Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Keluarga Om Anton


__ADS_3

Tak lama kemudian, Pak Alkaf dan Bu Zainiyah sudah duduk di meja makan, sesaat setelah Ibu rumah tangga itu memanggil suaminya yang masih fokus membaca berita harian tersebut.


"Ma, apa anak-anak sudah bangun?" tanya Pak Alkaf seraya mengambil piring yang sudah di sediakan istrinya tersebut. "Sudah Pa! Bentar lagi mungkin mereka turun." jawab sang istri yang mulai menyendok nasi ke piring Pak Alkaf.


Benar saja. Nizam yang di ikuti Zizi berlari kecil menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas tersebut. Keduanya langsung memposisikan diri masing-masing ke tempat yang sudah biasa mereka tempati.


"Pagi Pa, Ma!" Ucap Zizi seraya menyiapkan piring untuk sarapannya yang secepatnya kilat langsung diisi dengan nasi goreng favoritnya itu, Nizam hanya diam. Tapi tetap berjibaku dengan tangan yang sibuk meyiapkan sarapannya juga.


"Pagi juga sayang." sahut kedua orang tua itu seraya tersenyum teduh ke arah anak gadisnya.


"Pulang jam berapa tadi malam Nak?" tanya Bu Zainiyah yang sudah memulai ritual makannya.


"Jam dua belas sampai Rumah, Ma, Pa." timpal Nizam yang memulai pembicaraan. "Oh, iya Zam. Nanti habis sarapan, Papa sama Mama mau ketemuan sama Om Anton dan Tante Indah. Kamu masih inget kan, sama mereka?" tutur Pak Alkaf menjelaskan. Tapi Nizam terlihat berfikir sejenak, mungkin dia sedikit lupa. Dan akhirnya ia mengingat orang yang di maksud orang tuanya tersebut.


"Ingat sih Pa, tapi sedikit lupa!" jelas Nizam.


"Itu lo, anaknya yang dulu sempet tidak mau pulang pas Om Anton dan Tante Indah ajak main kesini, karna katanya ingin deket sama kamu terus. Inget nggak? lanjut bu Zainiyah.


"Ya pasti nggak inget Ma, pas waktu itu kan, mereka berdua masih kelas satu SD Ma," sahut Pak Alkaf yang sudah selesai dengan sarapannya serta meneguk air minum yang tersedia.


"Iya, Nizam sudah lupa. Tapi kalau Om dan tante itu, Nizam masih inget, kan pernah beberapa kali bertemu pas ada acara tentang penggalangan dana Pa," jelas Nizam. yang memang pernah bertemu di saat-saat tertentu. Apalagi pas acara penggalangan dana yang di adakan sebuah perusahaan terbesar di Jakarta.

__ADS_1


Dan Pak Anton serta Bu Indah adalah donatur tetap yang paling besar menyumbangkan hartanya, tak terkecuali Pak Alkaf ayahnya sendiri, dan Nizam yang menjadi anak laki-laki dari keluarga Al-Ghazali tersebut mau tidak mau harus mengetahui aktifasi wajib yang sudah ditentukan ayahnya. Apalagi yang bersifat berbagi dan beramal. Semuanya sudah menjadi rahasia umum bagi orang-orang terdekat Pak Alkaf. Kaya, dermawan dan baik hati. Mungkin itu gelar yang sudah tersemat dalam keluarga besar Al-Ghazali.


"Papa ingin menemui mereka karna ada tujuan tertentu, selain urusan bisnis dan amal. Papa berniat menjodohkan kamu dengan anaknya Om Anton yang sekarang sudah pulang dari masa pendidikannya dari Australia." jelas Pak Alkaf seraya menatap ke arah Nizam yang seketika menghentikan acara makannya dan mendongak ke arahnya.


"Apa ini tidak terburu-buru Pa?" tanya Nizam seraya melanjutkan makannya yang tinggal beberapa suap lagi. Zizi yang sedari tadi hanya menyimak, dan akhirnya menyuarakan pendapatnya.


"Pa, sebenarnya Zizi sudah punya kandidat buat di jodohin sama Kakak. Tapi, sayang, Zizi kehilangan jejaknya Pa! Waktu itu, pas dia datang ke sini mengantarkan SIMnya Kak Nizam, Zizi lupa minta nomer telponnya Ma," ungkap Zizi dengan wajah muramnya.


"Memang kamu sudah kenal sama dia? tanya Bu Zainiyah "Kenal sih enggak Ma, malah bertemu hanya sekali itu, pas dia kesini ngembaliin barang Kakak yang katanya ia temukan di mana, gitu. Iya kan Kak?" rujuk Zizi ke Nizam, agar membenarkan ceritanya.


"Heem..." jawab singkat Nizam sambil mengambil tisu untuk membersihkan area mulutnya sehabis makan. "Jangan dengerin Zizi Ma, Pa!" pinta Nizam kepada orangtuanya, seraya melemparkan tisu bekas yang sudah kotor ke arah Zizi.


"His, Kakak jorok deh!" tepis Zizi cepat sebelum tisu kotor itu mengenai wajahnya, wajahnya tambah di tekuk karna jiwa usil sang Kakak yang mulai beraksi kalau sudah bersamanya.


"Tuh, denger apa kata Papa," ledek Nizam dengan wajah setengah menyepelekan yang mengandung ledekan, dan itu malah membuat Zizi tambah kesel terhadap kakaknya tersebut.


"Zizi nggak tau konsep orang dewasa memilih jodohnya Pa. Tapi entah kenapa, pas Zizi lihat Kakak cantik itu, inginnya Zizi mau dia untuk jadi Kakak Ipar Zizi Pa, Ma!" dengan muka melasnya Zizi memberengut kesal pagi itu.


"Sudah jangan ladeni anak bau kencur Ma, dia masih ngehalu nih." ledek Nizam lagi sambil menjitak pelan kepala Zizi dengan tujuan agar adiknya itu tambah kesal. Karna, melihat sang adik bete karna godaannya. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Nizam.Dengan catatan hanya dia yang memperlakukan itu terhadap adiknya sebagai bukti kasih sayangnya meskipun caranya agak berbeda.


"Sudah, sudah! Kalian ini seperti Tom dan Jerry saja kalau sudah bersama." seru Bu Zainiyah menengahi perdebatan kecil kedua anaknya tersebut yang selalu terjadi di setiap harinya.

__ADS_1


"Hem! Jadi Nizam, nanti setelah Papa dan Mama sudah membicarakan masalah ini terhadap keluarga Om Anton, kamu bersedia mencoba untuk menerima perjodohan ini!" Pak Alkaf yang mulai serius membahas topiknya semula.


"Nizam siap Pa, dan akan mencobanya. Tapi satu yang Nizam pinta. Jangan pernah menutupi kekurangan Nizam selama ini. Nizam ingin, siapapun yang kelak jadi pendamping Nizam, dia sudah bisa menerima Nizam apa adanya. Dan yang terpenting dia mau membantu Nizam untuk menjadi selayaknya." ucap Nizam yang sudah mulai serius dengan kata-katanya.


Ada rasa lain yang menyelinap di balik serpihan hati yang sebenarnya bimbang terhadap keputusannya sekarang. Namun, rasa gentle yang ada didirinya menepis semuanya. Dia harus bisa mengambil keputusan yang bijak tentang hidupnya yang meyangkut keluarganya.


Kalau bukan sekarang, kapan lagi ia mengambil keputusan yang juga melegakan orang tuanya.


"Baiklah, nanti Papa sama Mama, akan memberikan kabar selanjutnya buat kamu. Setelah pembicaraan Papa sama keluarga Om Anton menemukan titik kejelasan." ujar Pak Alkaf seraya beranjak dari meja makan tersebut.


.


.


.


.


.


.Bersambung

__ADS_1


"Badai selalu ada di setiap cuaca hati manusia. Karna kekokohan itu terlihat di saat hantaman keras itu menerpa hidup kita." @fadad


__ADS_2