
Nina menggeleng cepat, memberikan jawaban akan pertanyaan yang menurutnya sangat tabu. Mungkin, Nizam menanyakan itu dan tidak bermaksud mengarah ke sesuatu yang bersifat intim. Tapi, dialah yang mengartikannya lain akhirnya ia menjadi salah tingkah sendiri dan itu menambah groginya semakin menjadi-jadi.
Keduanya kembali terdiam dengan ditemani suara hiruk-pikuk di pesta tersebut. Alunan musik yang memenangkan terdengar syahdu bagi setiap pendengar. Nina dan Nizam sama-sama mengalihkan pandangan mereka, menyapu seluruh para tamu tapi tidak dengan hati mereka yang tetap berpaku para perasaan mereka sendiri yang tetap berkecamuk.
Para tamu berdatangan memberikan selamat pada Nizam dan Nina. Keduanya tersenyum dalam kecanggungan yang sama- sama mereka rasakan.
Sama-sama memiliki perasaan. Namun, tak tersampaikan karena tidak adanya keterbukaan. Entah sampai kapan rasa itu mereka pendam dan siapa duluan yang akan mengatakan.
Tamu mulai sedikit berkurang dan saat ini giliran tiga orang yang Nizam kenal sedang menuju ke atas pelaminan. "Halo, Om," sapa Nizam pada Pak Anton yang datang dengan istrinya serta Melisa.
Kedua paruh baya itu memberikan selamat pada Nizam dengan tulus tanpa merasa canggung, apalagi menunjukkan atau mengingat kembali apa yang sebelumnya pernah terjadi pada keluarga mereka.
"Selamat ya Nak. Akhirnya kamu berdiri di singgasana ini dengan istrimu." Bu Indah berkata sembari menatap Nina yang tersenyum ramah kepadnya.
"Terima kasih Tante, Om," sahut Nizam yang sekilas melirik istrinya.
"Selamat ya, Kak. Semoga ini menjadi pernikahan yang pertama dan terakhir buat Kakak," timpal Melisa seraya memeluk Nizam dengan sangat erat.
Nizam membalas pelukan Melisa sebentar. Untuk menghargai wanita yang sebelumnya sudah banyak membantunya. Melisa sangat pengertian akan keadaan dirinya waktu itu saat masih bertunangan dengannya. Bahkan wanita di depannya ini membebaskan Nizam dari perasaan yang saat itu tidak bisa dipaksakan.
"Terimakasih Mel. Aku doakan semoga setelah ini, kamu menyusul Kakak, Ya!" goda Nizam pada Melisa yang wajahnya seperti menyimpan keresahan.
__ADS_1
"Aku masih belum memikirkan hal itu Kak. Aku ingin menekuni hobi dan karirku dulu," lanjut wanita yang berparas cantik nan anggun tersebut.
Tubuhnya tinggi semampai dengan mengenakan gaun merah yang menutup sempurna bagian dada. Namun, membiarkan lengannya tak terlapisi kain tersebut. Rambutnya diurai dengan ujung yang dipilin indah. Gelombang rambut terlihat bervolume dengan warna kuning keemasan.
Tidak heran jika Melisa tampil sempurna di setiap acara, karena dia adalah seorang model. Apalagi, Melisa juga sangat gemar berdandan.
Nina yang ada di samping Nizam baru menyadari, bahwa wanita cantik yang ada di hadapannya ini adalah mantan tunangan Nizam. Sungguh cantik wajah itu, sehingga Nina dibuat terperangah dibuatnya.
Tapi kenapa suaminya itu membatalkan pertunangan tersebut? Jika soal kecantikan, Melisa tak akan tertandingi. Nina jadi berpikir keras kenapa Nizam memutuskan hubungan tersebut dan malah memilih menyetujui perjodohan dengan orang yang sebelumnya tidak perna ia kenal.
Meskipun sekarang mereka baru mengetahui pasangan mereka masing-masing. Tapi. Bukankah itu sama saja? Dirinya juga adalah orang asing dalam kehidupan Nizam dan hanya mengenal sebatas teman atau kakak beradik yang ketemu besar.
Entahlah, Nina lelah berpikir, untuk mencari jawaban dari semua pertanyaannya yang sampai kapan pun tidak akan pernah terjawab tersebut.
"Terima kasih, Kak," sahut Nina menyambut uluran tangan Melisa lalu berjabat tangan. Tak lupa Melisa memberikan pelukan singkat pada Nina yang sangat cantik menurut penilaiannya.
Gadis belia itu terlihat sangat natural dan kalem. Meski wajahnya dipoles make-up yang tebal. Namun, aura yang terpancar dari kebaikan hati gadis tersebut terlihat dari senyum tulus yang tersemat indah di bibirnya.
Beruntung sekali Nizam mendapatkan gadis seperti itu-batin Melisa berkata. Jika Nina sangat mengagumi kecantikan Melisa yang anggun dan glamor, Melisa juga memiliki penialaian yang berbeda namun sama-sama mengakui jika Nina adalah gadis yang sangat cantik dengan kelebihannya sendiri. Karena kecantikan dari setiap wanita itu berbeda-beda dengan ketentuan Tuhan yang sudah diberikan pada semua makluk-Nya.
Sekali lagi Nina melempar senyum pada Melisa dan dibalas dengan hal yang sama. Melisa turun dari pelaminan menyusul orangtuanya menuju ke arah Pak Alkaf dan Bu Zainiyah. Mereka berempat mengobrol banyak hal. Namun, tidak dengan Melisa. Meskipun wanita itu berada di antara orang tua tersebut, namun hatinya entah berkelana ke mana.
__ADS_1
Pesta itu akhirnya usai dengan penuh suka cita di dalam keluarga Al-gazali. Keluarga besar itu terlihat bahagia karena anak sulung mereka akhirnya menikah. Terlebih lagi, menantu mereka adalah wanita yang selama ini sangat mereka sayangi dan menjadi kriteria menantu idaman.
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah serta Zizie sudah pulang ke rumah utama. Arif dan juga Hendra memutuskan pulang setelah membuly Nizam habis-habisan. Rasanya, Nizam ingin mengubur kedua temannya itu hidup-hidup.
Sedangkan pasangan pengantin baru itu sudah berada di kamar. Sama-sama canggung dan duduk saling berdiam diri. Tidak tau harus melakukan apa atau memulai sesuatu.
Nina masih dengan baju pengantin di depan cermin besar yang memantulkan wajah serta pria di belakang-sedang duduk di sisi ranjang. Nina mau membuka semua hiasan yang ada di kepalanya. Tapi, rasanya sangat tidak nyaman saat dirinya sedang berdua dengan Nizam yang notabene sekarang sudah menjadi suaminya. Tapi, mau gimana lagi, Nizam sekarang sudah menjadi suaminya dan dirinya sudah halal buat suaminya tersebut.
Jika dia hanya berdiam diri seperti ini, sampai kapanpun tidak akan ada perubahan. Perlahan, Nina membuka simpul hijab yang ada di belakang kepala, namun rasanya sulit sekali melakukannya, mengingat posisinya tidak pada jangkauan mata.
Nina terus berusaha namun tetap tidak bisa. Mau meminta tolong pada Nizam yang sedari tadi sesekali mencuri pandang terasa sungkan. Sedangkan Nizam yang melihat istrinya kesulitan, masih ragu untuk mendekat. Mereka masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan mempercayai kenyataan bahwa mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
"Biar aku bantu." Dengan terpaksa, Nizam mendekat dan membukakan simpul kain di belakang kepala Nina.
Rasa yang awalnya sudah sepertinya sudah memuncak itu semakin bertabuh bak genderang yang mau pecah. Namun, Nizam berusaha menahan perasaannya. Sebenarnya, ada satu hal yang ia ingin tanyakan langsung kepada Nina, perihal masa lalunya yang pasti sudah diketahui oleh istrinya tersebut. Tapi, ia ingin mendengar tanggapan langsung dari Nina. Kenapa dia bisa menerima laki-laki seperti dirinya yang pernah berlumur dosa.
Bukankan hal yang mudah bagi setiap wanita menerima seorang suami yang adalah mantan seorang gay? Dan itu membuat Nizam penasaran, apa penyebab Nina menyetujui perjodohan ini.
Dengan tangan gemetar, Akhirnya Nizam bisa membuka simpul tali tersebut dan juga membukakan resleting di belakang tubuh Nina bagian atas. Begitupun dengan Nina, jantungnya tidak berhenti berdetak kendang saat ia merasakan sentuhan tangan Nizam yang bergerak di pundaknya. Ia menahan setengah mati gejolak rasa itu hingga akhirnya selesai dan Nina segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju pengantin yang memerangkap tubuhnya sejak tadi.
.
__ADS_1
. Bersambung
Selamat Hari Raya Idul Fitri ya mentemen. Mohon maaf lahir batin jika saya selalu bikin kesel tanpa saya sadari. Heheeee.