Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Resto pusat


__ADS_3

Dengan gerakan cepat Nizam menarik benda yang terpasang di kedua telinga Adiknya.


Zizi yang terperanjat kaget langsung duduk tegak karna aksi Nizam yang tiba-tiba.


Matanya membulat besar dikala dia sadar bahwa Kakak nya sudah berdiri di depannya dengan sorot mata yang begitu kesal.


" Kakak apa-apaan sih?" Nada Zizi yang di buat-buat marah, padahal dia sudah tau kalau Kakaknya itu pasti meminta penjelasan darinya atas kejadian yang terjadi d bawah tadi.


Ya, Perjodohan itu memang tak jauh dari ide konyol Zizi, yang mendramatisir keadaan di waktu dia bercerita kepada Orang Tuanya. Bahwa Kakaknya sudah punya teman Wanita, dengan kata lain mereka menganggap Nizam sudah bisa beradaptasi dengan kaum Hawa.


Tanpa di duga Pak Alkaf dan Bu Zainiyah menerima ide Putrinya itu yang di rasa sesuai dengan logika. Akhirnya keputusan itu di setujui ketiganya dengan perasaan penuh harapan.


" Dek jangan pura-pura tidak tau, Papa sudah bicara dengan Kakak tadi di bawah." ujar Nizam yang masih tetap berdiri menatap Adiknya dengan menahan kekesalan nya.


" Terus aku harus bilang wow gitu hehe.?" Nada Zizi yang sedikit jenaka untuk mencairkan suasana hati Kakaknya.


Nizam yang mendengar kata-kata Adiknya langsung memposisikan tubuhnya untuk duduk berhadapan dengan Zizi di atas kasur.


" Nayzila Kakak serius, Kakak tau semuanya adalah ide kamu." Suara Nizam yang penuh dengan ketegasan membuat Zizi mau tidak mau harus bicara serius juga.


" Sudahlah kak jangan menolak cara yang sudah sangat tepat ini, mungkin ini satu-satunya cara untuk membantu Kakak."


" Tapi kenapa kamu kamu tidak berdiskusi dulu sama Kakak dek?"


" Sebenarnya itu semua tidak di rencanakan kak, tadi pas Zizi cerita soal kak Nina reflek aja ingin ngejodohin Kakak sama dia. terus Papa Mama menyetujuinya.


Sejenak Nizam berfikir guna memutar otaknya untuk mendapatkan cara membatalkan perjodohan ini.


" Jangan ngacok kamu dek, Kakak saja belum kenal dia, apalagi tentang asal usulnya dari mana." Ucap Nizam agar Adiknya berhenti dengan ide konyolnya itu.


" Kakak tadi kan sudah mengantarkan Kak Nina pulang, otomatis sudah tau Rumahnya kan?" saut Zizi yang masih duduk bersila sambil memangku bantal sebagai tumpuan tangannya.


" Dia tidak mau Kakak antar kerumahnya, tadi dia turun di halte, dan kebetulan ada buss yang sudah stanbay di sana." Jawab Nizam tersenyum tipis.


Nizam merasa lega karna Adiknya itu tidak bisa melacak Alamat Nina.


Nizam memang sengaja berbohong kepada Zizi agar adiknya itu tidak bertanya lagi soal identitas Nina beserta keluarganya.

__ADS_1


" Hah, jadi Kakak menurunkan Kak Nina di halte?" sontak Zizi terkejut mendengar penuturan Nizam.


" Kakak ini laki-laki gak sih, Kenapa Kakak membiarkan dia turun begitu saja, di paksa atau apa gitu Kek."


Cerocos Zizi yang tidak habis pikir dengan sikap Kakaknya itu.


Bahaya nih kalo aku tidak tau alamat kak Nina bagaimana aku mau ngenyomblangin mereka ya. Bodohnya aku, kenapa tadi tidak minta nomer teleponnya kak Nina ya. Haduuuuuh Zizi, gagal deh semuanya."


Rutuk Zizi yang menyesali kebodohan nya sambil memukul kecil kepalanya.


" Udah dek, tapi dianya gak mau ya sudah Kakak biarin saja." elak Nizam meyakinkan Zizi.


" Kakak saja yang kurang peka memperlakukan seorang wanita." jawab Zizi yang mulai kesal.


" Lagian kamu ini ya, kenal saja baru tadi main ngejodohin Kakak segala. Kita itu tidak tau asal-usulnya dari mana kan?" jelas Nizam.


" Papa sama Mama tidak mempermasalah kan soal asal-usul Kak.Tujuan kita hanya ingin Kakak memiliki pasangan." Sungut Zizi yang sudah mulai emosi.


" Kalo kita nunggu Kakak bawa Anak cewek, sampai lebaran Monyet pun ga bakalan ada."


" Lagipula ni ya, mana ada cewek yang berani deketin Kakak, sudah kaku dingin cuek pula. yang ada mereka kabur duluan sebelum dekat sama Kakak." Ungkap Zizi dengan suara meledek Kakak nya.


" Ini terlalu terburu-buru dek, bukan Kakak tidak mau tapi.." sebelum Nizam melanjutkan perkataannya Zizi memotongnya dengan cepat.


" Ingat Kak, sekarang saatnya Kakak membuktikan bahwa janji Kakak itu benar-benar janji untuk di tepati, bukan hanya sekedar janji sesaat untuk menenangkan kita semua." ucap Zizi serius.


" Kalau Kakak ingin membuktikan, Mulailah dari sekarang. Untuk melakukan hal baik tidak butuh kesiapan cukup dengan tindakan Kak."


Kata Zizi seraya merebahkan tubuhnya di samping Kakaknya yang entah sejak kapan terlentang dengan tangan di bawah kepalanya, Zizi sudah malas berdebat dengan Kakaknya hingga dia memutuskan untuk segera tidur.


Nizam hanya terdiam meresapi kata-kata terakhir yang di ucapakan Adiknya, matanya menatap langit-langit kamar itu, namun pikirannya menerawang entah kemana.


" Zizi harap Kakak tidak membahas soal ini lagi, cukup jalani peran dan tunggu hasil dari kesungguhan Kakak." jelas Zizi sambil menarik selimut guna menutupi sebagian tubuhnya.


Nizam hanya melirik sang Adik yang sudah menutup mata di sampingnya.


Kemudian ia duduk sambil menundukkan kepala menatap ke lantai seraya berfikir.

__ADS_1


" Mungkin besok aku coba menemuinya."


Karna sudah larut Nizam berlalu meninggalkan Zizi yang sudah terbuai oleh indahnya mimpi, dia keluar kamar itu menuju ke kamarnya untuk beristirahat juga.


*****


Azdan sudah berkumandang menandakan waktu subuh sudah datang, semua penghuni Rumah Al-Gazali itu pun bangun untuk melaksanakan tugas wajibnya kepada sang pemberi hidup.


Di pagi yang cerah itu tepatnya di meja makan


Pak Alkaf dan Bu Zainiyah sudah siap menanti Anak-anaknya untuk melakukan sarapan bersama, sambil menunggu Bi Ijah yang juga istri Pak Ali menyajikan semua masakan yang sudah matang. Kedua paru baya itu mengobrol santai sambil tertawa pelan.


Tak lama kemudian yang di tunggu-tunggu datang juga. Zizi yang sudah terlihat segar dengan baju ala rumahannya, dia terlihat santai karna memang tidak ada acara apapun selain menunggu waktu wisudanya.


Sedangkan Nizam sudah rapi dan terlihat gagah dengan baju dan celana yang sudah sepadan, apalagi jas yang terlihat mewah itu melilit indah di tubuh kekarnya.


" Pagi Ma, Pa?" sapa kedua bersaudara itu seraya menarik masing-masing kursi untuk mereka duduki.


" Pagi juga sayang!" saut Pak Alkaf dan Bu Zainiyah bersamaan.


" Zam kamu mau ke Resto pusat apa yang di cabang?" tanyak Pak Alkaf yang sudah memulai sarapannya setelah tadi sudah di ambilkan oleh sang Istri.


" Iya Pa, Nizam sudah di tunggu Randy. Habis sarapan Nizam langsung menuju kesana karna sudh banyak berkas-berkas yang harus Nizam kerjakan." jawabnya sambil mengambil beberapa menu yang disajikan di meja makan.


Semua melakukan aktifitas sarapannya tanpa bersuara, setelah selesai sarapan ke empat orang itu menuju ruang tamu dengan Nizam yang sudah membawa tas kerjanya.


" Zam Duduk lah sebentar." pinta Pak AlKaf.


Bersambung.....


ngegantung ya ya guys....sabar heee!!


Hai semuanya ketemu sama fahad lagi nih


Jangan bosen2 ya buat vote, like sama bintang limanya ya All.


Terimakasih buat semuanya yang sudah setia dengan karya Fahad🙏

__ADS_1


SALAM HANGAT DARI SAYA😊🤗


__ADS_2