Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Karna Aku Suka


__ADS_3

Sesosok tubuh jangkung dengan pakaian rapi dan rambut kelemis serta beraroma maskulin itu berdiri tegap di hadapan semua orang. Wajahnya terlihat dingin namun juga mengagumkan. Laki-laki tampan yang memang di tunggu sedari tadi oleh semua orang itu hanya tersenyum kaku dan bermuka datar.


"Maafkan saya Om, Tante. karna sudah datang terlambat!" Ucap Nizam merasa tidak enak hati, karna dirinya tidak bisa datang tepat waktu. Semua orang yang menjadikan Nizam pusat perhatian itu tidak mempermasalahkan dan malah menyambut kedatangannya dengan sangat senang, apalagi Tuan Rumah-tentunya.


"Mari Nak Nizam silahkan duduk, menunggu sedikit tak masalah, yang penting yang di tunggu datang, 'kan?" Jawab Pak Anton yang direspon gelak ringan semuanya dalam membenarkan gurauannya.


Nizam menjabat tangan Pak Anton dan Bu Indah serta orangtuanya. Kini giliran Melisa yang menyambutnya dengan senyuman yang tersemat manis dibibir seraya menjulurkan tangan kepada Nizam.


"Hai, Kak Nizam! Masih ingat aku, 'kan?" Ucap Melisa dengan tangan yang masih belum lepas dari keduanya setelah sebelumnya Nizam menerima uluran tangan dari Melisa.


"Tentu." Singkat Nizam, yang memang masih mengingat Melisa kecil yang dulu sering datang kerumahnya jika orangtuanya datang berkunjung menemui papa mamanya.


Melisa sungguh terpesona dengan ketampanan Nizam yang sekarang benar-benar sempurna dimatanya. Meskipun di luar negeri ia sering dikelilingi cowok-cowok Bule yang tampangnya di atas standar itu, tapi Melisa menganggapnya biasa saja. Apa karena memang terbiasa dengan lingkungan laki-laki tampan dinegara tersebut atau Melisa memang tidak tertarik dengan mereka.


Tapi, pria di depannya ini terlihat berbeda, wajah yang sudah tidak diragukan lagi bahkan tanpa cela sedikutpun. Tubuhnya terlihat atletis walaupun masih terbalut baju yang menutupinya, rasanya akan begitu damai jika berada dalam dekapan dada bidangnya.


Tiba-tiba fikiran Melisa berkelana entah kemana di saat membayangkan pria dewasa di depannya. Kak Nizam yang sejak ia kecil telah iakagumi benar-benar terlihat dewasa dan berwibawa membuatnya tidak mampu untuk mendiaminya.


"Kakak sekarang begitu terlihat sangat tampan sekali." Tanpa sadar Melisa mengucapkan pujian yang membuat semua orang tersenyum lebar bersamaan. Nizam yang tangannya belum di lepas oleh Melisa sedari tadi buru-buru menarik dan menduduki sofa dekat papanya.


Semua orang terlihat senang dengan Melisa yang menerima baik Nizam di awal pertemuan. Setidaknya itu modal untuk melangkah ke tahap berikutnya. Ya, meskipun itu tidak menjamin karena di sini yang paling utama adalah tentang perasaan, bukan rasa kagum yang bersifat sesaat.


Hening.....

__ADS_1


"Nak Nizam, Melissa. Kalian tahu 'kan, kenapa kita semua berkumpul sekarang? Kami dan orangtuamu sepakat menjodohkan kalian berdua. Tapi, semuanya tergantung pada keputusan Melisa. Karna ini menyangkut dua hati dan perasaan yang diluar kendali kami sebagai orangtua. Kami sebagai orangtua yang berusaha bersikap bijak akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk saling mengenal terlebih dahulu. Kami tidak ingin memaksakan kehendak kami, kalau di antara kalian ada yang merasa tidak nyaman atau tidak cocok dengan hubungan ini, kalian bebas menentukan keputusan. Hubungan dijalin dengan hati yang tulus agar bisa membentuk rumah tangga yang harmonis." Pak Anton sebagai Tuan Rumah memberikan penjelasan panjang lebar serta arahan bagi keduanya.


Semua orang hanya mendengarkan dengan seksama. Sedangkan Melisa terlihat curi-curi padang kepada Nizam. Nizam yang mengetahui itu hanya diam dengan muka kakunya tanpa merespon apapun.


"Baiklah, Nizam. Kau berniat ingin berbicara empat mata dengan Melisa, 'kan? Sekarang pergilah ke taman belakang. Papa dan mama akan menunggumu di sini sambil mengobrol dengan Anton dan Indah. Lagipula, sudah lama Papa tidak punya waktu yang seperti ini bersama mereka." Usul Pak Alkaf.


"Baik, Pa!" Jawab Nizam sembari melirik Melisa untuk melihat respon darinya. Melisa yang mengerti arti dari tatapan Nizam beranjak berdiri untuk memandu Nizam berjalan ke taman belakang seperti yang di maksud Pak Anton.


Sepeninggal Nizam dan Melisa, keempat sahabat itu bercengkrama tentang masa lalu dan masa kini, kapan lagi mereka bisa bernostalgia seperti ini. Sedangkan kedua insan yang baru sampai itu sama-sama duduk di bangku taman yang sudah disediakan. Dengan sinar lampu yang tidak terlalu terang, taman itu terlihat redup namun menenangkan.


Suara angin dan binatang malam sayup-sayup terdengar melengkapi kesunyian. Keheningan masih saja menggelayuti keduanya, tidak ada yang memulai percakapan karna rasa canggung disebabkan oleh waktu yang sudah lama membuat mereka seperti orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Ya, meskipun mereka memang pernah dekat sewaktu kecil dulu.


Melisa yang biasa selalu tampil pede, apa adanya dan santai karena memang dirinya dididik untuk memiliki mental yang kuat dan percaya diri di depan orang banyak. Tapi sekarang, ia seakan tidak punya semua itu, satu pria didepannya ini telah menciutkan nyalinya untuk bersikap seperti itu untuk sesaat.


"Bagaimana kabarmu Mel?" Kata-kata Nizam yang terkesan datar itu di jawab antusias oleh Melisa.


"Baik, Kak! Kakak sendiri bagaimana kabarnya. Sudah berapa tahun kita tidak pernah bertemu ya Kak. Seingatku, dulu aku sering kerumah Kakak di saat aku masih Sekolah Dasar." Nizam hanya memperhatikan Melisa dengan tatapan tak terbaca, seakan ada sesuatu yang ia cari dari diri gadis didepannya.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik!" Jawabnya. Melisa yang merasa salah tingkah ditatap begitu intens oleh Nizam memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk memutus kontak mata yang membuat tidak nyaman.


"Mel, apa yang membuatmu menerima perjodohan ini?" Tanya Nizam dengan pertanyaan inti kepada Melisa.


"Apa Kakak sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan ini?" Bukannya menjawab, Melisa malah memberikan pertanyaan balik terhadap Nizam.

__ADS_1


"Kamu sudah tahu alasannya kenapa aku mau di jodohkan seperti ini! Dengan aku yang mantan seorang Guy, tidak mudah bagiku untuk mencari seorang wanita untuk aku jadikan sebagai pendamping hidupku. Aku masih belajar membuka hati kepada lawan jenis yang memang sangat sulit aku lakukan. Mungkin perjodohan ini salah satu caraku serta orangtuaku untuk aku bisa belajar dalam beradaptasi kepada seorang perempuan!" Tutur Nizam. Melisa hanya menatap Nizam dengan perasaan prihatin.


"Apa alasannya kau mau menerima perjodohan ini?" Ulang Nizam dengan pertanyaan yang sebelumnya tak mendapatkan jawaban dari Melisa.


"Kakak mau jawaban jujur atau yang rekayasa?" Nizam memicingkan mata karna menurutnya Melisa cuma bercanda.


"Ha-ha-ha!" Melisa tergeletak melihat respon Nizam yang terlihat lucu. Namun ia langsung memberi jawaban yang serius.


"Karna aku suka sama Kakak!" Jawabnya yang singkat namun membuat Nizam seakan terjebak dalam kubangan yang ia ciptakan sendiri.


.


.


.


.


.


. Bersambung........


Muter-muter ya Guys. Semua cerita kalau tidak ada konfliknya kan ngak seru! Jadi biarlah berjalan dengan apa kata jari jempolku ya.

__ADS_1


(Canda. Heheheheh)


__ADS_2