Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Rumah Baru


__ADS_3

"Pak, Bu. Kami sekeluarga sangat berterima kasih atas rezeki ini. Sungguh tidak ada yang bisa saya berikan sebagai ganti atas kebaikan anda kepada kami sekarang. Hanya ucapan terimakasih kasih yang tulus yang bisa kami ucapkan, serta doa yang ikhlas untuk keluarga Bapak dan Ibu! Semoga semua urusan kalian di mudahkan serta selalu mendapat kebahagiaan di balik setiap cobaan." Ibu Nina yang sedari tadi menahan rasa bahagia karna terharu itu tidak mampu lagi menahan lisannya untuk tidak bersuara. Ucapannya terdengar tulus dalam memanjatkan doa tersebut. Seandainya saja ada cara yang mampu ia lakukan untuk membalas kebaikan itu, tentu ia tidak akan keberatan melakukannya selagi dalam batas dan norma agama.


Air mata kegembiraan itu menetes di pipi yang sudah terlihat keriput di makan usia. Nina yang sedari tadi duduk bersanding dengan sang ibu sontak memeluk tubuh terkasihnya itu seraya mengelus punggung wanita yang sudah membesarkan dirinya dengan sabar hingga saat ini.


Nina juga punya fikiran yang sama dengan ibunya, ia rasanya ingin melakukan apa saja untuk membalas budi baik malaikat penolong keluarganya itu.


"Kami tidak butuh balasan dari kalian, karna kami ikhlas menolong! Dengan kalian bahagia dan terbantu atas uluran tangan kami. Kami juga merasa bahagia dan berterima kasih karna kalian sudah menyelamatkan jiwa kami dari manusia yang lalai terhadap sesama.


Mungkin di luar sana masih banyak keluarga yang membutuhkan pertolongan, namun saya juga tidak punya kuasa untuk membantu mereke semua. Dengan kami menyisihkan harta kami melalui donatur yayasan amal serta membantu kalian yang jelas-jelas berada di depan mata, kami berharap apa yang kami lakukan sudah berguna." Tutur Pak Alkaf dengan bijaknya yang di setujui anggukan kepala dari yang istri yang sedari tadi tersenyum melihat kebagian keluar kecil di depannya. Bahkan, tadi ia sampai ikut meneteskan air mata karna rasa haru bercampur bahagia yang tertular melalui suasana yang sangat mendukung untuk menumpahkan air mata bahagia.


Pak Anwar tidak lagi banyak bicara, rasanya dirinya tidak mampu bertutur kata saking tidak menduganya dengan apa yang ia dapatkan hari ini. Keluarganya tidak akan kedinginan lagi di saat hujan turun karna atap rumahnya akan segera di perbaikan seperti layaknya rumah yang sesungguhnya. Mengingat waktu-waktu sulit di saat waktu hujan turun, mereka bertiga mengandalkan tempat seadanya untuk menampung genangan air hujan yang menetes di setiap sudut rumahnya. Bahkan mereka tidak punya tempat untuk beristirahat mengingat kamar juga tidak luput dari kebocoran dan mengharuskan mereka menggulung kasur serta menutupinya dengan plastik sekenanya agar tidak terkena dampak air yang akan memperburuk keadaan kasur yang sudah lama terpakai.


Hanya ada satu kasur di rumah itu, yaitu yang di pakai Nina. Mereka berdua memilih tidur di atas dipan yang beralaskan hambal saja, dengan alasan sudah terbiasa, kedua orang tua itu meyakinkan anaknya bahwa mereka baik-baik saja. Cukup mereka yang merasakan tidur di atas dipan tanpa kasur asalkan anaknya bisa tidur nyaman dan nyenyak, itu sudah cukup membuat mereka bahagia.


Begitulah sebagian orang tua yang hidup di dunia. Bagaikan hukum alam yang di lakukan tanpa paksaan, seorang orangtua memilih menderita asal anaknya bahagia. Tapi, tidak semua anak mampu menderita untuk melihat orang tua mereka bahagia. Memang terlihat sangat tidak adil, bukan? Tapi itulah hukum alam yang ada di dunia. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa.


"Pak Anwar, apa rencana anda kedepannya?" Tanya Pak Alkaf.


"Saya masih belum tau Pak, seumur hidup saya tidak pernah berurusan dengan masalah pembangunan, rumah ini saja peninggalan orang tua kami. Jadi saya juga belum tau! Biar nanti saya akan tanyakan ke tetangga dalam urusan merenovasi rumah." Jawab Pak Anwar yang memang tidak tau menahu tentang pembahasan mendirikan rumah. Hidupnya selama ini di sibukkan dengan hanya mencari nafkah untuk bertahan hidup dalam membesarkan Nina agar bisa menjadi anak yang sehat serta berpendidikan yang layak agar hidupnya tidak susah seperti dirinya serta ibunya.


Sejenak Pak Alkaf berfikir dan bertukar pandang dengan sang istri seakan mata mereka sedang berbicara. "Kalau Pak Anwar mau, kami akan menyediakan arsitek dan mengatur semuanya untuk urusan renovasi, Bapak cukup bilang, seperti apa rumah yang Pak Anwar inginkan." Usul Pak Alkaf yang membuat air mata Pak Anwar meluruh karna tidak tau lagi dengan apa ia harus bersyukur tas nikmat Allah.

__ADS_1


Akhirnya Pak Alkaf memutuskan, semuanya ia serahkan kepada orang kepercayaannya dalam memperbaiki rumah Pak Anwar setelah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.


Pak Anwar tidak meminta ukuran rumah yang besar, cukup bangunan yang sekarang di perbaiki total agar tidak menghilangkan bentuk bangunan yang satu-satunya kenangan peninggalan orangtuanya.


Pak Anwar juga menyerahkan uang yang tadi di berikan kepadanya, ia takut menyimpan uang yang begitu banyak di dalam rumahnya yang kecil. Biarlah Pak Alkaf yang mengaturnya.


Akhirnya pasangan paruh baya itu berpamitan pulang setelah berbincang-bincang panjang lebar dengan keluarga Pak Anwar serta membawa kembali uang pemberiaanya untuk ia serahkankepada orang kepercayaannya. Pak Anwar beserta Bu Zainiyah keluar rumah yang di iringi oleh Nina dan kedua orangtuanya.


"Pak, Bu. Terimakasih kasih banyak atas semuanya!" Nina membawa tubuhnya kedepan menuju Pak Alkaf yang berada tidak jauh darinya untuk bersalaman serta mengucapkan terimakasih sebagai ungkapan.


Pak Alkaf hanya mengangguk sebagai jawaban yang di sertai senyum wibawanya. Beda lagi dengan Bu Zainiyah yang menjawab Nina dengan pelukan hangat penuh kelembutan bagi Nina. "Jangan terus-terusan berterimakasih kasih, Sayang. Karna tante tidak suka! Kamu sudah aku anggap seperti anak tante sendiri!" protes Bu Zainiyah yang keberatan karna Nina sedari tadi terus saja mengucapkan kalimat yang sama. Nina hanya tersenyum lebar dan mengangguk mengiyakan.


Pak Alkaf terus berjalan menuju mobil di depan sana yang terlihat sudah di buka oleh sang sopir, namun beberapa kandang ayam yang berjejer rapi di sebelah kiri menyita perhatiannya. Karna rasa ingin tahunya ia menghentikan langkahnya dan bertanya!


"Iya, Pak! Saya memang hobi memelihara ayam atau sejenisnya. Selain menghasilkan walaupun sedikit. Hewan juga kadang-kadang bisa menjadi hiburan di saat saya lelah dan bosan." Pak Anwar berujar dengan sungguh-sungguh.


Akhirnya tamu agung yang di juluki manusia berhati malaikat oleh Nina itu pulang dengan meninggalkan kesan yang sama sekali akan terkenang di hati keluarga kecil tersebut.


Tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi Pak Alkaf untuk menyulap rumah Pak Anwar menjadi hunian yang nyaman dan membuat betah penghuninya. Karna semua yang menangani perombakan itu orang-orang yang benar-benar profesional di bidangnya masing-masing. Rumah kecil yang kokoh yang di sanggah oleh semua yang serba baru dengan kwalitas tinggi itu akhirnya berdiri cantik dan terlihat minimalis. Tiga kamar berukuran sedang dengan isi furniture yang serba baru juga terlihat manis meskipun terkesan sederhana. Dapur yang juga di lengkapi dengan wastafel itu mempercantik nuansanya agar terlihat rapi dan praktis.


Meja makan serta kursi plastik yang sudah usang sudah tidak ada lagi tergantikan oleh meja makan kaca yang sepaket dengan empat kursi yang terlihat serasi menghiasi ruang makan.

__ADS_1


Ruang tamu pun sekarang sedikit luas karna memang sengaja di perlebar oleh sang arsitek. Kursi tamu yang terbuat dari sofa yang berbulu membuat nyaman dan sedap untuk di pandang dan di tempati.


Dan tak lupa juga Pak Alkaf membangun kandang ayam yang sengaja iya dirikan di belakang rumah Pak Anwar dengan fasilitas yang sangat mudah dalam membersihkannya untuk mengurangi beban Pak Anwar yang sudah masuk usia senja.


Kandang-kandang ayam itu berjejer rapi di halaman belakang. Kandang yang terbuat dari kawat besi yang terlihat bolong-bolong itu memudahkan kotoran langsung jatuh ke bawah sana. Cukup menyemprotkan air di atas ubin yang memang di bentuk menyelorot agar kotoran itu langsung masuk ke tempat pembuangan yang menuju got yang di sudah sediakan.


Sekarang Pak Anwar sudah punya rumah bagus, usaha kecil yang sejak dulu menjadi hobinya dan baru sekarang terwujudkan! Hasil dari berternak yang di bantu sang istri tersebut, sekarang mampu menghasilkan pundi-pundi yang sudah lebih dari cukup dari sekedar untuk mengisi perut. Sedangkan hasil kerja Nina dari cafe memang sengaja di suruh di tabung oleh orangtuanya untuk keperluan Nina sendiri.


.


.


.


.


. **Bersambung


Mon maap ya, kalau ada yang merasa alur ini bertele-tele. Karna ini cerita yang memang harus mendetail menurut versi saya( heheee)


Bagi yang bosen skip aja ya All.

__ADS_1


Oh, iya. Bab selanjutnya Nizam yang bertemu orang tua Nina, ya**!


__ADS_2