
" Ya sudah Bu, Nina mau sholat isya' dulu." Ucap Nina seraya masuk ke dalam kamarnya Untuk mempersiapkan perlengkapan beribadah.
Bu Aminah hanya bisa memandang gerak tubuh anaknnya yang mulai menghilang di balik pintu.
" Ya allah tak terasa anak gadisku sudah besar, semoga engkau selalu menjaganya setelah kami tidak mampu menjaga. Berikanlah kebagiaan kepadanya karna dari kecil dia sudah hidup susah ya Allah. semoga engkau memberikan jodoh yang melindunginya di dunia dan akhirat Aminn."
Guman Bu Aminah dalam hati yang mendoakan serta meratapi hidup Anak semata wayangnya, Tak terasa buliran air mata itu jatuh di pipi tuanya.
Bu Aminah melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengusap air matanya, Dia merebahkan tubuh lelah itu di samping suaminya yang sudah tidur sejak tadi.
Tidak berapa lama Bu Aminah juga terlelap karna sudah merasa ngantuk, dari tadi dia memang sengaja tidak tidur untuk menunggu kepulangan anaknya.
****
Sementara itu Nizam yang baru saja sampai di rumah langsung memaksukkan mobilnya ke dalam garasi.
" Pak Ali, Mama sama Papa sudah pulang apa belum?" Tanya Nizam pada satpam yang sudah setia bekerja di rumahnya selama bertahun-tahun itu.
" Sudah Tuan muda, kurang lebih satu jam yang lalu tuan besar beserta nyonya kembali." jawab Pak Ali sambil menutup pagar besi yang menjulang tinggi itu.
Nizam melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah, di bukanya pintu besar itu lalu berjalan kedalam setelah memastikan pintunya tertutup rapat.
Sesampainya di ruang tamu Nizam melihat kedua orang tuanya masih menonton televisi sambil mengobrol santai.
Lalu dia juga ikut Nimbrung dengan mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang bersebrangan dengan Orang tuanya.
" Mama sama Papa kok belum tidur?" tanyak Nizam mengawali percakapan sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 22:00 wib.
" Mama sama Papa sengaja menunggumu pulang Untuk menanyakan sesuatu Nak." Ujar Bu Zainiyah seraya mematikan Televisi agar percakapan dengan Anaknya tidak terganggu.
" Benar itu Zam." Saut Pak Alkaf menimpali.
__ADS_1
" Apa benar tadi ada gadis yang ke sini mencarimu?"
" Dia hanya kariyawan Caffe yang kebetulan menemukan SIM Nizam yang terjatuh tidak sengaja di dalam Caffe Ma." Jawab Nizam dengan Nada agak Malas karna merasa kesal kepada sang Adik.
" Dasar anak kecil, begitu cepat dia menyampaikan kepada Mama dan Papa.
tidak mau menunggu penjelasan dulu main adu saja. Awas nanti di kamar kamu ya dek."
Gerutu Nizam dalam hati yang sebal terhadap Zizi.
" Jadi yang di katakan Adikmu itu tidak benar, bahwasannya kamu sudah memiliki teman Wanita Zam?" selidik Pak Alkaf yang memastikan apa yang di sampaikan Zizi tadi pas mereka baru datang.
Nizam yang masih duduk bersandar di punggung sofa hanya mendesah pelan, lalu dia duduk tegak meyamakan pandangannya terhadap kedua orang tuanya.
" Nizam tegasin ya Pa, dia bukan siapa-siapa Nizam, tau Namanya saja pas tadi dia datang."
Elak Nizam berbohong untuk menghindari pertanyaan yang di pastikan tidak ada ujungnya, seandainya orang tuanya itu tau bahwa sebenarnya tadi pagi sudah bertemu dengan Nina pas menolong kakek Mukti.
" Untung saja Adik rese' itu tidak tau bahwa gadis yang besamaku menolong kakek Mukti adalah orang yang sama dengan yang datang ke rumah ini tadi, kalau dia tau pasti tambah runyam urusannya. huffffff."
Gumam Nizam sedikit lega.
" Tunggu Zam." tiba-tiba suara pak Alkaf menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah kedua orang tuanya yang sudah menghampirinya.
" Mama sama Papa sudah sepakat Untuk Menjodohkanmu, kalau kamu masih saja diam seperti ini dan tidak ada kemajuan."
" Apa salahnya kita mencoba Alternatif ini untuk berihktiar untuk kesembuhanmu?" tutur Pak Alkaf lagi dengan wajah yang penuh keseriusan.
Nizam menolak keputusan kedua orang tuanya yang menurutnya sangat tiba-tiba, dengan alasan tidak suka dengan yang namanya perjodohan, setelah melalui perdebatan yang panjang dengan posisi yang sama-sama dalam keadaan berdiri ,akhirnya Nizam menyerah dalam adu argumen bersama Papanya. Untuk menghindari masalah yang berkepanjangan.
" Baiklah Nizam setuju, tapi dengan satu syarat."
" Apa itu Nak?" saut Bu Zainiyah dengan suara pelan.
" Nizam mau di jodohkan dengan Wanita yang siap menerima keadaan Nizam yang seperti ini, tak terkecuali keluarganya juga." Ucap Nizam sambil menatap sang Papa yang mulai terpancing emosi karna penolakan Putranya.
__ADS_1
Pak Alkaf yang mempunyai sifat tegas dan tidak suka berbasa-basi itu, sama persis dengan sifat yang di miliki Nizam saat ini.
" Baiklah Papa rasa semuanya sudah jelas, jadi Papa tidak mau lagi mendengar penolakan dari Kamu." Seloroh Pak Alkaf lalu pergi dari tempat itu menuju kamarnya.
" Sudahlah Nak, kamu ikutin saran dari Papa saja dulu, Untuk kedepannya biar waktu yang menjawabnya." Rayu Bu Zainiyah meredam kekesalan Nizam sambil mengelus lembut tangan Anaknya itu.
" Ma, Bukannya Nizam tidak mau menuruti apa yang kalian inginkan, cuma Nizam belum siap kalau semuanya serba mendadak seperti ini."
" Kamu tau sendiri bagaimana sikap Papamu, kalau dia sudah memutuskan Mama tidak bisa berbuat apa-apa Nak." Ujar Bu zainiyah yang menatap sendu ke arah Nizam.
" Baiklah Ma, Nizam akan mencobanya toh semuanya demi Nizam dan keluarga ini."
" Ya sudah kamu Naik ke atas, istirahatlah. besok kita bicarakan lagi dengan Papamu, Mama juga mau istirahat." Pamit Bu Zainiyah lalu bergegas pergi menuju ke kamar menyusul suaminya.
Nizam yang masih diam tak bergeming terus memandang kepergian Mamanya hingga pintu yang tertutup menghalangi jangkauan matanya.
Lalu dia Naik menapaki anak tangga rumahnya dengan perasaan yang masih bingung terhadap apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi perjodohan yang sudah di rencanakan Papanya.
Tidak butuh waktu lama dia sampai ke depan kamarnya dengan posisi tangan yang sudah memegang handle pintu, Namun langkahnya terhenti seakan-akan ada yang ingin dia lakukan.
Dengan langkah yang pelan dia gerakkan kakinya menuju kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.
Tanpa mengetuk pintu dia buka handle itu lalu mendorongnya kedalam yang kebetulan tidak di kunci oleh pemiliknya.
Dia melangkah kedalam kamar itu, menuju arah ranjang yang di sana sudah ada sang Adik lagi rebahan dengan posisi mata terpejam, Namun mulutnya masih komat-kamit yang di sertai gerakan tubuh mengikuti alunan musik yang dia dengar dari handset di kedua telinganya.
Dengan gerakan cepat Nizam menarik benda yang masih terpasang di telinga Adiknya itu.
Bersambung....!
Hai guys...
Jumpa lagi dengan fahad ya..
Jangan bosen2 menunggu kelanjutan kisah Nizam ya.
__ADS_1
Buat semua jangan lupa Like, Rite serta vote nya ya..karna itu semua sangat berarti buat Fahad😇
Salam Hangat dari Saya🤗