Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Calon Nizam?


__ADS_3

Semenjak pertemuan malam itu, hubungan Nizam dan Melisa berjalan dengan baik. Meskipun mereka sama-sama sibuk, namun sesekali mereka bertemu disela kesibukan masing-masing. Nizam yang sering keluar kota untuk mengurus cabang restoran barunya yang hampir selesai dalam tahap pembangunan itu terus saja disibukkan walaupun sebenarnya ia juga bisa mengandalkan Randy sebagai kepercayaannya. Namun, alangkah lebih bagusya jika dirinya terjun langsung kelapangan mengawasi kesiapan pembangunan usahanya tersebut.


Sedangkan Melisa yang sekarang sudah menandatangani kontrak kerja sebagai model sebuah baju dari rancangan desainer ternama di Jakarta, dan itu membuatnya semakin sulit untuk meluangkan waktu untuk keluarganya apalagi dengan Nizam. Mereka hanya menjalin hubungan dengan saling bertukar kabar melalui sosial media.


Tapi hari ini, Melisa dan Nizam sama-sama mempunyai waktu lenggang untuk saling bertemu secara langsung dan membuat janji untuk makan malam bersama, karena kebetulan Melisa pagi tadi baru datang dari Bali dalam menjalani tugas pemotretanya di Pulau Dewata.


Melisa memasrahkan tempat tujuan mereka untuk melakukan makan malam tersebut, karena Melisa memang tidak terlalu faham dengan tempat-tempat yang bagus di kota Jakarta. Melisa yang memang sejak lulus Sekolah Dasar langsung dikirim ke luar negeri oleh orangtuanya untuk melanjutkan pendidikannya disana yang memang kebetulan ada adik dari Bu Indah yang sudah berdomisili di kota New York untuk mengikuti sang suami. Maka dari itu Melisa sama sekali tidak terlalu mengetahui banyak hal tentang kota Jakarta meskipun kota itu adalah tanah tempat kelahirannya.


Setelah sebelumnya Nizam memberikan alamat tempat yang ingin mereka kunjungi melalui via WhatsApp, Melisa langsung menuju tempat yang dimaksud Nizam menggunakan mobil yang ia kendarai sendiri.


Setelah memastikan tempat yang baru ia datangi itu benar dengan mencocokkan nama kafe dan alamat yang tertera di layar yang sedang ia amati tersebut, Melisa semakin yakin bahwa dirinya tidak salah tempat.


Dengan langkah anggun Melisa mengayunkan kaki jenjangnya menuju pintu kafe setelah sebelumnya sudah memarkirkan mobil. Ruang luas yang di kelilingi tembok kaca itu memudahkan jangkauan mata Melisa untuk mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Nizam yang tak tampak di mana-mana.


"Dia belum datang!" Gumam Melisa pelan dengan terus melangkah sesaat setelah pintu kafe tertutup. Hawa dingin yang berasal dari Ace ruangan itu membuat Melisa merasa sejuk dan nyaman. Karena merasa bingung mau menuju kemana, akhirnya Melisa menanyakan tempat yang sudah Nizam pesan kepada pelayanan wanita yang kebetulan baru datang dari pintu husus karyawan.


"Maaf Mbak! Saya mau bertanya, ruangan vvip dengan meja nomer 19 dimana?" Pelayan wanita itu seketika menghentikan langkahnya sembari tersenyum ramah kepada Melisa serta menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pelanggan di hadapannya tersebut.


"Di lantai atas, Nona! Mari saya antar," pelayanan itu melangkah terlebih dahulu yang diikuti oleh Melisa di belakangnya. "Keren." Ucap Melisa pelan menilai ruangan lantai atas yang baru saja ia pijaki.


"Silahkan, Nona. Ini ruangan yang sudah Anda pesan," tunjuk pelayan seraya membuka daun pintu secara lebar agar terbuka sempurna untuk mempersilahkan masuk pelanggannya.


Melisa masuk tapi masih dengan tatapan menilai ke semua sudut ruangan, " Aku suka tempatnya," ucap Melisa dan di sahuti dengan senang hati oleh pelayan wanita yang masih berdiri di ambang pintu.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanya pelayanan itu sebelum keluar dari ruangan tersebut. "Boleh, Mbak! Saya mau jus jeruk saja sambil menunggu." Jawab Melisa. "Baik, Nona. Saya permisi dulu." Pelayan itu pun berlalu pergi menuju bartender di lantai tersebut.

__ADS_1


Pelayan yang tadi melayani Melisa tak lain adalah Icha, yang kebetulan masuk malam. "Hai, Cha," sapa seorang pria yang memang bertugas menjaga bartender tersebut.


"Hai, Jo! Bikinkan jus jeruk satu untuk ruang vvip 19," sahut Icha seraya duduk di kursi tinggi yang berjejer disederet meja bundar berbentuk setengah lingkaran yang mengelilingi Jonathan.


"Siap, Cantik! Apa pun akan kulakukan demi dirimu," Jonathan yang memang terkenal humoris itu selalu mengumbar kata-kata manis yang terdengar gombal kepada setiap perempuan di sekitarnya yang sudah menjadi teman atau rekan kerjanya.


Laki-laki lajang yang bermarga Tionghoa itu bekerja sebagai bartender, pekerjaan itu hanyalah sebagai sampingan pria bermata sipit tersebut di waktu malam, karena kalau siang hari ia sibuk dengan kuliahnya. Meskipun ia terlahir dari keluarga yang berkecukupan, namun dirinya tidak mau memanfaatkan harta orangtunya dengan sia-sia. Di umurnya yang ke 23 tahun Jonathan benar-benar belajar secara sungguh-sungguh agar bisa membanggakan kedua orangtuanya serta bisa meneruskan usaha papanya.


Icha hanya tersenyum dan merotasikan bola matanya seakan sudah terbiasa dengan mulut manis Jonathan yang mengandung racun asmara- bagi wanita-wanita yang mendengarnya.


Namun tidak bagi Icha dan semua perempuan yang ada di kafe ini. Apapun yang keluar dari mulut Jonathan adalah sebuah fatamorgana yang dianggap hiburan bagi kaum wanita sejawatnya.


"Nina?" Tegur Icha kepada Nina yang melintas didepannya. "Halo, Nona Karenina yang manisnya kayak kismis," timpal Jonathan dengan sapaan mautnya. Sontak kedua perempuan itu tertawa melihat Jonathan yang mulai kumat dengan mulut manisnya.


"Ada apa, Kak?" Nina mendekat ke arah Icha seraya meraih nampan yang di sodorkan Icha kepadanya.


"Nin, tolong antarkan minuman ini ke ruang vvip no 19, ya? Perutku tiba-tiba sakit, aku mau ke toilet sebentar. Kamu nggak repot, 'kan? Tanya Icha, berharap Nina mau menggantikannya. Karena memang perutnya saat ini tidak bisa diajak kompromi.


"Iya, Kak. Nina bisa kok!" Sembari membawa nampan yang ia terima dari Icha, Nina pun berlalu pergi meninggalkan bartender menuju ruang yang di maksud Icha barusan.


Tok tok tok....


Sebelum membuka pintu yang terbuka dengan sedikit celah itu, Nina mengetoknya yang mendapat sambutan dari dalam ruangan. "Masuk!"


Dengan perlahan Nina memasuki ruangan ber AC tersebut serta meletakkan minuman yang ia bawa ke atas meja, "Ini minumnya, Nona. Apa Anda ingin memesan makanan juga?" Tanya Nina kepada pelanggan di hadapannya yang berwajah cantik jelita dalam penilaiannya.

__ADS_1


"Nanti saja, Mbak. Sekalian nanti saya pesan makan kalau calon saya sudah datang." Jawab Melisa kepada Nina. Sungguh tidak mustahil kalau wanita secantik di hadapannya ini tidaklah mungkin tak memiliki seorang laki-laki yang tergila-gila dengan kecantikannya. Wajah memesona yang pasti akan menyihir siapa saja yang menatapnya-itulah yang ada dalam benak Nina dalam menilai perempuan didepannya tersebut.


"Baiklah, Nona. Saya permisi dulu." Nina membalikkan tubuhnya serta melangkah untuk segera keluar. Namun, tiba-tiba ia di buat kaget di saat dirinya hendak membuka pintu, tiba-tiba tubuh besar yang mendesak masuk itu membuat Nina menepi seiring dorongan pintu yang semakin terbuka penuh.


"Maaf Mel, aku sedikit terlambat." Seru suara berat yang tertuju kepada wanita cantik yang barusan ia layani.


Deg..


Nina yang masih mematung memegang daun pintu fokus dengan laki-laki yang baru saja datang. Suara itu? Nina kenal suara itu! Suara yang sejak satu bulan ini diam-diam ia rindukan. Begitupun dengan wajah yang meskipun saat ini membelakanginya, namun tetap saja ia tahu siapa pemilik tubuh tegap didepannya ini. Nizam, ya, itu adalah Nizam-Nina yakin sepenuhnya.


Calon? Apa tadi yang dimaksud wanita itu, Nizam adalah calonnya? Nina tiba-tiba menegang.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2