Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Terbongkar 02


__ADS_3

Nizam merengkuh kedua pangkuan orang tuanya tanpa bertanya. Padahal, bisa saja kedua paruh baya yang dibungkus kemarahan itu mendorongnya.


Nizam menjatuhkan kepala di antara paha mama dan papanya. Ia menyadari, jika napas yang dihembuskan ke udara oleh sang papa terdengar kasar, dikarenakan emosinya yang berusaha dia tahan.


Kedua orang tua itu hanya diam membisu, seakan tak menghiraukan Nizam yang sudah berada di pangkuannya tersebut, tapi juga tak menolak anak laki-laki satu-satunya itu berada di sana.


Hati keduanya masih terluka dan kecewa atas perbuatannya Nizam yang telah merusak kepercayaan serta harga diri mereka sebagai orang tua. Sebab, mereka berdua merasa telah lalai dan gagal mendidik Nizam hingga dewasa seperti ini. Jika pada akhirnya, laki-laki yang sudah berusia 29 tahun itu melakukan hal terkutuk yang dilarang oleh agama.


Perlahan, kepala Nizam mendongak, netra Nizam tertuju kepada dua orang yang begitu ia sayangi. Tak ada pergerakan di antara keduanya, melainkan sebuah tatapan tajam yang penuh dengan tuntutan atas sebuah kekecewaan.


"Nizam mohon Ma, Pa. izinkan Nizam menjelaskan semuanya," pinta Nizam penuh permohonan.


"Apa yang telah kamu lakukan sangatlah memalukan Nizam, apa ini balasan kamu terhadap kami yang sudah susah payah menyekolahkan hingga ke luar negeri, huh?" hardik Pak Alkaf geram. Kembali mengulang kata-kata yang pernah terlontar


"Mama sungguh kecewa kepadamu! Kaulah kebanggaan kami, anak laki-laki satu-satunya penerus keluarga Al-Gazali. Tapi dengan semua ini, apa Mama masih berbangga karna mempunyai anak sepertimu?" ucap Bu Zainiyah masih tak menyurutkan amarahnya.


"Zam, mendingan kamu jujur dan akui saja kesalahanmu. Daripada semakin membuat kedua orang tuamu menilaimu begitu buruk," timpal Hendra yang sejak dari tadi hanya menjadi pendengar dan cuma bisa menyaksikan kejadian tersebut.


"Sebelum kamu jelaskan semuanya, usir wanita itu dari ruangan ini," tunjuk Bu Zainiyah kepada seseorang yang sedari tadi hanya berdiam diri tanpa berbuat apa pun. Bu Zainiyah bahkan tak mau melihat sosok yang berpakaian minim bahan tersebut. Malu sendiri rasanya.


Dengan segenap tenaga, Nizam berdiri dari duduknya dan menghampiri wanita yang masih terlihat biasa-biasa saja. Wanita itu terlihat santai dan tak mau tahu, jika pria yang telah bermain indah dengannya ini sedang porak-poranda karena aibnya telah terbongkar.


"Tolong cepat pergi dari tempat ini, agar tidak memperkeruh suasana," pinta Nizam dengan datar tanpa ekspresi. Ia menyambar sehelai kemeja yang terlihat pandangan. Nizam baru sadar jika dirinya masih belum mengenakan baju, karena tatapan wanita di depannya itu sejak tadi tak berpaling darinya.


"Dari tadi aku sudah mau pergi, tapi langkahku tertahan sebab kedatangan keluargamu. Aku tidak harus minta maaf, 'bukan? Karena aku di sini sedang bekerja dan kamu telah membeli diriku. So, jangan pernah menyangkut pautkan aku di dalam masalahmu," ujar wanita itu sembari menepuk pundak Nizam yang sudah mengenakan pakaian. Entah sejak kapan, pria yang begitu terlihat menggoda dari sekian banyak pelanggannya itu membuat hatinya berdesir tanpa sebab. Padahal, ia biasanya begitu profesional dalam bekerja tanpa melibatkan perasaan.


"Singkirkan tanganmu," seru Nizam dengan geram. Pasalnya, kedua orangtuanya di ujung sana sedang memperhatikan setiap sikap serta pergerakannya.


Wanita tadi tersenyum sinis, sadar diri dengan posisinya yang cuma sebagai penghangat ranjang untuk ditukar dengan uang.

__ADS_1


"Kamu lupa, jika beberapa menit yang lalu kamu membutuhkan sentuhan ini." Meski terlihat hanya menggerakkan lidah, tapi ucapan wanita di depannya itu masih bisa ditangkap oleh Nizam dengan jelas. Namun, tidak dengan beberapa orang di sana.


Tanpa menunggu respon Nizam, wanita itu melangkah dengan gontai setelah meraih tas pundaknya di atas nakas. Ia berjalan seperti di sana tidak ada orang sama sekali, padahal penghuni kamar itu semuanya dilanda oleh perasaan muak terhadapnya.


"Tunggu."


Suara di belakang yang cukup keras membuat wanita yang disewa Nizam tadi menoleh. Bu Zainiyah dan Pak Alkaf Masih duduk di lantai, lantas mereka pun sama-sama berdiri. Bu Zainiyah menghampiri wanita yang sedang tertahan di ambang pintu, bersiap untuk membuka handle.


"Sebelum kamu pergi, ingat pesan saya baik-baik. Jangan sampai saya melihat kamu di sekitar kami lagi, terutama di dalam kehidupan Nizam. Kalau kamu masih terlihat, saya tidak akan segan-segan menghancurkan kamu," ancam Bu Zainiyah terlihat muak dan benci.


" Tenang saja, Nyonya. Saya akan tetap profesional dalam melakukan pekerjaan saya. Jika bukan anak Anda yang membeli jasa saya, saya tidak mungkin berada di sini." Wanita itu tanpa rasa takut merespon ucapan Bu Zainiyah tak terduga dan semakin menyulut emosi Nizam serta yang ada di sana.


Ucapan wanita itu membuat Bu Zainiyah kebas. Sakit rasanya! Bagaimana tidak, apa pun yang keluar dari mulut wanita di depannya ini adalah benar adanya. Mereka hanya bekerja meskipun pekerjaannya telah menciptakan luka di hati seorang ibu yang berdiri di depannya.


"Cepat pergi." hardik pak Alkaf yang sedari tadi berdiri di belakang.


Setelah kepergian wanita itu, Nizam lantas duduk, bergabung dengan Hendra serta Zizi. Berkumpul dengan canggung di sebuah sofa yang berukuran panjang, dan disusul oleh Bu Zainiyah serta pak Alkaf yang baru saja duduk di depan Nizam.


Nizam menoleh seakan mengerti dengan isyarat adiknya, lalu tanpa di suruh, iris matanya terfokus ke arah orang tuanya yang sudah menantinya dengan segudang pertanyaan yang menghakiminya.


"Sejak kapan kamu masuk ke lingkungan yang tak bermoral itu, izam?" sergah Pak Alkaf yang masih di penuhi emosi.


"Dan sejak kapan pula kamu membohongi kami berdua?" sambung Bu Zainiyah.


"Sekali Lagi, maafkan, Nizam, Ma, Pa. Aku aku Nizam salah." Nizam lantas menceritakan semuanya.


Semuanya kisah yang berawal dari masa SMA yang membuatnya kecewa. Cinta monyet yang membawanya pada rasa sakit hati yang berujung pada sebuah kebencian serta melahirkan kisah hidup yang menyesatkan.


"Ini memang kesalahan Nizam! Tolong, berukan kesempatan buat Nizam untuk memperbaiki semuanya."

__ADS_1


"Nizam akui, pada waktu itu, Nizam terlalu terlena ke dalam keadaan yang tidak menurut Nizam sebagai rasa bals dendam, hiingga pada semuanya menjadi kebiasaan dan aku terjerumus dalam lembah dosa. Pernah Nizam berfikir untuk belajar keluar dari semua, karena nasihat Hendra, Hingga Nizam memutuskan kembali ke tanah Air, dan berharap bisa lepas dan belajar menata hidup yang sewajarnya. Namun, semuanya begitu susah, jiwa Nizam tak berdaya, Pa, menahan gejolak rasa yang aneh itu. Nizam juga nggak tau, kenapa Nizam memiliki ketergantungan yang menjijikan itu. Nizam menyesal, Ma," ungkap Nizam dengan mata yang sudah memerah, menahan sesaknya di dada. Tidak ada lagi wajah tampan dan dingin itu, yang ada hanyalah wajah kusut yang di penuhi dengan raut keterpurukan dan penyesalan.


Derai air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi Nizam membuat Bu Zainiyah reflek menghambur ke arah anaknya, dengan sigap Bu Zainiyah memeluk Nizam dengan erat. berharap bisa menyalurkan energi yang bisa menguatkan anaknya.


Semarah apa pun seorang ibu, jauh di lubuk hatinya pasti sangat menyayangi sng buah hati, sekalipun mereka melakukan kesalahan ynag teramat besar. Hati seorang ibu kn luluh melihat airmata itu dn apalagi anaknya benar-benar menyesal.


Bu Zainiyah sadar, bahwa anaknya memang punya kelainan yang harus diarahkan. Mungkin, dengan dukungan keluarga beserta orang-orang terdekatnya, Nizam akan dapat dari kebiasan buruk tersebut.


"Apakah di hatimu tidak ada ketertarikan sama sekali kepada wanita?" selidik Bu Zainiyah dengan tatapan mata yang sendu,


Nizam menggeleng pelan.


Pak Alkaf memijit kedua keningnya karena merasakan sakit di kepala, memikirkan anak yang sudah sama sekali tak memiliki ketertarikan kepada wanita. Ini mustahil.


"Hendra, apa kamu tau semuanya sedari dulu?" tanya Bu Zainiyah.


Iris mata Hendra melirik Nizam, seakan-akan meminta Nizam yang menjelaskan. Dengan cepat Nizam menjawab pertanyaan mamanya.


"Hendra tidak salah Ma, dari awal Hendra sudah mengingatkan Nizam, tapi Nizam selalu mengabaikannya. Mungkin kesabaran Hendra sudah habis buat Nizam, hingga dia tidak tahan lagi untuk membongkar semua ini." tutur Nizam yang tak ingin Hendra di salahkan oleh kedua orang tuanya.


Hendra yang memang sahabat dekat Nizam sejak kecil sangat tau sepak terjang Nizam, Selama mengenyam pendidikan bersama-sama di luar negri. Hendralah yang secara tidak langsung mengawasi sepak terjang Nizam yang melewati batas. Sahabat Nizam itu sudah ratusan kali menasehati dan mengingatkan Nizam, bahwasanya yang ia lakukan itu salah.


Tapi Nizam yang merasa tindakannya benar, tidak pernah mengubris nasihat dari sahabat kecilnya itu.


Pak Hermawan adalah ayah Hendra. Keduanya juga menjadi sahabat akrab. Dan, Psk Hermawan sudah mempercayakan semua urusan anaknya kepada Pak Alkaf.


Hingga kuliah ke luar negeri pun, Hendra dipasrahjan kepada Pak Alkaf oleh Pak hermawan.


Jadi tidak tabu lagi kalau kedua keluarga itu bagaikan keluarga besar yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Sungguh, kami benar-benar kecewa kepadamu, Nizam. Tapi, Mama juga tidak bisa membiarkanmu terus terjerumus lebih jauh lagi. sekecewanya kami, kamu tetap darah daging mama dan papa. Jadi, tidak mungkin kami membiarkan kamu sendirian menghadapi semua ini, Nak!" ujar Bu Zainiyah dengan suara yang masih terisak pelan.


__ADS_2