
Suara langkah kaki dari arah tangga terdengar nyaring di pendengaran pak Alkaf dan bu Zainiyah yang sudah duduk santai di ruang tamu yang begitu nyaman. kedua sorot mata itu sontak menoleh ke arah asal suara yang tepat berada di ujung sana.
Dengan senyum yang sumringah pak Anton serta bu Indah berjalan dengan sedikit cepat karna tidak sabar ingin melepas rindu terhadap kedua sahabat yang sudah di depan mata itu.
Begitupun dengan pak Alkaf beserta sang istri yang turut mengembangkan senyum tiada henti sejak mereka melihat sang tuan rumah yang sudah terjangkau dari pandangan mereka.
"Apa kabar Zainiyah? peluk bu Indah yang begitu antusias merengkuh orang yang sangat ia rindukan. Bu Zainiyah pun melepaskan kerinduannya dengan mempererat rangkulannya.
Tak lupa pak Anton dan pak Alkaf yang juga berpelukan yang mewakili rasa bahagia karna sudah lama mereka tidak bertemu. Dan baru hari ini mereka punya kesempatan bertemu karna kesibukan mereka masing-masing.
"Kabarku sangat baik Indah, hingga aku bisa sampai ke sini." jawab bu Zainiyah yang masih dengan wajah bahagianya. setelah acara saling peluk-pelukkan itu selesai, mereka semua duduk dengan bu Indah yang masih mengapit bu Zainiyah di sampingnya. Begitu juga dengan para suami mereka yang terlihat bertukar cerita seputar segala hal yang sudah lama mereka lewatkan.
"Alkaf, ada angin apa hingga kau datang kemari tanpa mengabari kami terlebih dulu. aku tau kau orang tersibuk dan tidak mungkin kau hanya ingin menemui sahabat yang sudah lama kau lupakan ini." sindir pak Anton dengan sedikit canda dalam kalimatnya.
Namun, beda dengan pak Alkaf. Nyalinya sedikit menciut untuk mengungkapkan tujuan utama mereka datang kerumah sahabatnya tersebut. Ia tau kalau pak Anton hanya bercanda mengatakan seperti itu, berhubung kedatangannya memang dengan tujuan tertentu, wajahnya sedikit menunjukkan perbedaan karna rasa ragu yang tiba-tiba terbesit dalam hatinya.
Dan wajah yang tegang itu terbaca oleh pak Anton yang langsung merangkul pundak pak Alkaf seraya berkata "Hei, kenapa kau begitu sensitif sekarang, aku tadi cuma bercanda. Tapi kau sudah terbawa perasaan, mana Alkaf yang dulu? Yang selalu tidak terpengaruh dengan apapun candaan yang sama-sama kita lontarkan, bukan? Ya, meskipun kadang-kadang kita berdua sedikit keterlaluan pabila sudah bercanda hahaha ...." tawa pak Anton terdengar sedikit keras yang di susul gelak tawa bu Indah yang memang sedari tadi mendengar perbincangan suaminya dengan pak Alkaf.
__ADS_1
Lain halnya dengan bu Zainiyah yang mengerti dengan apa yang suaminya rasakan. Bu Zainiyah hanya tersenyum kaku agar tidak terlalu terlihat oleh bu Indah. "Niyah, gimana kabar anak-anakmu sekarang?" bu Indah bersuara mengalihkan rasa tidak enak dalam hatinya sejak pertanyaan pak Anton tadi yang menurutnya memang benar adanya.
"Heem. Nizam dan Zizi baik-baik saja Ndah. mereka sudah tumbuh dewasa begitu cepat!" deheman bu Zainiyah yang sengaja ia lakukan untuk mengalihkan rasa gugupnya itu berhasil membuatnya mampu berbicara lancar di hadapan bu Indah.
"Kalau kabar putrimu sendiri gimana Indah? Apa dia sudah menyelesaikan studinya di Luar Negeri? sekarang bu Zainiyah sidikit bersemangat karna bisa ber basi-basi menanyakan putri tunggal sahabatnya tersebut.
Seakan tak ingin kehilangan kesempatan untuk bicara, bu Zainiyah mengajukan pertanyaan lagi meskipun pertanyaan sebelumnya belum sempat di jawab oleh bu Indah. "Kapan Melisa akan menetap di Indonesia? Bukannya kau pernah bilang setelah ia menyelesaikan pendidikannya yang sekarang dia akan menjalani karirnya di sini Ndah?" lanjut bu Zainiyah dengan segala isi di kepalanya. Dia sungguh tidak sabar ingin mengetahui soal Melisa sebelum ia membicarakan soal perjodohan yang mampu membuatnya ketar-ketir itu.
Ya, meskipun pak Alkaf dan bu Zainiyah terlihat bersemangat dan tegar di saat membicarakan soal perjodohan tersebut di depan Nizam dan Zizi. Namun, mereka berdua juga khawatir. takut niat baiknya di salah artikan oleh sahabat nya. Karna mereka berniat menjodohkan puteranya yang notabene punya kelain itu.
Mereka juga takut, karna perjodohan ini, persahabatan mereka akan merenggang dan bisa jadi akan hancur. Tapi, setelah keduanya saling menguatkan tekat dan berkeyakinan bahwa, apapun sesuatu yang belum di jalani tak perlu di takuti. Hasil ahir yang akan menentukan.
"Melisa sekarang sudah selesai studi Niyah. Bahkan, dua hari lagi dia sudah kembali dari Luar Negri. Kalau kau sangat rindu kepadanya. datanglah lagi dua hari lagi. Untuk karirnya, dia memang sudah berjanji mau berkarir di Indonesia, karna aku dan Anton memang tidak bisa jauh untuk selamanya dari putri semata wayangku itu, kau tau kan, Niyah? Hanya dia yang kami miliki Niyah. kalau dia berkarier di Negeri orang, siapa yang akan menjadi tumpuan hari tua kami." terang bu Indah yang tiba-tiba merasa sedih setelah akhir penjelasannya.
"Dulu, kamu memang mengijinkannya menimba ilmu modeling di Luar Negri, tapi dengan satu syarat. Setelah dia lulus dengan apa yang dia harapkan, dia akan melanjutkan kariernya disini, dan dia menyetujui itu. Karna dia adalah putri kami, tentu dia sangat menyayangi kami, bukan? Dan tidak mungkin mengabaikan kami, iya kan, Alkaf?" sambung pak Anton di sela-sela cerita bu Indah.
"Kamu benar Anton, anak adalah tempat kita bernaung di hari tua, mereka yang akan menemani kita setelah istri-istri kita. kalau mereka di Luar Negeri, kita akan sangat kesepian." pak Alkaf membenarkan ucapan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Iya Indah, jangan biarkan Melisa menetap di Luar Negeri, kalian tentu sangat kesepian nantinya, kalaupun dia tidak di rumahmu, tapi setidaknya kalau dia masih berada di kota yang sama dengan kalian itu jauh lebih baik, bukan?" tiba-tiba bu Zainiyah kelepasan dengan pendapatnya, karna keinginan menjadikan Melisa menjadi menantunya sangatlah besar.
"Ehem, maksudku. Seandainya Melisa ada kontrak di kota dekat Jakarta, Indah. Jadi kan tidak apa-apa, kan? Kalau masih sekitar daerah Jakarta?" bu Zainiyah memberikan alibi lain dari agar bu Indah tidak salah faham atas pendapatnya, sebelum ia menjelaskan sendiri masalah dan tujuan yang ingin cepat-cepat ia uraian itu.
"Tidak apa-apa, Niyah. Aku mengerti maksudmu, terimakasih ya karna kau perduli dengan memberikan opini seperti tadi. Aku sangat senang, walaupun kita jarang bertemu bahkan sudah lama, tapi kalian tetap sahabatku yang dulu, yang respect dan perduli pada kami."
raut bu Indah terlihat sumringah dan perlahan mendekap bahu bu Zainiyah, seakan ingin menyalurkan bahwa persahabatan mereka tak terusik waktu.
"Anton, Indah. Sebenarnya ada hal penting yang ingin aku dan Niyah bicarakan kepada kalian berdua!" tiba-tiba pak Alkaf menyela pembicaraan kedua wanita di hadapannya itu, setelah beberapa saat dia memikirkan cara untuk mengatakan maksudnya. Akhirnya ia memberikan diri untuk memulai.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.Bersambung....