
Nizam mulai menginjak pedal gas lalu melajukan mobilnya membelah kemacetan yang sudah setia menghiasi jalan-jalan di ibu kota jakarta.
"Dek langsung pulang atau gimana?" tanya Nizam memecahkan keheningan.
" Pulang saja Kak, Zizi capek!" jawab Zizi santai.
" Kak, boleh Nanyak nggak?" ucap Zizi menoleh ke arah Nizam yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Tumben pakek ijin segala, biasanya juga langsung nyerocos kamu." ledek Nizam yang langsung dapat tatapan tajam dari adiknya.
" Iya, iya..,silahkan mau tanya apa Tuan Putriku?" lanjut Nizam dengan senyuman yang lebar.
" Ih Kakak, Zizi serius nih." jelas Zizi sambil menatap kakaknya.
" Iya Kakak juga serius sekarang."
" Kak sampai kapan Kakak seperti ini, Kakak kan sudah janji mau berusaha mengenal seorang wanita!"
" Entahlah Dek, Kakak juga takut kalau-kalau perasaan itu tidak akan pernah hadir di hati Kakak." lirih Nizam sambil menatap lurus ke depan.
" Sebenarnya apa sih yang Kakak rasakan sekarang." tanya Zizi penasaran.
" Zizi bukannya ingin menggurui Kakak, Zi cuma kasian sama Mama dan Papa Kak, Umur mereka sudah lanjut dan selayaknya Kakak memberikan Cucu pada mereka. Kalau Kakak seperti ini terus kapan Kakak nikahnya?" ungkap Zizi dengan jelas. Apalagi Umur Kakak sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga." jelas Zizi lagi.
" Huffff." terdengar helaan nafas Nizam seraya mengusap raut wajah dengan kedua tangan yang menumpukan sikutnya di atas setir mobil, terlihat jelas dari wajah itu kalau dia sedang di landa dilema.
Ya Nizam bingung, antara orang tua dengan hatinya yang belum bisa sejalan dengan keinginan mereka.
" Kakak juga sters mikirin ini dek, Jujur sejak kejadian beberapa bulan yang lalu Kakak sudah bertekat untuk bisa sembuh dan tidak berhubungan lagi dengan Beni serta yang lainnya." jawab Nizam dengan Wajah lelahnya.
" Tapi hati ini yang tidak bisa Kakak kendalikan, Kakak tidak bisa tertarik kepada wanita justru sebaliknya." ungkap Nizam seakan-akan menyerah dengan kisah hidupnya.
Nizam mengungkap kan semua isi di hatinya kepada sang adik, karna ia sudah menganggap Zizi sebagai teman yang mengerti kondisinya, walaupun adik kecilnya itu sering ngambek, crewet serta selalu marah-marah. Namun di balik itu semua Zizilah yang bisa ia ajak berbagi.
Zizi yang melihat Kakaknya sedih merasa iba
dan tanpa di sadari matanya berkaca-kaca, Namun dengan cepat Zizi menyembunyikan dan menghapus air mata yang sudah terjatuh di pipinya.
" Kakak jangan menyerah ya, masih ada Zi yang akan mendukung Kakak dan membantu agar Kakak bisa sembuh,Ok!" ucap Zizi menyemangati Kakaknya.
" Makasih ya Dek," ucap Nizam menoleh kepada Zizi yang di balas anggukan oleh adiknya.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah.
Nizam memasuki halaman rumahnya serta memarkirkan mobil dengan sempurna.
Zizi dan Nizam keluar bersamaan dari mobil mewah itu lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kedua saudara itu menuju ruang tamu yang Nampak sepi, Mereka berdua sama-sama duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
" Kok sepi Dek, Papa sama Mama ke mana ya?" tanya Nizam yang bertanya tentang kedua orang tuanya.
" Ooo itu Kak, Tadi Mama telepon mau mengantar Papa kontrol bulanan ke RS Bakti mulia Kak."
Jawab Zizi dan berlalu pergi dari ruang tamu menuju kamarnya, yang terletak di lantai atas ber sebelahan dengan Nizam.
Nizam yang mengerti dengan penjelasan adiknya lalu beranjak pergi ke arah dapur menuju kulkas dan membukanya, Di ambilnya sebuah minuman yang bersoda untuk menyegarkan tenggorokan yang terasa kering.
****
Di Rumah sakit
" Gimana perkembangan Om kamu Rif ?" tanya Bu Zainiyah kepada Dokter ganteng yang sudah menjadi Dokter pribadi keluarga Al-Gazali itu, yang sekaligus keponakan Bu Zainiyah.
Arif adalah pria tampan berumur 29 tahun yang berprofesi sebagai dokter itu adalah anak dari kakak Bu Zainiyah, yang juga pemilik Tunggal RS bakti Mulia, dan otomatis Arif lah yang bertanggung jawab mengelolanya sebagai pengganti sang ayah yang sudah cukup tua untuk menjalankan Rumah sakit besar itu.
" Sampai detik ini diabetes Om Alkaf masih terkontrol normal, yang penting jaga pola makan, minum obat yang rutin serta olah raga teratur Tan!" jelas Arif kepada pasangan paruh baya itu.
" Baiklah kalau begitu kami pamit dulu ya Rif,"
Ucap Pak Alkaf seraya berdiri dari duduknya yang di ikuti istrinya.
Arif meraih tangan keduanya secara bergantian untuk menyalami mereka yang di barengi pelukan hangat layaknya kedua orang tuanya sendiri.
" Entahlah Om, Arif belum menemukan wanita yang srek di hati Arif." jawab Arif sambil melepas pelukan dari Pak Alkaf.
" Jangan terlalu pemilih Rif, yang penting dia menerima kamu apa adanya dan yang utama dia sayang sama kedua orang tuamu," Nasehat Bu Zainiyah menimpali ucapan suaminya.
" Inget umur tuh, sudah hampir kepala tiga kan," saut Pak Alkaf lagi.
" Iya Om, Tante." jawab Arif sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Karna setiap bertemu dengan keluarga keduanya ini, Arif selalu di singgung dengan yang namanya jodoh dan wanita.
" Ya sudah kami pulang dulu ya.
Assalamu'alaikum...." ucap Pak Alkaf dan Bu Zainiyah lalu pergi meninggalkan ruang pratek keponakannya.
" Waalaikumus'salam," jawab Arif yang di iringi dengan gerakan tangan untuk menutup pintu serta kembali ke meja kerjanya.
Arif duduk merebahkan kepala di atas kursi putar yang selalu menemaninya.
Pikirannya teringat soal jodoh yang selalu di pertanyakan orang sekitarnya.
Gimana aku bisa menemukan jodoh, kalo tiap hari selalu di sibukkan dengan pasien dan urusan rumah sakit yang tiada ujungnya.
__ADS_1
Guman hati Arif sambil tersenyum miris.
***
" Pak harto kita langsung pulang ke rumah saja ya, saya tidak jadi ke supermarket." ucap Bu Zainiya kepada supir pribadinya.
" Baik nyonya." saut Pak harto seraya menganggukkan kepalanya.
Pak harto menjalankan mobil membelah keramaian lalu lintas yang ramai dengan kecepatan sedang, sesekali dia mendengar majikannya yang di belakang bercakap-cakap tentang kedua anak nya.
Ciiiiitttt...
Terdengar suara rem mobil yang di injak mendadak, sontak kedua penumpang yang di belakang terlihat kaget begitupun sang supir.
" Apa yang terjadi Pak?"
Tanya kedua majikannya dengan wajah yang
sama-sama panik karna kejadian itu.
" Itu nyonya, di depan ada yang menyeberang secara tiba-tiba," jawab Pak harto gugup karna takut.
" Ya sudah kita turun, kita lihat semoga mereka tidak kenapa-kenapa." ujar Pak Alkaf sambil membuka pintu mobil yang sudah di tepikan oleh Pak Harto
Mereka bertiga turun dari mobil lalu berjalan ke depan mobil untuk melihat korban yang sudah mereka tabrak.
.
.
.
.
Bersambung....
Uuuhh...siapa ya kira-kira yang di tabrak orang tua Nizam????
Aku aja yang nulis ga sabar buat mengungkapnya...
Apalagi yang baca ya heeee...
Sabar aja ya guys...
makasih ya buat yang sudah favorit novel ini
dan selalu setia sama karya fahad.
__ADS_1
LOVEYOUALL😘😘