
Nizam mengeratkan pelukannya dalam dekapan sang mama, karna itulah yang ia butuhkan saat ini. Semua rasa yang sedari tadi berkecamuk dalam jiwanya terasa lebur sudah, hanya dengan pelukan hangat dari sang Mama tercinta.
Zizi yang sedari tadi menyimak, hanya bisa mendengarkan sekaligus iba, ia tak menduga, bahwa di balik sikap kakaknya yang kuat dan gagah, tersimpan sebuah cerita kehidupan yang pelik tak terduga. Zizi lalu beranjak dari duduknya, menghampiri Ibu dan kakaknya tersebut.
Zizi merangkul keduanya, ikut larut dalam kesedihan yang sama. Hendra sama Pak Alkaf hanya bisa memandang ketiganya dengan perasaan yang prihatin dan berbalut kesedihan serta juga rasa kecewa.
Nizam merenggangkan pelukannya, seraya menatap dua orang yang ia sayangi itu.
"Ma, bantu Nizam memperbaiki semuanya,
Nizam tidak mau terus-terusan seperti ini. Selalu membuat Mama dan Papa kecewa," ucapnya dengan suara berat.
"Nizam akui Nizam salah, karena sudah di perbudak nafsu Nizam sendiri. Nizam tidak berpikir kedepannya. Nizam janji, akan melakukan apa saja agar Nizam bisa menjadi laki-laki yang Mama dan Papa inginkan." suara Nizam terdengar lemah, namun tetap terdengar jelas dalam ruangan itu.
Gurat muka Nizam terlihat kacau, rona wajahnya juga tersirat kesedihan yng terpancar jelas karna penyesalan. Lalu Bu Zainiyah menangkup kedua pipi Nizam dengan tangannya seraya berkata.
"Berjanjilah pada kami semua, bahwa kamu tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Serta bersungguh-sungguh untuk menjadi laki-laki dapat menjaga janji."
"Nizam janji Ma, Nizam akan memperbaiki semuanya." tegas Nizam dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
"Papa pegang janjimu itu, Zam," ucap Pak Alkaf yang duduk di samping istrinya tersebut.
"Nak, sebaik-baiknya manusia, dia adalah orang yang menggantungkan hidup terhadap agamanya. Kalau kamu ingin membenahi hidupmu, benahi agamamu terlebih dahulu" nasihat Bu Zainiyah dengan tulus.
Bukan tanpa alasan Bu Zainiyah berujar seperti itu. Semenjak Nizam pulang dari luar negeri, putranya itu sudah tidak lagi menjadi seorang muslim yang sepatutnya. Dengan dia yang sering mengabaikan shalat lima waktu tentunya.
"Papa bisa pegang janjiku Pa, asalkan kalian semua masih berdiri mendukung Nizam. Nizam tidak akan menyerah." lanjut Nizam
Hendra yang sedari menjadi saksi drama keluarga Al-Ghazali itu, hanya bisa bernapas lega sekaligus bahagia, karena sahabat masa kecilnya itu sadar akan kesalahannya.
"Akhirnya kau menyadari semuanya, meskipun sedikit terlambat, teman," gumam Hendra pelan.
tok...tok...tok
Suara ketukan pintu yang sangat keras membuyarkan lamunan Nizam tentang kejadian yang sudah terjadi itu.Dengan langkah gontai dia membuka pintu kamarnya.
Ceklek...
Pintu itu terbuka, menampakkan sesosok tubuh gagah yang dibalut dengan hem kotak-kotak lengan pendek warna biru, serta membiarkan semua kancing depannya terbuka, dipadu padankan dengan kaos putih di dalamnya. Tak lupa juga kacamata hitam yang diselipkan di ujung kaos itu.
Celana pendek yang terlihat santai, tetapi tidak mengurangi ketampanan seorang Nizam. Rahang tegas yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus dansudah menebal itu, semakin mendominasi aura kegagahannya.
__ADS_1
Sungguh, siapa yang menyangka, bahwa laki-laki yang bak Pangeran Arab itu adalah seorang laki-laki yang mati rasa!
"Hai Zizi," sapa Nizam kepada adiknya dengan senyum yang di buat semanis mungkin. Karena Nizam sudah bisa menebak, kalau adik satu-satunya itu pasti ngambek karena terlalu lama menunggu. Sebab, ia terlalu lama melamun tadi.
"Kakak lama amat sih, ngapain aja dari tadi,
Aku jamuran tauk, nunggu kakak lama banget!" kesal Zizi.
"Iya, iya, Kakak minta maaf, tadi Kakak sakit perut. Makanya, agak lama di kamar mandi." elak Nizam untuk meyakinkan adiknya.
"Berangkat yuk, Kak, Zizi udah ditungguin temen-temen nih." ajaknya dengan berwajah kesal. Kelamaan menunggu Nizam membuat Zizi kesal sendiri.
"Ok, tunggu di mobil ya, Kakak mau ambil hape di dalam bentar." pinta Nizam lantas masuk lagi ke kamarnya.
Zizi menuruni anak tangga lalu menuju ke ruang tengah, di mana Pak Alkaf dan Bu Zainiyah berada
"Ma, Pa, Zizi berangkat dulu ya," pamit Zizi kepada orang tuanya seraya mencium kedua tangan tersebut.
"Mana kakakmu, Zi?" tanya Bu Zainiyah.
"Masih ngambil hape, Ma. Bentar lagi turun kok," jawab Zizi yang mulai melangkahkan kaki ke luar rumah.
"Ya sudah, Zizi berangkat dulu, Ma.
"Wassalamu'alaikum," jawab Bu Zainiyah dan Pak Alkaf bersamaan.
Pak Alkaf hanya menyunggingkan senyum, melihat kepergian anak gadisnya tersebut. Tak terasa, anak gadisnya sudah besar.
"Ma, Zizi udah keluar?" tanya Nizam yang tiba-tiba datang, turun dari tangga dengan sedikit tergesa.
"Udah barusan Zam, kamu nggak sarapan Nak?" tanya mamanya.
"Enggak Ma, takut telat. Biar nanti Nizam ke Cafe aja, sarapan sekalian nunggu Zizi pulang," cetus Nizam lalu menyalami kedua paruh baya itu.
"Ya sudah, hati-hati bawa mobilnya, Nak," pinta Pak Alkaf.
"Assalamu'alaikum Ma, Pa." ucap Nizam dan berlalu pergi.
Nizam melangkahkan kakinya menuju mobil, yang di dalam sana sudah ada Zizi dengan muka cemberutnya. Sebab, lagi-lagi harus menunggu sang kakak untuk kedua kalinya. Nizam masuk ke dalam mobil seraya menutup pintu.
"Kakak kebiasaan deh, selalu saja ngaret kalau diajak pergi," sungut Zizi dengan bibir mengerucut sempurna.
__ADS_1
"Sabar dek, 'kan gratisan. Jadi, dilarang ngambek." Nizam yang sudah memposisikan duduk ternyamannya untuk mengemudi tak mengubris sang adik yang sewot.
"Dek, kita langsung ke sekolah kamu?"
tanyak Nizam.
"Ya iyalah Kak, memang mau kemana lagi." Menjawab dengan enggan.
"Bukan begitu ... biasanya kamu 'kan suka mampir-mampir." Sudah begitu paham dengan kebiasaan sang adik.
Nizam menyalakan mobil, lantas melajukan kendaraan itu ke arah jalan raya yang mulai dipadati oleh sesaknya manusia, memulai aktifitas paginya untuk mengais rezeki.
Khusus hari ini, Nizam tidak masuk ke kantor. semua urusan dipasrah kan kepada Randy, Asisten pribadi yang merangkap sebagai sekretarisnya.
Randy adalah laki-laki lajang yang usianya tidak beda jauh dengan sang atasan, Diumurnya yang sudah ke 27 tahun, Randy berhasil menjadi seorang asisten yang ulet dan rajin, Hingga tak dipungkiri pundi-pundi rupiah yang ia kumpulkan mampu membeli semua kebutuhan hidupnya saat ini,
Selain menjadi asisten Nizam, Randy memiliki bisnis kecil-kecilan yang bergerak dibidang coffee shop.
Diawali dari hobi, Randy yang penikmat kopi dan suka bereksperimen dengan biji-bijian hitam nan pekat itu,berhasil mendirikan Cafenya, Yang ia bangun dari hasil kerja kerasnya selama ini sebagai seorang asisten.
Kisah asmara Randy juga tak beda jauh dari Nizam, yang masih setia dengan menjomblo. Walaupun wajahnya tak setampan Nizam, Namun daya tarik Randy juga tidak dapat diragukan.
Pria yang memiliki tinggi 180 cm, kulit bersih dan wajah yang sedikit pribumi itu menjadi ciri khas yang berbeda bagi kaum wanita.
Maklumlah Randy seorang indo jawa. Memiliki sikap ramah dan murah senyum. Beda dengan Nizam yang kaku dan datar, bahkan sangat dingin jika menatap perempuan.
Citttttt ....
Tiba-tiba mobil berhenti, membuat Zizi terjungkal kaget. "Kak, hati-hati dong! Kenapa berhenti mendadak, sih?!" tanya Zizi heran yang belum sadar dengan kejadian di depan sana.
"Lihat ke depan!" tunjuk Nizam kepada Zizi. Wajahnya nampak panik sekali.
Sejurus pandangan gadis belia itu mengikuti iris mata yang dituju kakaknya. Terlihat ada kakek tua yang menyebrang jalan dengan langkah yang begitu lamban, karena mungkin penglihatannya sedikit buram.
"Bentar Zi, Kakak bantu kakek itu dulu."
ujar Nizam.
"Iya kak," jawab Zizi sambil memerhatikan keadaan di luar.
Nizam turun dari mobil lalu menutup pintu. Lantas, ia berjalan menuju kakek tua yang masih sedikit kaget oleh aksi mobil Nizam yang mengerem mendadak. Nizam meraih tangan Kakek itu untuk membantunya berjalan.
__ADS_1
Namun tiba-tiba gerakan Nizam berhenti, manakala tindakannya, bersamaan dengan seorang gadis belia yang secara kebetulan juga membantu sang Kakek.