
Nizam jadi merasakan sesuatu yang tidak biasa, Papa dan Mamanya itu secara langsung mendatangi kamar dengan bersamaan. Pikirannya tak bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan. Sedangkan Bu Zainiyah dan Pak Alkaf saling melempar pandangannya untuk memulai untuk membahas perjodohannya Nizam dengan Nina.
Keheningan tercipta sejenak di antara mereka bertiga, tidak ada satu suara pun yang terdengar kecuali deru nafas dari mereka. Dan akhirnya Pak Alkaf yang menjadi kepala keluarga itu membuka percakapan tersebut.
"Dulu, Papa pernah cerita soal Papa dan Mama yang hampir menabrak seseorang?" sebelum menuju ke inti persoalan, Pak Alkaf ingin Nizam tahu bahwa gadis yang ia jodohkan itu adalah anak dari orang yang waktu dulu hampir menjadi korban tabrakan mobilnya.
"Iya, tahu. Orang yang kata Papa sangat baik dan selalu Papa bantu, 'kan?" jawab Nizam, yang memang pernah mendengar tentang korban tersebut yang dulu sempat diceritakan oleh orang tuanya. Nizam masih mencerna dan menebak ke arah mana pembicaraan Papanya saat ini. Tapi sayang, Nizam tidak bisa menyimpulkan apa pun.
"Tadi siang, Papa mendatangi rumahnya berniat untuk silaturahmi, karena Papa dan Mama memang sudah lama tak mengunjunginya. Mama dan Papa menganggap mereka bagian dari keluarga dan untuk itu Papa menceritakan semua masalah yang ada di dalam rumah ini. Dan termasuk masalahmu. Semuanya!"
wajah Nizam langsung berubah gundah saat bisa menganalisa ke arah mana tujuan Papanya saat ini. Pasti ini menyangkut perjodohan yang akan ditentukan oleh orang tuanya. Nizam berusaha bersikap biasa sebelum ia mendengar langsung semuanya.
"Papa dan Mama berniat menjodohkan mu dengan anak mereka. Usianya masih seumuran adikmu, anaknya sangat cantik, baik dan pekerja keras. Meskipun dia lahir di dalam keluarga yang sederhana tapi dia tidak pernah mengeluh. Malah sekarang ia berusaha menjadi tulang punggung keluarganya." timpal Bu Zainiyah menjelaskan.
"Perjodohan ini bukan atas permintaan kita, tapi ayah dari gadis itu yang memang menghendakinya. Awalnya Papa juga tidak setuju, karena anak gadis mereka masih menjalani masa pendidikan. Tapi, itu tak masalah bagi mereka yang penting jika kau sudah menjadi suaminya memperbolehkan untuk dia tetap kuliah seperti impiannya." sambung Pak Alkaf.
"Apa gadis itu sudah menyetujuinya?" tanya Nizam.
__ADS_1
"Belum, karena waktu kami bertamu ke rumahnya, dia masih belum pulang dari tempatnya bekerja. Tapi, Anwar bisa menjamin jika anak gadisnya itu sangat patuh dengan semua apa yang dikatakannya." Nizam mendesah panjang mendengar penjelasan dari orang tuanya itu.
kenapa masalahnya sekarang sangat rumit? Nizam pikir papanya itu akan memilih wanita yang seumuran dengannya. Tapi ternyata gadis itu masih sangat belia. Ya, meskipun sebenarnya ia tak mempermasalahkan soal umur. Mengingat, dirinya yang saat ini juga jatuh hati pada Nina yang baru lulus SMA.
"Papa berharap kau mau menerima perjodohan ini. Harapan Papa sama Mama hanya satu, Nak. Kau menikah dan belajarlah untuk menjadi pria yang sempurna dalam ikatan suci tersebut. Papa berharap, kau tidak akan mengecewakan kami lagi."
Sebenarnya Nizam ingin menolak dan mengajukan pendapatnya, tapi melihat Papa dan mamanya yang begitu antusias itu membuat Nizam mengurungkan niatnya. Biarlah takdir yang berbicara, jika memang ia harus kalah sebelum berperang dari gejolak batin yang ingin mendapatkan Nina.
Nizam tidak lagi ingin membuka mulutnya, takut apa yang keluar nanti akan membuat kacau suana tersebut. Kebahagiaan orang tuanya saat ini adalah yang terpenting, jika dengan ia menuruti semua rencana papa dan mama sekarang dan itu membuat mereka senang, Nizam akan melakukannya.
Nizam memantapkan hati untuk memberikan jawaban sebagai kepastian akan keputusannya. "Baiklah, Nizam akan mencobanya demi Papa dan Mama. Tapi jika seandainya si gadis itu yang merasa tidak nyaman dengan Nizam atau merasa keberatan atas kekurangan Nizam selama ini, Nizam berharap Papa dan Mama bisa menerimanya.
"Baiklah, tidak masalah! Kita lihat saja takdir akan membawanya ke mana," Pak Alkaf mengedikkan bahu ringan. Dia sangat lega Nizam bisa diajak bekerja sama dan semoga saja Nina memberikan jawaban seperti Nizam.
Harapan kedua paruh baya itu sangat besar akan kelangsungan hubungan tersebut, agar berjalan sesuai rencana. Mereka merasa sudah sangat lelah memikirkan masalah ini. Umur Nizam yang semakin hari semakin bertambah itu juga membuat mereka resah, sampai kapan anak laki-lakinya itu akan membawa seorang istri ke rumahnya dan memberikan mereka cucu?
Pak Alkaf dan Bu Zainiyah keluar dari kamar Nizam untuk menuju kamarnya, Karena setelah kedatangannya ke rumah, mereka bukannya langsung masuk ke kamar mereka, tapi malah lebih dulu memilih menemui Nizam saking tidak sabar untuk memberi kabar bahagia yang baru didapatnya.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Pak Anwar, Nina yang baru saja pulang itu menyerahkan uang sebagai ongkos pada tukang ojek yang berhenti di depan teras rumahnya.
""Makasih, Neng." ucap tukang ojek yang baru saja menerima uang yang diberikan Nina.
"Kembaliannya buat Bapak saja," tutur Nina yang melihat si tukang ojek yang berniat merogoh uang kecil di kantong celana sebagai kembalian atas uangnya.
"Sekali lagi, terima kasih, ya Neng." meskipun nominal kembalian yang tidak begitu besar itu membuat si tukang ojek girang. Karena bukan nilai rupiah yang ia lihat dari seseorang. Tapi keikhlasan mereka yang tulus yang tidak semua orang memilikinya.
Nina melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah yang selama ini menjadi tempat ternyamannya tersebut. Hari yang sudah mulai gelap membuat Nina terburu-buru untuk segera membersihkan tubuhnya dan melaksanakan shalat Isyak.
"Assalamualaikum," Nina masuk sembari mengucap salam yang langsung mendapatkan sahutan dari sang ibu di dalam sana. Sepertinya, Bu Aminah sedang memasak di dapur, karena aroma masakan yang menyeruak ke semua ruangan itu tercium sangat menggoda, hingga air liur Nina serasa menetes efek rasa lapar di dalam perutnya.
"Ibu sedang masak apa?" Nina menghampiri sang ibu dan meraih tangan tuanya lalu menciumnya. Itu lah kebiasaan yang Nina terapkan setiap kali keluar dan msuk rumah. Dan itu berlaku ke siapa saja yang bergelar orang yang sudah tua dan wajib mendapatkan penghormatan seperti itu dari yang lebih muda.
"Ibu lagi masak semur daging, Nak. Kebetulan ayam-ayam Ayahmu laku banyak hari ini. Nanti selesai mandi langsung ke ruang tamu ya, ada yang ingin Ibu dan Ayah bicarakan," sahut Bu Aminah melanjutkan menggoreng bumbu yang sebelumnya sempat terhenti karena anaknya itu menyalaminya.
"Baiklah, Bu! Ya, sudah. Nina mau mandi dulu ya, maaf nggak bisa bantuin Ibu," Nina berlalu pergi setelah Bu Aminah tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1