
Meskipun tidak semuanya Nina ceritakan, tapi itu membuat Icha kaget dan tak menduga bahwa Nina telah datang ke rumah tuan sombong tersebut.
"Benar, kamu sudah pernah ke rumah orang sombong itu, Nin?" Tanya Icha memastikan.
"Iya, Kak. Benar," Icha pun terus saja meminta Nina bercerita lagi, meskipun Nizam terlihat sombong tapi ia juga penasaran dengan kehidupan Nizam, pria yang terlihat sempurna. Ya, meskipun wajahnya datar dan menyebalkan dalam kacamata Icha.
Waktu sudah merangkak semakin malam, Nizam dan Melisa memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Setelah kepergian mobil Melisa, Nizam masih tetap berdiam diri di dalam mobil yang sudah ia nyalakan.
Kedua tangan itu memegangi bundaran setir dan sesekali jari-jari putihnya mengetuk pelan seakan ada yang ia tunggu saat ini. Entah, sudah beberapa kalinya Nizam melihat jam yang melingkar ditangan kokohnya tersebut.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berarti tiga puluh menit sudah berlalu dari kepergian Melisa dari kafe itu. Nizam mendesah panjang seakan itu mampu membuang rasa jenuh yang mulai ia rasakan.
Karena dirasa sudah percuma saja ia terus berdiam diri dan tak melakukan hal apa pun, Nizam memutuskan untuk melajukan mobilnya keluar dari parkiran, tapi tiba-tiba mobilnya berhenti di saat ia melihat sosok yang sejak dari tadi ditunggunya.
Nizam menghentikan mobilnya di samping wanita yang dibuat kaget dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di dekatnya serta kaca mobil yang terbuka itu menunjukkan siapa yang ada didalamnya.
"Kak, Nizam!" Lirih Nina.
Kenapa Kak Nizam masih ada di sini, bukankah dia sudah keluar dari kafe sejak dari tadi? Batin Nina.
"Masuk, Kakak akan mengantarmu pulang, ini sudah larut malam," perintah Nizam datar. Tapi itu memang karakter Nizam yang datar dan dingin tapi sangat baik setelah mengenalnya.
Nina pun memasuki mobil Nizam karena melihat sorot mata itu penuh dengan perintah dan pastinya tak mau ditolak.
__ADS_1
Nizam melajukan mobil membelah jalanan yang sudah sedikit lengang dari sibuknya pengendara setelah memastikan Nina duduk dengan baik dan sudah mengenakan sabuk pengamannya.
Nina dibuat canggung setelah mengetahui Nizam memiliki calon istri. Namun, ia sadar bahwa dirinya tak memiliki hak untuk memiliki Nizam bahkan berharap pun sangat mustahil. Kalau Nizam selama ini baik kepadanya, itu hanya sebuah perikemanusiaan saja. Dan alasan Nizam menganggap dirinya adik mungkin adalah alasan lain untuk selalu respect kepadanya.
"Kakak kenapa belum pulang?" Tanya Nina penasaran. Nina berusaha memulai percakapan karena ia melihat Nizam hanya diam dengan fokus mobilnya.
"Masih menunggumu," jawab Nizam yang membuat Nina langsung menoleh ke arahnya. Apa kata Nizam tadi? Menunggunya? Apa Nina tak salah dengar?
"Menunggu Nina? Buat apa Kak?" Nina dibuat bingung dengan maksud Nizam yang menunggunya pulang kerja.
"Aku tahu kau pulang malam jadi sekalian kita bareng!" Singkat Nizam. Sebenarnya Nizam ingin mengatakan perasaannya kepada Nina, tapi kenapa setelah orangnya ada di dekatnya nyalinya hilang entah ke mana!
Nizam memang berniat ingin mengungkapkan perasaannya kepada Nina setelah tadi ia berbicara panjang lebar dengan Melisa, dan Melisa menyarankan untuk segera menyatakan perasaannya kepada wanita yang ia suka sebelum semuanya terlambat.
Kecuali wanita itu merasa minder atau sadar diri akan posisi yang mungkin menyudutkannya dalam sebuah pilihan. Bisa saja wanita yang ditaksir oleh Nizam tak berani berharap karena perbedaan ekonomi? Dan pasti wanita seperti wajib diperjuangkan.
Itulah inti dari pembicaraannya dengan Melisa yang sangat mendukung Nizam agar cepat-cepat menyatakan cintanya. Tapi sekarang? Harus dari mana Nizam memulainya?
Ini adalah pengalaman pertamanya dalam soal menyatakan rasa hati yang dipenuhi cinta, sungguh jauh berbeda dengan perasaannya dulu di saat ia menjalin kasih dengan Beni, karena dulu memang Beni lah yang menyatakan dulu akan ketertarikannya kepada Nizam.
Rasa grogi itu sangat mendominasi Nizam hingga rasanya ia tidak fokus dalam mengemudi, untung saja jalanan sepi hingga ia bisa dengan leluasa membanting setir ke arah kanan di saat tiba-tiba ada pengendara motor yang ugal-ugalan mendahuluinya dari sebelah kiri. Seandainya jalan itu penuh dengan pengendara lain habislah Nizam dibuatnya.
Nina dan Nizam yang dibuat kaget dengan kejadian yang spontan itu sama-sama panik yang membuat Nizam menepikan mobilnya serta buru-buru mengecek keadaan Nina takutnya kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Kamu tak apa-apa, Nin? Tanya Nizam dengan wajah penuh kekhawatiran seraya menelusuri seluruh tubuh Nina takut ada bagian yang lecet atau luka akibat kejadian barusan.
"Aku baik-baik saja kok, Kak. Cuma dahiku sedikit terbentur dashbort," terang Nina seraya meraba dahinya yang sedikit ngilu.
Nyes!
Sentuhan tangan Nizam yang terasa dingin menyentuh dahi Nina membuat si empunya menjadi maraton jantung dimalam hari. tubuhnya rasanya bergetar di saat tangan lebar itu menyugar bagian dahi yang dipenuhi poni.
Tiupan pelan yang berasal dari mulut Nizam membuat Nina semakin mengejang karena rasa yang tak menentu. Berdekatan dengan seorang pria hingga bersentuhan secara fisik baru ia rasakan saat ini dan itu membuatnya merasa panas karena rasa malu dan rasa lain yang sangat asing baginya.
Nafas hangat itu ia rasakan sedikit lama karena Nizam terus saja meniupnya seakan itu mampu meredakan nyeri yang ia rasakan saat ini.
Tidak jauh berbeda dengan Nina. Nizam yang awalnya melakukan gerakan tersebut karena refleks yang didominasi oleh rasa khawatir itu tiba-tiba merasakan debaran yang sama dengan Nina.
Saat Nizam menyadari posisi tubuhnya sangat dekat dengan Nina bahkan tangannya tanpa sengaja menyentuh dahi yang terkena benturan barusan. Layaknya seorang ayah meniup anaknya yang sedang kesakitan, Nizam juga melakukan hal itu kepada Nina, berharap apa yang ia lakukan mengurangi rasa sakit akibat benturan.
"Kak?" Lirih Nina seraya memundurkan wajahnya membuat kepalanya bersender di kursi mobil yang sedikit condong. Posisi Nina sedikit terlihat seperti setengah rebahan dan Nizam mengikuti pergerakan Nina yang membuat tubuhnya seakan-akan mengungkung tubuh Nina dari arah samping.
Nina menurunkan tangan Nizam yang masih setia di atas kepalanya. Sedangkan Nizam tak menyadari pergerakan Nina karena ia larut dalam wajah di depannya yang menenggelamkannya pada dasar rasa yang mempengaruhi kondisi tubuhnya.
Tatapan matanya secara intens menyusuri mata bulat Nina yang dihiasi dengan bulu lentik yang menaunginya, mata yang jernih itu bergerak ke sana ke mari memandangnya. Hidung kecil yang mancung itu terlihat mungil dan menggemaskan. Bibir itu? Bibir merah alami itu sekarang menjadi titik kelemahannya. Nizam yang yang terbuai oleh daya pikat di depannya itu rasanya ingin segera meleburkan perasaan yang penuh tuntutan akan bibir yang menantangnya.
Namun, buaian Nizam tiba-tiba sirna di saat tangan Nina menahan dadanya manakala tanpa sadar Nizam terus mendekatkan wajahnya ke arah Nina.
__ADS_1
"Apa yang Kakak lakukan, kita bukan muhrim, Kak!" panik Nina serta rasa takut yang mulai mendera karena tangan mungilnya tak mampu menahan tubuh Nizam yang semakin dekat dan mendesaknya. Walaupun Nina memiliki perasaan terhadap Nizam tapi Nina tak mau melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.