
Nizam masih mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah di depannya, meskipun kelihatan kecil tapi bangunan itu indah untuk di pandang. Pintu rumah yang awalnya tertutup itu tiba-tiba terbuka sesaat setelah Nizam mematikan mesin serta memarkirkan mobil secara sempurna.
Nizam memerhatikan wanita paruh baya yang menyembul keluar dari balik pintu itu dengan senyum kecil namun mata itu penuh tanda tanya ke arah mobil yang masih ia tumpangi. Ia yakin bahwa itu adalah ibu dari Nina.
"Kak, ayo turun?" Ajak Nina seraya membuka pengait sabuk pengaman lalu membuka pintu untuk keluar. Nizam yang mengerti langsung mengikuti Nina melangkah menuju ibunya yang sudah menyambutnya di depan pintu dengan penuh pertanyaan.
Tidak biasanya putri semata wayangnya tersebut pulang bekerja di antar mobil mewah pikir ibunya.
"Assalamu'alaikum, Ibu!" Salam Nina seraya meraih tangan ibunya lalu di ciumannya penuh cinta. Nina menatap ibunya yang diam tapi sorot matanya tertuju kepada sesosok tubuh di sampingnya. Seakan mengerti apa yang di fikirkan sang ibu, Nina terlebih dulu menjelaskan.
"Ibu, kenalkan ini, Kak Nizam! Dia adalah kakak dari temannya Nina, Bu." Tutur Nina sembari menatap Nizam yang masih diam. Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum ke arah pemuda yang di maksud anaknya.
Nizam yang menjadi pusat perhatian dari ibu paruh baya didepannya dengan sopan menjabat dan mencium tangan itu. Sungguh Nina semakin bersimpati kepada Nizam dan ia tidak menyangka bahwa laki-laki yang terlihat dingin itu juga beretika baik terlepas dari sikap sombong yang awalnya ia pikirkan.
"Maaf, Bu! Kalau kedatangan saya membuat Ibu tidak nyaman. Saya datang kesini ingin berbicara dengan Ibu sekaligus dengan ayah Nina juga!" Jelas Nizam tanpa basa basi.
"Apakah ayah Nina ada?" Sambung Nizam lagi sebelum Bu Aminah menjawab pertanyaan.
"Ada, Nak! Mari silahkan masuk." Bu Aminah mempersilahkan masuk seraya membuka lebar pintu rumahnya, Ia berusaha mengusir fikiran buruk yang sedari tadi mengganggu benaknya.
Bu Aminah menuju sebuah kamar setelah menyuruh tamunya duduk di ruang tamu. Sedangkan Nina menuju dapur untuk membuatkan minum untuk Nizam.
"Pak, di luar ada tamu! Katanya ada perlu sama Bapak dan ibu." Tutur Bu Aminah kepada suaminya yang barusan duduk dari berbaringnya di saat sang istri masuk ke dalam kamar.
"Siapa, Bu?" Tanya Pak Anwar seraya mengambil kopiyah yang ia letakkan di samping bantal lalu memasangnya ke atas kepala.
__ADS_1
"Ibu juga kurang jelas, Pak! Sebaiknya ayo kita cepat keluar biar dia tidak terlalu lama menunggu!" Ujar Bu Aminah melangkah duluan yang di susul suaminya di belakangnya.
"Ini, Kak! Di minum dulu tehnya," ucap Nina lalu mendudukkan tubuhnya agak jauh dari Nizam.
"Terimakasih!" Singkat Nizam seraya meneguk minuman yang di suguhkan untuk menghargai Tuan Rumah tersebut.
"Nina, siapa yang datang, Nak?" Tanya Pak Anwar menanyakan tamu asing yang datang tiba-tiba bersama putrinya tersebut. Pak Anwar dan Bu Aminah duduk bersisihan di depan Nizam yang terhalang meja.
"Assalamu'alaikum, Pak! Saya Nizam kakak dari temannya, Nina!" Jelas Nizam lalu menyalami tangan Pak Anwar.
"Maaf, karna saya telah lancang mengantarkan Nina tanpa seizin dari Bapak dan Ibu." Nizam memulai percakapan dengan wajah yang tegas dan tenang.
"Ehem!" Nizam berdehem untuk melanjutkan ucapan yang sengaja ia potong.
"Sebagai seorang laki-laki saya tidak ingin Nina terkena masalah karna saya menurunkan anak gadis orang di pinggir jalan, yang akan terkesan tidak baik bagi sebagian orang! Saya tulus memberikan bantuan berupa tumpangan kepada Nina, mengingat saya juga memiliki adik perempuan! Dan saya juga mengerti dengan perasaan Ibu dan Bapak! Maka dari itu, apa yang saya lakukan ini semata-mata hanya ingin menjaga martabat Nina dan nama baik Ibu beserta Bapak! Seandainya ada orang yang bertanya, setidaknya Bapak punya jawaban mengenai saya yang mungkin lain waktu mengantarkan Nina lagi." Mata Nizam penuh dengan ketegasan yang tertuju ke dua orangtua di hadapannya, berharap yang ia katakan mereka terima dengan baik.
Sedangkan Pak Anwar dan Bu Aminah di buat takjub dan tersentuh akan sikap Nizam yang sangat bertanggung jawab menurut mereka. Di jaman sekarang sedikit sekali ada laki-laki yang berjiwa seperti Nizam, yang memikirkan teman perempuan yang baru mereka kenal.
Pak Anwar benar-benar merasa bersyukur dirinya beserta keluarganya di kelilingi orang-orang yang sangat baik. Apalagi Bu Aminah, sebagai seorang ibu. Hatinya jadi sangat tenang tatkata mengetahui niat Nizam datang ke rumahnya. Walaupun sebelumnya ia sedikit berfikiran buruk tentang Nizam.
"Terimakasih, Anak Muda. Karna engkau telah memedulikan Nina, hingga kau repot-repot datang ke sini untuk menjelaskan kepada kami." Pak Anwar berterima kasih dengan tulus yang di timpali juga oleh Bu Aminah.
"Sama-sama, Pak, Bu!" Sahut Nizam.
"Siapa tadi Namamu, Nak?" Tanya Pak Anwar yang lupa akan Nama yang ia dengar sebelumnya. "Nizam, Pak!" Sekarang istrinya yang menjawab bukan Nina atau Nizam. Bu Aminah tersenyum kepada suaminya.
__ADS_1
"Maafkan suaminya saya, Nak Nizam. Dia memang sedikit pelupa! Maklum, sudah tua, Nak!" Tutur Bu Aminah sedikit terkekeh. Melihat kelakuan sang istri Pak Anwar tersenyum lebar karna kadang-kadang yang istrinya katakan ada benarnya juga.
Nizam hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan kecil keluarga di depannya. Ia juga menatap Nina yang tersenyum sangat bahagia melihat keharmonisan ayah dan ibunya. Baru kali ini ia melihat Nina benar-benar tersenyum lebar yang menakjubkan untuk ia berlama-lama menatapnya.
Hingga tidak terasa waktu terus berjalan dan terdengar azdan Magrib berkumandang. Untuk itu Nizam memutuskan berpamitan ingin pulang.
"Maaf, Pak! Saya permisi dulu. Sudah waktunya shalat magrib. Terimakasih karna sudah mengizinkan saya datang kemari." Ucap Nizam yang mengangsur badannya untuk berdiri tegak berniat untuk menyalami Pak Anwar dan Bu Aminah.
"Nak, ini sudah masuk waktu magrib. Apa tidak sebaiknya Nak Nizam shalat di sini saja dulu, daripada waktunya termakan habis oleh perjalanan menuju rumah Nak Nizam!" Pak Anwar menawarkan solusi agar Nizam tidak ketinggalan waktu magrib.
"Iya, Kak! Shalat di rumah Nina dulu ya," pinta Nina dengan senyuman yang membuat Nizam tidak mampu menolaknya." Akhirnya Nizam mengangguk tanda menyetujui walaupun fikirannya tak tenang karna ia sebenarnya ada janji dengan orangtuanya untuk pergi ke tempat Melisa malam ini.
Nizam bergegas mengirimkan pesan kepada Pak Alkaf, bahwa dirinya akan sedikit telat pulang ke rumah. Dan Nizam menyuruh orangtuanya untuk berangkat bersama sopir. Kalau menunggunya datang rasanya tidak mungkin, dan akan memakan waktu yang sangat lama dan itu pasti membuat orangtuanya menunggu lagi.
.
.
.
.
.
. Bersambung.....
__ADS_1