Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Sebuah Nasihat


__ADS_3

"Kak Nizam memang sangat baik, Kek." cuma itu jawaban yang Nina lontarkan untuk menanggapi semua pujian yang ditujukan Kakek Mukti pada Nizam. Wajah Nina seketika berubah sendu saat bayangan wajah Nizam mulai melintas dalam benaknya.


"Oh, iya, kek. Aku bawakan makanan buat, Kakek." berusaha mengalihkan topik agar Kakek Mukti tidak membahas soal Nizam.


Nina meraih rantang makanan yang barusan ia bawa yang sebelumnya ia simpan di dekat kakek tua itu berada. Nina berlalu dari hadapan Kakek mukti menuju ke meja untuk membuka makanan serta menyuapi Kakek Mukti dengan penuh rasa kasih sayang.


"Terimakasih atas perhatiannya, Cu. Masakan ibu kamu memang enak. Dan Kakek sangat menyukainya." tutur Kakek Mukti disela kunyahannya. Nina hanya tersenyum dengan terus menyuapi Kakek mukti hingga makanan yang ada di piring itu tandas tanpa sisa.


Nina mengambilkan segelas air putih untuk ia berikan pada Kakek Mukti. Kakek Mukti meraih gelas yang diberikan Nina, serta meneguknya secara perlahan untuk mendorong sisa-sisa makanan yang tersisa di tenggorokan.


"Kek, ada yang ingin Nina ceritakan." kata Nina sesaat setelah membereskan peralatan kotor yang barusan ia gunakan untuk menyuapi Kakek Mukti. Nina mengambil kursi yang berada di depan meja serta membawanya ke dekat Kakek Mukti.


Kakek Mukti duduk setengah bersandar pada divan tempat tidurnya. "Ada apa, Nina,?" tanya kakek itu dengan tatapan penuh selidik.


Nina menceritakan tentang perjodohannya dengan anak seseorang yang selama ini sangat berjasa dalam kehidupannya. Nina juga mengatakan kekurangan calon suaminya sebagai mantan Gay itu kepada Kakek Mukti. Kakek Mukti mendengarkan Nina yang menjelaskan tentang kebimbangan hati yang terselip di setiap kata-katanya.


"Apa niat kamu menerima perjodohan ini?" tanya Kakek Mukti setelah dirasa Nina selesai berbicara.


"Selain karena rasa balas budi, Nina percaya dengan keputusan orang tua Nina, Kek. Nina yakin bahwa keputusan mereka pasti yang terbaik," jawab Nina. Kakek Mukti melihat masih ada keraguan di sana.

__ADS_1


"Apa hanya itu? Katakanlah apa yang membuat kamu masih belum bisa memantapkan hati kepada pilihan ayahmu itu." seakan tau apa yang menjadi kegelisan Nina, Kakek Mukti berusaha mendorong kejujuran Nina yang sesungguhnya.


Nina tertunduk dalam, helaan nafas panjang terdengar, dan Nina merarik wajahnya untuk menemui Kakek Mukti yang tersenyum teduh ke arahnya.


"Katakanlah, siapa tau Kakek bisa membantumu, meskipun tidak bisa membantu dengan sebuah tindakan, mungkin Kakek bisa membantumu dengan sebuah nasihat, siapa tau mampu menenangkan hati yang sedang bimbang,"


Lagi-lagi Kakek Mukti menebak semua rasa yang memang saat ini sedang dirasakan Nina. Nina tidak habis pikir, kenapa Kekek Mukti sepertinya sudah tau dengan apa yang terjadi padanya?


"Sebenarnya, Nina masih ragu Kek. Calon suami Nina adalah mantan seorang Gay. Dan apa mungkin dia bisa mencintai Nina kelak? Apa pria yang seperti itu juga mampu menjadi imam yang baik. Jujur Nina menginginkan Imam yang sempurna secara pandangan Nina sendiri, Kek. Apa Nina sekarang egois. Kek?"


Dengan berhati-hati, Nina mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya. Perasaan yang sama sekali ia tutupi dan tak pernah ia katakan sekalipun kepada orang tuanya. Nina takut, ayah dan ibunya itu juga merasa bimbang jika mengetahui yang ia rasakan saat ini.


"Apakah tidak ada alasan lain selain itu, atau mungkin ada orang lain yang sudah mengisi tempat yang seharusnya menjadi milik calon suamimu itu,"


Bluss...


Muka Nina langsung memerah karena rasa malu. Secara tidak langsung Kakek Mukti sudah bisa menebak bahwa hatinya sudah terpaut kepada laki-laki lain. Nina jadi salah tingkah dan tidak tau harus menjawab apa.


"Jangan malu-malu, Cu. Kakek bisa memahami perasaanmu. Karena manusia tidak akan bisa menolak sebuah rasa yang kadang-kadang kita sendiri juga tidak menginginkannya. Sebuah rasa itu adalah Fitrah semua manusia, kita tidak bisa menghalanginya, namun kita sebagai manusia yang berakal pasti bisa mengendalikannya. Dengan hanya memohon bantuan kepada-Nya yang menciptakan kita semua."

__ADS_1


"Rasa yang kau rasakan kepada laki-laki itu tidak salah. Tapi, sebagai wanita yang sudah memiliki calon suami, setidaknya kau membentengi hatimu untuk bisa membedakan mana yang harus kau utamakan. Percayalah, Jika Allah telah mengirimkan imam yang terbaik untukmu, terlepas dari semua kisah masa lalunya yang buruk. Yang terpenting saat ini, dia benar-benar mau kembali pada jalan yang lurus, dan itu sebenarnya adalah ladang keberuntungan yang diberikan Allah kepadamu."


"Kau tau? Allah telah menunjukmu dan memberikan sebuah tanggung jawab yang besar ini kepadamu, tidak semua orang bisa dipercaya Tuhan untuk menjalani biduk rumah tangga dengan seorang yang pernah menyalahi kodratnya, dan itu adalah termasuk dosa yang sangat besar. Tapi, Allah maha besar yang meluaskan segala pengampunan-Nya kepada setiap hambanya yang mau bertaubat dan kembali kepada-Nya. Termasuk juga calon suamimu itu."


"Kau wanita pilihan, tuntunlah suamimu kelak untuk kembali menjadi laki-laki sejati. Kembali menjadi imam yang menjadi panutan istri serta anak-anakmu kelak. Berusahalah sekuat yang kau bisa dengan semua ujian dan badai rumah tangga yang pasti akan terjadi di setiap hubungan suami-istri. Ingatlah Cu, setiap langkahmu akan menjadi pahala jika kau menjalani rumah tanggamu dengan ikhlas, yang bertujuan membantu suamimu kembali pada jalan yang diridhoi Allah."


"Buanglah semua rasa yang selama ini membuatku bimbang. Ini bukan pilihanmu, tapi ini adalah salah satu jalan takdir yang harus kau hadapi. Percayalah, pacaran setelah menikah itu jau lebih indah dari pada berpacaran sebelum menikah. Karena berpacaran dengan laki-laki yang sudah halal itu tidak ada lagi batasan. Karena kalian berdua sudah menjadi mahram."


Nina meneteskan air mata mendengar nasihat dan juga petuah dari Kakek Mukti. Ia merasa bahwa dirinya saat ini sudah salah karena masih dibimbangkan oleh perasaannya yang tak pasti. Padahal, ia sudah memiliki jalan hidup sendiri yang sudah menjadi takdir dalam menjalankan tugas sebagai seorang wanita yang sebentar lagi menjadi seorang istri.


Nina sangat beruntung telah mendapatkan pencerahan hati dari Kakek Mukti. Karena setelah ia mendengar apa yang barusan dikatakan sang kakek membuat hatinya tenang dan kebimbangan akan sebuah hubungan baru itu sirna dan berganti dengan rasa yang penuh keyakinan. Bahwa perjodohan ini memang yang terbaik untuknya. Dan ia harus membuang jauh-jauh perasaannya kepada seseorang yang telah melemahkan keyakinannya selama ini atas apa yang sudah menjadi pilihan orang tuanya.


"Terima kasih banyak, Kek. Sekarang hati Nina menjadi lega. Nina merasa semakin ikhlas membuang rasa yang tidak berguna ini. Nina akan berusa menjadi anak yang berbakti dan menjadi seorang istri yang kuat dalam membantu suami Nina menjadi laki-laki yang sempurna dan menjadi imam yang Nina harapkan."


Ucap Nina bersungguh-sungguh seraya mengusap sisa-sisa air matanya yang menggenangi kedua kelopak mata yang basah tersebut. Kakek Mukti hanya tersenyum puas karena mampu melapangkan kegundahan Nina. Gadis kuat yang menerima sebuah amanah besar dari Tuhan.


Tidak semua wanita mampu menerima calon suami mereka yang notabene adalah mantan seorang yang penyuka sesama jenis. Dan hanya wanita-wanita pilihan saja yang mampu menjalankannya. Karena dalam rumah itu akan banyak sekali perjuangannya. Dan bukan tidak mungkin jika perasaan mereka akan menjadi korbannya.


Tapi, bukan kah Tuhan itu maha adil. Jika kita mendapatkan sebuah cobaan yang besar dan kita mampu menghadapi dengan sabar dan ikhlas, maka balasan Tuhan jauh lebih besar dan indah, bahkan saking indahnya kita akan melupakan rasa sakit akan cobaan Tuhan sebelumnya. Itulah keadilan Tuhan yang pasti tidak mampu diperkirakan oleh manusia seperti kita.

__ADS_1


__ADS_2