
"Alkaf, Indah. Aku turut sedih dengan keadaan Nizam saat ini, ini menyangkut keputusan bersama, jadi ijinkan aku menanyakan hal ini terhadap Melisa, karna dia yang akan menjalani hidupnya. Aku sebagai orang tua tidak pernah memaksakan apapun terhadapnya kecuali soal pendidikan yang memang harus di capai setinggi mungkin. Kalau soal pasangan hidup, sepenuhnya aku serahkan kepada Melisa! Jadi, sebelum aku memutuskan semuanya sendiri, aku harap kalian bisa bersabar menunggu Melisa pulang, dan saat Melisa sudah mengambil keputusan, aku harap kalian bisa menerima apapun keputusan anakku." Pak Anton yang akhirnya berbicara mewakili istrinya itu mampu menghapus sedikit kesedihan atas jawaban yang baru saja ia suarakan.
"Tentu Anton, aku tidak masalah, apapun keputusan Melisa. Anggap saja kami datang kemari untuk mencurahkan hati kami yang selalu di rundung rasa gelisah. Pengertian kalian sudah cukup membuat kami bahagia, aku dan Alkaf sangat berterima kasih kepada kalian, setidaknya kamu dan Indah masih ada di sisi kami di saat keterpurukan karna masalah ini. seandainya Melisa menerima perjodohan ini, itu adalah bonus buat kami. Yang terpenting sikap kalian tetap sama dan tidak berubah." sambung Bu Zainiyah yang mengambil alih suara, karna ia sudah tidak sabar ingin berterimakasih kepada sahabatnya tersebut.
Bu indah yang masih menggenggam tangan sahabatnya itu menyunggingkan senyum yang ia tunjukkan untuk meyakinkan Bu Zainiyah, bahwa mereka benar-benar tulus menerima perjodohan itu, terlepas dari semua keputusan ada pada Melisa.
Akhirnya pertemuan para sahabat itu di liputi rasa bahagia yang di balut dengan sebuah kesedihan. Namun, mereka tetap berdiri di sisi masing-masing untung menguatkan satu sama lain, agar persahabatan yang terasa bagaikan saudara itu tetap terjaga dan tidak terpengaruh oleh masalah hidup yang sukar di tebak.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah akhirnya berpamitan kepada sang tuan rumah untuk kembali pulang dengan perasaan yang lega, meskipun semuanya belum jelas, tapi ada setitik harapan yang memicu semangat mereka untuk menjalani hari-hari lebih semanagat, walaupun kecemasan sempat menghampiri, mengingat keputusan Melisa yang belum tentu sesuai dengan yang mereka harapkan.
Gerak laju mobil Pak Alkaf yang meninggalkan kediaman Pak Anton semakin menjauh dan hilang di ujung jalan. Dan sepasang suami istri yang berdiri di depan pintu itu saling pandang dengan sorot mata yang sama-sama bingung akan apa yang mereka katakan nanti, untuk meyakinkan Melisa agar mau menerima perjodohannya dengan Nizam yang mengalami kelainan.
"Sudahlah, Ma. kita masuk dulu, soal Melisa nanti kita bicarakan kalau dia sudah pulang. yang penting niat kita baik, untuk membantu Nizam agar sembuh menjadi laki-laki normal seperti yang lain, terlepas apapun keputusan anak kita!" Ajak Pak Anton seraya merangkul pundak istrinya untuk masuk kedalam rumah.
*****
Suana sore hari yang mendung menimbulkan hawa sejuk yang mulai terasa, awan hitam yang menggantung di langit serasa tidak bisa membendung uap air yang sedari tadi ingin tumpah di permukaan bumi. Hingga desakan alam akhirnya awan pekat itupun menitikkan gerimis halus yang membasahi dedaunan yang di timpa debu. Semilir angin yang berhembus di balik jendela yang terbuka itu tidak berpengaruh bagi laki-laki yang berdiri tegap sambil memasukkan kedua tangan di balik saku celananya.
Sesosok tubuh itu terus saja menatap keluar jendela yang di sana terletak taman kecil yang di hiasi bermacam bunga. Pandangannya kosong entah kemana. Wajahnya kusut, namun tidak mengurangi aura tampannya. Sejak Nizam sampai di kantornya pagi tadi, fikirannya sudah mulai tidak fokus dengan pekerjaannya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk memenuhi tempurung kepala, yang dia sendiri tidak tau jawabannya.
__ADS_1
Ya, Nizam sangatlah gelisah menanti kabar dari orang tuanya yang tadi pagi berpamitan ingin menemui sahabatnya untuk membicarakan tentang dirinya dan tentunya soal perjodohan yang sampai detik ini menyiksa fikirannya.
Nizam takut dengan penolakan yang akan mengakibatkan kerenggangan atas persahabatan kedua orang tuanya tersebut. Nizam juga khawatir kalau orang tuanya akan mendapatkan masalah karena perjodohannya ini. Bahkan ia tidak memedulikan dirinya yang mungkin akan menjadi cibiran karna memiliki kelainan yang sungguh memalukan tersebut.
Tapi ini soal orang tuanya, sungguh dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri pabila orang tuanya juga di hina karna aib yang sudah dilakukannya. Semenjak kejadian memalukan yang di pergoki oleh keluarganya, Nizam benar-benar menyesal dan sadar, bahwa kelakuannya salah dan melanggar kondrat dan norma agama. Dia baru sadar bahwa selama ini hati dan matanya tertutup oleh kenikmatan sesaat bersama teman-temannya.
Dan detik dimana ia menyadari kesalahannya, detik itu pula ia berjanji untuk tidak terjerumus lagi kedalam lembah yang durjana tersebut, dan ia berjanji dalam hati, bahwa ia akan belajar dan benar-benar berusaha menjadi laki-laki yang sesungguhnya, berumah tangga, memiliki anak serta hidup bahagia.
Hufffff
Suara nafas kasar terdengar berhembus dari mulut Nizam seraya tangan besar itu mengusap wajahnya perlahan seakan ingin meluapkan rasa gelisah yang ada dalam benaknya, dirinya masih saja berdiri tak bergeming menatap rintik hujan yang mulai teratur dan berangsur deras secara perlahan.
..."Sudah jam lima, mungkin mama dan papa sudah pulang, sebaiknya aku juga pulang. Kalau tidak aku akan di teror rasa penasaran ini terus menerus." Batin Nizam seraya mengemasi barang-barangnya serta memasang kembali jas yang sedari tadi ia sampirkan di kursi kerjanya. ...
Dengan langkah tergesa Nizam keluar dari ruangannya menuju ruang Randy yang tepat di sebelahnya. Setelah memberikan sisa pekerjaan kepada asisten itu, Nizam keluar dari kantor menuju mobil yang sudah siap di tempatnya, karna sang satpam yang setiap hari melakukan tugasnya dengan baik.
"Pak, nanti kalau ada paket buat saya, tolong kasihkan ke Randy, dia masih ada di dalam." Titah Nizam sambil mengambil kunci mobil yang di sodorkan Pak Satpam tersebut.
"Baik Pak, siap laksanakan!" Jawab Satpam tersebut dengan senyum hormatnya yang diiri anggukan sopan.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalan sore yang macet di tengah rintik hujan yang syahdu, akhirnya Nizam sampai di rumah yang setiap hari menjadi tempat terakhirnya untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya.
Gerbang besar itu tertutup dengan suara gesekan yang sedikit berisik terdengar, hingga orang yang di dalam rumah bisa mengetahui bahwa ada orang yang baru saja datang. Sontak pintu utama terbuka yang memunculkan seraut wajah kusut namun masih terlihat cantik dari sang adik yang sedari tadi tidak sabar menunggu kedatangan sang kakak yang ia nantikan.
Nizam yang baru turun dari mobil langsung memusatkan pandangan ke arah pintu yang terbuka dengan sorot mata penuh heran. Tumben adiknya itu menyambut kedatangannya? Itu fikirnya.
.
.
.
.
.
.Bersambung
Hulla mentemen, apa kabar semuanya? Ini hari up dua bab di karenakan Othornya lagi semangat heheee....semoga kalian suka ya!
__ADS_1
Jangan lupa LIKE dan COMENT setelah membaca ya gaes😍