Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Sudah Punya Pacar?


__ADS_3

Nizam yang tersadar dari keadaan yang membuatnya hampir lepas kendali langsung saja menarik tubuhnya dan duduk secara kasar di belakang kemudi. Ia berulang kali beristighfar dalam hati dan menyesali kekhilafan yang baru saja dilakukannya.


"Maaf! Maafkan Kakak. Sekali lagi Kakak minta maaf!" ucap Nizam berulang kali meminta maaf kepada Nina namun tak berani menatap Nina secara langsung karena rasa malunya terhadap Nina.


Nizam mengusap kasar wajah dan menutup mukanya beberapa detik berharap yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi. Tapi sayang, semuanya adalah nyata. Nizam telah melakukan hal memalukan yang sedikit lagi akan mempermalukan dirinya sendiri pada Nina.


Nizam tidak tahu apa yang dipikirkan Nina saat ini terhadapnya. Sedangkan Nina masih berusaha menetralkan fungsi jantungnya yang dibuat berdetak kencang akan kejadian yang baru saja dialaminya.


Ini pertama kalinya bagi Nina, meskipun ia masih belum tahu rasanya memiliki hubungan dengan lawan jenis, tapi Nina bukan wanita bodoh yang sama sekali tak mengerti sebuah hubungan fisik diantara laki-laki dan perempuan di saat mereka berada dalam keadaan berdua saja terlepas mereka memiliki hubungan halal atau tidak! Karena ada pepatah mengatakan bahwa, setan akan selalu ada di antara dua insan yang beda jenis untuk menjerumuskan mereka ke dalam dosa. Jadi Nina bisa menganalisa apa yang akan dilakukan Nizam kepadanya.


Yang membuat Nina tidak habis pikir, kenapa Nizam mau melakukan hal itu kepadanya? Sedangkan yang ia ketahui, Nizam sudah memiliki calon istri. Nina tak bisa berasumsi sendiri yang jatuhnya kepada prasangka buruk.


"Ada apa dengan, Kakak?" tanya Nina. Namun Nina tak bisa menanyakan secara terang-terangan soal Nizam yang hampir menyentuh bagian wajahnya yang terlarang.


"Maafkan kelakuan, Kakak. Sungguh Kakak khilaf dan tak bermaksud untuk melakukan hal memalukan seperti tadi. Tapi ...?" Nizam ingin mengakui bahwa ia terbuai oleh bibir Nina karena rasa suka yang membuncah menjadi cinta itu rasanya ingin ia leburkan dengan menikmati manisnya madu yang dimiliki Nina.


"Tapi apa, Kak?" dahi Nina mengernyit bingung karena rasa penasaran akan kelanjutan kata-kata Nizam.


"Tapi setan yang mempengaruhiku dalam keadaan seperti ini!" jawaban Nizam membuat Nina diam membisu. Apa yang ia harapkan? Apakah ia berharap Nizam mengatakan bahwa dia tertarik dan suka terhadapnya sehingga sampai mau melakukan hal seperti barusan.


Sadar Nin, sadar! Siapa kamu ini yang mengharapkan seorang pangeran jatuh hati kepada kamu yang seperti upik abu!" gerutu Nina dalam hati karena jawaban yang diam-diam ia harapkan ternyata tak sesuai asumsinya.

__ADS_1


"Jadi, tolong maafkan Kakak, Nin. Kakak melakukan itu di luar kesadaran!" ucap Nizam penuh penyesalan.


Nina hanya mengangguk sebagai jawaban dan memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil yang sudah berjalan secara perlahan. Kesunyian panjang menjeda di antara keduanya. Nizam yang merasa jika Nina masih merasa tersinggung tindakannya terus saja mengawasi gerak-gerik Nina yang sama sekali tak berpindah arah akan pandangannya ke luar jendela.


Nizam yang membulatkan tekat akan niatnya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Nina akhirnya memutuskan berbasa-basi terlebih dahulu sebelum membicarakan ke inti persoalan.


"Nin?"


"Iya, Kak!" Nina menoleh seraya meneliti wajah Nizam memanggilnya namun tetap fokus akan kemudinya.


"Kakak boleh bertanya sesuatu yang privasi?" tanya Nizam dan sekilas melihat ke arah Nina lalu kembali pada posisinya semula.


"Silahkan, Kak." balas Nina dengan hati yang mulai bertanya-tanya, apa gerangan yang akan ditanyakan Nizam kepadanya.


"Banyak!" di kafe kan teman-temannya memang mayoritas laki-laki, kalau pun ada yang perempuan itu bisa dihitung jari.


Kini Nizam yang merasa aneh dengan jawaban Nina hingga dahinya berkerut dalam dan menatap Nina seakan butuh penjelasan apa makna dari kata 'banyak' yang dimaksud Nina.


"Banyak?" cetus Nizam


"Iya, banyak. Kan teman-temannya Nina di kafe banyak yang laki-laki, Kak. Kecuali Kak Icha!" penjelasan Nina membuat hati Nizam lega, hampir saja ia jantungan seandainya pikiran buruknya barusan kepada adalah kenyataan- yang menganggap Nina memiliki banyak pacar.

__ADS_1


"Kalau teman dekat?" tanya Nizam lagi yang membuat Nina rasanya malas untuk membahasnya, karena sampai saat ini Nina tidak pernah memiliki perasaan kepada setiap teman laki-lakinya yang beberapa kali mengungkapkan perasaannya.


Sekali Nina memiliki rasa, tapi perasaan itu harus menyerah sebelum berperang karena yang diperjuangkan sudah memiliki seseorang yang patut diperjuangkan.


"Maksud Kakak, pacar?" jawab Nina yang mendapat anggukan dari Nizam! Nizam di buat ketar-ketir akan jawaban yang sangat membuatnya penasaran itu.


Laju mobil yang sedikit pelan itu membuat suara mesin terdengar mendominasi dan menjadi saksi perasaan dua insan yang sama-sama saling mengagumi satu sama lain namun terhalang oleh kurangnya keberanian dalam berterus terang dari keduanya.


"Nina masih terlalu muda untuk berpikir untuk memiliki pacar, Kak. Yang Nina utamakan sekarang adalah bagaimana caranya mencari uang untuk Nina agar cepat kuliah di tahun depan. Sampai detik ini Nina tidak pernah memiliki hubungan sama siapapun!" tutur Nina yang membuat Nizam merasa memiliki kesempatan.


Nizam tidak peduli lagi kepada siapa hatinya melabuhkan cintanya, tak peduli Nina yang masih belia sedangkan dirinya sudah hampir kepala tiga. Baginya saat ini yang penting ia harus mengungkapkan perasaannya dengan cepat.


Baru saja Nizam membuka mulut perkataan Nina yang baru ia dengar membuatnya lemas tak bertenaga. "Tapi Nina telah menyerahkan hati Nina kepada seseorang yang baru saja memiliki tempat di hati ini sampai kapanpun! Meskipun Nina tahu bahwa akan sulit untuk bisa memilikinya,"


Nina berkata dengan mata yang terus menatap ke arah orang yang tak memiliki ekspresi apa pun itu, wajahnya terus saja lurus ke depan. Namun wajah itu tiba-tiba berubah menjadi memerah, entah karena apa Nina tidak mengerti.


Nizam tidak dapat berkata-kata lagi. Ini adalah moments pertama kalinya dalam sejarah hidup Nizam-berniat untuk menyatakan perasaannya kepada seorang perempuan dan untuk pertama kalinya juga ia mundur sebelum bisa mengungkapkan karena sudah patah hati duluan.


"Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti itu?" Nina yang masih heran belum juga mendapatkan kepuasan atas pikiran yang penuh tanda tanya akan laki-laki di sebelahnya yang sulit ia tebak.


"Tidak apa-apa, Kakak cuma ingin tahu saja," Nina mendesah pelan akan jawaban Nizam. Apa maksudnya bertanya seperti itu namun tidak menjelaskan alasannya.

__ADS_1


Nizam memilih memendam perasaannya karena sudah mengira Nina sudah memiliki tambatan hati yang sepesial dalam hidupnya, jadi percuma saja jika dirinya sekarang berterus terang, tidak ada bedanya, 'bukan?


__ADS_2