya, inikan perihal private, alangkah lebih sopan kalau kita langsung bertamu Pa, sekalian bersilaturahmi." Saran Bu Zainiyah.
" Baiklah, kalau itu baik menurut Mama. Sekarang sudah jam 20:30 WIB, sebaiknya kita istirahat dulu ya, kita tidak perlu menunggu anak-anak. Nizam pasti bisa menjaga Zizi dengan baik. Jadi tidak usah khawatir Ma."
Ucap Pak Alkaf sembari mengecup kening istrinya, dan di ikuti dengan ucapan selamat malam yang setiap malam sudah menjadi rutinitas wajib bagi pasangan paruh baya itu.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah memang selalu tidur lebih awal agar bisa bangun sepagi mungkin untuk menjalankan subuh tepat waktu. Meskipun mereka sudah lanjut usia, namun keduanya tetap menjaga hal-hal kecil yang bisa menjaga keharmonisan Rumah tangganya sampai saat ini. Seperti halnya mencium kening istri sebelum bekerja serta pelukan hangat setelah suami pulang dari kantor, serta selalu bermaafan pabila terjadi perdebatan di antara mereka.
Saling menjaga kepercayaan satu sama lain dan berusaha tidak menyalahkan siapun di saat ada masalah. Dan semuanya terbukti ampuh sebagai tiang rumah tangga yang kokoh bagi pasangan itu. Pak Alkaf dan Bu Zainiyah berharap, mereka bisa menerapkan pedoman itu kepada kedua Anaknya.
******
Sedangkan Nizam dan Zizi yang berada di lantai atas, sudah menikmati pesta yang sudah di mulai beberapa menit yang lalu.
.
.
.
.
__ADS_1
.Bersambung