
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu karena mereka berdua disibukkan akan pikirannya masing-masing. Nizam memelankan laju mobil di saat sudah masuk ke gang rumah Nina, dan itu menyadarkan Nina bahwa mobil yang membawanya sudah masuk ke dalam halaman rumahnya.
"Sudah sampai ya, Kak?" tanya Nina seraya membuka pengait sabuk yang melindungi tubuhnya. Nizam menjawab namun tetap dengan kemudinya meskipun mobil itu sudah berhenti.
Nina jadi tidak enak hati akan perubahan wajah Nizam yang tiba-tiba berubah masam, untuk itu Nina ingin cepat-cepat keluar dari mobil tersebut.
"Terima kasih, Kak, sudah repot-repot mengantarkan, Nina! Nina permisi dulu!" ucap Nina lalu membuka handle pintu untuk segera turun, namun ia berhenti saat mendengar suara Nizam yang menyita perhatiannya.
"Sekali lagi Kakak minta maaf atas kejadian tadi, dan untuk pertanyaan Kakak yang tidak penting barusan, jangan dihiraukan. Anggap saja Kakak tidak mengatakan apa pun!" tutur Nizam dengan nada datar namun ada penyesalan dalam kata maaf yang ia ucapkan.
"Iya, Kak!" jawab Nina dan segera mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil. Nina menutup pintu serta masih berdiri memerhatikan pergerakan mobil Nizam yang perlahan berjalan meninggalkannya dan lenyap ditelan kejauhan.
*****
Tepat satu minggu sudah berlalu, di mana Nizam mengatakan tentang perasaan yang sesungguhnya kepada Melisa. Dan Saat itu Melisa dan Nizam sepakat menentukan waktu yang tepat untuk mempertemukan dua keluarganya tersebut.
Dan semenjak kejadian itu pula Nizam tidak pernah bertemu Nina lagi, meskipun Nizam sudah berusaha mengunjungi kafe tempat Nina bekerja. Entah waktu yang tidak tepat atau memang kebetulan, setiap kali Nizam berkunjung ke kafe Santuy di sela-sela kesibukannya ia tidak pernah sekalipun tepat pada waktu Nina masuk dalam sip kerjanya.
Malam ini, akhirnya keluarga Pak Anton dan Pak Alkaf bertemu kembali untuk mendengarkan perkembangan hubungan Melisa dan Nizam. Kedua keluarga tersebut sangat berharap kabar baik yang mereka terima karena melihat Melisa dan Nizam semakin akrab.
Dalam pertemuan antar dua keluarga itu, Melisa yang sangat mendominasi di dalam mengambil sebuah keputusan yang sudah di sepakati olehnya dan Nizam. Inti dari pembicaraan pokok tersebut, Melisa tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Nizam karena mereka tidak cocok dalam segi perasaan, terutama Melisa yang mengakui bahwa dirinya tak memiliki perasaan khusus terhadap Nizam.
Melisa harus sedikit berbohong agar Nizam tidak terlalu di salahkan oleh keluarganya serta orangtuanya sendiri. Nizam hanya mengiyakan lewat sikap diamnya yang terus menjadi sorotan oleh Pak Alkaf dan juga Bu Zainiyah.
Sedangkan Pak Anton dan Bu Indah merasa sangat menyesal dan tak enak hati karena secara tidak langsung Melisa telah menolak Nizam dengan cara halus, meskipun Melisa juga mengatakan dalam hal itu bahwa Nizam juga tak memiliki perasaan terhadap anaknya tersebut.
__ADS_1
Orangtua Melisa hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya, ia sadar bahwa keputusan Melisa adalah hal yang tepat karena menurutnya di dalam sebuah hubungan akan jauh lebih baik jika diawali dengan kejujuran serta keterbukaan.
Pak Anton bangga terhadap anaknya yang sekarang sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dan mampu mengambil sikap atas masalahnya sendiri. Ternyata tak sia-sia dirinya menyekolahkan Melisa hingga sampai ke luar negeri.
Setelah pertemuan itu menemui sebuah titik terang akan sebuah kesimpulan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan Nizam dan Melisa ke jenjang pernikahan, namun mereka tetap akan terus menjalin tali persahabatan yang mungkin akan lebih erat lagi layaknya sebuah saudara.
Setelah percakapan penting itu usai, Pak Alkaf dan Pak Anton beserta istri-istri mereka membicarakan hal lain dan tentunya di luar topik yang baru saja membuat mereka canggung untuk sementara waktu.
Sedangkan Melisa bersama Nizam duduk berhadapan di bangku taman seperti waktu pertama kali mereka bertemu untuk berbicara. Nizam yang ingin sekali berterimakasih kepada Melisa memulai percakapan terlebih dahulu.
"Mel, terimakasih banyak sudah membantuku dalam banyak hal, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu selama ini! ungkap Nizam dengan tulus.
"Aku tahu, kedua keluarga kita sangat kecewa akan keputusan ini, terutama keluargaku," lanjut Nizam seraya menatap Melisa yang terlihat santai dengan pandangan yang tertuju ke kolam kecil yang dipenuhi oleh ikan-ikan.
"Kakak tidak usah terlalu sungkan terhadap Melisa, suatu saat Kakak juga harus membalas kebaikan Melisa!" goda Melisa agar suana sedikit rileks.
"Sudahlah, Kak! Jangan membahas masalah yang sudah terlewati. Sekarang Melisa menganggap Kak Nizam sebagai Kakakku sendiri, jadi jangan pernah sungkan atau melibatkan rasa tak enak hati jika Kakak ingin curhat hal pribadi. Anggap Melisa layaknya adik Kakak sendiri," pinta Melisa yang masih mendapatkan tatapan tak terbaca dari sorot mata Nizam.
Nizam tidak bisa menebak apa yang di katakan Melisa ini murni dari dalam hatinya atau tidak? Kenapa wanita di depannya ini sangat baik kepadanya setelah apa yang ia lakukan mungkin saja telah membuat hati kecilnya kecewa, tapi Nizam sejak tadi meneliti wajah Melisa namun tidak ada yang membuatnya memiliki kesimpulan bahwa Melisa saat ini sedang berbohong.
"Apa Kakak setuju dengan permintaan kecilku ini?" lanjut Melisa yang mendapat jawaban antusias dari Nizam.
"Sangat setuju." balas Nizam serta anggukan kepala meyakinkan.
"Apa Kakak sudah mengungkapkan perasaan yang Kakak rasakan terhadap gadis yang itu?" tanya Melisa ingin tahu akan hubungan Nizam dengan seorang gadis yang sempat diceritakan oleh Nizam waktu makan malam seminggu yang lalu.
__ADS_1
"Belum, aku masih tidak memiliki waktu yang tepat untuk mengungkapkannya!" jawab Nizam berbohong.
Padahal ia sudah mundur duluan sebelum berani mengatakan perasaannya karena merasa kalah telak akan pengakuan Nina yang mengatakan telah memiliki tambatan hati. Dan itu membuat Nizam berpikir bahwa dirinya tidak akan mungkin memiliki tempat lagi di hati Nina.
"Baiklah, tapi kalau Kakak butuh bantuan untuk soal menaklukkan seorang wanita, Melisa siap membantu, Kakak." dengan bangga Melisa mengakui keahliannya dalam segi memikat seorang perempuan. Sebagai kaum wanita tentu Melisa sangat tahu bagaimana harus memperlakukannya untuk bisa mengambil hatinya.
"Siap!" jawab Nizam tak bersemangat yang tak disadari oleh Melisa.
Akhirnya keluarga Nizam pamit pulang setelah kata maaf yang terlontar berulang kali dilontarkan dari Bu Indah terus mengisi pendengaran semuanya karena mereka tidak jadi bisa menjadi besan.
Pak Alkaf meninggalkan halaman rumah Pak Anton dengan mobil yang dikemudikan oleh Nizam. Selama dalam perjalanan, suana seakan mencekam dengan jeda kesunyian yang cukup panjang. Nizam sadar dengan keadaan yang sebentar lagi akan membuat otaknya berpikir keras karena banyaknya pertanyaan yang akan ia dengar dari kedua orangtuanya.
.
.
.
.JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN KOMENTAR KALIAN SEBAGAI BENTUK DUKUNGAN KEPADA SAYA SELAKU PENULIS YANG TENTUNYA SANGAT SENAAAAANG SEKALI DAN ITU YANG NGEBUAT SAYA TAMBAH SEMANGAT UNTUK UPDATE SETIAP HARI.
Sambil menunggu karya ini Up, baca juga karya Author lainnya yang berjudul
1- Berbagi Cinta Dengan Majikanku
Karya: MHoiriyah.
__ADS_1
Cerita di atas juga seru, lo. Coba aja mampir, dijamin nagih bacanya!