Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Bertemu Arif dan Hendra


__ADS_3

Karna ini hari minggu, Nizam berencana menemui Arif dan Hendra, sudah lama ia tidak berkumpul lagi bersama mereka bertiga. Jam yang menunjukkan hampir waktunya makan siang membuatnya tergesa-gesa menuruni anak tangga karena Nizam memang sudah membuat janji untuk makan siang bersama di tempat yang sudah mereka setujui bersama.


"Zam, mau kemana kamu? Kok kelihatan terburu-buru begitu!" tegur ibunya yang sedang duduk santai di ruang keluarga bersama sang papa. Nizam yang medengar teguran itu lantas menyahutinya. "Nizam ada janji makan siang bersama Arif dan Hendra, Ma! Mumpung Nizam hari ini libur."


"Ya sudah, sampaikan salam mama dan papa kepada mereka berdua ya," sambung Pak Alkaf menimpali percakapan ibu dan anaknya.


"Oh iya Zam! Mama barusan mendapatkan pesan dari Indah, kalau bisa nanti malam kita datang ke rumahnya, karena Melisa mendarat di Jakarta hari ini." Jelas Bu Zainiyah seraya menaruh cangkir kopi yang barusan di sesapnya.


Nizam yang baru melintasi kedua orang tuanya tersebut lantas menoleh dan berhenti sejenak.


"Jam berapa kita kesana, Pa?" tanyanya dengan wajah yang sedikit terkejut, mengingat ini kali pertamanya dirinya akan bertemu dengan wanita dan membicarakan hal yang serius.


"Jam tujuh," singkat Bu Zainiyah yang melanjutkan membaca koran.


"Baiklah Ma, Pa. Nizam akan pulang sore nanti." Ucap Nizam seraya melangkah keluar rumah setelah berpamitan dan mengucap salam terhadap kedua orang tuanya.


Dengan kecepatan sedikit tinggi, Nizam menerobos jalanan kota yang sedikit lengang karna ini hari libur, jadi aktivitas orang-orang berkendara pun terlihat berkurang.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya Nizam tiba di tempat yang akhir-akhir ini entah mengapa menjadi tempat yang menarik baginya untuk ia datangi. Apa karna makanannya cocok di lidah atau ada sesuatu yang menarik dirinya untuk selalu mengunjungi tempat tersebut.


Ya, Nizam membuat janji bertemu para sahabat di cafe Santuy. Tempat baru yang ia sebut bagus dan perlu sahabatnya itu kunjungi. Dengan dalih tempatnya nyaman serta makanan enak, Nizam mampu membuat Arif dan Hendra tertarik.


Dan di sinilah Nizam sekarang. Di ruangan yang sama seperti sebelumnya, tepatnya di ruangan vvip di lantai atas. Nizam sibuk menelepon kedua sahabatnya yang masih belum kelihatan keberadaanya di sana. Ia berdiri di dinding kaca transparan yang mampu membuat penglihatan nya menjangkau setiap mobil yang keluar masuk ke cafe Santuy.


Nizam berdecak kesal di saat panggilan nya sedari tadi tidak mendapatkan respon dari Arif serta Hendra, "kenapa mereka janjian untuk tidak mengangkat telepon ku? Apa mereka lupa caranya menggunakan hape!" Gerutunya seraya kembali duduk, Namun pandangannya tetap tak beralih dari sebelumnya, Hingga ia tiba-tiba berdiri untuk memastikan penglihatannya di saat melihat mobil yang ia kenali.


Pintu terbuka karna desakan dari luar oleh kedua laki-laki yang terlihat sama-sama tampan. Mereka terlihat lebih muda dari umurnya, dengan baju santai layaknya anak muda jaman sekarang. Tidak ada jubah dokter yang Arif kenakan sebagai kebanggaannya. Dan Hendra pun terlihat serasi dengan celana jeans serta kaus corak yang menambah kesan mudanya.


"Lama sekali kalian ini, aku telepon tapi tidak ada satupun yang merespon telepon ku!" Decak Nizam dengan wajah juteknya. Arif hanya tersenyum sebagai jawaban, ia tau kalau sahabat yang berada di depannya ini orang yang tidak suka menunggu. Melakukan pembelaan pun percuma batinnya.


"Sudah, yang penting kita bisa datang, bukan? Jadi ada apakah Tuan Nizam, sehingga Anda mengajak kami untuk bertemu, karena jarang sekali Anda memiliki waktu luang!" Goda Hendra mencairkan suana hati Nizam yang terlihat masih kesal.


Hendra dan Arif sudah bisa menebak, bahwasanya tidak mungkin sahabatnya itu mengajak ketemuan jika tidak ada hal penting untuk menjadi pembahasan. Arif yang sedari tadi diam terdengar cekikikan melihat raut wajah Nizam yang semakin kesal atas godaan Hendra barusan.


"Kalian memang pintar membuat orang menjadi tambah kesal," decak ulang Nizam seraya mendudukkan tubuhnya secara tegap. Dengan ragu tapi pasti ia memulai pembicaraan yang sedari tadi memang di nantikan Arif dan Hendra.

__ADS_1


"Mama sama papa sudah menemukan calon yang ingin di jodohkan untukku. Dia adalah anak dari sahabat mereka!" Ucap Nizam yang mendapat respon heboh dari Arif dan Hendra.


"Ya bagus dong, jadi salah satu jomblo dari kita bakal laku juga!" tawa Hendra tiba-tiba menggema membuat Nizam menatap tajam kearahnya karena belum selesai dengan cerita selanjutnya. Arif yang juga tertawa memilih diam dan mendengarkan saja.


"Namanya Melisa, dan malam ini aku sama orang tuaku akan menemuinya, karna hari ini dia baru datang dari luar negeri. Orang tua Melisa memang menyetujuinya, tapi keputusan tetap ada pada Melisa." lanjut Nizam dengan wajah seriusnya.


Arif dan Hendra yang sedari tadi masih senyam-senyum melihat kegalauan Nizam, akhirnya menanggapi dengan serius juga, karena mereka rasa ini memang bukan lagi lelucon untuk di tertawakan.


"Terus apa masalahmu, kalau memang orang tua Melisa setuju seharusnya itu hal yang bagus kan?" Arif mencoba masuk dalam percakapan untuk mengetahui apa yang sedang di khawatir kan Nizam.


"Aku tidak tau apa respon wanita itu jika orang tuanya mengatakan tujuan keluargaku menjodokan kami berdua, aku tidak takut di tolak, cuma aku khawatir dengan orang tuaku, aku takut mereka akan kecewa dengan respon Melisa yang mungkin baik atau malah sebaliknya." desah Nizam seraya berdiri membelakangi keduanya mengalihkan wajah galaunya untuk menatap keluar sana.


"Bagaimana kau bisa tau, bertemu saja belum! Tidak usah berfikir negatif dulu, fikirkan yang baik-baik saja, karna keyakinan positif akan melahirkan hal yang baik." lanjut Arif berusaha memotivasi Nizam.


"Iya Zam, jalani aja dulu. Lagipula Om Alkaf sudah mengambil keputusan itu, yang pastinya mereka juga sudah mempersiapkan batin mereka akan hal-hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi. Jadi, percayalah akan ada pelangi setelah hujan!" Hendra berbicara sok puitis yang mendapat lirikan cegah dari Nizam.


"Kami doakan, semoga nanti malam berjalan lancar, kalau bisa sih sampai ke jenjang pernikahan, hehehe," Hendra terus saja menggoda Nizam yang sedari tadi terlihat resah. Beban fikirannya mungkin berkurang dengan bertukar pendapat dengan para sahabatnya yang kadang-kadang menyebalkan namun mampu membuat hatinya sedikit tenang.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau kenal tempat ini? Kok sepertinya manager di depan sudah mengenal mu? Seingatku kau tidak pernah mengajak kita ke tempat ini, iya kan, Hen?" tanya Arif penuh selidik. Karena tidak biasanya Nizam nongkrong di cafe baru tanpa mereka berdua. Dan sambutan Aldo di depan yang langsung menyebut nama Nizam membuatnya tau, kalau Nizam pernah ke cafe ini sebelumnya.


__ADS_2