Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Keluarga Pak Anwar


__ADS_3

" Apa anda tidak apa-apa Pak?"


Tanya Pak Harto seraya membantu Bapak paruh baya itu yang di apit seorang perempuan di sampingnya, yang membimbing sang Bapak untuk berdiri tegak, di karenakan tadi jatuh tersungkur karna kaget.


" Maafkan kami Pak, kami kurang hati-hati karna Suami saya masih lemah, badannya kurang sehat jadi tidak bisa berjalan cepat."


Ucap sang istri sambil merengkuh tubuh suaminya yg lemah dengan wajah yang sedikit pucat.


" Bapak, Ibu mau kemana?" tanya Bu Zainiyah yang di susul Pak Alkaf dari belakang.


" Emmmm, kami mau pulang nyonya. Kebetulan angkutan yang kami tumpangi berlawan arus jadi kami harus menyeberang terlebih dahulu!"


Ucap Ibu itu menjelaskan dengan sopan kepada kedua orang yang terlihat kaya di depannya.


" Bapak sama Ibu dari mana?" tanya Pak Alkaf menimpali.


" Kami dari puskesmas Tuan, karna saya lagi tidak enak badan." jawab si suami ibu tadi.


" Kenalkan Nama saya Alkaf dan ini Istri saya Zainiyah."


Ucap Pak Alkaf seraya menjabat tangan si bapak yang kira-kira seumuran dengannya.


" Saya Anwar dan ini Istri saya Aminah."


Jawab Pak Anwar lemah sambil menerima jabat tangan dari Pak Alkaf.


" Apakah boleh kami mengantarkan Bapak dan Ibu pulang, sebagai tanda permintaan maaf dari kami, karna telah membuat kalian hampir kecelakaan tadi?"


Tanya Pak Alkaf serasa melirik sang istri untuk meminta persetujuannya.


Bu Zainiyah yang mengerti akan kode suaminya menganggukkan kepala tanda setuju dengan tindakan suaminya.


" Apakah tidak merepot kan Tuan?" Kata Pak Anwar merendah, karna merasa tidak pantas orang sepertinya di antarkan secara istimewa ke gubuk reotnya.


" Iya Nyonya, kami merasa tidak enak karna telah mengganggu waktu anda." saut Bu Aminah ramah.


" Tidak apa-apa, itung-itung sebagai tanda perkenalan kita." lanjut Bu Zainiyah penuh wibawa.


Betapa terharunya kedua orang itu terhadap perlakuan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah yang menunjuk kan bahwa masih ada orang kaya yang baik hati dan sopan. Dan tidak mempermasalahkan status sosial yang mereka miliki.


Sorot mata yang penuh kekaguman itu terpancar jelas di kedua mata sepasang suami itu, mereka tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan orang kaya yang masih punya kepedulian yang tulus.


" Mari Pak Anwar kita masuk ke dalam mobil."


Ajak Pak Alkaf mempersilahkan mereka menaiki mobil ALPHARD hitamnya.

__ADS_1


Pak Harto yang sedari tadi memerhatikan perbincangan kedua pasangan itu beranjak pergi mendahului majikannya guna membukakan pintu untuk semuanya.


"Betapa mulia nya hati Tuan dan nyonya yang sangat baik hati kepada sesama, walaupun mereka dari kalangan yang sederha." Guman Pak Harto dalam hati sambil menutup mobil lalu masuk ke dalam mobil.


Tidak menunggu lama mobil itu melesat pergi memecah kemacetan yang sudah biasa terlihat di jalan raya.


Pak Harto Memutar arah balik mobil sesuai arahan dari Pak Anwar.


Di dalam mobil, keluarga yang baru kenal itu bertukar cerita seraya bercanda.


mereka menceritakan tentang keluarga masing-masing, mulai dari anak pekerjaan dan sebagainya.


Walaupun baru mengenal keluarga Pak Anwar, tapi Pak Alkaf dan Bu Zainiyah mampu membuat mereka nyaman dengan suasanya yang mereka ciptakan.


Mereka semua membahas panjang lebar tentang kehidupan masing-masing yang tanpa mereka sadari, kedua keluarga itu begitu akrab walaupun status ekonomi yang sangatlah berbeda.


Di Caffe.


" Nina?" panggil Aldo seraya berjalan dari arah kasir menghampiri kariyawan nya yang sedang membersihkan meja pengunjung.


" Iya Pak Aldo!" jawab Nina dan reflek menoleh ke arah sang manager.


" Ini sudah jam tiga, kamu kok belum pulang?"


Sebenarnya alasan lain Aldo menerima Nina di Caffe itu bukan hanya semata-mata Nina gadis yang rajin dan pandai.


Melainkan karna dia sudah tertarik pada gadis itu, yang mampu mengembalikan getaran hati yang sudah lama tak ia rasakan semenjak dia di khianati oleh sang mantan kekasih.


Aldo masih trauma dengan kisah masa lalunya yang di anggapnya sangat mengecewakan.


Sontak Nina melihat jam tangannya dan menepuk dahinya, karna sudah lupa waktu kalau sudah dalam urusan pekerjaan.


" Maaf Pak saya suka lupa waktu kalau sudah bekerja heee," jawab Nina sambil tersenyum manis yang di balas gelengan kepala oleh Aldo.


" Ya sudah kamu siap-siap pulang gih." Perintah Aldo lembut, sambil menatap Nina dengan penuh kekaguman yang tersembunyi.


" Ya sudah Pak saya selesaikan ini dulu habis itu saya pulang." jawab Nina sambil membereskan sisa pekerjaannya.


Tidak beberapa lama Nina sudah siap untuk pulang dengan mnyelempangkan tas butut yang selama ini sudah setia menemani hari-hari nya.


Nina melangkah keluar dari Caffe itu degan gontai, yang sebelumnya dia sudah berpamitan kepada manager dan teman barunya Icha.


Nina menyusuri trotoar itu menuju halte terdekat untuk menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang.


Tak lama angkutan kota itu datang dan Nina bergegas Naik yang di barengi dengan semua penumpang yang berjubel naik duluan hanya untuk bisa mendapatkan tempat duduk.

__ADS_1


Di rumah Pak Anwar


Setelah beberapa menit berlalu sampailah mobil mewah yang membawa keluarga Al-Ghazali itu ke halaman rumah yang sederhana bahkan bisa di bilang tidak layak untuk di huni.


Kayu-kayu penyangga atap yang sudah sebagian lapuk tidak bisa menyangga kuat genteng-genteng yang memiliki beban cukup berat.


Dinding bata yang setengah jadipun di biarkan begitu saja, tanpa di lapisi semen atau apapun.


Pak Alkaf dan Bu Zainiyah turun dari mobil lalu mengikuti pasutri paruh baya itu. untuk memasuki rumah kecilnya.


Keduanya bersitatap menunjuk kan keprihatinan yang sama-sama mereka rasakan setelah melihat kondisi rumah Pak Anwar.


Pak Anwar da Bu Aminah mempersilahkan masuk kedua tamu sekaligus sahabat barunya itu.


Sebelumnya di dalam mobil mereka bersama memperdebat kan panggilan yang menurut Bu Aminah tidak pantas di ucapkan untuk kedua orang kaya yang baik itu.


Ya, Pak Alkaf dan bu Zainiyah tidak mau dipanggil Tuan dan Nyonya karna bagi mereka semua manusia sama di mata allah. walaupun status sosial yang berbeda.


Jadi Pak Alkaf sepakat menganggap Pak Anwar sebagai sahabatnya dan tidak ada lagi panggilan Tuan dan Nyonya baginya.


Dan itupun di setujui Pak Anwar dan Bu Aminah dengan hati yang penuh suka cita karna di pertemukan dengan orang-orang yang baik seperti mereka.


" Silahkan duduk Pak, Buk." ucap Pak Anwar mempersilahkan.


Kedua sahabat baru itu duduk di kursi seadanya, sambil memerhatikan seisi rumah yang sangat sederhana namun masih terlihat bersih dan rapi itu.


Hingga sebuah suara yang mengucap salam dari luar, mampu membuyarkan pemikiran mereka yang sungguh prihatin terhadap kehidupan Bu Aminah dan Pak Anwar.


.


.


.


.


Bersambung


Duuuuhh yang lagi pinisirin,, udah lega ya.


Heheee...maaf kalo lambat Upnya.


Semoga selalu setia ya KakšŸ’


SALAM HANGAT DARI SAYAšŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2