Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Menganggap Adik


__ADS_3

Nina yang dari tadi menunggu Nizam sampai tidak sadar ketiduran, kepalanya sedikit bersender di kursi yang membuatnya terlelap dalam kelelahan karna seharian di sibukkan oleh pekerjaannya. Suara hendle pintu yang di buka pun tidak juga mampu mengusik tidurnya.


Nizam yang baru saja memposisikan tubuhnya di belakang kemudi juga tidak sadar bahwa gadis di sampingnya sudah terlelap dalam mimpi, bahkan ia meminta maaf karna telah membuat gadis itu menunggu terlalu lama.


"Maaf, tadi kamu sudah menunggu lama." Ucap Nizam yang tidak mendapat respon dari lawan bicaranya yang membuatnya menoleh untuk memastikan.


Nizam di buat tertegun menatap wajah polos yang begitu pulas dalam tidurnya, matanya begitu intens menatap wajah yang akhir-akhir ini meresahkan hatinya. Pandangan matanya terus saja menatap lamat wajah damai yang terbingkai sedikit sulur rambut dan itu malah menambah kecantikannya. Ingin rasanya ia merapikan rambut itu agar lebih leluasa memandangnya. Namun ia tidak punya keberanian untuk selancang itu, batinnya.


Akhirnya, Nizam menjalankan mobil untuk segera pergi dari tempat itu. Selama perjalanan Nizam tak henti-hentinya menggerakkan ekor matanya untuk menjangkau gadis di sampingnya, bahkan dirinya memperlambat laju mobil agar sang penumpang di sebelahnya beristirahat agak lama. Sehingga ia tidak menyadari jalan di depan yang sedikit bergeronjal sehingga membuat kendaraan yang ia kemudikan sedikit terlonjak seketika, karna di sebabkan hentakan yang sangat tiba-tiba.


Nizam yang mengerem mendadak membuat Nina yang begitu pulas tiba-tiba tersentak karena kaget. Nina masih sedikit bingung karna jiwa yang belum sepenuhnya sempurna, ia mengedarkan pandangannya kekiri serta kekanan, dan alangkah terkejutnya ia melihat Nizam di sampingnya yang masih sibuk dengan tatapannya kearah depan seakan memastikan apa yang baru saja terjadi.


Nina yang sepenuhnya sadar dengan kondisi saat ini langsung merasa mukanya panas akibat rasa malunya terhadap Nizam. Bagaimana mungkin ia bisa ketiduran dengan pulasnya di saat satu mobil dengan orang yang membuatnya selau berdebar itu.


Ya, dari awal melihat Nizam, hati Nina memang terusik, dan perasaannya itu baru ia rasakan saat ini, perasaan yang berbunga-bunga jika melihatnya, namun ia tidak berani mengartikan itu semua dengan perasaan yang lebih, Nina cukup sadar, siapa dirinya. Dan baginya sungguh tidak mungkin pabila ia berharap lebih dari seorang Nizam yang ia ketahui kaya raya serta seorang laki-laki yang sangat tampan, dan itu membuat asumsi Nina berkata, bahwa tidak mungkin orang sekaya dan setampan Nizam tidak punya pasangan. Itu sungguh mustahil, bukan?


Apalagi ia hanyalah gadis yang masih berusia belasan tahun dan Nizam adalah laki-laki dewasa. Sungguh perbedaan itu seperti langit dan bumi menurutnya. Bahkan ia merasa Nizam hanya menganggapnya sebagai adik, mengingat perkataan Nizam yang menyuruhkan memanggil kakak seperti layaknya Zizi memangil Nizam.


Nina buru-buru menundukkan wajahnya untuk menghindar menatap mata Nizam saking malunya, ia hanya mampu berucap kata maaf yang mampu memecahkan kesunyian.


"Maafkan Nina, Kak. Aku tadi ketiduran sampai tidak tahu kalau Kakak melajukan mobil." Nina merasa gugup dalam berucap, antara malu dan tidak enak hati. Sudah di kasih tumpangan malah tertidur sungguh tidak sopan pikirnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku yang minta maaf karna sudah membangunkan tidurmu!" Jawab Nizam seraya melaju kan gerak mobilnya lagi.


Nina kembali terdiam menatap keluar jendela yang menampakkan pemandangan kota di sana. Keadaan seperti inilah yang tidak ingin di rasakannya. Kalau di suruh memilih, ia lebih baik naik angkot daripada di antar Nizam, karna berlama-lama dengan laki-laki dewasa di sampingnya membuat kesehatan jantungnya akan menurun.


Keheningan yang menjeda waktu terus berjalan, Nizam yang bingung dan tidak tau mau bersikap apa hanya sesekali menggerakkan tubuhnya seakan ia tidak nyaman dalam posisinya sekarang, sebenarnya bukan kursi kemudi yang membuat tidak nyaman, tapi perasaannya sajalah yang tidak karuan. Apalagi perasaan ini pertama kali ia rasakan terhadap lawan jenisnya.


Sikap arogan dan kaku yang mula-mula ia tampakkan di depan Nina, sekarang rasanya menjadi bumerang, entah kenapa ia ingin bersikap baik terhadap gadis itu. Hati yang kalah oleh fikiran mungkin itu adalah alasan utamanya. Tapi di sisi lain ia sangat malu untuk benar-benar terlihat seperti itu yang terkesan lebay menurutnya.


"Bagaimana kabar Zizi, Kak?" Akhirnya Nina memberikan diri untuk membuka obrolan. Berbicara seperti layaknya tidak terjadi apa-apa agar membuat suasana. Nizam sedikit menoleh ke arah Nina yang menatapnya dengan wajah yang masih menunggu jawabannya.


"Baik, dia sangat baik!" ulang Nizam dengan jawabannya. Entahlah, ia seakan tidak bisa bicara lidahnya sedikit kelu untuk hanya memulai kata-kata yang menurutnya basa-basi. Tapi di lain sisi ia juga senang.


"Kamu jangan terlalu sungkan kepada ku, lain kali kalau kamu membutuhkan pertolangan bilang saja kalau ada aku di situ." Nizam mencoba mencari topik yang menurutnya masuk akal.


Tak terasa mobil tang mereka kendarai sampai di gang depan rumah Nina, Nizam memelankan laju mobil dan berhenti. Ia menoleh ke arah jalan yang sudah rapi dan selesai di perbaiki mengingat pertama kali mengantarkan Nina jalan itu masih rusak.


pandangan Nizam yang sedari tadi memandangi jalanan yang terlihat juga atap bangunan rumah Nina yang sedikit mengintip di balik pepohonan di ujung sana tersita akan suara Nina yang berpamitan seraya menggerakkan tangannya membuka hendle pintu mobilnya.


"Terimakasih banyak, Kak. Maaf sudah merepotkan. Nina permisi dulu." Ucap Nina yang di lanjutkan dengan kata salam. Namun sebelum Nina menjejakkan kakinya ke tanah, kakinya tertahan karna Nizam memanggilnya.


"Nina, tunggu!" Pinta Nizam, yang di respon bingung oleh Nina.

__ADS_1


"Iya, Kak!" Nina menoleh dengan muka penuh tanya, namun tidak juga di jawab oleh Nizam. Laki-laki itu masih diam dengan wajah tidak bisa terbaca. Nina semakin bingung di buatnya hingga ia mengulangi pertanyaannya.


"Kak Nizam, ada apa?" Ulangnya yang membuat Nizam salah tinggkah karna malu yang menyerangnya. Ia baru sadar bahwa sedari tadi hanya diam tanpa mampu menjawab. Mulutnya terasa berat mengucapkan sesuatu yang sedari dari di dorong oleh hatinya.


"Jangan turun, aku antarkan sampai ke rumah kamu. Sekalian aku mau bicara sama orangtua mu agar tidak terjadi fitnah dan kesalah pahaman. Meskipun kita tidak punya hubungan apa-apa, tapi orang yang melihat kita sekilas sebagian mereka akan mengira kita melakukan hal-hal yang tidak-tidak! Meskipun kamu memang terlihat lebih pantas menjadi seorang adik bagiku, tapi tetap saja kamu seorang perempuan dan aku adalah laki-laki, apalagi aku adalah orang asing bagi warga disini. Aku tidak mau orangtuamu mendapatkan masalah karena diriku yang sudah mengantarmu di pinggir jalan, setidaknya dengan penjelasan ku, orangtuamu nanti punya jawaban jika ada orang yang mempertanyakan ku dan menyudutkan mu" Ucap Nizam. Nina hanya terbengong.


"Jangan berfikiran macam-macam. Aku hanya ingin menjelaskan kepada orang tua mu, bahwa dirimu adalah temannya Zizi yang sudah ku anggap sebagai adikku juga!" Panjang lebar Nizam menjelaskan agar Nina mengerti.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Bersambung......


__ADS_2