
Bu Zainiyah hanya tersenyum menanggapi respon Nina yang memang tak keberatan dengan keterlambatan Nizam. Namun, perasaannya menjadi tidak enak. Bukan hanya sekali ini saja putranya itu tidak datang saat sudah berjanji untuk bertemu dengan calon istrinya.
Sudah dua kali Nizam mengingkari, dan jangan sampai sekarang dia juga tidak menepati janjinya untuk alasan apa pun. Anggun memilihkan sepasang gaun pengantin yang termewah di boutique nya untuk dikenakan oleh Nina. Karena kalau menunggu Nina yang memilih, gadis itu hanya bilang semuanya bagus.
Nina mencoba gaun pengantin di ruangan ganti dibantu oleh pegawai Anggun yang sejak tadi ada di antara mereka untuk melayani perintah dari atasannya tersebut. Rambut Nina yang sebelumnya ia gerai diikat tinggi agar baju yang berkrah bundar mengelilingi lehernya itu terlihat semakin elegan.
Nina memang sudah mengatakan pada Anggun jika dirinya tidak mau memakai baju pengantin yang terbuka, dan Anggun langsung mengerti dengan selera gadis cantik di hadapannya. Meskipun Nina belum memakai penutup kepala, tapi Nina tetap tidak bertoleransi terhadap baju yang sedikit terbuka.
Nina keluar dari ruang ganti bersama wanita yang di sebelahnya, dengan memegangi baju yang menjuntai panjang di belakang, wanita yang berusia 30 tahun itu tersenyum bangga akan kepintaran sang majikan yang begitu pandai mendesain baju, hingga gadis cantik disampingnya ini semakin terlihat memukau walau belum tersentuh oleh polesan sebuah makeup.
"Wah! Kau begitu cantik sayang. Ternyata, pilihanku tidak salah." seru anggun berputar mengelilingi Nina. Hatinya begitu puas dengan penampakan bidadari kecil yang begitu menggemaskan di matanya.
"Bukankah begitu, Jeng?" tanya Anggun pada Bu Zainiyah namun tatapannya tidak beralih dari wajah Nina yang merasa sedikit risih karena dipuji terlalu berlebihan.
Bu Zainiyah yang saat itu juga mengakui kecantikan menantunya, hanya terpaku serta mengangguk tanpa sadar, membenarkan bahwa apa yang dikatakan rekannya itu adalah benar. Tapi, senyum Bu Zainiyah memudar saat menyadari bahwa Nizam belum juga datang.
Tiba-tiba, dering ponsel yang berada di dalam tas jinjing Bu Zainiyah berbunyi sangat nyaring. Dengan gerakan yang tergesa-gesa. Bu Zainyah merogoh tasnya lalu menempelkan ke daun telinga tanpa melihat dari siapa panggilan itu berasal.
"Halo, apa! Aku akan secepatnya ke sana. Bilang pada sopir untuk membawa Tuan ke rumah sakit. Sepuluh menit aku sampai ke sana," tedengar Bu Zainiyah begitu panik saat menanggapi percakapan dengan seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Maaf Jeng Anggun, Alkaf tiba-tiba merasakan sakit di dadanya. Dan aku harus segera menuju ke rumah sakit. Tolong bantu aku untuk menyelesaikan fitting baju menantuku. Jika putraku datang, tolong kau urus apa yang menjadi pilihan mereka,"
Bu Zainiyah terlihat terburu-buru karena takut terjadi sesuatu yang serius terhadap suaminya. Nina yang ikut merasakan kegelisahan calon mertuanya itu juga ikut cemas, dan Nina meminta untuk ikut bersamanya. Namun, Bu Zainiyah mencegahnya.
"Ma, aku ikut Mama, ya? Aku juga tidak bisa tenang jika aku hanya diam di sini." pinta Nina.
"Jangan sayang, Calon suami mungkin sudah dalam perjalanan ke sini. Mama minta tolong, jangan katakan apa pun kepadanya. Biar nanti Mama yang akan menjelaskan setelah keadaan sudah tenang. Mama juga tidak tau, papa sakitnya ringan atau parah. Tolong,"
Nina tidak bisa berbuat banyak dengan perintah mertuanya yang sudah menjadi titah dan harus dipatuhinya. Sepeninggal Bu Zainiyah, Nina hanya duduk dengan masih mengenakan baju pengantinnya. Pikirannya tak henti-hentinya tertuju pada Pak Alkaf yang sekarang entah bagaimana.
Anggun yang juga merasa gelisah dengan keadaan Pak Alkaf berjalan mondar-mandir seraya sesekali memberikan dukungan serta menenangkan Nina. Anggun juga kepikiran akan suami Bu Zainiyah yang masuk rumah sakit. Anggun berusaha menenangkan serta mengajak Nina untuk melanjutkan semuanya sesuai perintah Bu Zainiyah.
"Alhamdulillah, Ma. Jika Papa baik-baik saja," Anggun dan Nina seketika merasa lega akan kabar yang disampaikan Bu Zainiyah.
"Sayang, mungkin nanti calon suamimu setengah jam lagi sampai ke sana, kamu tunggu dulu, ya? Karena barusan dia datang ke sini setelah ponselnya bisa aku hubungi dan dia langsung menuju rumah sakit karena khawatir tentang keadaan Papanya."
Sebelum memutuskan sambungan, Bu Zainiyah menjelaskan bahwa Nizam langsung ke rumah sakit dulu sebelum ke boutique menemui tunangan. Nizam yang saat itu mengatakan jika sedang dia terjebak macet panjang karena adanya sebuah kecelakaan. Dan soal telepon yang tidak terangkat juga disebabkan karena tadi ia sempat menolong beberapa korban yang membutuhkan bantuannya.
Nina tak mempermasalahkan kenapa tunangannya itu terlambat, apalagi alasannya adalah tentang kemanusiaan. Toh, Nina juga merasa tidak dirugikan. Meskipun sebenarnya, hatinya sempat berpikir bahwa calon suaminya itu memang sengaja selalu mencari alasan untuk menghindarinya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar dari Bu Zainiyah. Nina serta Anggun bernafas lega, dan mereka melanjukan lagi untuk mencoba beberapa baju yang menjadi pilihan Anggun untuk Nina. Tapi, Nina sudah jatuh cinta pada gaun pertama yang menurutnya elegan dan tidak terlalu berlebihan.
"Cantik. Pilihanmu memang perfect, cuma sayang sekali, sebelum tuksedo ini dikenakan oleh calon suamimu, rasanya Tante ingin menyerasikan dulu pada seorang model."
Tutur Anggun yang saat ini sedang memegang tuksedu senada dengan guan yang dikenakan Nina. "Mungkin kita harus menunggu sedikit lagi, Tante." Nina menyahuti Anggun dengan sesekali menatap pintu, berharap orang yang ia tunggu segera datang. Ini adalah pertemuan yang pertamakalinya, dan itu membuat Nina deg-degan.
"Bagaimana kalau anak Tante yang membantu kita untuk mencoba tuksedo ini untuk sementara. Aku hanya ingin memastikan bahwa ini perfeksionis di mata Tante, bagaimana? Boleh 'kan?"
Tanya Anggun meminta persetujuan Nina. Anggun memang desainer yang sangat memerhatikan sedetil mungkin akan pekerjaannya. Karena menjadi desainer bukan hanya pekerjaan baginya, namun juga hobi yang sudah mendarah daging. Dan Anggun akan melakukan semuanya dengan hati agar bisa puas akan hasilnya.
"Tidak masalah, Tante. Nina ikut apa kata Tante Anggun saja." jawab Nina dengan senyumannya.
Anggun terlihat antusias menghubungi anaknya yang saat itu sedang berada di bagian kompeksi untuk melihat beberapa karyawan yang sedang melakukan proses menjahit. Tak berapa lama, seorang pria yang masuk ke ruangan di mana Nina berada serta menghebohkan Anggun akan kedatangannya.
"Hai sayang, cepat sekali kau datang! Bagaimana di sana, aman kan? tanya Anggun seraya memeluk singkat putra satu-satunya.
"Semuanya aman, Ma. Cuma ada beberapa stok kain yang kosong, setelah ini aku akan menghubungi pihak pabrik agar bisa dikirim secepatnya. Dan bantuan apa yang harus aku lakukan?" tanya pria yang mengenakan kemeja abu-abu tersebut.
"Nina, kenalkan ini anak Tante. Namanya Beni. Kemarilah sayang." panggil Anggun kepada Nina yang saat itu sedang membelakanginya karena masih membetulkan beberapa hiasan baju yang ada di bagian dadanya.
__ADS_1