
Pesta yang awalnya berjalan dengan lancar, tiba-tiba riuh seketika. Saat pengantin wanitanya jatuh tak sadarkan diri. Pihak keluarga menyampaikan bahwa mempelai wanita tidak enak badan dikarenakan kelelahan. Dan alasan itu cukup dimaklumi semua tamu undangan.
Setelah kejadian yang tak diduga itu terjadi, Nina dibawa Nizam menuju kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh ibunya. Semua orang juga ikut panik akan kejadian itu dan sangat mengkhawatirkan keadaan Nina. Terutama Pak Anwar dan Bu Aminah.
"Nizam, minumlah dulu." Arif menyodorkan gelas yang sebelumnya sudah ia isi. Nizam menatap Arif yang terlihat sedang menahan senyum. "Ambil ini, kau butuh banyak air untuk menormalkan ketegangan ini" kata Arif yang mendapatkan tatapan tajam dari Nizam.
Meskipun masih tidak percaya dengan kenyataan, Nizam berusaha mempercainya. Apalagi, orang yang selama ini membuatnya ragu, benar-benar nyata dan sah menjadi istrinya. Antara bahagia dan tidak percaya itu bercampur menjadi satu, membuat Nizam butuh waktu untuk menerimanya.
Nizam meneguk habis air yang diberikan Arif. Tubuhnya benar-benar butuh cairan untuk menghadapi keajaiban yang telah ia hadapi hari ini. Nizam dan Arif duduk di sofa panjang, sedangkan Nina yang terbaring di ranjang ditemani mertuanya. Sesekali Bu Zainiyah menggosokkan minyak kayu putih ke hidung Nina berharap menantunya itu cepat sadar.
Ya, Arif memang ikut ke kamar untuk memeriksa keadaan Nina yang ternyata hanya kelelahan. Apalagi, Nina diketahui tidak menyentuh sarapannya pagi tadi. Sehingga perutnya menjadi kosong, dan itu yang menyebabkan Nina jatuh tak sadarkan diri.
"Apa kau tahu dengan semuanya ini?" tanya Nizam tanpa melihat Arif, pertanyaan yang sedari tadi sangat ingin ia ketahui. Arif hanya tersenyum lebar menampilkan wajah yang sangat menjengkelkan di mata Nizam. Meskipun belum dijawab, namun Nizam sudah tahu apa jawaban.
"Maaf, Zam. Ini bukan rencanaku, tapi semuanya dirahasiakan atas kemauan mamamu," akhirnya Arif berterus terang, daripada menjadi sumber kekesalan Nizam karena merasa dibohongi oleh banyak orang.
Waktu itu, di saat Pak Alkaf dilarikan ke rumah sakit, Arif yang memang menjadi dokter pribadi Pak Alkaf langsung menangani pamannya itu dengan cepat. Setelah melakukan segala pemeriksaan, Pak Alkaf dinyatakan baik-baik saja, meskipun sakit dada yang dirasakannya juga perlu diwaspadai. Namun, Arif menyarankan untuk segera pulang karena ia merasa pamannya itu lebih baik istirahat di rumah saja.
"Tante, jangan lupa obat yang Arif kasih, minum teratur agar kesehatan Paman tetap terjaga, istirahat yang banyak jangan terlalu capek," saran Arif.
"Iya, Dokter!" sahut Bu Zainiyah bercanda. Keponakannya itu sekarang benar-benar menjadi seorang dokter yang hebat.
"Rif, nanti jangan lupa datang di pesta pernikahan Nizam, ya." Pak Alkaf mengingatkan Arif, meskipun sebelumnya sudah ia beritahu.
__ADS_1
"Siap, Om! Tidak mungkin saya tidak hadir di pesta kebahagiaan Nizam." sahut Arif.
"Maaf Tante, apa Nizam benar-benar menyetujui perjodohan ini dan akan melaksanakan pernikahan ini bulan depan?" Arif penasaran, karena setahunya, Nizam sudah memiliki gadis yang mampu menaklukkan hatinya. Gadis yang bekerja sebagai pelayan kafe waktu itu. Ingatan Arif masih tajam.
"Ya, Nizam sudah setuju kok! Setelah perjodohannya dengan Melisa gagal, Nizam menyerahkan semuanya kepada kami, iya 'kan Pa?" kata Bu Zainiyah.
"Iya, Rif. Sepertinya, kali ini Nizam benar-benar ingin menikah," lanjut Pak Alkaf.
Setelah keduanya panjang lebar bercerita, dengan siapa Nizam menikah. Arif jadi ingin tahu, seperti apa sosok calon Nizam yang terlihat sangat sepesial di mata om dan tantenya. Jadi Arif memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa Arif boleh melihat calon Nizam, Tante?" tanya Arif yang mendapatkan respon antusias dari Bu Zainiyah.
"Tentu, Sayang. Ini foto calon istri Nizam." Bu Zainiyah merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tas. Dengan bangga ia menunjukkan foto calon menantunya kepada Arif.
Arif memandang foto di tangannya, butuh waktu untuk mengingat wajah gadis yang tersenyum manis di balik layar tersebut. Seketika Arif terperanjat tidak percaya saat iya yakin siapa gadis belia yang katanya adalah calon istri Nizam tersebut.
"Iya benar, Rif." kedua paruh baya itu kebingungan melihat respon Arif yang seperti tidak biasa.
"Kenapa dunia ini begitu sempit. Baru kali ini aku menyaksikan sebuah kebetulan yang tidak sengaja terjadi. Apa Nizam sudah tahu dengan siapa ia menikah, Tante? tanya Arif lagi.
Bu Zainiyah menggelengkan kepalanya. Dan menceritakan pada Arif, bahwa setiap putranya itu ingin menemui tunangannya, selalu saja ada halangan. Seperti saat ini, janji untuk fitting baju juga gagal. Anggun yang baru saja mengirimkan chat bahwa Nizam tiba-tiba pergi meninggalkan boutique sebelum ia bertemu dengan tunangannya.
Entah apalagi alasan putranya itu, pergi begitu saja tanpa sebuah alasan yang jelas. Padahal, tadi waktu Nizam datang menjenguk papanya, dia sudah mengusir Nizam agar cepat-cepat datang ke boutique karena Nina sudah ada di sana.
__ADS_1
Arif tercengang mendengar semuanya, "Jadi Nizam belum tahu, bahwa Nina adalah calon istrinya?"tanpa sadar Arif menyebutkan nama yang belum dikatakan oleh Bu Zainiyah.
"Kamu kenal dengan Nina?" Bu Zainiyah dan Pak Alkaf dibuat heran. Dari mana keponakannya itu tahu dengan nama calon menantunya?
Arif mengangguk dan mengungkapkan semuanya, dari awal Nizam yang menceritakan pengalaman pertamanya tentang sebuah rasa pada seorang gadis. Dan mereka juga sempat dipertemukan di sebuah kafe tempat Nina bekerja.
Mendengar nama kafe yang saat ini menjadi tempat Nina bekerja, Bu Zainiyah dan Pak Alkaf yakin bahwa Nina yang dimaksud Arif adalah benar-benar calon menantunya. Gadis yang tanpa sepengetahuannya telah menyembuhkan kelainan Nizam yang mereka pikir tidak akan bisa memiliki rasa terhadap wanita. Karena masa lalunya yang kelam.
Bu Zainiyah menitikkan air mata bahagia dan itu membuat Arif terharu. Dan saat itu pula Bu Zainiyah dan Arif merencanakan sesuatu. Sesuatu yang akan menjadi kejutan yang sangat sepesial di hari pernikahan Nizam nanti.
Apalagi, setelah kedua paruh baya itu pulang ke rumah, mereka dibuat heran dengan sikap dan keputusan Nizam yang tiba-tiba ingin mempercepat pernikahannya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Pak Alkaf dan Bu Zainiyah tidak banyak bertanya dengan alasan putranya tersebut. Dan kejutan itu ternyata berhasil.
"Kalian sengaja membuatku sakit jantung mendadak!" ucap Nizam. Meskipun saat ini masih kesal terhadap semua orang. Namun, rasa bahagia yang mengalir di lubuk hatinya itu tak dapat ia pungkiri. Rasanya sangat sukar ia bayangkan, bahwa istrinya adalah orang yang sangat dicintainya.
"Sejak kapan kalian merencanakan ini. Dari mana Mama tahu kalau aku mengenal Nina?" tanya Nizam masih tetap dengan muka kesalnya pada Arif.
"Sejak Om Alkaf dibawa ke rumah sakit, seminggu sebelum pernikahan ini terjadi. Dan bukan itu saja. Orang tuamu juga mengetahui perasaanmu pada istrimu," Arif membisikkan kata terakhirnya pada Nizam.
Bantal shofa yang ada di belakang tubuhnya langsung ia jadikan sasaran untuk menganiaya Arif karena telah ingkar janji, untuk tidak mengatakan rahasianya pada siapapun, termasuk orang tuanya. Mau ditaruh di mana mukanya nanti.
"Nak, jangan menyalahkan Arif. Semuanya memang ide Mama dan Papa. Mama senang, akhirnya hatimu sudah mencair. Dan lebih bahagianya lagi, wanita itu adalah gadis yang selama ini sudah sangat Mama sayangi,"
Bu Zainiyah menepuk bahu Nizam yang saat itu tak henti-hentinya memukul tubuh Arif dengan bantal kecil di tangannya. Nizam berhenti dan menghadap mamanya yang berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
.
.JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN VOTE ATAU KIRIM HADIAH YA, GUYS. KISAH NIZAM INI BAKAL AQ TAMATIN DI BAB 150. JADI SABAR YA. SELAMAT MEMBACA, SEMOGA KALIAN TERHIBUR, TERIMA KASIH BUAT SEMUANYA YANG MASIH SETIA DENGAN JADWAL UPDATE KU YANG SEBULAN SEKALI. HE HE HE