Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Pergi Ke Panti Jompo


__ADS_3

Selama tiga minggu ini, kehidupan Nina terasa semakin berbeda. Meskipun keadaan ekonomi keluarganya mulai membaik dengan diterimanya dirinya sebagai karyawan tetap di tempatnya bekerja. Serta usaha ternak ayahnya yang sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Dan itu sangat cukup untuk sekedar buat makan sehari-hari.


Sedangkan gaji yang diterimanya dari kafe Santuy yang lumayan besar, ia pergunakan untuk keperluan kuliah serta sebagian juga ditabung. Nina tidak mau lagi merepotkan keluarga Al-gazali yang sebelumnya belum menjadi calon mertuanya yang saat itu dengan tanpa sepengetahuannya telah mendaftarkan dirinya di fakultas ternama yang sangat ia impikan selama ini.


Nina bertekad akan mencari uang sendiri untuk membayar semester selanjutnya. Karena Bu Zainiyah yang saat itu sudah membayar uang pendaftaran serta uang semester pertamanya membuat Nina merasa tidak enak hati.


Sudah banyak sekali bantuan yang ia terima beserta keluarganya dari keluarga yang saat ini justru menjadi calon mertuanya tersebut. Sejak awal Pak Alkaf dan Bu Zainiyah sudah bersikeras untuk membiayai kuliah Nina sampai selesai. Tapi, Nina menolak secara halus.


Nina berpendapat, jika biaya kuliahnya ditanggung semua, justru membuat dirinya tidak memiliki daya juang atau semangat untuk bekerja mendapatkan uang sebagai bentuk motivasi pada dirinya sendiri. Dan Bu Zainiyah sangat menghargai alasan Nina tersebut. Sungguh gadis yang berpendirian tangguh dengan semangat yang membara. Dan itu membuat Pak Alkaf serta Bu Zainiyah semakin salut kepada Nina.


Akhirnya, Bu Zainyah menyerahkan semua keputusan kepada Nina dengan satu syarat, jika suatu saat nanti ia membutuhkan uang atau perlu bantuan, Bu Zainiyah menegaskan agar Nina datang kepadanya. Dan Nina hanya mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan Bu Zainiyah.


Sikap sungkan yang memang dari awal ia rasakan pada keluarga Al-gazali itu semakin merajalela saat status yang tiga minggu ini sudah berubah menjadi calon mertuanya tersebut. Rasa tak enak hati yang ia rasakan menjadikan Nina tidak percaya diri untuk bertegur sapa secara leluasa seperti sebelumnya, sebelum status itu berubah seperti saat ini.


Bu Zainiyah yang setiap hari bertukar pesan melalui ponselnya itu kerap sekali menghubungi Nina. Walaupun hanya bertukar kabar atau sekedar mengingatkan Nina untuk tidak lupa makan demi menjaga kesehatan, sebagai bentuk dari sikap perhatiannya pada sang menantu yang sangat ia sayangi seperti anaknya sendiri tersebut.


Seperti saat ini, calon mertuanya itu barusan mengirim pesan bahwa minggu depan dia akan mengajak dirinya ke salah satu *b*outique langganannya untuk fitting baju pengantin yang akan diselenggarakan bulan depan.

__ADS_1


Nina masih tidak percaya, bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri dan melepas masa lajangnya dengan pria yang sampai saat ini tidak tau sama sekali seperti apa wajahnya. Pertemuan pertama dan juga yang terakhir kalinya dulu membuatnya masih menimbulkan rasa ragu di hatinya akan sosok seorang imam yang sebentar lagi akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya.


Nina yang saat itu sudah siap dengan seragam kerjanya melangkah keluar dari kamarnya setelah membalas pesan dari Bu Zainiyah. Nina menghampiri kedua orang tuanya untuk berpamitan pergi berangkat bekerja. Nina juga tak lupa menyampaikan pesan dari calon mertuanya jika minggu depan ia diajak untuk melakukan fitting baju pengantin.


"Ayah, Ibu, Nina berangkat kerja dulu ya?" ucap Nina seraya meraih kedua tangan orang tuanya secara bergantian untuk mencium tangan mereka. Rutinitas yang tidak pernah Nina tinggalkan setiap ia akan pergi meninggalkan rumah.


"Hati-hati, Nak, jangan ngebut bawa motornya." seru ayahnya yang disahuti oleh anggukan kepala oleh Nina. Nina melajutan motor maticnya dengan senyum yang mengembang setelah mendapatkan lambaian tangan dari orang tuanya dan hilang ditelan arah yang semakin menjauh dari pandangan mata.


Ya, Nina sekarang sudah mampu membeli motor matic, meskipunpun itu ia dapatkan secara kredit. Tapi setidaknya Nina sudah bisa mengelola keuangannya dengan baik meskipun ia harus bersabar untuk jangka waktu yang lumayan lama untuk melunasi angsuran tersebut.


Sungguh, perubahan ekonomi yang sangat ia rasakan itu tak lepas dari bantuan keluarga Al-gazali, dan itu menjadi alasan satu-satunya untuk Nina bertekad akan melakukan hal yang terbaik dalam perjodohannya dengan putra dari orang yang sangat berjasa tersebut.


Waktu jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi, dan Nina masih punya waktu satu jam untuk masuk ke tempat kerja. Nina yang sejak awal berniat untuk menyambangi Kakek Mukti itu membawa kendaraannya menuju panti jompo yang sudah lama tak pernah ia kunjungi tersebut.


Nina yang sudah menyiapkan bekal makanan yang sempat ia bawa dari rumah untuk ia berikan kepada Kakek Mukti. Nina yang sebelumnya sudah memberi tau ibunya tentang niatnya yang ingin mengunjungi Kakek Mukti membuat Bu Aminah sengaja memasak makanan yang lebih untuk dibawa oleh Nina.


Nina menstandarkan motornya setelah ia mematikan mesin dan sampai ke tempat tujuan. Dengan wajah yang ceria Nina memasuki panti tersesebut menuju kamar Kakek Mukti, yang sebelumnya ia sudah berpamitan serta menyapa ibu pengurus panti yang sudah mengenalnya.

__ADS_1


Nina mengetok pintu kamar Kakek Mukti dan mendorongnya pelan, karena terlihat pintu tersebut tidak tertutup rapat dengan celah yang sedikit terbuka. "Assalamualaikum, Kakek," kata Nina mengayunkan pintu itu secara lebar.


"Waalaikumus'salam, cucuku, Nina." sahut suara renta yang terdengar parau di pendengaran. Nina tersenyum simpul mendengar sang Kakek yang langsung mengenal dirinya hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Kakek, kok tahu jika yang datang adalah Nina?" tanya Nina heran, namun tak menyurutkan senyumnya karena merasa lega. Nina berpikir bahwa telah terjadi hal ynag tidak baik pada Kakek Mukti, karena sejak tadi malam ia tak berhenti memikirkannya. Entah kenapa, Nina juga bingung. Mungkin karena ia sudah lama tidak mengunjungi Kakek Mukti yang selama ini ia anggap kakeknya sendiri. Ternyata Kakek Mukti baik-baik saja.


"Jangankan suaramu, kau mau datang ke sini saja kakek sudah bisa merasakannya, Cu." tutur Kakek Mukti yang saat itu mengusap kepala Nina dengan tangan tuanya. Nina yang saat itu tengah menyalami Kakek Mukti sangat bahagia mendapatkan perhatian yang begitu tulus walau hanya dengan usapan tangan semata.


"Nina merindukan, Kakek." tutur Nina seraya memeluk Kakek Mukti yang saat itu sedang duduk di pembaringan. Kakek itu hanya menepuk-nepuk pelan punggung gadis dalam dekapannya. "Apa kabarmu, Cu?" tanya Kakek Mukti setelah melepas pelukannya.


"Baik, Kek. Kakek sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Nina.


"Kabar Kakek juga baik. Kakek di sini sangat senang. Semua kebutuhan Kakek dipenuhi semuanya. Apa pun itu. Apalagi sejak Nizam menjadi donatur tetap di panti ini, dan ia meminta ibu panti untuk memperlakukan Kakek secara spesial. Tapi Kakek tidak mau. Dengan semua apa yang diberikan Nizam terhadap panti ini sudah lebih dari cukup buat Kakek. Sungguh, dia pemuda yang sangat baik serta bijaksana. Semoga ia mendapatkan jodoh yang sempurna."


Lagi-lagi Nina harus mendengar nama Nizam lagi. Dengan susah payah ia berusaha melupakan nama itu, dan mengusir bayangan yang selama ini sangat sulit ia lupakan.


Tapi sekarang, Kakek Mukti malah menyebut nama itu kembali dan membuat Nina harus kembali ke kilas balik pada masa-masa di mana saat pertama kali pertemuannya dengan Nizam.

__ADS_1


__ADS_2