
Nina berjalan keluar dari rumah dan menyusuri jalan yang masih di hiasi bebatuan kecil karna kondisi yang memang dalam tahap perbaikan.
Ia langkahkan kaki dengan begitu gontai menikmati angin sore yang menerpa wajah manisnya. Sapuan oksigen alam itu mampu membuatnya nyaman dan tenteram atas apa yang ia miliki sekarang.
Meskipun dalam kondisi ekonomi yang memprihatin kan tidak lantas membuat dia berkecil hati atas nikmat Tuhan yang ia terima, dengan dia beserta orang tuanya di berikan kesehatan Jasmani dan Rohani saja sudah melibihi nikmat yang teramat sangat baginya.
Hingar bingar suara kendarann yang memecah telinganya membuat ia sadar dengan sekeliling.
Nina menoleh ke arah samping yang di sana sudah banyak lalu lalang kendaran mobil dan sebagainya.
Karna terlalu nyaman menikmati suasana sore yang indah dan di sertai langit jingga yang mulai menunjukkan bahwa matahari sebentar lagi berpamitan, membuat dia terlena oleh semuanya.
Nina menuju halte terdekat untuk menunggu angkutan umum, namun tiga puluh menit menunggu tidak satupun angkutan yang dia tunggu datang.
Hingga pada akhirnya dia putuskan untuk memesan ojek online di aplikasi telpon genggam nya.
Niat Nina naik angkutan umum adalah menghemat biaya tranportasi, tapi karna sudah tidak bisa berkompromi dengan waktu akhirnya dia gunakan jasa online itu.
Selang beberapa menit dia menunggu akhirnya si Abang ojol datang.
" Maaf dengan Neng Nina ya," sapa Abang ojol itu memastikan kepada Nina yang berdiri dengan gelisah menunggu kedatangannya.
" Iya Bang saya," jawab Nina seraya mengambil helem yang di berikan si Abang ojol itu.
Dengan tergesa-gesa Nina memasang helem yang dia raih tadi, lalu memakainya di atas kepala dengan posisi rambut yang ia gerai,
lantas menaiki motor itu.
" Kemana tujuan kita Neng?" tanya si Abang ojol yang sudah di posisi kemudi motornya.
" Bisa ke ke alamat ini sebelum magrib tiba gak Bang?" tanya Nina balik, sambil menyodorkan SIM yang ia temukan tadi pagi,
yang tertera alamat lengkap sang pemilik.
Abang ojol itu meraih benda yang di sodorkan Nina dan memerhatikan dengan seksama guna menganalisa alamatnya.
" Bisa kok Neng, gak seberapa jauh dari sini.
Kalau naik ojol masih bisa nututi, tapi kalo neng naik angkutan umum tidak bisa Neng." terang Abang ojol itu panjang lebar.
__ADS_1
" Apalagi alamat ini termasuk kawasan Elit jadi butuh waktu yang lama buat Neng memasuki kompleknya kalau berjalan kaki, sedangkan kendaraan umum di larang masuk kecuali ojol Neng." ujar Abang ojol itu lagi.
" Baiklah Bang kita berangkat sekarang ya." pinta Nina.
Bang ojol itu menyalakan mesin lalu menjalankan motornya memamuski hamparan manusia yang sama- sama berkutat di jalan raya dengan kendaraan nya masing-masing.
Tiga puluh menit kemudian motor yang di tumpangi Nina masuk ke dalam perumahan yang mewah, baru masuk saja mata Nina sudah di suguhi oleh pemandangan indah yang seharusya itu ia saksikan di sebuah taman.
Di sepanjang jalan itu terhampar bunga-bunga yang bermacam-macam jenis dan pohon-pohon yang tertanam rapi di sisi kanan dan kiri jalan, ada juga danau buatan yang tertelak di salah satu sisi jalan yang menambah kesan alam begitu kental di kawasan itu, menandakan betapa kayanya orang-orang yang tinggal di perumahan itu.
Hingga tak terasa dia sampai di depan Rumah mewah yang bernuansa klasik nan elegan.
Di samping kanan kiri rumah itu juga berdiri rumah-rumah besar yang tidak kalah bagus dengan rumah yang dia pijaki sekarang.
" Neng apa benar ini rumahnya?" tanya Abang ojol memastikan.
Lalu Nina meraih benda penuntun alamat itu serta memastikan secara langsung dengan nomer yang tertera di dinding sebelah paga di depannya.
" Oh, iya benar. makasih ya Bang." ucap Nina sambil memberikan uang yang sudah ia siapkan di saku bajunya.
Setelah Abang ojol pergi Nina melanjutkan Niatnya yang ingin menemui pemilik SIM, dengan langkah pelan Nina menuju bel yang tersedia di pojok kiri atas.
Ting tong..ting ting..
" Positif tinking Nina kamu ke sini dengan niat baik, tidak semua orang kaya seburuk yang kau fikirkan seperti di tivi-tivi. Kata Ibu masih banyak kok orang kaya baik hati."
Monolog Nina menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa menit Nina menunggu namun tidak ada respon dari dalam rumah, hingga ia meyerah dan memutuskan untuk kembali pulang. Namun dencitan suara pagar yang di buka mengalihkan pandangannya.
Di sana berdiri seorang Bapak-bapak yang umurnya sekitar empat puluh tahun degan seragam putih dan topi ciri khas seorang satpam.
Nina membalikkan tubuhnya menuju satpam itu, dan mengucapakan salam sebagai pembuka percakapan di antara mereka.
" Maaf Nona cari siapa ya?" tanya Pak satpam yang sebelumnya sudah menjawab salam dari Nina.
" Maaf Pak apa benar di sini rumah Bapak Nizam Al-Gazali?" tanya Nina penuh harap, karna was-was dan takut tujuannya salah.
" Benar Nona, di sini memang kediaman Tuan muda Nizam beserta Orang tuanya."
__ADS_1
jawab Pak satpam dengan jelas.
" Kalo boleh tau ada keperluan apa Nona mencari Tuan muda?" tanya Pak satpam penasaran terhadap gadis sopan yang terlihat sederhana itu namun tetap terlihat cantik.
Lau Nina menjelaskan semuanya kepada Pak satpam, perihal tujuannya dan kenapa bisa sampai di sini.
Satpam itu hanya ber Oh saja tanda mengerti dengan penjelasan Nina, seraya membukakan pagar agak lebar untuk mempersilahkan Nina masuk menemui Yuan mudanya, dan menutup pagar itu kembali.
" Mari Nona saya antarkan ke ruang tamu" Ajak Pak satpam itu dengan ramah dan tidak membedakan soal Nina yang terlihat sebagai orang biasa saja.
Karna Pak Alkaf dan Bu zainiyah sudah menerapkan peraturan kepada semua pelayan dan pekerja di rumahnya untuk bersikap sopan dan ramah kepada siapapun yang bertamu ke kediamannya.Tanpa harus pandang kaya atau miskin.
" Silahkan duduk Nona, saya akan memanggilkan Yuan muda sebentar."
Tutur Pak satpam mempersilah duduk dan berlalu pergi menuju lantai atas. Namun sebelum Pak satpam Naik ke atas tangga langkahkan terhenti karna melihat Nona mudanya turun dari lantai atas.
" Ada tamu siapa Pak Ali?" tanya Zizi kepada satpam rumah nya itu.
Pak Ali lalu menjelaskan bahwa ada seorang gadis yang sedang mencari Tuan mudanya itu kepada Zizi.
Zizi yang mendengar kata-kata Pak Ali tersenyum sumringah dengan pemikiran yang di penuhi sejuta pertanyaan, dan berlalu pergi ke arah ruang tamu. Dia mengintip di sebelah tirai dan menyingkap nya sedikit untuk melihat tamu yang lagi mencari Kakaknya.
Lalu Zizi berbalik dan menghampiri Pak Ali yang masih berdiri di bawah tangga.
" Bapak kembali saja ke depan biar saya yang memanggil Kak Nizam." perintah Zizi.
" Baik Nona muda." ucap Pak Ali lalu pergi dari tempat itu.
.
.
.
.Bersambung.....
Haiii...maap ya semua, telat Upnya..dari kemaren MT error jadi sedikit ada kendala...
tapi allhamdulillah sekarang sudah normal
__ADS_1
Salam hangat dari saya..
LOPEYOUALL 🤗🤗