Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Keputusan Melisa


__ADS_3

"Sejak kecil, Aku memang suka sama Kakak, bahkan sampai detik ini, rasa itu masih sama Kak!" Melisa mengungkapkan perasaannya tanpa tendeng aling-aling.


"Tapi, rasa suka bukan berarti cinta, 'kan? Menurutku suka itu naluriah. Semua orang bebas menyukai siapa saja yang menurutnya menarik perhatiannya, entah itu dari sikap atau wajah dari seseorang yang menjadi objeknya. Termasuk rasa sukaku sama Kakak! Sedangkan cinta? Banyak orang salah dalam mengartikan nya.


Menurut sudut pandanganku, cinta adalah hal yang adil di saat dua insan yang saling mencintai itu hidup bersama, dan memiliki seseorang tapi tak mendapatkan cintanya adalah hal yang membuat diri kita sakit lebih dalam ketimbang rasa sakit di saat kita mendapatkan penolakan.


Aku tak mau mengartikan rasa sukaku sama Kakak adalah sebuah cinta. Tapi, seandainya itu terjadi aku juga tidak mau memaksakan rasa ini jika Kak Nizam tidak memiliki perasaan yang sama. Aku adalah wanita yang berfikiran bebas dan cenderung terbuka. Jadi tolong, jangan pernah menerima atau mau menikah denganku jika Kakak tidak pernah punya rasa cinta itu kepadaku!" Jelas dan lugas. Melisa mengatakan opininya tentang cinta menurut versinya.


Nizam dibuat takjub dengan perkataan Melisa yang begitu terang-terangan. Gadis kecil yang dulu tidak pernah ia pedulikan itu tumbuh menjadi sosok yang dewasa dan cantik. Tidak dipungkiri bahwa kecantikan Melisa patut di puji. Rambut lurus sepinggang, kulitnya putih dengan tinggi tubuh sekitar 175 cm. Wajahnya yang sedikit tirus dengan hidung mancung sempurna. Tidak salah kalau ia memang bercita-cita sebagai model mengingat fisiknya yang sangat mendukung.


Satu hal yang bisa Nizam simpulkan saat ini. Rasa yang memang dari awal menjadi tujuan Nizam dalam menerima perjodohan ini, serta ingin bertemu Melisa langsung. Nizam ingin memastikan perasaannya disaat dekat dengan seorang wanita-termasuk Melisa.


Apakah ia juga akan merasakan getaran itu jika ada didekat Melisa? Ternyata jawabannya, tidak! Nizam tidak merasakan apa-apa saat ini. Padahal ia berada dalam jarak dekat dengan Melisa bahkan mereka berbagi kursi bersama.


Nizam tidak mendapatkan rasa yang sebelumnya seperti aliran listrik yang datang secara tiba-tiba disaat ia bertemu seseorang. Jangankan duduk bersama, melihat wajahnya saja ia sudah merasa deg-degan tak karuan. Apalagi rasa itu semakin hari semakin subur seperti bunga yang tersiram air hujan. Sungguh, rasa itu menyiksanya karna himpitan rindu yang secara diam-diam ia rasakan.


Tapi, bukankah terlihat jahat jika ia mengatakan perasaan yang sebenarnya kepada Melisa saat ini, yang terkesan begitu frontal sebelum mereka melakukan penjajakan untuk sementara waktu.


"Aku sungguh tak menyangka, jika gadis kecil yang dulu sering menangis ini tumbuh menjadi wanita yang dewasa dan pintar sekarang!" Ucap Nizam kepada Melisa, yang merasa di puji mendongak heran dengan kerlingan mata yang terlihat kesal karena masa kecilnya yang cengeng diungkit. Nizam hanya tersenyum mendapat lirikan dari Melisa.

__ADS_1


"Gimana, kalau kita melakukan penjajakan terlebih dahulu?" Usul Nizam dan mendapatkan respon yang diharapkan. "Ok, aku setuju, Kak. Biar aku yang bicara sama semua orang." Jawab Melisa.


"Ayo, kita kedepan, Kak." Ajak Melisa sembari berdiri serta memastikan Nizam disebelahnya dengan menoleh kesamping. Nizam mengangguk sebagai jawaban dan mengikuti Melisa yang berjalan terlebih dulu.


"Hai, Sayang?" Sapa Bu Indah terhadap Melisa yang terlihat berjalan menuju ruang tamu yang diiringi Nizam dibelakangnya. Melisa yang mendapatkan tatapan semua orang hanya tersenyum menanggapinya.


"Bagaimana tadi ngobrolnya sama Nak Nizam? Apa kau sudah memiliki keputusan?" Bu Indah yang tidak sabar dengan keputusan Melisa yang menurutnya sesuai dengan kata hatinya itu langsung bertanya didepan semua orang dengan senyum penuh harapan.


Melisa menduduki tempat yang semula begitu juga dengan Nizam. "Ehem," Melisa menetralkan suaranya dengan deheman untuk memberikan jawaban kepada semuanya yang sejak tadi memang menjadi sesuatu yang mereka tunggu-tunggu.


"Melisa memutuskan untuk menjalani penjajakan terlebih dulu dengan Kak Nizam," sejenak Melisa menjeda ucapannya seraya mengalihkan tatapannya menuju Nizam, yang dilihat hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa dirinya menyetujui apapun yang di katakan Melisa.


"Sebelum hubungan Melisa dan Kak Nizam lebih serius, Melisa ingin mengenal Kak Nizam lebih dekat dengan kita menjalani semuanya sebagai teman. Setelah itu baru Melisa akan memberikan keputusan yang pasti akan hubungan ini akan dibawa kemana." Ucap Melisa seraya menatap semuanya untuk melihat respon dari masing-masing atas keputusannya.


"Makasih Sayang, sudah mau mencoba," ucap Bu Zainiyah lagi seraya beranjak dan memberikan pelukan terhadap Melisa sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.


"Sama-sama, Tante!" Melisa membalas pelukan wanita paruh baya tersebut yang terlihat berkaca-kaca saat ia sempat bersilang pandang sebelumnya.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi, selamat ya Anton, Indah. Semoga kita benar-benar menjadi besan setelah ini," besar harapan yang terdapat didalam kata-kata Pak Alkaf saat menimpali percakapan Melisa dengan istrinya. Dan itu mendapat jawaban yang mantap dan tulus dari kedua sahabatnya tersebut.

__ADS_1


"Tentu, Alkaf. Aku juga berharap seperti apa yang kau fikirkan," Pak Anton dengan semangat berucap yang diiyakan oleh Bu Indah. Sedangkan Melisa yang menyaksikan kebahagiaan kedua para orangtua itu sedikit terenyuh. Padahal ia dan Nizam belum pasti akan benar-benar menikah, tapi respon mereka begitu antusias. Bagaimana seandainya semuanya tidak seperti yang mereka inginkan?


Melisa tidak mau berfikir sesuatu yang belum bisa ia pastikan. Sekarang ia hanya ingin menjalani semuanya bagai air yang mengalir. Kalaupun dirinya tak jadi dengan Nizam mungkin itu adalah jalannya.


Semua akhirnya bercengkrama dengan topik santai karna sudah mendapatkan jawaban atas keputusan Melisa. Pada akhirnya keluarga Pak Alkaf berpamitan pulang.


"Terimakasih Zainiyah, sering-seringlah datang kemari," pinta Bu Indah sembari memeluk sahabatnya. "Aku yang seharusnya berterimakasih karena Melisa mau menerima Nizam apa adanya," ucap Bu Zainiyah seraya mengarahkan pandangannya terhadap Melisa dengan seulas senyum. Melisa hanya mengangguk dan tersenyum.


Nizam hanya menyaksikan semua interaksi antara dua keluarga yang terlihat bahagia tersebut. Apa jadinya jika ia dan Melisa tidak bisa bersama dengan alasan yang akan ditimbulkan olehnya bahkan mungkin dari Melisa sendiri! Mengingat pembicaraannya dengan Melisa tadi lebih dominan kepada keputusan yang tidak boleh dipaksakan dari kedua belah pihak.


Nizam hanya menghela nafas secara dalam. Berharap kisah hidup yang sesungguhnya akan dimulai dengan harapan baru yang lebih baik lagi. Nizam juga berharap Melisa benar-benar pada pendiriannya yang tidak akan memaksakan perasaannya kelak jika ia tidak bisa memiliki rasa itu terhadap Melisa


.


.


.


.

__ADS_1


.


. BERSAMBUNG.....


__ADS_2