
Sepeninggalnya Zizi, Nizam langsung memutar arah mobil untuk keluar dari tempat itu menuju tujuan utamanya. Nizam mencari tongkrongan yang bisa dibuat santai sambil ingin menikmati sarapannya yang tertunda.
Dengan kecepatan yang sedikit pelan, Nizam melajukan mobil menyusuri sepanjang jalan, serta melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ia menemukan tempat yang cocok dengan keinginannya. Sekitar sepuluh menit berkendara, akhirnya Nizam menemukan tempat yang menurutnya sesuai.
Dengan hati-hati Nizam memarkirkan mobil kesayangannya di halaman sebuah Kafe Santuy yang berada di kawasan strategis itu. Dengan wajah yang datar, Nizam memasuki kafe tersebut dan disambut ramah oleh para pramusaji yang bekerja di sana.
Wajah Nizam sangat mencolok dari wajah-wajah pribumi itu sontak menjadi pusat perhatian bagi kaum wanita yang berada di dalam kafe, semua mata langsung tertuju kepadanya, dan semua itu hanya mendapatkan respon cuek dari Nizam.
Nizam mengarahkan pandangan ke semua sudut kafe, iris mata itu mencari tempat duduk yang nyaman buat ia bersantai sambil menunggu adiknya selesai dengan semua urusannya, yang dia belum tau kapan pulang.
Tapi sayangnya, Nizam tidak menemukan tempat yang ia harapkan. Kafe itu sudah penuh dengan muda-mudi yang lagi nongkrong dan bercengkrama sesamanya.
Hingga sebuah suara mengalihkan
konsentrasi Nizam, yang sedari tadi fokus atas tempat tersebut.
"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki yang berbadan jangkung, wajahnya sangat imut serta tutur katanya sangat sopan.
Seketika Nizam menatap sesosok tubuh di depannya, Nizam memerhatikan Name tag
yang terselip di jas sebelah kiri pemuda tampan itu.
Aldo. Nama yang tertulis di pin kecil yang bertengger manis di dada kiri laki-laki itu membuat Nizam bisa mengetahui namanya tanpa bertanya.
Laki-laki yang bersikap ramah itu sangat terlihat profesional, karena kelihatannya memang dia orang yang memiliki pangkat lebih tinggi dari karyawan lainnya.
"Maaf, saya mencari tempat yang nyaman buat bersantai untuk beberapa jam ke depan. Apakah masih ada tempat lain yang bisa saya tempati?" tanya Nizam dengan nada datarnya.
__ADS_1
"Ada, Tuan." jawab Aldo yang merupakan manager di Kafe Santuy tersebut.
"Tapi, letaknya berada di lantai atas, karna termasuk area VVIP, Tuan," jelas Aldo lagi menjelaskan.
"Tidak masalah, saya lebih suka berada di tempat-tempat yang lebih privasi," tutur Nizam menanggapi.
"Baiklah, Tuan, mari saya antarkan ke lantai atas," ajak Aldo seraya berjalan lebih dulu di depan Nizam, menuju anak tangga yang mengarah ke lantai dua.
Sesampainya di atas, Nizam disuguhkan dengan pemandangan yang berbeda. Di sana terlihat semua dinding kanan dan kiri yang terbuat dari kaca, hingga pengunjung bisa melihat semua aktifitas yang terjadi di bawah sana. Di lantai atas itu juga nampak sebuah tempat yang di skat menjadi beberapa ruangan.
Nizam mengikuti sang manager yang bernama Aldo itu, berjalan menuju ke salah satu ruangan yang ada di sana.
"Mari, silakan masuk, Tuan." Aldo mempersilahkan Nizam seraya membukakan pintu untuk sang tamu.
"Silakan beristirahat dan bersantai di sini, kami akan melayani Anda dengan sepenuh hati." Aldo membuka tirai yang sebelumnya tertutup, mengarahkan pandangan pada jalan raya.
"Sebentar lagi akan ada pramusaji yang akan ke sini untuk melayani Anda, sebagai tamu VVIP kami," lanjut Aldo lagi memberi tahu.
"Hmm." Nizam merespon hanya dengan deheman saja sembari sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya.
Sepeninggal Aldo, Nizam masih berdiri. Lantas, ia pun berjalan menuju sebuah meja lalu duduk di kursi yang mampu menampung untuk empat orang itu. Pria itu memerhatikan setiap sudut ruangan.
Tempat yang cukup lumayan dan nyaman serta terasa tenang. Ruangan kaca yang secara otomatis meredam suara hingar-bingar di bawah sana disebabkan lalu-lalang kendaraan di jalan raya, nyaris tak terdengar.
Perabot di dalam sana cukup lengkap, dengan sudut ruangan yang terdapat sofa panjang dan terlihat mewah. Meja yang menjadi pasangan sofa itu juga dilengkapi dengan hiasan bunga mawar yang masih segar. Begitu canti dan manis menghiasi ruangan tersebut.
Tak lupa pula ada TV LED berukuran besar, terpampang jelas di ujung atas dinding yang bersebrangan dengan sofa. Pernak-pernik hiasan dinding serta pajangan kecil di beberapa tempat menambah kesah indah yang luar biasa.
__ADS_1
"Pantas saja ruangan ini memiliki tarif lumayan mahal, karena memang memiliki fasilitas yang sepantasnya," gumam Nizam pada dirinya sendiri.
Di saat sedang melamun, tiba-tiba Nizam di kagetkan oleh seseorang yang membuka pintu dan sebuah ucapan, "permisi , Tuan." Nizam menoleh secara reflek dan mata Nizam beradu pandang dengan si pemilik suara.
Tubuh Nizam membeku di tempat, saat dirinya mengenali gadis di depannya ini. Untuk kali kedua, jantung Nizam berpacu cepat. Yang pertama, dia kaget karna bisa kebetulan bertemu lagi dengan gadis yang ia temui tadi pagi, dan yang kedua, jantung itu berdebar seperti yang ia rasakan semenjak tatapan pertamanya bersama gadis tersebut.
"Tuan, bukankah Anda yang tadi pagi ikut menolong Kakek Mukti bersama saya?" tanya Nina tak kalah terkejut seperti Nizam.
Ya, Nina memang bekerja di Kafe Santuy untuk sementara walaupun tanpa ijazah, sukur-sukur bisa terus bekerja di sini setelah lulus sekolah, itu harapan yang ada dalam benaknya saat ini.
Kebaikan Aldo sebagai manager yang bijaksana, akhirnya Nina diterima meskipun tanpa adanya surat lamaran yang lengkap. Aldo yang terkenal sebagai manager baik hati, tak pernah menuntut formalitas yang seharusnya sudah dipatenkan pada setiap
karyawannya.
Hanya dengan melihat riwayat hidup Nina, dan selembar kertas yang bertuliskan 'lulus' Aldo sudah memahami perekonomian keluarga Nina yang sebenarnya.
Jujur, alasan utama Aldo menerima Nina bekerja di sana karena merasa tiba-tiba terketuk hatinya terhadap kehidupan gadis belia tersebut.
Memang tak salah apabila Aldo dijuluki seorang manager yang pintar dan bijaksana.
Jadi, sebelum Aldo menerima seseorang menjadi salah satu karyawan di Kafe Santuy, dia harus tahu alasan mengapa dan kenapa harus bekerja di tempatnya, tak terkecuali Nina yang mendapatkan interogasi detail dari Aldo.
Hingga Aldo memutuskan menerima Nina karena latar belakang yang memang harus dibantu, serta kegigihan dan semangat gadis itu dalam bekerja beberapa hari belakangan ini, sangat menunjukkan bahwa Nina memang seseorang yang rajin dan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya dan pantas menjadi karyawan.
Nizam yang masih tak percaya hanya diam mematung menatap gadis cantik itu dengan sejuta pemikirannya.
Hingga sebuah lambaian tangan Nina yang sudah sedari tadi berada di seberang meja yang Nizam tempati, mampu menyadarkan lamunannya
__ADS_1
"Maaf, Tuan, apa Anda bisa mendengar saya?" tanya Nina sambil menggerakkan tangan di depan muka Nizam, guna menarik perhatian Nizam.
"Hmmm," jawab Nizam datar sambil mengalihkan arah pandangnya ke benda pipih yang ia taruh di atas meja. Rasanya malu sekali.