Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Amazing


__ADS_3

Mereka berdua serentak berdiri dengan mulut yang menganga lebar, keduanya saling pandang lalu fokus ke depan lagi, menatap ke arah Nizam yang santai bagai orang tak berdosa.


Arif dan Hendra masih tampak bingung karna mencerna perkataan Nizam, Setelah beberapa detik keduanya berhambur merangkul pundak Nizam secara bersamaan seraya berkata.


" Selamat Bro, selamat." Ucap hendra yang melepaskan rangkulannya lalu menjabat tangan Nizam dengan semangat 45 yang diikuti oleh Arif dan kembali duduk ke tempatnya semula


Sedangkan Nizam yang tiba-tiba mendapat perlakuan yang tidak terduga itu hanya diam dengan raut muka yang penuh kebingungan.


Karna baginya dia hanya menanyakan sesuatu yang ingin Ia ketahui namun respon teman-teman nya itu berlebihan.


" Kalian kenapa sih, ada yang salah dengan pertanyaan gue?" Ucap Nizam penasaran sambil memajukan tubuhnya yang berpangku di atas meja guna mendekatkan mukanya ke Arif dan Hendra.


" Loe kan tadi bilang berdebar kalau deket sama perempuan, dan itu yang ngebuat kita Amazing Zam." Jawab Arif dengan wajah serius.


" Itu tandanya loe sudah punya rasa sama tu cewek yang artinya loe sudah mulai normal seperti kita-kita." Saut Hendra menimpali dengan senyum bahagia yang terlihat jelas di bibirnya.


Sebagai sahabat Hendra sangat senang mendengar Nizam yang tiba-tiba memiliki rasa terhadap lawan jenis, Karna dia sadar betapa lelahnya ia sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama, dan melakukan banyak cara agar Nizam bisa tertarik kepada kaum hawa tapi semuanya Nihil tak membuahkan hasil.


" Memangnya siapa malaikat yang menjelma menjadi manusia itu Zam, yang mampu membuat kerasnya hatimu meleleh seperti ini?" tanya Arif tiba-tiba.


" Gue juga tidak mengenal perempuan itu kok"


Tegas Nizam lalu menceritakan semuanya, dari awal bertemu dengan Nina sampai malam ini dia mengantarkan Nina pulang.


" Jadi Namanya Karenina." Ledek mereka berdua yang membuat Nizam cegah dan menjatuhkan badanya ke sandaran kursi.


Nizam masih dengan fikiran nya yang berkecamuk, mencerna apa yang tadi di katakan temen-temennya, Apakah benar dirinya sudah bisa menerima seorang wanita di dalam hati dan hidupnya.


" Huffffff."


Helaan Nafas panjang yang Ia hembuskan menyiratkan keterpurkan dalam dirinya, Karna yang sesungguhnya di hatinya masih ada rasa buat Beni yang selama ini Ia coba buang dan di kendalikan,Namun tidak semudah itu kan.


" Mungkin mereka berdua benar, aku harus fokus menjadi laki-laki yang sejati walaupun sulit, tapi itu harus. Aku semestinya berjalan di atas kodratku yang sesungguhnya.


bukan malah menyimpang dari semuanya. Baiklah mulai sekarang aku harus me mantabkan hati untuk berperang dengan jiwaku sendiri." Monolog Nizam dalam hati yang menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


" Woi ngelamun terus, mikirin Nina ya hahaaa." Suara hentakan tangan Arif di atas meja yang cukup keras mampu membangunkan Nizam dari lamunan nya yang di sertai tawa mengejek dari kedua sahabatnya.


" Tenang saja Zam kita pasti bantuin loe kok buat mepet si Nina, iya gak Rif?" goda hendra.


" Yoi men." balas Arif.


" Ga usah halu, Dia seumuran sama adek gue, Usianya masih 18 tahun mana tega gue." jelas Nizam.


" What's." sekali lagi mereka di buat terkejut oleh pernyataan Nizam.


" Udah biasa aja, Nggak usah lebay." ujar Nizam yang mengibaskan tangannya ke arah keduanya.


" Gila loe Zam, sekali berburu langsung dapat burung camar." celoteh Hendra yang di ikuti kekehan kecil dari mulutnya.


" Zam, loe ga usah mikir kejauhan jodoh, mati itu sudah di atur, loe juga ga bisa nolak mau berjodoh dengan siapa. tinggal loe jalanin aja takdir yang di berikan." Lagipula umur 18 tahun itu sudah cukup umur bahkan ada yang bilang 18 tahun itu sudah masuk face di mana seseorang mulai belajar dewasa sebelum waktunya, tergantung pembawaan dan undividu masing-masing.


Ceramah Arif yang memberi masukan untuk sahabatnya, Arif yang memang mempunyai sikap bijaksana dan sopan di bandingkan Hendra yang lebih humoris dan gokil, beda lagi dengan Nizam yang dingin dan cuek di mata halayak umum.


" Benar itu Zam." sambung Hendra."


Setelah berbasa-basi dan berpamitan, ketiganya meninggalkan Resto itu menuju ke parkiran untuk mengendarai mobilnya masing-masing.


Nizam melajukan mobilnya di jalan raya itu yang sudah sedikit lengang karna sudah agak malam, dia mengemudi dengan kecepatan standar sambil memikirkan tentang gejolak rasa yang baru ia rasakan.


***


Sedangkan Nina yang baru sampai di depan rumahnya langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Tak selang beberapa lama pintu terbuka yang menampakkan wajah ibunya, Bu aminah menjawab salam sang anak dan menutup pintu kembali di saat Nina sudah masuk ke dalam rumah.


" Gimana NIin, tadi ketemu sama pemilik SIM itu Nak?"


" Sudah Bu, bahkan tadi orangnya yang mengantar Nina ke depan Gang dekat halte!"


" Baik banget orang nya Nak, tapi ngomong-ngomong laki-laki apa perempuan yang mengantarkan kamu pulang?" tanya Bu Aminah penuh selidik, tiba-tiba terselip kehawatiran di hatinya, di saat mendengar sang Anak di antarkan pulang oleh orang yang baru dia kenal.

__ADS_1


" Laki-laki Buk, tapi kayaknya sih baik karna mereka dari golongan yang terhormat." Jawab Nina menegaskan agar ibunya tidak berfikiran bermacam-macam.


" Ya meskipun orangnya sombong dan jutek." ujar Nina lagi dengan sangat lirih agar ibunya tak mendengarnya.


" Tapi kamu Tidak di apa-apa in kan nak?"


" Ih ibu mikirnya kejauhan, Nina masih bisa jaga diri kok Bu, Ibu tenang saja ya. Ada Allah yang jaga Nina ok."


"Lagi pula kata ibu tidak semua orang kaya itu tidak baik." Seloroh Nina yang mampu meredam hawatirnya sang Ibu.


" Kamu benar Nak kita memang selalu di jaga Allah selagi kita terus mengingatnya, Tapi kehawatiran seorang Ibu itu selalu ada untuk setiap Anaknya. Apalagi kamu putri satu-satunya yang Ibu dan ayah miliki."


"Iya Nina mengerti Bu." kata Nina seraya memeluk tubuh sang ibu sambil mengelus punggung yang sudah tidak muda lagi itu.


" Ibu, Nanti Nina kalau sudah lulus dan mempunyai pekerjaan tetap, Ibu dan Bapak di rumah saja ya. Biar Nina yang gantiin Ibu dan Bapak cari uang untuk sekedar menyambung hidup dan beribadah.


" Mulia sekali hatimu Nak, tidak rugi pengorbanan ibu yang membesarkanmu penuh kasih sayang." Ucap Bu Aminah seraya merenggangkan pelukannya.


" Ibu tenang saja Nina akan menjadi Anak yang bisa Ibu banggakan dan selalu menuruti Apa yang sudah kalian perintahkan. Karna perintah kalian Amanah dari Allah Untuk Nina."


Bersambung........


****"


Hai kak guys...Apa kabar?


Fahad baru Up nih monmaap kalo telat2 ya.


Karna urusan di nyata bener-bener menyita waktu.


Buat semua tetap stay di karya fahad ya....


jangan lupa tinggalkan like, comment, Rite serta votenya ya.Trimakasih😍


SALAM HANGAT DARI FAHAD🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2