Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Berusaha Menerima Perjodohan


__ADS_3

Keadaan yang semula santai itu tiba-tiba berubah dengan tanda tanya di benak Bu Indah serta Pak Anton. Keduanya saling bertukar pandang, seakan sama-sama bertanya apa gerangan yang mau di bicarakan sahabatnya tersebut.


Hening sesaat terjadi dikala semuanya sama-sama diam dengan fikirannya masing-masing. Hingga suara Pak Alkaf yang mendominasi ruangan terdengar begitu jelas.


"Sebelumnya, aku dan Niyah minta maaf apabila apa yang aku sampaikan ini membuat kalian terkejut dan mungkin saja terdengar konyol bagi kalian. Dan apapun yang akan terjadi setelah ini aku berharap persaudaraan kita yang di jalin dari sebuah persahabatan ini terus berjalan tanpa terganggu oleh masalah yang mungkin akan timbul setelah ini!" wajah Pak Alkaf begitu serius dalam mengucapkan kalimatnya. Meskipun terlihat tegar ada kecemasan di dalam manik matanya akan kenyataan yang mungkin tidak sesuai ekspektasinya.


"Anton, Indah? seru Pak Anton yang memberi jeda terhadap kalimatnya yang seakan-akan tertahan di tenggorakan saking sulitnya ia mengungkapkan perjodohan yang yang bertujuan untuk menyembuhkan anak laki-lakinya itu.


"Aku berniat menjodohkan Melisa dengan Nizam!" Ahirnya kata-kata yang dari awal menari-nari dalam benaknya itu terucap juga. Tapi kata-kata pokok yang seakan menjadi bom di ruangan itu belum ia lontarkan juga.


Dengan mata yang masih mengamati ekspresi semua orang, Pak Alkaf berusaha mengumpulkan keberanian untuk yang keduakalinya. Sedangkan matanya tertuju kearah istrinya yang duduk dengan keadaan yang meremas kedua tangannya untung menghilangkan kegugupan yang menyergap sedari tadi.


Sedangkan Pak Anton dan Bu Indah tidak menyadari keresahan yang di rasakan kedua sahabatnya tersebut. Keduanya seakan terlelan oleh rasa senang tatkala mendengar kabar yang bahagia hari ini. Hingga mereka mengabaikan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah yang duduk dengan begitu gelisah. Sungguh kabar perjodohan itu mengalihkan keduanya untuk menjadi teman yang penuh selidik.

__ADS_1


"Alkaf, Niyah. Sungguh ini kabar yang paling bahagia setelah kami mendengar kabar Melisa lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan. Bagaimana kamu bisa berfikir kalau perjodohan ini hal yang konyol. Sungguh aku memang terkejut karna rasa senang yang tidak bisa aku ungkapkan." Cercah Bu Indah dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya seakan-akan tidak memberi suaminya kesempatan bicara terlebih dahulu.


"Iya, Alkaf. kenapa kamu beranggapan perjodohan ini sesuatu yang konyol, justru kami sangat mengharapkan ini sejak dulu. Namun kami tidak berani memulai, mengingat kami adalah pihak perempuan dan kami juga beranggapan bahwa, Nizam tidak akan suka dengan yang namanya perjodohan. Karena aku juga tau sekarang bukanlah jamannya Siti Nurbaya lagi, bukan? Dengan kamu memiliki rencana seperti ini, sungguh aku amat senang Alkaf." terdengar suara Pak Anton yang antusias dengan kabar tersebut seraya merangkul pundak sahabatnya itu.


"Benar Alkaf, Niyah! Kenapa kalian bisa berfikir hal yang seperti itu," sambung Bu Indah yang tak henti-hentinya tersenyum menatap Bu Zainiyah yang canggung dengan keadaan yang sebenarnya.


"Tapi bukan itu yang menjadi masalah sebenarnya Indah, kami sebenarnya menjodohkan Nizam, karena ...?" Sebelum Bu Zainiyah menyelesaikan kalimatnya, isak tangisnya tiba-tiba terdengar lirih dengan air mata yang mengalir tanpa di minta, dan itu mampu membuat lidahnya tumpul tak berdaya.


Sedangkan Pak Anton dan Bu Indah hanya diam dengan seribu pertanyaan. Namun, mereka memilih diam dan menunggu penjelasan dari sahabatnya itu, meskipun otak mereka terisi sejuta kebingungan, Bu Indah hanya mengusap punggung Bu Zainiyah berusaha menenangkan kesedihannya walaupun ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Pak Alkaf yang sedari tadi sudah tidak mampu untuk berdiam diri lagi. Dengan keyakinan diri akhirnya ia menceritakan semuanya, apa yang sebenarnya terjadi kepada Nizam selama dia menempuh pendidikan di luar negri dan akhirnya kenyataan pahit itu terjadi dalam keluarga yang di sebabkan anak laki-lakinya itu.


Pak Alkaf menjelas panjang lebar tanpa jeda. Sungguh, dia menumpahkan semuanya di hadapan sahabatnya itu, berharap sahabatnya tersebut setidaknya mengerti tentang posisi nya saat ini. Meskipun nanti perjodohan itu tidak terealisasi. Tapi, setidaknya ada orang yang mengerti tentang apa yang di rasakan saat ini sebagai orang tua yang tidak berdaya.

__ADS_1


"Anton, aku tidak mau memaksakan Melisa. Semua terserah dia, aku cuma mencoba sesuatu yang mungkin saja bisa aku harapkan, bukan? Dan untuk keputusan selanjutnya aku serahkan sama kalian dan Melisa. Aku tidak berharap banyak, cukup kalian menjadi orang tau tentang derita kami sebagai orang tua yang tidak berdaya,"


"Mungkin ini memang salahku atau takdirku yang memang buruk, hingga aku tidak bisa mendidik Nizam menjadi laki-laki yang sebenarnya!" Pak Alkaf sudah tidak kuat lagi menahan perasaannya, hingga matanya terasa basah karna dorongan emosi yang sedari tadi ia tahan.


Pak Alkaf sudah tidak memedulikan harga dirinya jatuh, di saat ia terlihat rapuh dengan keadaan menangis, mengingat dia adalah seorang laki-laki tangguh yang tidak pantas menitikkan air mata. Sedangkan Bu Zainiyah yang masih dalam rangkulan Bu Indah hanya menatap lekat wajah sedih suaminya, ada perasaan lega yang ia rasakan karna Pak Alkaf sudah mengungkapkan semua masalah yang mereka hadapi di hadapan sahabatnya. Sekarang mereka hanya bisa pasrah atas keputusan sahabatnya yang mungkin tidak sesuai keinginan mereka.


Pak Anton dan Bu Indah yang sedari tadi terkejut mendengar penuturan Pak Alkaf tentang keadaan Nizam yang sekarang. Keada an yang awalnya sangatlah membuat mereka bahagia dikala mendengar perjodohan Nizam dan Melisa, sekarang berubah menjadi keadaan yang dilema, bagaimana mungkin mereka rela melihat suami dari putrinya mantan seorang Guy, dan itupun tidak belum tentu bisa sembuh di saat mereka nanti menikah.


Sekarang mereka seakan menjadi orang tua yang menggiring anaknya kedalam kehidupan yang belum tentu bisa di pastikan, tapi di lain sisi mereka sangat tidak tega melihat kedua Sahabatnya tersebut memikul beban yang sungguh tidak semua orang tua mampu mengembannya dengan sabar. Mereka tidak menyangka, bahwasanya Nizam yang terlihat laki-laki yang sempurna bisa memiliki kelaian menyimpang yang sungguh tidak masuk di akal, mengingat seperti apa wajah Nizam, Laki-laki tampan dan perfek, tidak ada celah buat perempuan manapun untuk menolak pesonanya. Namun, mungkin Pak Alkaf memang benar yang menganggap semuanya adalah takdir yang keluarganya harus hadapi.


Terselip rasa iba dari Pak Anton dan Bu Indah atas apa yang di alami sahabatnya itu, di lain sisi, iya tidak masalah Melisa di jodohkan dengan Nizam, meskipun anaknya kelak akan menjalani ketidak pastian dalam rumah tangganya. Tapi, mereka juga tidak mampu untuk menolak secara langsung perjodohan tersebut sebelum mereka menanyakan perihal itu terhadap yang bersangkutan, yaitu anaknya.


Akhirnya Pak Anton yang mewakili istrinya memberanikan diri untuk bersuara, sesaat setelah beradu pandang dengan istrinya, mata mereka seakan bicara bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mereka juga tidak tega melihat Pak Alkaf yang sudah terpuruk dalam masalah nya. Dia tidak akan menambah beban mereka dengan jawaban yang mungkin malah menambah kesedihan nya.

__ADS_1


__ADS_2