
"Bentar Pa, nunggu kak Nizam turun dulu."
sahut Zizi sambil melangkah ke ruang tamu yang di ikuti sang papa. Mereka sudah selesai sarapan.
"Bagaimana sekolahmu, Nak? Papa dengar, kamu jadi juara lagi tahun ini?"
tanya Pak Alkaf seraya merangkul Putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Pa. Tahun ini Zizi ada di peringkat satu lagi," jawab Zizi dengan senyum manisnya, sembari menerima rangkulan dari papanya.
Ayah dan anak itu menikmati kebahagiaan kecil yang tercipta di sana. Sampai akhirnya Zizi melontarkan ucapan yang mengejutkan.
"Kenapa Papa tidak menjodohkan kakak dengan anak teman Papa saja? Bukankah banyak anak-anak teman Papa yang tentunya cantik-cantik dan memiliki pendidikan yang baik. Siapa tau dengan Papa menikahkan kak Nizam, dia bisa belajar menerima seorang wanita dengan perlahan." Saran Zizi membuat Pak Alkaf bergeming. Setelah beberapa saat, Pak Alkaf memberikan pendapatnya.
"Tidak semudah itu anak cantik!" Pak Alkaf mencubit gemas pipi Zizi yang sedari tadi serius menatap ke arahnya.
"Kalaupun Nizam mau, Papa harus bersikap transparan terhadap calon kakak iparmu dan juga calon besan Papa! Dan ... poin yang paling penting adalah, siapapun wanita itu, yang pasti dia harus menerima kakakmu apa adanya. Atas masa lalunya yang kelam dan berlumur dosa. Papa tidak mau terjadi kesalahpahaman di kemudian hari yang justru menjadi bumerang di dalam rumahtangganya."
Penjelasan panjang lebar itu dapat diterima Zizi dengan baik dan ia memahami apa yang dipikirkan oleh orangtuanya.
"Ini aib keluarga Nak! Tidak semudah itu Papa merencanakan perjodohan dengan orang asing tanpa adanya keterbukaan." jelas pak Alkaf kepada putri bungsunya.
"Papamu benar," timpal Bu Zainiyah yang tiba-tiba datang menyusul keduanya di ruang tamu, lalu duduk di samping suaminya.
"Kalaupun ada wanita yang mau sama Kakakmu, mereka pasti berpikir seribukali, jika seandainya mereka tahu, bahwa Nizam pernah memiliki masa lalu yang gelap. Sebagai wanita normal, mana mungkin mereka mau menikah dengan pria yang mati rasa serta pernah tidur dengan banyak wanita." Wajah Bu Zainiyah tiba-tiba tertunduk, sedih saat mengingat masa lalu Nizam.
"Tapi, usulmu juga tidak buruk! Mungkin perjodohan ini bisa Papa pikirkan kembali," ucap Pak Alkaf demi melihat respon dari sang istri. Dan benar saja, Bu Zainiyah langsung terlihat antusias mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"Papa setuju untuk menjodohkan, Nizam?" Memastikan untuk memuaskan hati. Pak Alkaf mengangguk, tapi ucapan sang suami selanjutnya membuat Bu Zainiyah kembali terlihat bersedih.
"Tapi, dengan siapa kita menjodohkan Nizam, Ma?" ujarnya pelan tapi masih bisa di dengan Zizi dan juga Bu Zainiyah. Garis-garis di dahinya sedikit berkerut, menandakan bahwa dia sedang berpikir keras.
"Papa benar juga," timpal Bu Zainiyah seraya mengelus punggung Pak Alkaf. Ia mengerti dengan apa yang dipikirkan paruh baya yang sudah menemani hidupnya selama ini.
Zizi tak memberikan respon, tetapi langsung mendekat dan memeluk kedua orang tuanya. Gadis itu tahu jika keadaan kakaknya saat ini benar-benar membuat mereka kecewa tapi tak dapat berbuat apa-apa.
Sekalipun Pak Alkaf marah dan kekecewaannya begitu besar, tapi tidak mungkin ia membiarkan Nizam terus terjerumus ke dalam lembah kehidupan yang hitam.
Sebagai orang tua yang bijaksana, Pak Alkaf harus berbesar hati dan menerima perilaku Nizam. Pak Alkaf juga berpikir, jika apa yang sudah terjadi ini adalah sebuah takdir dan juga ujian di dalam keluarga. Pak Alkaf tidak mau melepaskan tanggung jawab itu, dan akan terus menarik Nizam ke arah dan jalan yang benar.
Selama nyawa di kandung badan, ia akan berusaha keras untuk mengembalikan putranya itu pada ajaran agama yang sesungguhnya.
"Sudahlah Ma, kita harus bersabar dan berdoa, agar Nizam bisa merubah hatinya menjadi hangat kembali. Dan dia bisa lepas dari kebiasaan buruknya yang gelap! Yang penting sekarang, Nizam sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, itu sudah cukup membuat Papa tenang sekarang. Biarlah Allah yang berperan menentukan jalan Nizam, kita sebagai orang tua hanya dapat membimbing dia agar tak kembali ke dunianya yang berlumur dosa."
"Amin...." Zizi dan Bu Zainiyah mengaminkan secara serentak, berharap apa yang menjadi harapan mereka dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
*****
Di dalam kamar
Nizam duduk termenung sembari membolak-balikkan badan, ia sedang rebahan di atas ranjang. Kejadian yang barusan iaa lihat dan ia dengar di lantai bawah membuatnya memutuskan untuk naik kembali ke dalam kamarnya.
Sebenarnya, tadi Nizam sudah siap, dan langsung turun ke bawah. Tapi, sebelum sampai ke meja makan, Nisam mendengar semua percakapan yang di perbincangkan tiga orang yang sangat ia sayangi itu.
__ADS_1
Nizam menerbangkan lamunan serta pikirannya lagi, mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Tepat saat ia baru datang dari luar negeri dan masih belum bisa melepaskan kebiasaan buruknya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya yang durjana.
Malam itu ....
Nizam pergi ke klub malam untuk memuaskan diri lewat indahnya duniawi yang selama ini ia jalani selama hidup di luar negeri, berbaur dengan kehidupan bebas tanpa batas yang membawanya terus larut dalam kubangan dosa.
Minuman keras, se*s bebas dan norma-norma agama pun telah ia lupakan. Bahkan, sebagai seorang muslim, Nizam sudah melupakan kewajibannya. Ia sudah jadi Tuhannya.
Kebencian yang bersumber dari kekecewaan terhadap satu wanita, membuatnya muak setiap kali melihat perempuan di luar sana.
Hatinya yang sudah dikuasai dendam dan menyamakan semua wanita di dunia ini dengan mantannya, menjadikannya berada di dalam naungan iblis, tertawa menang melihat Nizam berada di lumpur kenistaan.
Tak puas berada di dalam klub, Nizam membawa wanita yang sudah ia bayar mahal ke hotel berbintang. Melakukan hal yang seharusnya tidak pernah ia lakukan hanya karena membenci wanita gara-gara satu wanita.
Sungguh tidak masuk akal tapi itu benar-benar terjadi pada Nizam, karena setan akan memanfaatkan celah di hati setiap manusia untuk selalu menjadi sekutunya.
Hilang sudah didikan agama yang selama ini ditanamkan oleh kedua orang tuanya, yang membangun pengetahuan aqidah dan moral.
Kepribadian Nizam yang menyimpang ini tentunya tanpa sepengetahuan Bu Zainiyah dan Pak alkaf sebagai orang tua. Sebab Nizam tidak mau aibnya itu terkuak dan membuat orang tuanya kecewa.
Tidak butuh waktu lama, keduanya pun sampai di dalam sebuah kamar hotel yang begitu luas dan nyaman. Meskipun tidak mabuk sepenuhnya, tapi Nizam dan si wanita bayaran tersebut masih berada di dalam pengaruh alkohol dan sedikit linglung.
"Aku sudah membayarmu mahal untuk malam ini! Jadi, jangan kecewakan aku," ujar Nizam dengan suara yang terdengar serak. Akal dan logika sudah hilang dalam kepalanya, berganti dengan nafsu setan yang terus menguasai jiwa dan raga.
"Saya berada di sini karena uang Anda, Tuan. Jadi, mana mungkin saya mengecewakan pelanggan yang memiliki paket lengkap seperti Anda! Wajah tampan, tubuh kekar dan juga berdompet tebal." Wanita panggilan itu mengerlingkan mata supaya tampak lebih menggoda.
Jari-jari yang lentik itu bergerilya secara perlahan di dada Nizam yang masih terbungkus kemeja, seakan ingin meluapkan isi di dalamnya. Benar kata si wanita tadi, badan Nizam memang patut diacungi jempol.
"Bagus!" Nizam terlihat senang atas jawaban wanita tersebut.
Butuh waktu beberapa saat untuk mengatur deru napas yang masih terdengar mendominasi di dalam kamar besar itu. Nizam turun dari ranjang dan membiarkan wanitanya tetap tergeletak setelah melewati indahnya dunia fatamorgana. Nizam berinisiatif mengambilkan gaun minim bahan yang juga berada di bawah lantai.
"Pakailah dan segera pergi dari sini! Bayaranmu sudah aku transfer dan tolong diperiksa." Meskipun Nizam sempat bertutur manis di saat bercinta, tetapi ia akan berubah menjadi pria yang tak peduli setelah mendapatkan kemauannya. Acuh dan dingin di mata siapa saja, terutama para wanita yang hanya ia jadikan pemuas nafsu semata.
Ia memang memperlakukan para wanita-wanitanya seperti barang yang setelah dipakai wajib dibuang. Sebab, ia telah membayarnya kontan, dan berhak bersikap seperti itu dan sesuka hati.
"Baiklah," jawab wanita itu dan bergegas memasang pakaian seksi tersebut.
Di saat wanita itu baru selesai berpakaian dan Nizam juga baru mengenakan celana dan masih membiarkan bagian dadanya terekspos jelas, suara aneh itu terdengar.
Tiba-tiba ....
GUBRAK!!!
Gebrak pintu yang dibuka dengan kasar, terdengar memekakkan telinga, sehingga pantulan benda itupun terlihat membentur tembok dan bunyinya menggema ke setiap sudut. Membuat Nizam dan wanita tadi terkejut akibat kejadian tak terduga tersebut.
Belum selesai rasa kaget yang Nizam rasakan, beberapa orang yang sangat ia kenal masuk dengan wajah yang merah padam. Marah tentunya.
"Ma, Pa!" seru Nizam tak percaya. Wajahnya seketika pucat pasi seperti tak teraliri darah sama sekali. Semua orang kini telah berada di hadapannya, menyaksikan kebejatan yang pastinya membuat kedua orang tuanya murka.
Nizam tidak dapat mengelak lagi, di saat bukti yang sudah jelas di depan mata seperti ini. Sungguh, dunianya serasa terbalik dan hancur detik itu juga.
Hal yang paling ia takutkan adalah, kebenaran akan dunia kelamnya diketahui oleh orangtuanya. Namun, ia juga tidak dapat lepas dari dunia itu dengan mudah dan hari ini pasti terjadi. Ia harus siap menerima konsekuensinya.
__ADS_1
Semua orang yang datang secara tiba-tiba di kamar itu, menatapnya dengan penuh kebencian serta kekecewaan. Perbuatan menyimpang yang menjadi ketergantungan itu menyebabkan ia berada di posisi yang terpuruk saat ini.
Percuma saja ia menyembunyikan semuanya, jika pada akhirnya terungkap secara memalukan seperti saat ini. Padahal, ia sudah melakukan semuanya dengan sangat hati-hati semenjak ia pulang dari luar negeri, kecuali ada seseorang yang dengan sengaja membawa orangtuanya ke sini.
Nizam melirik pria yang berdiri di dekat pintu. Ia yakin, jika dialah orang yang mengatakan kepada orang tuanya. Padahal, Nizam sudah berjanji akan membicarakan tentang aibnya kepada papa dan mamanya jika waktunya sudah tepat. Namun, sahabatnya itu ternyata bertindak tanpa persetujuannya.
Dengan langkah yang lunglai, Nizam menghampiri kedua orang tuanya. seakan-akan sudah pasrah dengan semua hal yang akan terjadi terhadap dirinya.
"Nizam!"
Suara teriakan wanita paruh baya terdengar memekakkan telinga, seiring dengan tangisannya, menggelegar di dalam kamar yang tiba-tiba senyap seakan tak berpenghuni, berganti dengan ketegangan di setiap sudutnya.
Suara tangisan Bu Zainiyah seketika meraung-raung di dalam kamar dan begitu mendominasi. Perasaan kecewa serta kehancuran menampar wajah Bu Zainiyah begitu kuat akan kenyataan yang ia lihat sekarang.
"Kenapa kamu melakukan ini, Nak, kenapa?!" Bu Zainiyah berteriak histeris karna tidak kuasa menahan sesaknya di dada. Anak yang dilahirkannya ke dunia menjadi laki-laki durjana, anak laki-laki satu-satunya yang menjadi tumpuan hidup dan matinya, kini telah mencoreng kehormatan keluarga.
Nizam yang masih shock hanya diam terpaku, lidahnya terasa kelu. Ia tidak bisa berkata-kata lagi saking terkejutnya.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi anak yang sudah mengisi rahimnya tersebut, untuk pertama kalinya tersebut. Tangan itu melesatkan tamparan kekecewaan pada putranya selama hidup.
"Mama tidak menyangka, kamu punya kelakuan be*at seperti ini, Nizam!" terdengar suara Bu Zainiyah bergetar, dipenuhi emosi dan amarah yang meluap-luap. Dirinya tak menyangka, bahwa anak laki-lakinya memiliki kelainan se***al yang sungguh di luar nalar.
Nizam yang mendapatkan tamparan hanya diam mematung, pasrah. Tubuhnya tak bergerak karena merasa malu pada semua yang ada di sana. Dan, tiba-tiba rasa penyesalan merayapi jiwanya saat ini. Tidak ada pembelaan yang perlu ia tunjukkan, karena apa pun yang Nizam lakukan percuma saja, nasi sudah menjadi bubur. Ia sadar jika semua yang terjadi ini adalah salahnya.
"Apa dosa mama Nizam, hingga kamu melakukan perbuatan ini?! Apakah kamu sudah melupakan ajaran agama yang kami tanamkan sejak dini?!" teriak Bu Zainiyah penuh emosi dan tuntukan akan pertanyaannya pada Nizam. Namun, putranya itu hanya bergeming seribu bahasa.
"Apa karena wanita sepertinya?!" tunjuk Bu Zainiyah pada wanita yang disewa Nizam. Wanita yang juga mematung itu hanya berdiri tanpa merasa bersalah, tetap tak berpindah dari sisi ranjang. Ia sudah terbiasa dimaki bahkan pernah dilabrak istri orang. Jadi, dia sudah bebal.
"Bahkan kelakuanmu sungguh hina anakku!" suara Bu Zainiyah terdengar sangat kecewa atas apa yang disaksikan sekarang. Ia benar-benar tak dapat menahan amarahnya yang sudah membuncah di dalam dada.
Tiba-tiba, kepalanya terasa pusing dan berputar. Detik berikutnya, Bu Zainiyah terhuyung ke lantai karna tak kuat menahan beban tubuhnya. Lebih tepatnya, beban pikiran yang menghujam jiwanya seketika.
Pak Alkaf yang sedari tadi hanya berdiam untuk menahan amarah, langsung menghambur ke lantai, khawatir akan istrinya yang tiba-tiba terjatuh. Begitupun dengan Nizam. Ia terkejut melihat ibunya jatuh.
"Mama!" Tindakan Nizam dalam meraih tubuh sang ibu bersamaaan dengan pegangan Pak Alkaf yang berusaha merengkuh Bu Zainiyah. Pria paruh baya itu masih belum berbicara, tetapi matanya menunjukkan semua isi hatinya yang terluka karena kecewa pada Nizam.
Nizam tahu, jika papanya saat ini sedang menahan diri dan memilih diam. Namun, itu lebih menakutkan. Mendingan, ia memilih untuk dimaki daripada melihat sang papa yang hanya diam saja.
Plak!
Plak!
Dua tamparan dari tangan Pak Alkaf tiba-tiba melayang di wajah Nizam dan itu sudah cukup membuktikan, jika paruh baya tersebut begitu marah pada putranya. Rahang tua itu terlihat mengetat dengan gigi yang merapat, sebab menahan emosi yang berkutat dengan jiwa serta pikirannya.
"Apa ini balasan kamu? Apa ini ilmu yang sudah kamu dapatnya di luar negeri selama bertahun-tahun? Apa ini yang papa dapatkan setelah jauh-jauh menyekolahkan kamu ke luar negeri? Apa mencoreng kehormatan diri serta keluarga adalah hasilmu selama ini?!" Sederet kalimat panjang itu mampu membuat hati Nizam tertampar secara bertubi-tubi.
Pak Alkaf menepis tangan Nizam yang ingin memapah sang ibu untuk beranjak berdiri. Ia membiarkan Bu Zainiyah tetap di lantai dan berada di dalam pelukannya dengan tangusan yang sudah terdengar memilukan.
"Apakah tangan yang penuh dosa ini masih pantas aku sebut sebagai putra kebanggaan kami?! seru Pak Alkaf dengan tatapan sinis pada Nizam. Ia tak menyangka jika putranya selma ini berkubang di dalam pergaulan bebas yang penuh dengan maksiat!
"Ma-maafkan, Nizam, Ma, Pa," Nizam sungguh berucap dengan tulus. Kenapa, setelah semuanya terbongkar, rasa penyesalan itu hadir? Kenapa tidak sedari dulu? Apakah ini yang disebut terlambat dalam melalukan sesuatu.
__ADS_1
"Maafkan Nizam, Ma, Pa," kata Nizam mengulangi permintaan maafkan berkali-kali. Bahkan, Nizam bersujud di lantai, di mana Bu Zainiyah dan Pak Alkaf bersimpuh saat ini. Ia benar-benar menyesal.
"Papa, Mama!"