Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Merasa Rendah


__ADS_3

"Kalau kamu memang menerima perjodohan ini hanya karena ingin membayar hutang budi orang tuaku, aku tidak akan memaksamu untuk tetap berada di sampingku." Ucapan Nizam membuat Nina terlonjak kaget, wajahnya pun mendongak demi menatap iris mata Nizam yang hitam.


"Apa maksud, Kakak?" tanyanya dengan kening berkerut dalam. Tanda tanya besar ada dalam benak Nina.


"Aku takut, kamu saat ini sedang memiliki hubungan sepesial dengan seseorang. Dan demi membalas budi kedua orang tuaku, kamu mengorbankan perasaanmu demi pernikahan ini." Nizam terdiam sesaat, dengan pandangan tak berpaling dari wajah istrinya tersebut. Begitu pun dengan Nina perasaannya kini campur aduk mendengar ungkapan Nizam yang belum selesai.


"Nina, mungkin kamu sudah mendengar tentang masa laluku yang kelam. Aku bukan laki-laki sempurna, apalagi suci! Hidupku berlumur dosa dan jiwa ini pernah terjerembab pada liang kenistaan dunia. Aku tak pantas menjadi suami wanita baik sepertimu yang berhati bauk dan bersih. Aku terlalu buruk untukmu, Nina!" Mata Nizam terlihat kosong saat harapan cintanya telah ada di depan mata. Namun, kesadaran diri dan keegoisan yang sebelumnya mengharapkan Nina dapat membalas perasaannya tiba-tiba runtuh begitu saja mengingat dosa yang pernah ia lakukan.


Entah kenapa, hatinya menciut melihat kelapangan hati Nina saat ini. Ia merasa rendah dan tak pantas mendapatkan Nina. Ia sungguh merasa buruk mengingat semua masa kelam dalam hidupnya.


"Kalau kamu memang terpaksa, aku akan memberikan kesempatan untuk kamu mening ...."


Kalimat Nizam tiba-tiba tertahan saat mulutnya ditutup oleh telapak tangan Nina yang reflek membungkam, tak dapat meneruskan.


"Apa yang Kakak katakan?" Memotres dengan tangan yang perlahan menjauh dari wajah Nizam. Merasa malu dan kikuk sebenarnya.


"Apa Kakak pikir pernikahan kita ini sebuah permainan, dilakukan saat diperlukan dan dibubarkan kalau sudah tidak ada ketertarikan? Apa Kakak pikir, pernikahan ini sebuah lelucon." Nina kecewa terhadap Nizam yang tiba-tiba berkata seakan dia sama sekali tak menghargai ikrar suci tersebut.

__ADS_1


Nizam hanya terdiam dengan tubuh bergeming , melihat kemarahan Nina tanpa diduga. Padahal, ia berkata seperti itu untuk tidak menyulitkan Nina ke depannya. Agar wanita itu mendapatkan kesempatan hidup bahagia bersama pria pujaannya. Nizam tidak mau Nina tertekan, dan menghabiskan waktunya untuk hidup bersama pria tak berguna seperti dirinya.


"Tidak ada satu pun manusia yang boleh menghakimi manusia lain, tak terkecuali diri kita sendiri. Seburuk apa pun perbuatan seseorang di masa lalu, akan tetapi dia telah bertaubat, maka dia juga berhak mendapatkan masa depan yang sama. Tidak ada yang tau takdir kita ke depannya seperti apa, karena kita hanya wajib berikhtiar supaya menjadi manusia yang lebih baik. Bahkan, Allah sangat mencintai pendosa yang gemar bertaubat daripada manusia beriman yang selalu menyombongkan ketakwaannya."


Entah dari mana keberanian itu datang, sehingga Nina dengan beraninya berbicara panjang lebar untuk membuka mata Nizam yang terlihat putus asa akan perbuatannya di masa lalu. Suaminya itu seperti hilang harapan dalam mendapatkan maaf dari Tuhan, sehingga dia merasa tidak pantas dengan apa yang dia dapatkan sekarang.


"Nina, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kamu menyesal dan salah memilih pasangan. Aku pikir, sebelum semuanya terlambat, kamu dapat mengambil keputusan besar ini untuk meninggalkan suami yang pernah memiliki kepribadian buruk!" Nizam masih saja menganggap dirinya rendah di hadapan Nina, mengingat perbuatannya yang sangat hina.


"Kalau Kakak masih saja berbicara hal tidak masuk akal itu, Aku berjanji tidak akan mau berbicara lagi dengan, Kakak!" Nina memalingkan wajah, kecewa dengan keputusan Nizam yang sepihak tanpa memikirkan perasaannya. Tidak tahukah Nizam, kalau orang yang Nina cinta adalah dirinya? Tidak tahukah Nizam, kalau Nina sangat mengharapkan suami seperti Nizam, bagaimana pun masa lalu pria tersebut!


Nina hendak berbaring dan membelakangi Nizam, ia kesal sekali walaupun sudah memberikan pengertian. Tetapi, suaminya itu tetap pada pikirannya yang tak mau terbuka dan memercayainya. Bahwa, ia mau menikah bukan hanya karena alasan balas budi semata, melainkan mengharapkan ridho Allah Subhanahu Wata'ala.


"Menurut, Kak Nizam?" Masih tak habis pikir dengan pria dewasa di sampingnya ini.


Pikiran Nina masih terbagi pada sang ayah yang terbaring lemah di rumah sakit, walau pun terakhir kali ia mendapatkan kabar, bahwa keadaan Pak Anwar sudah semakin membaik. Tinggal menjalani pemulihan selama beberapa hari dan akan segera pulang kalu dokter mengizinkan.


Sekarang, Nizam malah menambah beban pikiran Nina, yang terbagi akan kondisi Pak Anwar yang akhir-akhir semakin menurun. Ditambah kejutan akan kenyataan, bahwa pria yang Nina nikahi itu adalah laki-laki yang sangat dia cintai secara diam-diam. Tetapi keduanya masih saja belum terbuka satu sma lain.

__ADS_1


"Nina, tolong maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Aku hanya ingin menawarkan pilihan yang mungkin saja kamu butuhkan!" Nizam merasa sangat bersalah, karena Nina justru terlihat kecewa akan kejujurannya untuk membebaskan Nina dalam mengambil keputusan pasca pernikahan yang mereka lakukan dari perjodohan


"Kalau pemikiran Kakak seperti itu, dan tetap menganggap Nina hanya ingin balas budi lewat pernikahan ini, Kak Nizam salah besar. Aku kecewa sama Kakak!" Nina menjatuhkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Nizam. Namun, raga saja yang terlihat kuat dan berani. Padahal, jiwanya saat ini sedang gemetaran akibat keberaniannya yang berucap seperti tadi kepada Nizam.


Entah kenapa, sudut hatinya tersinggung. Atau memang tidak mau Nizam menganggapnya sebagai istri yang tak dapat menerima keburukan Nizam di masa lalu.


Tidak tahukah Nizam, kalau dirinya beberapa jam lalu begitu shock, saat baru tahu kalau Nizam-lah putra dari Bu Zainiyah yang diceritakan oleh keluarganya, laki-laki yang memiliki perangai buruk di masa lalu dan berniat bertaubat lewat pernikahan yang mereka rencanakan. Namun, siapa sangka kalau ternyata pria itu juga yang telah memiliki tempat sepesial di hatinya.


Jika wanita seperti Nina mampu menghadapi kenyataan sebesar ini, lalu kenapa pria seperti Nizam malah lemah akan sebuah kenyataan!


"Baiklah! Kalau kamu marah, aku mengerti. Maafkan aku jika kata-kataku menyakiti perasaanmu. Kalau kamu masih ingin bertahan menjadi istriku, aku sangat berterima kasih, Nina!"


Hening.


Tidak ada lagi percakapan lanjutan setelah kalimat permintaan maaf dari Nizam, pria itu memilih ikut merebahkan badannya dengan posisi terlentang. Pandangannya fokus pada langit-langit kamar yang terlihat tamaran oleh lampu kamar.


Pikirannya sekarang bimbang, tetapi juga tak mau membuat Nina tersiksa dan menjadi istrinya. Jujur, kalau boleh berkata terus terang, Nizam sangat bahagia saat mengetahui ia memperistri Nina-wanita yang mampu mencuri hatinya setelah lama mati untuk sementara.

__ADS_1


Namun, Nizam juga tidak mau egois. Hanya karena kebahagiaannya semata, dia malah mengorbankan kebahagiaan Nina, jika seandainya wanita itu juga telah memberikan hatinya pada orang lain. Intinya, Nizam tidak ingin menyulitkan atau menghalangi kebahagiaan Nina dengan pernikahan tersebut.


__ADS_2