Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Sabuk pengaman


__ADS_3

Bu Dahlia berjalan setengah berlari ke arah Nizam yang masih berdiri sambil menutup kembali mobil yang sempat di bukanya.


" Maaf Nak Nizam, Ibu mengganggu sebentar. Ibu mau mengucapkan terimaskasih banyak atas bantuan Nak Nizam terhadap panti jompo ini, semoga Allah yang membalas semuanya."


Ucap Bu Dahlia yang sudah berdiri di depan Nizam dengan senyum bahagianya, karna Nizam secara sukarela mendonasikan dana yang tidak sedikit di yayasan yang ia bina itu.


" Sama-sama Bu, saya juga berterimakasih karna sudah di izinkan berkunjung ke sini tiap hari. Dan untuk dana itu, saya akan memberikan di setiap bulannya."


Tutur Nizam yang tangannya langsung di raih oleh Bu Dahlia secara tiba-tiba untuk di jabatnya. Nizam yang sedikit kaget dengan tindakan itu hanya mengikuti gerak tangan Bu dahlia.


Nina yang mendengar pembicaraan keduanya memandang Nizam dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan. Namun sayang dia tak mampu mengungkap kan, terbesit di hatinya rasa kagum terhadap laki-laki di depannya, yang terpaut umur sebelas tahun itu.


" Sekali lagi terimakasih ya Nak Nizam." ulang bu Bu dahlia.


" Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu." Pamit Nizam yang mulai membuka pintu mobilnya.


" Mari Bu." timpal Nina yang masih berdiri di sisi mobil.


" Oh iya Nak Nina, hati-hati di jalan." jawab Bu Dahlia lalu pergi dari tempat itu menuju kantor tempatnya bertugas


Bu dahlia yang memang sudah mengenal Nina sebelum kedatangan Nizam hari ini, sudah sedikit tau tentang gadis yang baru-baru ini memberikan perhatian lebih terhadap Kakek Mukti.


Namun tentang keduanya yang terlihat akrab hingga pulang dalam satu mobil, Bu Dahlia tidak mau ber asumsi terlalu jauh dan tidak mau mencampuri urusan mereka. Terbukti dari sikap Bu Dahlia yang tidak mempertanyakan soal Nina kepada Nizam barusan.


Nina dan Nizam sudah berada di dalam mobil. Kecanggungan itupun terjadi dengan keduanya yang sama-sama diam.


Setelah beberapa menit yang lalu Nizam keluar dari halaman panti jompo itu, dia melajukan mobilnya ke jalan raya yang mulai padat, kemacetan terjadi di sepanjang jalan yang ia lalui.


Nizam masih dengan posisinya yang fokus mengemudi, sesekali dia melihat kiri kanan untuk memastikan laju mobilnya aman.


Alih-alih ingin bersikap santai, justru membuat dia semakin tegang.


Sebenarnya semenjak Nizam memasuki mobil dan duduk berdekatan dengan Nina, suasana hatinya sudah tidak karuan. Namun wajah datar yang ia tampakkan mampu menutupi kegugupannya.


Sedangkan Nina yang berada di jok samping kemudi merasa bingung , entah dia harus memulai percakapan dari mana untuk bisa terlepas dari keadaan yang sungguh tidak nyaman itu. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara.


" heeemm, Kak Nizam kalau Kakak masih repot turunkan Nina selepas lampu merah di depan saja ya. Biar nanti Nina naik ojol saja." Pinta Nina yang masih menundukkan kepalanya karna tidak berani menatap Nizam.


" Aku sudah menyetujui perintah Kakek dan itu sama halnya dengan sebuah janji yang harus aku tepati, pantang bagiku untuk melanggar sebuah ikrar. Jadi duduk saja dan tunggulah sampai mobil ini sampai pada tujuan."

__ADS_1


Jawab Nizam dengan suara datar namun penuh dengan penekanan.


Niat Nina yang awalnya tidak ingin merepotkan Nizam justru membuatnya serba salah, Dia hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan dan menatap ke luar kaca jendela.


Nina mengingat lagi kejadian yang ia saksikan di halaman panti jompo tadi.


Dia tidak menyangka bahwa laki-laki di sampingnya ini berjiwa sosial yang tinggi, mengingat sikap dinginnya yang seakan tidak perduli dengan sekitarnya dan cenderung sombong di matanya.


Beberapa menit kemudian mobil yang di tumpangi keduanya sampai dia area Caffe santuy, namun sebelum mobil itu masuk ke halaman caffe, Nina menyuruh Nizam menghentikan mobilnya.


" Stop di sini saja Kak, biar Nina jalan kaki saja kedalam." ucap Nina yang spontan membuat Nizam menepikan mobilnya.


Nizam mengernyitkan dahinya seraya menatap Nina heran, sedangkan Nina yang mendapatkan tatapan itu langsung mengalihkan pandangan nya ke lain arah.


" Kenapa." hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut Nizam sambil terus memerhatikan gadis di depannya.


" Tidak apa-apa Kak, ini sudah di depan Caffe, jadi Nina turun di sini saja." terang Nina yang sebenarnya sungkan.


Nina takut kelihatan teman-temannya, apa kata mereka seandainya ada yang tau bahwa dia yang hanya kariyawan biasa di antarkan oleh sebuah mobil yang sangat mewah.


Dan untuk menghindari sesuatu yang belum terjadi itu Nina memutuskan turun di ujung jalan.


Nizam meluruskan pandangan nya lagi agar tidak terlalu lama menatap Nina yang masih di sampingnya.


Nizam merebahkan kepalanya ke belakang sandaran yang ia duduki sembari menunggu Nina turun dari mobilnya, Namun tiba-tiba fokusnya teralihkan karna tidak ada pergerakan dari Nina membuka pintu mobil.


Di liriknya gadis cantik itu yang lagi kesusahan membuka sabuk pengaman yang sedari tadi dia otak-atik namun tak kunjung terlepas itu.


Nina yang merasa kesal dengan ketidakmampuannya dalam membuka benda itu terlihat sangat panik, berulang kali mencoba tetap saja tak membuahkan hasil.


" Gini ini, kalau orang katrok. membuka sabuk pengaman saja tidak tau, duh gimana sih ini caranya." suara hati Nina yang mengatai dirinya sendiri.


Nina terus saja berusaha, tapi lagi-lagi nihil.


Hingga sebuah tangan besar itu membantunya, yang secara tidak sengaja dua tangan itu bersentuhan satu sama lain. Yang membuat keduanya sama-sama tertegun dengan posisi tangan yang masih berpegangan. keduanya reflek menatap ke netra masing-masing.


Terlihat dari sorot mata keduanya menyimpan gejolak yang sama-sama tidak bisa di jelaskan. Hingga suara sabuk pengaman yang terbuka menyadarkan mereka.


" ceklik." suara itu membuyarkan kesunyian.

__ADS_1


Nizam yang kaget langsung melepaskan genggaman tangannya lalu memposisikan duduknya tegap menghadap ke depan, begitupun Nina. Gadis itu langsung menundukkan kepala dengan raut wajah yang sudah sangat malu atas kejadian yang baru saja terjadi.


Keduanya masih sibuk menenangkan retime jantung mereka, yang berdebar kencang tidak beraturan.


" Maaf." suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Nizam, tapi masih dengan posisi duduknya yang tak bergeming.


" Nina juga minta maaf Kak, karna membuka sabuk pengamanan saja tidak bisa." ujar Nina yang tak berani menatap Nizam.


" Ya sudah kamu cepetan turun, sebentar lagi jam kerjamu tiba."


" Baiklah Kak, makasih banyak sudah mengantarkan Nina hari ini."


Ucap Nina yang tak mendapatkan jawaban dari Nizam. Nina langsung membuka pintu mobil itu lalu menutupnya kembali setelah memberikan salam kepada pemilik mobil mewah itu.


" Aaaaaarrrgggg."


Suara Nizam menggema di dalam mobil.


Dia sungguh merasa tersiksa dengan perasaan yang tidak bisa ia terjemahkan.


Hatinya menginginkan dirinya bersikap layaknya laki-laki lain. Namun tubuh dan sikapnya serasa tidak bisa searah dengan fikiran dan keinginannya.


.


.


.


.


.Bersambung..


Maaf sudah menunggu lama🙏


Karna saya masih dalam tahap merevisi bab2


sebelumnya


Jangan lupa selalu setia dengan like, rate dan votenya ya All😍

__ADS_1


SALAM HANGAT SELALU DARI SAYA🤗


__ADS_2