
Nizam akhirnya mengikuti langkah Pak Anwar ke ruangan yang ia yakini sebagai tempat untuk beribadah setelah dirinya selesai mengambil wudhu.
Nizam naik ke mushola berukuran agak lebar di depannya. Meskipun terlihat kecil, namun ternyata cukup untuk menampung dirinya beserta keluarga Nina. Bu Aminah dan Nina yang menunggu sudah siap dengan mokena yang mereka kenakan.
Nina sekali lagi memuji ketampanan Nizam dalam hatinya, laki-laki dewasa diujung sana terlihat sangat rupawan dengan sarung dan peci yang menghiasi tubuh kekarnya. Aura lelaki sejati benar-benar terlihat sangat sempurna di wajahnya. Rasa yang menelisik hatinya itu semakin mendebarkan jantungnya yang selalu seperti ini disaat menatap makhluk Tuhan yang memiliki tempat di hatinya tanpa di minta tersebut.
Begitupun dengan wajah Nina yang terbalut mokena berwarna putih itu terlihat sangat bersih dan bercahaya, seakan wajahnya bagaikan bulan di kegelapan malam. Sehingga Nizam sedikit tertegun karna terjerat pancaran gadis di depannya.Tapi, keterpesonaan itu di buyarkan oleh suara Pak Anwar yang menyuruhnya menjadi imam.
"Nak, kalau tidak keberatan, apa Nak Nizam mau menjadi imam?" Pinta Pak Anwar dengan suaranya yang lemah. Nizam sebenarnya ingin menolak karna rasa tidak percaya dirinya. Tapi, bukan kah ia juga akan menjadi seorang Imam nantinya, sehingga ia memutuskan untuk menerima permintaan Pak Anwar.
Nizam mengangguk untuk menyetujui, dan tindakannya di sambut dengan senyuman oleh semua makmumnya. Dengan langkah mantap Nizam mengambil posisi di depan sebagai Imam.
Lantunan ayat yang Nizam lafadzkan begitu terdengar menggetarkan siapapun yang mendengarnya. Suara yang merdu itu ternyata mampu menjadikan orang yang mendengar menjadi terlena dalam kekhusyukan dan ketenangan.
Tidak di sangka, di balik suara yang kadang terdengar dingin dan cuek itu menyimpan keindahan di saat dirinya menyebutkan Asma Allah. Tidak lama kemudian shalat magrib berjamaah itu akhirnya selesai yang di tutup dengan salam sebagai penyempurnaan.
"Terimakasih Pak, Bu. Sudah memberikan tumpangan saya untuk menunaikan shalat di sini. Saya rasa ini sudah malam dan saya izin untuk pulang!" Pamit Nizam setelah semuanya kembali ke ruang keluarga untuk menemuinya selepas shalat.
"Jangan sungkan-sungkan, Nak Nizam. seharusnya Bapak yang berterimakasih kepadamu karna sudah perduli terhadap Nina!" Pak Anwar menepuk pelan bahu Nizam sedikit bangga dengan anak muda di hadapannya. Nizam hanya mengangguk sopan merespon ucapan Pak Anwar.
"Nina, antarkan Nak Nizam ke depan ya!" Pinta ayahnya yang perlahan melangkah menuju masuk kedalam kamar beserta istrinya setelah Nizam berpamitan kepada istrinya juga.
Nizam berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan rumah, jarak yang hanya beberapa meter itu terasa sangat jauh bagi kedua insan yang sama-sama memiliki rasa yang hanya mereka simpan di hati masing-masing.
Keheningan menyergap keduanya, bahkan angin malam yang berhembus menjadi saksi kebisuan di antaranya. Rasanya Nina benar-benar canggung karna perasaan yang sekarang ia rasakan. Dirinya merasa malu sendiri karna hatinya sudah lancang menaruh simpati yang lebih kepada Nizam.
__ADS_1
Begitupun dengan Nizam, Ia di buat mati tak berkutik di saat berjalan berduaan begini bersama Nina, Jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia memang mengakui bahwa perasaannya kepada Nina memang bukan kekaguman semata. Tapi sebelum ia memastikan rasa itu, dirinya ingin membuktikan hal yang selama ini ingin sekali ia lakukan, salah satunya adalah dengan menjalani perjodohan dengan Melisa.
Meskipun Nizam tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, Apakah semuanya akan baik-baik saja, atau malah Melisa akan menjadi wanita kedua yang akan membuatnya dilema.
"Hati-hati ya, Kak!" Ucap Nina di saat Nizam hendak membuka pintu mobilnya.
"Terimakasih atas semua bantuan yang Kakak lakukan terhadap Nina," lanjut Nina sebelum mendapat jawaban dari Nizam.
"Sama-sama, cepat masuklah. Udaranya sangat dingin!" Nina mengangguk serta berlalu pergi. Namun, sebelum mencapai pintu rumahnya, Nina menoleh kebelakang. Ternyata Nizam di sana masih tetap di posisi yang sama, berdiri dengan mata yang seakan masih ingin memastikan gadis di ujung sana benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
Nina tersenyum dan membawa tubuhnya masuk kedalam, hingga tubuh itu hilang di balik pintu yang tertutup sempurna.
Dengan kecepatan maksimal Nizam membawa mobilnya melaju begitu cepat. Ia yakin bahwa dirinya sudah sangat terlambat.
*********
Tentang perjodohan, Melisa memang tidak menolak atau juga bersedia. Mengingat dirinya juga sudah lama di luar negeri, hubungan sesama itu memang kerab sekali ia dengar bahkan salah satu teman kuliah yang beda jurusan ada juga yang seperti itu, jadi di saat dirinya mendengar hubungan sesama jenis itu di alami Nizam, ia tidak merasa heran.
Dia hanya ingin bertemu langsung dengan Nizam. Selain rasa kangen dengan seseorang yang semenjak kecil ia suka. Melisa ingin tau bagaimana respon Nizam terhadap wanita setelah dirinya menjadi mantan seorang Guy.
Meskipun ada rasa kecewa terhadap Nizam, karna sosok yang ia kagumi selama ini menjadi mantan Guy. Kabar itu juga tidak menyurutkan rasa sayang Melisa terhadap orang yang pertama kali menjadi pelabuhan hatinya tersebut! Ya, meskipun itu bisa di bilang hanya sekedar cinta monyet.
"Hai, Tante! Apa kabar?" Sapa Melisa yang menyambut kedatangan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah yang masuk ke dalam rumahnya. Di belakang Melisa juga terlihat kedua orangtuanya sudah berdiri dengan senyum hangatnya.
"Kabar baik, Sayang!" Sahut Bu Zainiyah seraya memeluk penuh rindu Melisa yang sekarang terlihat sangat cantik dan menawan. Melisa juga tidak lupa menyalami Pak Alkaf serta memeluknya singkat.
__ADS_1
"Anton, ternyata putrimu sudah tumbuh besar sekarang. Lihatlah, dia lebih tinggi dari kalian. Ternyata hidup di luar negeri membuatnya tumbuh dengan baik dan cantik. tentunya juga tambah pintar, iya kan, Mel?" Pak Alkaf memuji Melisa yang sekarang benar-benar tumbuh semakin dewasa.
"Kau bisa saja, Alkaf! Hahaha." Tawa Pak Anton meramaikan ruang tamu. Sedangkan Melisa hanya tersenyum malu dipuji oleh Pak Alkaf.
"Mana Kak Nizam Om? Kenapa dari tadi tidak kelihatan!" Tanya Melisa yang penasaran.
"Nizam sudah dalam perjalanan, Mel. Mungkin dia sedikit terlambat. Tapi, dia pasti datang kok," Bu Zainiyah menyahuti dan melirik Melisa yang mengangguk faham.
"Nak Melisa, kau tentunya sudah tahu kan, tentang kedatangan kami kemari?" Pak Alkaf mulai ke topik yang utama. Melisa yang duduk di samping ibunya menatap Pak Alkaf dengan tatapan yang tenang.
"Iya, Om. Melisa sudah tahu! Papa sama Mama sudah menceritakan semuanya kepada Melisa, dan menurut Melisa, tidak ada salahnya untuk mencoba. Tapi sebelum Melisa mengambil keputusan, Melisa ingin berbicara berdua saja dengan Kak Nizam!" Jawab Melisa sangat lugas. Seakan jawaban itu menegaskan bahwa dirinya masih belum bisa memastikan.
"Ya, Om juga setuju. Bahkan apa yang kau ingin lakukan itu, juga permintaan Nizam kepada kami. Dia juga berniat berbicara empat mata dengan mu sebelum semuanya di mulai." Melisa tersenyum simpul, ia tidak menyangka bahwa keputusannya sama dengan yang di inginkan Nizam.
"Assalamu'alaikum!" Suara salam dari luar yang juga di iringi dengan suara derap kaki yang semakin terdengar mendekat itu mengalihkan pandangan semua orang menuju ke arah asal suara sesaat setelah mereka menjawab salam tersebut secara serempak.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung......